
"Waktu di jalan tadi ada kecantol jin apa, bang? Jin iprit, jin botol, atau jin tomang?" tanya ku.
Bang Darma langsung mengerutkan kening nya. Dia bingung dengan pertanyaan ku itu.
"Maksud nya apa sih, dek? Ngomong nya kok jadi ngelantur gitu, aneh!" balas bang Darma.
"Yang aneh itu abang, bukan aku." balas ku.
Bang Darma menjadi semakin bingung, mendengar semua kata-kata ku. Dia langsung menatap wajah ku dengan serius.
Sedangkan aku, sama sekali tidak menghiraukan tatapan mata nya yang mengandung banyak pertanyaan pada ku.
"Emangnya abang aneh kenapa sih, dek? Kalo ngomong itu yang jelas, jangan berbelit-belit gitu! Bikin pusing aja mikirkan nya." balas bang Darma.
Bang Darma mengoceh panjang lebar karena kesal dengan kata-kata ku tadi. Aku hanya tersenyum miring menanggapi ocehan nya tersebut.
"Udah lah, nanti aja kalau mau cerita lagi, abang mau mandi dulu!"
Bang Darma berucap, sambil melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi. Aku hanya diam dan tidak bersuara apa pun lagi pada nya.
Setelah selesai mandi, bang Darma lanjut melaksanakan shalat ashar. Setelah itu, dia mengambil ponsel yang berada di atas meja, dan membaringkan tubuh nya di atas ranjang.
Aku yang sedari tadi duduk di ruang tamu, langsung beranjak untuk menutup kios dan bergabung bersama bang Darma di dalam kamar.
Sampai di kamar, aku duduk menyandar di sisi ranjang sambil selonjoran. Aku melihat sekilas ke arah bang Darma yang sedang asyik dengan benda pipih nya tersebut.
"Aku kasi tau gak ya sama bang Darma, tentang permintaan Yuni tadi!"
Aku membatin, sambil sesekali melirik kearah bang Darma. Aku bingung harus bicara atau tidak dengan suami ku itu.
"Ah, biarin aja lah. Biar anak nya sendiri aja yang ngomong sama dia. Aku udah malas mencampuri urusan anak dan bapak itu!" batin ku.
Setelah berperang dengan isi kepala sendiri. Akhir nya, aku pun memilih untuk tetap diam. Karena apa? Karena diam itu adalah emas.
Tak lama kemudian, adzan magrib pun berkumandang. Aku bergegas ke kamar mandi untuk berwhudu dan melaksanakan kewajiban ku sebagai umat muslim.
Setelah selesai, sekarang giliran bang Darma yang melaksanakan kewajiban itu. Saat ingin merebahkan tubuh di atas ranjang, sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu dari luar.
__ADS_1
"Ya, tunggu bentar!" pekik ku.
Aku segera keluar dari kamar, dan berjalan menuju pintu. Setelah membuka nya, aku langsung membuang nafas dengan kasar setelah melihat siapa yang ada di depan ku itu.
"Asik dia-dia aja pun yang datang kesini. Bosan juga aku lihat muka sok polos nya itu." batin ku kesal.
Aku menggerutu dalam hati, sambil mempersilahkan anak kesayangan bang Darma itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
Setelah Yuni mendudukkan dirinya di atas sofa, bang Darma pun langsung keluar dari kamar untuk menemui anak nya.
Aku dan bang Darma duduk berdampingan, tepat di hadapan anak nya. Untuk mengalihkan perhatian Yuni yang sedang melihat ku dengan tatapan sinis itu, aku pun langsung berpura-pura menyibukkan diri dengan bermain ponsel.
"Ada apa lagi, Yun? Naik apa kau tadi kesini?" tanya bang Darma.
Bang Darma membuka percakapan sambil menyalakan rokok nya.
Mendengar pertanyaan bapak nya, Yuni pun langsung mengalihkan pandangan nya yang sedari tadi menatap ku, kini dia beralih menatap bang Darma.
"Hmmm, Yuni ada perlu, pak. Tadi Yuni kesini naik ojek online." balas Yuni ragu.
"Memang nya ada perlu apa?" tanya bang Agus lagi.
Sedang kan aku, masih tetap setia dengan mode acuh dan diam sambil bermain game di ponsel ku. Karena melihat Yuni hanya diam dan menunduk, bang Darma pun kembali bertanya kepada anak semata wayang nya itu.
"Cepat ngomong, Yun! Ada perlu apa lagi kau datang malam-malam gini?" tanya bang Agus tegas.
