
Saat bang Agus sedang fokus, memijat lengan ku. Tiba-tiba, bang Agus tersentak kaget, mendengar ponsel nya berdering nyaring di atas meja.
"HAH! bikin kaget aja nih, ponsel." Bang Agus terkejut, mendengar suara deringan ponsel nya sendiri.
"Aneh-aneh aja nih, botak. Masa sebegitu kaget nya, mendengar suara ponsel nya sendiri, hihihi." Batin ku.
Aku yang sedang di pijat nya pun, langsung terkikik geli melihat wajah kaget bang Agus.
"Ya halo, siapa ini?" tanya bang Agus, setelah menerima panggilan tersebut.
"Halo, pak. Saya kurir yang ngantar kan makanan pesanan, bapak. Saya udah di depan nih, pak!" jawab si abang kurir.
"Oh oke, bang. Tunggu bentar, ya!"
bang Agus langsung bergegas keluar pintu, untuk menghampiri si abang kurir.
Tak lama berselang, bang Agus kembali masuk ke dalam kamar, dia membawa bungkusan dan piring di tangan nya. Dia menyalin soto medan itu ke dalam piring, dan memberikan nya pada ku.
Aku langsung duduk di tepi ranjang, dan menerima soto itu dari tangan bang Agus.
"Makan nya, mau di suapin gak, say?" tanya bang Agus
"Gak usah, bang. Aku makan sendiri aja!"
Aku mulai menyendok kan sedikit demi sedikit soto itu ke dalam mulut, dan mengunyah nya perlahan. Mulut ku masih terasa pahit. Sehingga, makanan yang seharusnya terasa enak, malah jadi hambar di lidah ku.
Sedari tadi, bang Agus hanya diam memperhatikan gerak-gerik ku, saat memakan soto tersebut.
"Makan yang banyak, say! biar ada tenaga badan mu itu. Habisin semua itu soto nya!" ujar bang Agus membuka percakapan.
"Gak bisa, bang. Mulut ku masih terasa pahit, kalau di paksa kan makan yang banyak, bisa muntah nanti nya."
Aku menyerahkan piring soto itu pada bang Agus.
"Loh, kok udah selesai makan nya, say? Ini kan, masih banyak soto nya. Kok cuma dikit aja yang di makan. Abang suapin pelan-pelan makan nya, ya. Aaaaa, buka mulut nya!"
Bang Agus menyodorkan sendok, yang berisi soto tersebut ke mulut ku.
"Udah kenyang, bang. Aku gak mau makan lagi, lama-lama bisa muntah kalau di paksa terus." Aku menutup mulut dengan kedua tangan ku.
"Ya udah kalau gitu, ini sisa nya di simpan aja, ya! mana tau nanti mau makan lagi." Bang Agus meletakkan piring soto tersebut di atas meja. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Nah, ini teh susu nya di minum dulu, say! mumpung masih anget."
__ADS_1
Bang Agus menyodorkan teh susu cup itu ke tangan ku.
"Iya, bang makasih."
Aku menerima cup itu, dan menyeruput teh susu nya dengan sedotan.
"Eeeggh, alhamdulillah." Aku bersendawa, menutup mulut sambil cengar-cengir malu.
Bang Agus hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah ku yang memalukan itu.
"Udah kenyang, say?" tanya bang Agus.
"Udah, bang. Makasih ya, bang." Ucap ku tulus.
"Makasih buat apa, say?" tanya bang Agus bingung, dengan kening yang mengkerut.
"Makasih atas perhatian mu, makasih atas cinta dan kasih sayang mu. Makasih atas ketulusan, dan semua kebaikan mu selama ini pada ku, bang."
Tanpa sadar, air mata ku menetes setelah mengucapkan semua kata-kata itu. Bang Agus langsung memeluk tubuh ku, dengan sangat erat. Dia membelai lembut rambut panjang ku sambil berkata,
"Udah, say. Jangan nangis lagi! abang bisa ikutan nangis, kalau lihat air mata mu kayak gini!"
Bang Agus melepaskan pelukan nya, dan mengusap air mata nya sendiri.
Bang Agus mengungkapkan isi hati nya pada ku, dengan linangan air mata di pipi nya. Aku yang tadi nya bersedih, langsung geli melihat bang Agus, yang sedang nangis bombay di depan ku.
