SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kangen


__ADS_3

Karena merasa di permalukan oleh ku, akhirnya nya bang Darma pun keluar dari kamar dan berlalu pergi entah kemana.


"Huuuu, dasar laki-laki gak tau diri! Udah lah kere, bertingkah pulak tu." umpat ku sembari memandangi kepergian bang Darma.


Setelah bayangan bang Darma hilang dari pandangan, aku pun mendudukkan diri di tepi ranjang, lalu menyalakan rokok.


"Untung aja tadi lemari nya aku kunci. Kalau tidak, bisa habis semua uang ku di curi nya." gumam ku sambil menghisap rokok dengan pandangan kosong.


Sedang asyik bergelut dengan isi kepala, tiba-tiba aku tersentak kaget, karena mendengar suara dering ponsel yang cukup memekakkan telinga.


"Haduh, bikin kaget aja nih ponsel." gerutu ku sembari mengelus dada.


Aku merentangkan tangan untuk mengambil ponsel yang sedang memekik di atas meja. Setelah mendapatkan nya, mata ku langsung terbelalak saat melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.


"Pak Kades? Ada perlu apa lagi dia menghubungi ku?" gumam ku dengan kening mengkerut.


Dengan perasaan sedikit bingung, aku pun menerima panggilan dari pak Kades, salah satu partner ranjang ku itu.


"Halo, assalamualaikum." salam ku.


"Wa'laikum salam, mbak Ayu." balas pak Kades.


"Ada apa, pak?" tanya ku langsung to do point.


"Saya kangen, mbak. Kita ketemuan, yok!" jawab pak Kades.


"Kangen? Kan baru kemaren kita ketemu, masa udah kangen lagi sih?" tanya ku heran.


"Iya, mbak. Saya sendiri juga bingung, entah kenapa saya terbayang-bayang terus sama mbak Ayu. Seperti nya saya sudah ketagihan dengan goyangan maut mu mbak, hehehe." jawab pak Kades tanpa rasa malu atau pun canggung.


"Ah, bapak bisa aja." balas ku sembari senyam-senyum sendiri.


"Beneran, mbak. Saya gak bohong. Ayo lah, kita keluar! Saya udah gak tahan nih, pengen di goyang ngebor sama mbak Ayu." rengek pak Kades manja.


"Emang hari ini bapak gak kerja ya?" tanya ku penasaran.


"Enggak, saya hari ini libur." jawab pak Kades.


"Oh, ya udah kalo gitu. Bapak tunggu aja di hotel biasa ya, ntar lagi aku nyusul." ujar ku.


"Oke, cepat ya saya tunggu! Nanti saya kirim nomor kamar nya." jawab pak Kades.


"Iya, baweeel." balas ku menutup panggilan.


Setelah panggilan berakhir, aku segera bergegas menutup kios, dan bersiap-siap untuk menemui pak Kades.


Sesudah mengunci pintu, aku langsung naik ke atas motor dan melajukan nya menuju hotel, tempat biasa kami memadu kasih.


Setibanya di depan gedung hotel, aku segera memarkirkan motor dan melihat pesan yang di kirimkan oleh pak Kades.


"Kamar nomor 18 lantai dasar." pesan pak Kades.

__ADS_1


"Oke, pak." balas ku.


Setelah mengetahui nomor kamar nya, aku berjalan masuk dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, menuju kamar yang sudah di sewa oleh pak Kades.


Sesampainya di depan kamar, aku segera mengetuk pintu beberapa kali. Tak butuh waktu lama, akhirnya pintu pun terbuka lebar.


Aku langsung terpaku dengan mulut menganga, saat melihat pak Kades yang hanya memakai handuk di depan ku. Aku menelan ludah dengan kasar, saat pandangan mata ku tertuju ke arah tonjolan yang ada di balik handuk nya tersebut.


Sedangkan pak Kades, dia hanya tersenyum manis menyambut kedatangan ku.


"Kok malah bengong sih? Sini dong, sayang! Saya udah gak sabar ingin bersenang-senang dengan mu, nona manis." ujar pak Kades dengan senyum genit nya.


Pak Kades menarik ku ke dalam kamar, lalu mengunci pintu kembali. Aku pun hanya menurut, lalu berjalan ke arah meja tv untuk meletakkan tas ranselku.


"Saya kangen banget dengan mu, sayang. Saya sampai gak bisa tidur semalaman, gara-gara mikirin tubuh indah mu ini." bisik pak Kades.


Dia melingkar kan kedua tangan nya di pinggang ku, dan memeluk ku dari belakang. Dia mulai menciumi tengkuk leher ku dengan nafas memburu.


"Sama, pak. Aku juga kangen dengan ini bapak." balas ku.


Aku mengulurkan tangan ke belakang, lalu mengelus-elus milik pak Kades yang berukuran jumbo tersebut. Karena sudah tidak sanggup menahan hasrat nya, pak Kades pun memutar posisi ku untuk menghadap pada nya.


Setelah itu, dia mencium bibir ku dengan rakus, dan mulai mengangkat tubuh ku ke atas ranjang tanpa melepas ciuman nya di bibir tipis ku. Aku melingkarkan kedua tangan ku di leher pak Kades, lalu membalas permainan lidah nya.


Setelah puas mengabsen seluruh isi mulut ku, pak Kades mulai mempereteli pakaian ku satu persatu sampai polos tak bersisa.


"Waaahh, makin hari makin indah aja tubuh mu, mbak. Gimana saya gak klepek-klepek coba, kalau barang nya semulus ini." puji pak Kades dengan wajah berbinar-binar.


"Ah, bapak terlalu berlebihan." balas ku tersipu malu.


