
"Malam ini aku nginap di mana ya?" batin ku bingung sambil terus melajukan motor ku tanpa arah dan tujuan.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun memutuskan untuk menginap di hotel yang biasa aku huni bersama Rendi.
"Ke hotel biasa aja lah." lanjut ku.
Sesudah mendapatkan tujuan, aku langsung mengarahkan laju kendaraan roda dua ku menuju hotel. Beberapa menit kemudian, aku pun tiba di parkiran motor tepat di depan gedung hotel.
Selesai memarkirkan motor kesayangan ku, aku pun melangkah masuk ke dalam dan memesan kamar.
Setelah itu, aku kembali melangkah ke lantai dua untuk mencari nomor kamar, yang tertera di kunci yang di berikan resepsionis tadi pada ku.
Sesampainya di dalam kamar, aku langsung merebahkan tubuh lelah ku ini di atas ranjang. Dengan pandangan kosong menerawang, aku mengingat kembali perbuatan yang di lakukan bang Darma sewaktu di rumah tadi.
"Sedendam itu kah kau dengan ku, bang? Sampai-sampai kau tega mengajak benalu itu untuk bercinta di dalam kamar kita di saat aku ada." gumam ku.
"Hufff, semoga saja aku bisa kuat menjalani rumah tangga yang sudah porak poranda ini."
Aku membuang nafas kasar berulang-ulang, sambil terus mengingat kejadian yang tidak terduga di rumah bang Darma tadi.
Tanpa terasa, air mata ku jatuh menetes membasahi bantal yang ada di bawah kepala ku.
"Ya Allah, apakah ini adalah balasan atas perbuatan yang telah aku lakukan selama ini? Sakit juga rasa nya melihat kelakuan bang Darma seperti itu." batin ku.
Setelah beberapa saat merenung, aku bangkit dari ranjang dan berjalan dengan langkah gontai menuju meja tv untuk mengambil ponsel. Aku mencari nomor kontak Rendi dan langsung menghubungi nya.
"Halo assalamualaikum, bang." salam ku.
"Wa'laikum salam, Yu. Tumben nelpon abang malam-malam gini, ada apa sayang?" tanya Rendi.
"Abang lagi dimana?" tanya ku balik.
"Lagi di rumah mikirin dirimu." jawab Rendi.
"Abang bisa datang ke hotel biasa sekarang gak?" tanya ku lagi.
"Ya bisa dong, sayang. Emang nya kamu udah ada di sana ya?" tanya Rendi.
"Iya, bang. Aku udah disini dari tadi, abang cepetan kesini ya aku tunggu." jawab ku.
"Oke, sayang. Abang otewe sekarang ya, lima belas menit lagi abang nyampe sana." balas Rendi.
"Oke, hati-hati di jalan ya, bang." jawab ku.
__ADS_1
"Iya, sayang." balas Rendi sambil menutup panggilan ku.
Setelah selesai menghubungi Rendi, aku meletakkan ponsel kembali di atas meja tv dan duduk di pinggir ranjang sambil menyalakan rokok.
"Apa yang sedang di lakukan bang Darma sekarang ya? Apakah dia sedang asyik bercinta dengan benalu itu?"
Aku kembali menduga-duga tentang bang Darma, dan aku juga sedang membayangkan suamiku itu sedang menggerayangi tubuh mantan istri nya di atas ranjang kami.
Sedang asyik dengan lamunan dan khayalan ku, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok...
"Yu, buka pintu nya!" pekik Rendi.
"Ya bentar, bang." jawab ku.
Aku bergegas membuka kan pintu untuk Rendi lalu mengunci nya kembali.
"Abang kangen banget dengan mu, sayang." ujar Rendi sambil memeluk erat tubuh ku.
"Iya sama, bang. Aku juga kangen banget sama abang." jawab ku membalas pelukan hangat Rendi.
Setelah saling berpelukan dalam waktu yang cukup lama, Rendi pun mulai merenggang pelukan nya dan memegangi kedua pipi ku. Dia menatap wajah ku yang sedikit sembab akibat menangis tadi.