Aku mulai menghapus air mata nya, dan mengecup kedua mata nya, yang sudah terlihat sembab dan merah itu.
"Udah dong, bang! jangan mewek terus. Jelek tau, kalau lagi mewek gitu. Nanti aku belikan permen deh, di warung. Biar, abang gak mewek lagi!"
Aku tersenyum pada nya, mendengar ledekan ku, bang Agus langsung tertawa sambil mengacak-acak rambut ku.
"Hahahaha, memang lah sayang ku yang satu ini. Ada-ada aja ulah nya, yang bisa bikin orang tertawa."
"Iiihhhhh apa an sih, bang! kusut tau." Protes ku dengan wajah cemberut dan menurunkan tangan bang Agus dari rambut ku.
"Hehehe maaf, say. Abang reflek, saking gemes nya." Bang Agus mencubit hidung ku.
"Adooohh! sakit, BOTAK. Udah lah hidung ku pesek, malah makin pesek nih, abang buat!"
Aku menjerit, mengelus-elus hidung yang tak seberapa itu.
"Gak papa lah, say. Biar pun hidung mu itu pesek, abang tetap cinta kok." Balas bang Agus dengan santai nya.
__ADS_1
"Abang, pulang gih! Aku mau istirahat dulu." Aku membaringkan diri kembali di atas ranjang.
"Bah, di usir nya pulak aku!" ucap bang Agus dengan wajah kaget nya.
"Biasa aja lah, muka nya tu. Cuma dengar gitu aja, kok kaget nya kayak sedang lihat hantu aja."
Aku tersenyum miring meledek nya.
"Bukan kayak lihat hantu lagi, say. Tapi, udah kayak lihat nenek moyang nya hantu, hiiiiii." Jawab bang Agus sambil bergidik ngeri.
"Lah, abang kan, tuyul? masa, sesama makhluk halus aja kok takut, hihihi."
Aku terkikik melihat tingkah bang Agus.
"Hahaha...Iya juga, ya!" bang Agus mengelus-elus kepala licin nya itu.
"Udah ah, haha hihi terus dari tadi. Abang, pulang sana! aku mau tidur lagi nih." Usir ku sambil memeluk guling.
"Oke, say. Abang pulang dulu, ya. Cepat sembuh ya, ayu ku sayang! biar kita bisa, ehem-ehem lagi."
Bang Agus menyelimuti seluruh tubuh ku, dan mengecup mesra kening ku.
"Huuuuu! dasar, tuyul mesum." Ledek ku sambil mencubit lengan nya.
"Auw! sakit, say. Jahat banget sih, kekasih ku ini." Bang Agus meringis akibat cubitan ku barusan.
"Sokor, maka nya jangan ganjen jadi tuyul. Tugas tuyul itu nyolong duit, bukan nyolong bini orang. Udah, balek sana!" umpat ku.
"Iya iya, abang balek sekarang! judes amat sih, cup."
Bang Agus mengecup kilat bibir ku. Setelah itu, dia langsung lari pontang-panting, keluar dari kamar menuju pintu keluar.
Aku hanya geleng-geleng kepala sambil cekikikan sendiri, melihat tingkah konyol nya itu.
"Bang Agus...Bang Agus. Ada-ada aja ulah mu, yang bisa membuat ku ceria." Gumam ku pelan.
Hanya dengan mu lah, aku bisa tertawa lepas. Hanya dengan mu lah, aku bisa bercanda ria. Dan hanya dengan mu lah, aku bisa merasakan cinta dan kasih sayang, yang benar-benar tulus dari hati.
Kalau dengan bang darma, boro-boro. Jangan kan di manja, atau di belai-belai, manggil sayang aja gak pernah. Selama hampir 6 tahun, berumah tangga dengan nya.
Memeluk dan mencium pipi ku aja, belom tentu tiga bulan sekali. Apa lagi mencium bibir ku hadehh, jangan di tanya lagi.
Entah udah berapa tahun, dia gak pernah melakukan itu pada ku. Sampai-sampai, aku lupa kapan terakhir kali, dia melakukan itu dengan ku.
__ADS_1
*Berikan lah kehangatan dan kasih sayang yang tulus, kepada pasangan mu. Sebelum, dia mencari semua itu dengan orang lain.*