
"Iiihhhh, lepasin! Sampe sesak nafas ku ini abang buat." omel ku.
"Hehehe, maaf ya, sayang. Abang gak sengaja." balas Rendi.
Rendi melepaskan pelukan nya, dan beranjak dari ranjang. Dia mengajak ku untuk membersihkan diri ke kamar mandi.
"Ayo kita mandi, Yu! Habis tu kita keluar cari angin." ujar Rendi.
"Angin kok di cari, ntar masuk angin baru tau rasa!" canda ku.
"Maksud abang jalan-jalan loh, sayang. Bukan cari angin beneran. Ayo buruan, kita mandi!" desak Rendi.
"Ooohhh, kirain mau cari angin beneran, hehehe." balas ku pura-pura tidak tahu.
Aku cengar-cengir menanggapi ocehan Rendi. Lalu aku segera bangkit dari ranjang, dan mengikuti langkah Rendi ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri masing-masing, aku dan Rendi bergegas memakai pakaian, dan bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan.
"Udah siap, Yu?" tanya Rendi sambil memakai sepatu nya.
"Udah, bang. Ayo, kita berangkat!" jawab ku.
"Oke," balas Rendi.
Aku dan Rendi keluar dari kamar, lalu berjalan menuruni anak tangga menuju parkiran. Sampai di dalam mobil, Rendi pun langsung menjalankan kendaraan roda empat nya, keluar dari parkiran menuju jalan raya.
"Kita mau kemana, bang?" tanya ku sedikit penasaran.
"Udah, gak usah banyak tanya! Yang penting ngikut aja, oke." jawab Rendi.
Rendi tersenyum sumringah, sambil mengerlingkan sebelah mata nya pada ku. Setelah itu, dia kembali fokus menatap ke jalan. Aku hanya memajukan bibir mendengar penuturan Rendi, lalu menatap lurus ke depan.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, Rendi memarkirkan mobil nya di tepi pantai. Aku langsung terperangah, melihat pemandangan yang sangat indah di depan ku.
"Ini pantai yang pernah kita datangi malam itu ya, bang?" tanya ku tanpa menoleh kepada Rendi.
"Iya, sayang. Hari tu kita datang kesini malam-malam, jadi gak begitu kelihatan indah nya pantai ini. Tapi sekarang dirimu bisa lihat sendiri kan, betapa indah nya pemandangan disini." jelas Rendi.
"Iya, indah banget, bang." balas ku girang.
"Ayo, kita keluar! Atau mau di dalam sini aja?" tanya Rendi.
"Ya gak lah, ngapain juga berdiam diri di dalam sini." jawab ku
Aku langsung membuka pintu, dan berdiri menyandar di depan mobil Rendi.
"Hahaha, kirain mau diam di dalam mobil aja."
Rendi tertawa lepas mendengar celotehan ku. Kemudian, dia juga ikut keluar dari kendaraan nya, dan berdiri di samping ku sambil menyalakan rokok nya.
"Kita duduk di tenda itu aja yok, Yu! Biar kita bisa santai sambil mesan makanan." usul Rendi.
Rendi menunjuk ke arah tenda yang berada di pinggiran pantai.
"Ayo," balas ku.
Aku dan Rendi mulai melangkah kan kaki menuju ke arah tenda itu, sambil bergandengan tangan.
Sesampainya di tenda, aku dan Rendi langsung duduk berhadapan di atas kursi kayu. Tak lama kemudian, datang seorang pelayan wanita menghampiri kami berdua.
"Mau pesan apa, mas, mbak?"
Pelayan wanita itu bertanya, sambil menyodorkan buku menu kepada ku dan juga Rendi. Setelah melihat-lihat daftar makanan dan minuman yang ada di buku menu, aku pun memesan beberapa cemilan ringan beserta minuman nya.
"Sotong goreng tepung satu, kentang goreng satu, mie goreng nya satu. Trus, minum nya es kelapa muda satu ya, kak!" pinta ku.
