SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kembali Terjadi


__ADS_3

"Besok aja lah minta jatah lagi, nampak nya dia kecapekan banget gara-gara melayani ku tadi."


Gumam bang Darma, sambil memandangi ku yang sedang tertidur pulas di sebelah nya. Setelah menonaktifkan ponsel nya, bang Darma pun mematikan api rokok nya dan berbaring di belakang punggung ku.


Bang Darma melingkarkan tangan nya di pinggang ku, dan memeluk erat tubuh ku. Dia mulai memejamkan mata nya, dan tak lama berselang, dia pun terlelap dan menyusul ku ke alam mimpi.


Waktu berlalu begitu cepat, dan tanpa terasa pagi pun menjelang. Suara berisik dari kendaraan yang berlalu-lalang di depan rumah pun, mulai mengganggu ketenangan tidur kami berdua.


Aku mulai menggeliatkan badan, lalu mengucek-ngucek mata yang masih terasa berat dan perih.


Saat menoleh ke samping, aku sedikit terkejut melihat seraut wajah yang masih tertidur lelap dengan posisi terlentang, dan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


"Lah, masih disini rupanya hantu satu ini. Kirain udah ngeluyur ke rumah benalu nya." gumam ku pelan.


Setelah menguap beberapa kali, aku pun segera turun dari ranjang dan menyambar handuk yang tergantung di samping pintu. Lalu berjalan menuju kamar mandi, dengan langkah malas dan sedikit di seret-seret.


Selesai membersihkan diri, aku pun kembali berjalan ke kamar dan memakai daster tipis. Setelah itu, memoles wajah di depan cermin dan menyemprotkan sedikit parfum.


"Wow, cantik banget istriku ini." puji bang Darma dengan senyum mengembang dan wajah bantal nya.


"Baru sadar ya, kalau aku ini cantik? Emang selama ini kemana aja?" cibir ku sembari menoleh dan tersenyum miring pada nya.


"Hehehe, selama ini mata abang merem. Maka nya gak nampak, kalau istri di rumah lebih cantik dari pada mereka berdua." ujar bang Darma sambil cengar-cengir salah tingkah.


"Bukan nya merem, tapi mata mu emang udah buta." cibir ku lagi.


Bang Darma tidak membalas perkataan ku, dia masih terus menatap ku dengan senyum menyeringai di wajah nya. Melihat ekspresi wajah nya yang tampak menginginkan sesuatu, aku pun memutar bola mata malas lalu berucap...


"Gak usah pake acara tebar-tebar pesona segala. Bukan nya tambah ganteng, malah makin serem lihat nya." sindir ku sembari tersenyum sinis pada nya.


"Siapa yang lagi tebar-tebar pesona sih, sayang? Orang dari tadi abang diem aja kok." bantah bang Darma, masih dengan senyum aneh nya.


Berhubung lagi malas berdebat dengan nya, akhirnya aku pun mengalah, dan memutuskan untuk memasak makanan buat makan siang.


"Ya lah, sukak mu lah situ." balas ku cuek, lalu mulai berjalan keluar menuju dapur.


Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba bang Darma bangkit dari ranjang, lalu menggendong tubuh ku ke pundak nya. Persis seperti kuli pasar yang sedang memikul sekarung beras.


Mendapat perlakuan mendadak seperti itu, aku pun langsung memekik kuat dan reflek memukul-mukul punggung nya.


"Aaaaaaa, lepasin!" pekik ku.


Bukan nya melepaskan badan ku, bang Darma malah membawa ku ke atas ranjang, lalu membaringkan tubuhku secara perlahan, sambil bertanya...


"Emang mau kemana sih, minta di lepasin segala?" tanya bang Darma, sambil menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah ku.

__ADS_1


"Mau kemana lagi, kalau bukan masak? Emang nya perut mu gak lapar?" tanya ku balik.


"Ya...lapar sih. Tapi nanti aja lah masak nya, sekarang kita senang-senang aja dulu. Gimana, mau gak?" tanya bang Darma sambil tersenyum dan menaik turun kan kedua alisnya.


"Ogah," jawab ku acuh.


Aku meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan nya. Tapi ternyata, usaha ku itu hanya sia-sia belaka. Tenaga ku kalah jauh dibandingkan tenaga nya.


"Ck, bisa diem gak sih! Udah kayak ulat bulu aja, uget-uget terus dari tadi." omel bang Darma mulai kesal.


"Ya maka nya lepasin, biar gak uget-uget terus badan ku." oceh ku masih terus meronta-ronta.


"Gak mau. Layani dulu sampe puas, baru abang lepasin." ujar bang Darma.


Dia pun langsung naik ke atas tubuh ku, dan mengungkung ku dengan kedua tangan nya. Tatapan lapar pun mulai terpancar dari wajah kusut nya.


"Ya udah lah pasrah aja. Dari pada gak siap-siap perang nya." batin ku sembari menghela nafas panjang.


Karena tidak ingin memperpanjang perdebatan pagi ini, akhirnya dengan berat hati aku pun kembali pasrah, dan membiarkan tubuh ku untuk di nikmati oleh nya.


"Oke, tapi jangan lama-lama ya! Aku mau masak soal nya." ujar ku.


Mendengar ucapan ku, wajah bang Darma pun langsung berbinar cerah, secerah matahari di siang bolong.