"Hhmm, Yuni mau minta di belikan motor, pak! Yuni sama mamak jadi kesusahan kalo gak ada motor di rumah, pak. Gak bisa kemana-mana jadi nya." jelas Yuni.
Yuni mengungkapkan maksud kedatangan nya itu dengan raut wajah yang tampak ketakutan.
Setelah mendengar penuturan Yuni, aku langsung menoleh kepada bang Darma dengan kening yang mengkerut. Begitu juga dengan bang Darma, dia melihat ku dengan wajah yang bingung.
"Kau itu bisa mikir gak sih, Yun! Gara-gara ulah mu kemaren, sekarang bapak harus naik ojek untuk pergi bekerja." ucap bang Darma.
"Bapak udah gak punya motor lagi untuk pergi kemana pun,dan itu semua akibat dari perbuatan mu!"
Bang Darma menjelaskan panjang lebar kepada anak nya, tentang keadaan yang di alami nya sekarang. Aku melirik sekilas kepada Yuni, dia tampak tertunduk lesu di tempat duduk nya.
__ADS_1
"Tapi Yuni kasian sama mamak, pak. Sekarang mamak jadi gak bisa jalan-jalan lagi. Gak bisa keluyuran lagi sama teman-teman nya, pak!" jawab Yuni.
"Mamak jadi malu sama orang-orang sama tetangga juga. Karena udah gak punya motor lagi sekarang, pak." tambah Yuni dengan polos nya.
"Bener-bener udah gila ni anak. Lebih mentingin gengsi mamak nya dari pada nasib bapak nya. Dasar lalat ijo gak ada akhlak." batin ku geram.
Aku kembali menggerutu dalam hati, mendengar semua ucapan Yuni yang tidak masuk akal menurut ku.
"Gimana bapak mau belikan motor untuk mu, kalau bapak sendiri aja gak ada motor?" balas bang Darma jujur.
"Motor yang di luar itu kan masih ada, pak. Motor yang itu aja untuk Yuni ya, pak!" pinta Yuni memelas.
Yuni menjawab sambil menunjuk ke arah luar pintu, dimana tempat motor ku sedang terparkir. Mata ku langsung membulat sempurna mendengar jawaban anak bang Darma.
"Gila kau, ya! Enak aja kau mau minta motor ku. Mau minta di patah kan tangan mu itu ya, hah!" balas ku mulai tersulut emosi.
Emosi ku pun langsung meledak-ledak. Aku menjawab ucapan Yuni itu sambil berdiri dan menunjuk ke arah tangan nya, yang sedang bertengger cantik di atas bantal sofa yang berada di pangkuan nya.
Bang Darma langsung ikut berdiri mendengar jawaban ku barusan. Dia memegangi bahu ku untuk mengajak ku duduk kembali di samping nya. Aku pun menurut dan kembali duduk di tempat ku semula.
"Gak boleh ngomong seperti itu, dek! Maklum aja lah nama nya juga anak-anak! Yuni itu belum bisa mikir mana yang baik dan mana yang buruk!" balas bang Darma berusaha menenangkan emosi ku.
"Apa kau bilang, bang? Dia masih anak-anak? Apa kau juga sudah ikut-ikutan gila kayak dia?" balas ku.
Aku semakin emosi mendengar ucapan bang Darma. Aku menjawab sambil menunjuk ke arah Yuni yang masih terlihat anteng duduk di tempat nya.
"Ya kan memang dia masih anak-anak." balas bang Darma lagi.
"Udah tau rasa nya kawin sama jantan, kok masih di bilang anak-anak! Kau itu waras gak sih, BANG?" bentak ku dengan suara melengking.
Bang Darma langsung terlonjak kaget mendengar bentakan ku barusan. Raut wajah nya terlihat syok dan dia tampak sangat terkejut.
"Apa benar yang di kata kan ibuk mu itu, Yun?" selidik bang Darma mulai penasaran.
Yuni terlihat gugup dan salah tingkah mendengar pertanyaan bapak nya. Yuni tidak menyangka kalau aku tahu semua tentang diri nya.
"Rasain kau bocah tengik! Mati kutu kau sekarang kan? Maka nya jangan coba-coba buat masalah dengan ku!" cibir ku dalam hati.
__ADS_1
"Kau sudah membuat tanduk dan taring ku keluar. Dan sekarang rasa kan lah akibat nya, hahaha!"
Aku membatin sambil tersenyum miring, melihat gelagat anak tiri ku yang sedang panik dan gelisah di tempat duduk nya.