__ADS_1
"Oke siap, mbak." jawab si pelayan.
"Abang mau makan apa?" tanya ku pada Rendi.
"Mie goreng satu, minum nya sama in aja!"
Rendi menjawab pesanan nya, lalu menyerahkan buku menu yang ada di tangan nya, kepada si pelayan wanita.
"Oke, mas." balas si pelayan ramah sambil tersenyum kepada kami berdua.
Setelah mendapatkan pesanan, pelayan wanita itu pun kembali ke dalam warung nya, untuk menyiapkan pesanan kami.
Angin berhembus cukup kencang, sehingga membuat rambut panjang ku yang sedang tergerai bebas pun, tak henti-hentinya bergerak kesana-kemari mengikuti arah angin.
Rendi terus saja memperhatikan ku, yang sedari tadi sibuk membenahi rambut. Lalu dia pun bangkit dari tempat duduk nya, dan mulai mendekati ku sambil berkata...
"Sini jepitan rambut mu, Yu!" pinta Rendi.
Rendi berdiri di belakang ku. Dia merapikan rambut ku yang terlihat berantakan, akibat hembusan angin. Setelah mendengar permintaan Rendi, aku segera merogoh tas untuk mengambil jepitan rambut.
Setelah mendapatkan nya, aku langsung memberikan jepitan itu ke tangan Rendi.
"Ini jepitan nya, bang!" ujar ku.
Rendi pun menerima nya, dan langsung menjepitkan nya ke rambut panjang ku.
"Nah, kalau gini kan jadi rapi. Gak acak adut lagi kayak tadi." ledek Rendi.
Setelah selesai merapikan rambut ku, Rendi kembali duduk di tempat nya semula. Dia menopang kan dagu nya, di kedua telapak tangan nya di atas meja.
Rendi kembali memandangi ku, sambil menyunggingkan senyuman manis nya.
"Cengar-cengir terus dari tadi, lagi kumat ya?" ledek ku.
"Kumat apa nya?" tanya Rendi dengan kening yang mengkerut.
"Iya, abang memang lagi gila, karena mikirin dirimu." balas Rendi santai.
"Helehh, gombal!" cibir ku.
Aku memalingkan wajah, dan menatap ke arah laut yang terbentang luas di depan ku.
"Siapa yang lagi menggombal? Abang ngomong serius loh, Yu. Masa gak percaya sih, sama abang?" balas Rendi berusaha meyakinkan ku.
"Ya, trus aku harus jawab apa coba? Abang kan tau sendiri, kalau aku masih berstatus sebagai istri orang." jawab ku.
"Iya juga, sih." balas Rendi pasrah.
Setelah percakapan dengan Rendi selesai, si pelayan wanita itu pun datang. Dia membawa nampan, yang berisikan makanan dan minuma di kedua tangan nya.
Pelayan itu menghidangkan semua makanan yang di bawa nya di atas meja. Setelah itu, dia pun pamit untuk kembali ke tempat nya.
"Silahkan di nikmati hidangan nya mas, mbak! Kalau masih ada yang di butuhkan, panggil saya aja ya, mbak!" ujar nya dengan ramah dan sopan.
"Oke, makasih ya, kak." balas ku.
"Iya, sama-sama, mbak." jawab nya sambil berlalu pergi meninggalkan meja kami.
"Jangan kebanyakan melamun, ntar kesurupan loh!" sindir ku.
Rendi yang sedari tadi sedang asyik dengan lamunan nya pun, langsung tersentak. Dia tampak sangat terkejut mendengar sindiran ku.
"Ayo kita makan, bang! Mumpung masih anget." lanjut ku.
"Iya, baweeel." balas Rendi kesal.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum melihat wajah Rendi yang di tekuk lesu.
"Itu muka nya kenapa, kok jadi jelek gitu?" ledek ku sambil menyendok kan mie goreng ke dalam mulut.