"Iya iya, paling cuma setengah jam aja kok." balas bang Darma.


Selesai mencumbui tubuh ku dari ujung kaki sampai ujung rambut, bang Darma pun mulai mengarah kan tombak sakti nya ke depan milik ku, lalu menghentak kan dengan kuat ke dalam, dan "bless." Tombak sakti nya masuk dengan sempurna ke dalam sarang nya.


Dan akhirnya, pergumulan panas pun kembali terjadi di antara kami berdua. Bang Darma mulai memacu gerakan nya dengan brutal dan kecepatan tinggi.


Hingga membuat ku sedikit kewalahan, menghadapi gairah nya yang sedang menggebu-gebu tersebut.


Dan seperti biasa, aku hanya memejamkan mata menikmati permainan nya, sambil mengeluarkan suara-suara indah dari bibir ku.


Setelah berpacu selama setengah jam lebih dengan berbagai gaya dan posisi, akhirnya bang Darma pun memuncak, dan mengeluarkan lahar hangat nya di dalam rahim ku.


Selanjutnya bang Darma menjatuhkan diri di sebelah ku dengan nafas yang masih naik turun tidak karuan, dan tubuh yang basah dengan keringat nya sendiri.


"Makasih ya, sayang. Udah mau melayani abang pagi ini." tutur bang Darma lalu mencium kening ku dengan lembut.


"Ya," balas ku dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Setelah beristirahat sejenak, aku pun segera bangkit dari ranjang, dan kembali membersihkan diri ke kamar mandi.


"Hufff, gara-gara hantu gila satu itu, aku jadi mandi dua kali pagi ini. Bikin nambah kerjaan ku aja."

__ADS_1


Gerutu ku sambil membuang nafas kasar, dan terus melangkah menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri untuk yang kedua kalinya, aku pun kembali berpakaian dan langsung berperang dengan alat-alat dapur.


Sedangkan bang Darma, dia masih tampak anteng di atas ranjang dengan tubuh polos nya. Setelah melihat ku pergi ke dapur, tak lama kemudian bang Darma pun beranjak dari ranjang dan melilitkan handuk ke pinggang nya.


Setelah itu dia pun berjalan ke arah kamar mandi, dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibir nya.


Saat melewati ku, bang Darma memeluk ku dari belakang, dan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang ku. Dia kembali mendarat kan kecupan-kecupan nakal nya di leher dan juga pipi ku.


Aku yang sedang memetik kangkung pun merasa sedikit terganggu dengan tingkah nya tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung menyikut perut nya dengan kuat. Dan itu berhasil membuat nya terpekik, dan meringis kesakitan.


"Adooooh, sakit perut abang, dek!" pekik bang Darma sambil memegangi perut nya.


"Sokor, siapa suruh kegatalan terus dari tadi. Udah mandi sana, jangan ganggu-ganggu aku lagi!" umpat ku tanpa menoleh, dan tetap fokus menyiangi kangkung.


"Ck, itu nama nya bukan kegatalan, tapi mesra-mesraan. Masa gitu aja gak paham sih!" protes bang Darma, masih dengan wajah meringis menahan sakit, akibat perbuatan ku barusan.


"Udah, gak usah pake acara protes segala. Buruan mandi sana! Badan udah bau belacan gitu pun, masih aja ngoceh-ngoceh." omel ku ketus.


Mendengar perkataan ku, bang Darma pun langsung mengendus-endus ketiak nya, lalu kembali membeo.


"Mana ada bau belacan. Badan wangi gini kok di bilang bau belacan, rusak hidung mu ya." oceh bang Darma.


Aku tidak menghiraukan ucapan bang Darma. Aku tetap fokus dengan kerjaan ku, dan membiarkan nya mengoceh sesuka hati nya. Karena merasa di abaikan, bang Darma pun kembali melanjutkan langkah nya menuju kamar mandi, sambil berkata...


"Masak nya yang cepat ya, sayang. Perut abang udah lapar nih." ujar bang Darma.


"Ya," balas ku singkat.


Setelah itu, bang Darma pun masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri nya. Setelah selesai, dia kembali melangkah menuju kamar, dan mengambil pakaian dari dalam lemari lalu memakainya.


Setelah rapi dan wangi, bang Darma pun duduk santai di ruang tamu sambil menyalakan rokok, dan mengotak-atik ponsel nya.


Sedangkan aku, aku masih sibuk menyiapkan makanan untuk makan siang, dan membersihkan alat-alat dapur yang sudah aku gunakan.


Setelah semuanya beres, aku pun menyimpan semua makanan itu ke dalam lemari makan, lalu duduk selonjoran di sofa panjang, yang berada tepat di depan bang Darma.


Melihat kedatangan ku, bang Darma pun langsung meletakkan ponsel nya di atas meja, lalu bertanya...


"Udah siap masak nya, dek?" tanya bang Darma.


"Udah, kenapa emang nya?" tanya ku balik.


"Kalau udah, bawa sini lah! Abang udah lapar banget nih." jawab bang Darma.


"Oke, bentar." balas ku.

__ADS_1


Aku segera bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makanan dan alat-alat makan lain nya.


Setelah semuanya terhidang, aku dan bang Darma pun mulai melahap tumis kangkung dan ayam goreng itu dengan santai, tanpa pembicaraan apa pun.


__ADS_2