"Gak lah, ngapain pulak aku nangis. Ini mata ku perih karena kena debu sewaktu naik motor tadi." bohong ku.
"Serius? Kamu pasti bohong kan?" tanya Rendi tidak percaya dengan jawaban ku.
"Iya serius, bang." jawab ku sambil menyunggingkan senyum kepada Rendi.
"Tapi kok abang gak percaya ya, dari mata mu aja abang bisa lihat kalau kamu sedang bersedih saat ini." selidik Rendi.
Rendi masih tetap tidak percaya dengan jawaban ku barusan. Dia terus saja memperhatikan wajah ku, dan senyum kepalsuan yang sedang aku tampil kan di hadapan nya.
"Udah ah, gak usah di omongin lagi! Aku lagi malas membahas masalah itu, mending kita happy-happy aja di sini." balas ku.
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, agar Rendi tidak menanyakan hal itu lagi dengan ku. Dengan wajah yang sedikit kecewa, Rendi pun terpaksa mengalah dan tidak bertanya apa pun lagi pada ku.
"Ya udah deh kalo gitu, abang gak akan tanya ini itu lagi dengan mu. Dari pada dirimu merajuk nantinya, mendingan abang tutup mulut aja." balas Rendi.
"Naaah, gitu dong dari tadi. Kalau di bilangin orang tua itu harus nurut, jangan ngeyel terus kerjaan nya, hihihi!" canda ku sambil cekikikan.
"Iya, mak." balas Rendi.
__ADS_1
"Hahahaha," tawa ku pun pecah seketika.
Sedangkan Rendi, dia hanya tersenyum mendengarkan ocehan-ocehan receh ku. Lalu kemudian, dia mengangkat tubuh ku ke atas ranjang dan membaringkan nya secara perlahan.
"I love you, sayang." bisik Rendi.
"Iya, aku juga mencintaimu, bang." jawab ku.
"Iya, kah?" tanya Rendi sambil menautkan kedua alisnya.
"Iya, sayang ku cinta kuuu." balas ku manja.
"Kalau memang cinta, mana buktinya? Abang juga mau tau seberapa besar cinta mu itu pada abang!" pinta Rendi.
"Bukti yang bagaimana maksud nya?" tanya ku bingung dengan kening yang mengkerut.
"Hmmmm, bukti yang kayak gini." jawab Rendi dengan tersenyum yang menyeringai.
Rendi langsung menindih tubuh ku dan menciumi bibir ku dengan lembut dan mesra. Beberapa saat kemudian, dia pun melepaskan ciumannya dan kembali bersuara.
"Sayang, kita kawin lari aja yok!" ujar Rendi.
"HAH, kawin lari?" pekik ku dengan mata yang membulat sempurna.
"Iya, kawin lari. Emang nya kenapa, gak mau ya?" tanya Rendi.
"Ngapain mesti kawin lari sih, capek tau gak? Mendingan kita kawin nya disini aja, hehehe." jawab ku sambil nyengir kuda.
Aku memeluk tubuh Rendi yang ada di atas ku. Kemudian aku pun merubah posisi, sehingga membuat Rendi berada di bawah kungkungan ku.
"Aku boleh minta jatah gak, bang?" tanya ku sambil tersenyum genit pada nya.
"Ya tentu boleh dong, sayang." jawab Rendi girang.
Sesudah mendapatkan persetujuan Rendi, aku pun mulai menggerayangi tubuh nya dengan semangat yang menggebu-gebu. Rendi tampak sangat menikmati permainan ku dengan mata yang terpejam.
Setelah selesai melakukan olahraga malam bersama Rendi, kami berdua langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing.
"Kamu udah makan belum, Yu?" tanya Rendi sambil memakai kembali pakaiannya.
"Belum, emang nya kenapa?" tanya ku balik.
"Kita cari makan, yok!" ajak Rendi.
__ADS_1
"Ya bentar, aku pakai pakaian dulu!" jawab ku.