"Enak aja bilangin muka abang jelek. Muka ganteng nan menawan gini kok di bilang jelek." balas Rendi tidak terima dengan ledekan ku.
"Idih, narsis banget sih jadi orang." cibir ku.
"Udah ah, jangan berisik lagi! Nanti keselek pulak, gara-gara ngoceh terus." ujar Rendi sambil memakan mie goreng nya.
"Oke, bos!" jawab ku.
Tak butuh waktu lama, aku dan Rendi pun sudah selesai menyantap mie goreng itu sampai habis tak bersisa.
"Eeggh, alhamdulillah kenyang."
Aku bersendawa di depan Rendi, sambil menutup mulut dengan telapak tangan. Mata Rendi langsung membulat, karena mendengar suara sendawa ku barusan.
"Maaf, bang. Aku khilaf, hihihi." ujar ku cekikikan sendiri.
"Ada-ada aja tingkah mu, Yu...Yu..."
Rendi tersenyum melihat kelakuan ku. Dia merentangkan satu tangan nya, untuk mengacak-acak rambut ku.
"Ck, jadi kusut nih rambut ku, abang buat." omel ku kesal dengan bibir yang mengerucut.
Aku merapikan rambut yang kembali acak-acakan, akibat perbuatan Rendi. Melihat reaksi ku yang sedang cemberut kesal, Rendi pun kembali menjahili ku dengan tangan nakal nya.
"Iiihhhh, bikin gemes aja sih muka nya ini, hahaha."
Rendi mencubit kedua pipi ku, sambil tertawa terbahak-bahak. Dia terlihat begitu senang dengan ulah nya sendiri.
"Adoooh! Sakit, tau gak? Suka banget sih, nyiksa anak orang!" pekik ku semakin kesal.
Bukan nya merasa bersalah atau pun meminta maaf, Rendi malah semakin menjadi-jadi. Dia terus saja tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut nya.
Setelah capek mentertawai ku, Rendi langsung menyeruput es kelapa muda yang berada di depan nya.
"Ah, segar nyaaa." gumam Rendi.
Aku hanya tersenyum miring, melihat tingkah Rendi yang sedang mengelus-elus kerongkongan nya. Dia tampak sangat kehausan, setelah habis-habisan meledek ku.
"Hufff, ternyata capek juga ya, ketawa-ketawa kayak tadi." lanjut Rendi lagi.
"Sokor! Siapa juga yang nyuruh abang cekakakan dari tadi?" balas ku cuek.
Aku mencibir Rendi, sambil memakan sotong goreng yang ada di atas meja. Setelah menghabiskan setengah gelas besar es kelapa muda, Rendi menyalakan rokok nya kembali.
"Hanya dengan mu saja, abang bisa tertawa lepas seperti tadi, Yu. Abang merasa sangat bahagia, kalau sedang bersama mu seperti saat ini." ujar Rendi.
Rendi mengungkapkan perasaan nya, dengan pandangan kosong menatap lurus ke lautan.
"Hanya kau satu-satunya wanita, yang bisa membuat abang ceria dan senang seperti tadi." tambah Rendi lagi.
"Iya, kah?" tanya ku tidak percaya.
"Iya beneran, Yu. Abang gak bohong. Abang serius dengan semua ucapan abang." balas Rendi.
Aku hanya manggut-manggut menanggapi penuturan Rendi, sambil terus mengunyah cemilan yang ada di depan ku.
"Menikah lah dengan abang, Yu! Abang janji, abang akan membahagiakan mu lahir dan batin." pinta Rendi dengan wajah memelas.
Aku langsung terpaku di tempat, setelah mendengar permintaan Rendi. Tiba-tiba, aku merasa gugup dan gelisah. Aku bingung harus menjawab apa lagi kepada Rendi.
"Maaf, bang. Aku tidak bisa menjawab nya sekarang." balas ku lirih.
__ADS_1
Hanya itu lah kata-kata yang sanggup aku keluar kan, untuk menjawab permintaan Rendi.