Aku tidak menjawab kata-kata pak Kades. Aku hanya tersenyum, lalu menggigit bibir bawah ku sambil terus menatap wajah mesum pak Kades.


Selesai memuji ku, pak Kades pun melanjutkan kegiatan nya. Dia kembali mencium bibir, leher, dan dada ku dengan sedikit kasar. Dia juga memberikan beberapa tanda merah, di bagian perut dan juga paha ku.


Hingga akhirnya, ciuman nya pun terhenti tepat di depan milik ku. Dengan senyum menyeringai, pak Kades pun langsung menenggelamkan wajah nya, dan menjulurkan lidah nya di dalam milik ku tersebut.


Pak Kades mulai memanjakan ku dengan lidah nakal nya. Hingga membuat ku terlena dan menggeliat-geliat, karena menahan geli dan nikmat akibat perbuatan nya tersebut.


Karena sudah tidak tahan, akhirnya aku pun memuncak sambil menggenggam erat kain seprai dengan mata terpejam. Pak Kades yang sedari tadi masih asyik dengan kegiatan nya pun, langsung melahap habis cairan bening ku, hingga bersih tak bersisa sedikit pun.


Wah, gurih banget rasa nya, sayang." tutur pak Kades lalu beranjak naik ke atas tubuh ku.


"Kita mulai sekarang ya!" lanjut pak Kades.


"Iya, pak." jawab ku dengan nafas yang tidak beraturan.


Setelah mendapat izin dari ku, pak Kades pun mulai menancapkan tongkat sakti nya dengan sekali hentakan. Setelah masuk sempurna, pak Kades mulai melakukan gerakan-gerakan liar nya, dengan semangat yang menggebu-gebu.


Sedangkan aku, aku kembali memejamkan mata untuk menikmati hasil kerja keras pak Kades. Suara-suara aneh yang keluar dari bibir kami berdua pun mulai menggema, dan saling bersahutan di seluruh sudut ruangan kamar hotel tersebut.


Setelah hampir satu jam berpacu dengan berbagai gaya dan posisi, akhirnya pak Kades pun memuncak dan menyudahi permainan nya.

__ADS_1


"Makasih ya, mbak. Kamu memang yang terdebest lah pokoknya, hehehe."


Tutur pak Kades lalu mengecup kening ku, dan menjatuhkan tubuh basah nya di sebelah ku. Aku tersenyum dan mengangguk kan kepala, lalu berkata...


"Iya sama-sama, pak." balas ku.


Setelah pergumulan panas selesai, aku dan pak Kades segera beranjak dari ranjang, dan membersihkan diri masing-masing di kamar mandi.


Setelah itu, kami kembali duduk di pinggir ranjang, lalu menyalakan rokok masing-masing. Sambil menghisap rokok, aku pun mulai membuka perbincangan.


"Emang bapak gak bosen ya, terus-terusan bercinta dengan ku?" tanya ku.


"Ya enggak lah, mbak. Kalau saya bosan, mana mungkin saya ngajak ketemuan terus seperti ini." jawab pak Kades.


"Hmmmm, iya juga sih." balas ku manggut-manggut.


"Tapi kalau bisa jangan terlalu sering, pak. Takut nya istri bapak curiga nanti." lanjut ku memberi peringatan.


"Kalau masalah itu, mbak Ayu gak usah khawatir. Saya juga gak sembarangan kok. Sebelum kita ketemuan, saya sudah pantau situasi terlebih dahulu. Kalau kira-kira aman, baru saya ngajak sampean ketemuan." jelas pak Kades.


"Ohhh, gitu. Tapi ya tetap aja kita harus hati-hati, pak. Siapa tau ada seseorang yang di utus istri bapak, untuk memata-matai kita." ujar ku sedikit takut.


"Iya, saya tau, mbak. Untuk kedepan nya nanti, saya pasti akan lebih hati-hati lagi." balas pak Kades meyakinkan ku.


"Oke, good." balas ku lega.


Suasana pun hening sejenak, aku dan pak Kades hanyut dalam lamunan masing-masing. Beberapa menit kemudian, pak Kades pun kembali membuka percakapan.


"Ngomong-ngomong, gimana keadaan rumah tangga kalian, mbak?" tanya pak Kades penasaran.


"Makin berantakan, pak." jawab ku lirih.


Mendengar jawaban ku, pak Kades pun langsung menoleh dan memandangi wajah ku dengan kening mengkerut.


"Makin berantakan? Maksudnya berantakan gimana?" tanya pak Kades lagi.


Aku menghela nafas panjang, lalu membalas tatapan mata pak Kades, sembari berkata...


"Semakin hari, suami ku semakin menjadi-jadi dengan perbuatan nya, pak. Dia sudah mulai berani mencuri uang ku, untuk di berikan kepada para benalu nya." jawab ku.


"Hah, seriusan?" pekik pak Kades dengan mata membulat sempurna.


"Iya," jawab ku lirih.


"Kok bisa sampe segitu nya sih? Sampe nyuri uang istri segala?" tanya pak Kades.


"Entah lah, pak. Aku juga bingung dengan sikap suami ku saat ini. Entah jampi-jampi apa yang sudah di gunakan oleh para benalu itu. Sampai-sampai, suamiku bisa tunduk dan semakin gila seperti itu." tutur ku.


"Iya sih, saya juga aneh melihat perubahan suami mu itu." ujar pak Kades membenarkan ucapan ku.


"Beda banget dengan mas Darma yang saya kenal dulu." lanjut pak Kades sembari manggut-manggut dan menghisap rokok nya kembali.

__ADS_1


"Bapak yang sebagai orang lain aja bingung, apa lagi saya istri nya?" sambung ku.


"Hehehe, bener juga sih." balas pak Kades cengar-cengir, sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


__ADS_2