
"Akhir nya kau pulang juga, sayang." ujar bang Darma.
Suami ku itu berdiri di depan pintu dengan senyum yang menyeringai, dan melipat kedua tangan nya di perut.
Aku tersenyum miring, saat mendengar ucapan bang Darma yang memanggil ku dengan kata sayang.
"Masuk lah istri ku yang nakal, aku sangat merindukan mu. Aku juga sudah tidak sabar ingin memakan mu saat ini juga." ujar bang Darma.
Bang Darma memperhatikan tubuh ku dari atas sampai bawah, sambil menyunggingkan senyuman genit di bibir nya.
Aku sama sekali tidak menghiraukan pandangan mata nya, dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam kamar, aku meletakkan tas dan ponsel di atas meja kemudian bergegas berganti pakaian.
Bang Darma mengikuti langkah ku dari belakang. Dia kembali memperhatikan gerak-gerik ku yang sedang membuka pakaian satu persatu.
Setelah tubuh ku polos tanpa sehelai benang pun, bang Darma langsung mendekati ku dan memeluk ku dari belakang. Dia mengendus aroma leher dan juga pundak ku dengan nafas yang mulai ngos-ngosan.
"Sayang, abang ingin menikmati keindahan tubuh mu sekarang." bisik bang Darma.
Tanpa mendapatkan persetujuan dari ku, bang Darma langsung memboyong tubuh ku ke atas ranjang. Dia mulai menggerayangi dan mencumbui tubuh ku dengan sedikit kasar.
Aku tidak membalas atau pun menolak. Aku hanya diam seperti layaknya boneka yang sedang di mainkan oleh suami ku sendiri.
Setelah bang Darma merasa puas menikmati tubuh ku, dia langsung menjatuhkan diri nya di samping ku. Bang Darma tampak sangat kecapekan dengan aksinya sendiri.
"Sayang, kenapa kau tidak membalas permainan ku tadi? Apakah kau tidak puas dengan pelayanan ku?"
Bang Darma bertanya sambil memiringkan tubuh nya dan menopang kan kepala di atas tangan kiri nya. Aku menoleh dan menatap tajam kepada nya.
"Apakah aku harus menjawab pertanyaan mu itu? Apakah jawaban ku penting buat mu?" tanya ku balik.
"Ya harus dong, sayang. Jawaban mu itu sangat penting buat ku." jawab bang Darma sambil mendekatkan bibir nya ke wajah ku.
Bang Darma kembali mencium bibir dan pipi ku dengan lembut dan mesra. Dia tampak sangat menikmati perbuatan nya itu dengan ku.
__ADS_1
"Udah ah, aku capek. Aku mau mandi dulu." balas ku.
Aku mendorong tubuh bang Darma dan segera bergegas melangkah menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, aku kembali lagi ke dalam kamar.
Aku melirik sedikit ke arah bang Darma yang masih tampak anteng, duduk bersandar di bahu ranjang dengan keadaan polos nya. Bang Darma terus saja memandangi ku dengan tatapan yang sulit di artikan.
Aku yang sedang sibuk memakai pakaian pun, sama sekali tidak memperdulikan tatapan mata nya. Aku tetap berpura-pura cuek dan acuh pada nya.
"Dek, berikan semua uang mu pada ku sekarang!" pinta bang Darma.
Dengan santai nya bang Darma meminta sambil menadahkan tangan nya di depan ku.
"Uang yang mana?" tanya ku pura-pura bodoh.
"Semua uang yang kau punya lah. Semalam kan kau udah di sewa sama lelaki mu, pasti mereka ngasih uang yang banyak kan? Sini, berikan semua uang itu pada ku!" desak bang Darma.
"Cari lah sendiri, kalau memang uang itu ada, ambil saja semua nya untuk mu." jawab ku.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Darma segera beranjak dari ranjang dan mengambil tas kecil ku yang tergeletak di atas meja.
"Kok gak ada apa-apa sih, dek? Dimana kau simpan semua uang mu itu, hah?" tanya bang Darma dengan nada tinggi.
"Di tempat yang tidak bisa terjangkau oleh tangan kotor mu." jawab ku santai.
"Oh, gitu ya. Trus tempat nya itu dimana? Cepat katakan!" desak bang Darma.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberitahu mu, dimana aku menyimpan semua uang ku, ingat itu!" jawab ku tegas.
"Kau pikir aku ini perempuan bodoh yang bisa kau tipu mentah-mentah, hah? Kau kira aku gak tau, apa maksud mu yang sebenarnya menyuruh ku pulang ke rumah ini lagi?" lanjut ku lagi.
"Ya ya ya, kau memang perempuan pintar dan licik, aku tau itu." jawab bang Darma kesal.
"Udah tau gitu pun masih aja mau ngakalin aku, hahaha. Jangan pernah berharap kau bisa mendapatkan uang dan perhiasan ku, sayang." ledek ku sambil tersenyum miring.
Setelah selesai memakai pakaian dan berdandan, aku duduk di tepi ranjang dan menyalakan rokok. Kemudian aku menghembuskan asap nya ke wajah bang Darma.
__ADS_1
Wajah bang Darma tampak sangat geram, karena mendengar ledekan ku. Dia mengeratkan rahang nya dan menatap ku dengan mata elang nya.
"Dan satu lagi, aku gak akan pernah cemburu dengan mu. Aku juga tidak perduli apa pun yang kau lakukan dengan mantan mu itu." lanjut ku.
"Gak usah munafik jadi orang. Aku tau kau pasti cemburu dan marah kan, melihat adegan ranjang kami kemarin?" tebak bang Darma.
"Hahaha, Darma...Darma... Kalau aku cemburu, gak mungkin aku mau melihat adegan kalian sampai selesai." balas ku sembari tergelak.
"Kalau aku marah, gak mungkin aku mau balik ke rumah ini lagi. Mikir dong, jangan tau nya cuma nebak-nebak aja!" lanjut ku.
Bang Darma langsung terdiam, dia terlihat sedang memikirkan tentang ucapan-ucapan ku barusan. Setelah beberapa saat suasana hening, akhir nya bang Darma pun kembali bersuara.
"Jadi sekarang mau apa, hah?" tanya bang Darma.
"Cerai kan aku! Setelah itu, kau bisa bebas bercinta dengan siapa pun yang kau mau, termasuk dengan Dina." jawab ku tanpa menoleh pada nya.
Bang Darma tampak sangat terkejut. Dia langsung terlonjak kaget mendengar permintaan ku.
Dia juga menarik tangan ku dengan kuat, hingga membuat ku terjelembab dan jatuh ke dalam pelukan nya.
"Kan sudah pernah aku bilang, sampai kapan pun aku gak akan pernah menceraikan mu, ingat itu baik-baik!" jawab bang Darma.
Dia memeluk ku dengan erat, bahkan sangat erat. Seperti tidak ingin melepaskan nya lagi. Wajah ku menempel tepat di dada nya, dan itu bisa membuat ku merasakan detak jantung nya yang sedang berdegup kencang.
"Jangan pernah tinggalkan aku, dek. Aku tidak bisa jauh dari mu. Aku tidak bisa hidup tanpa mu, dek." tutur bang Darma.
Bang Darma mengungkapkan isi hati nya dengan linangan air mata yang membasahi kedua pipi nya. Ya bang Darma menangis, dan dia juga semakin mempererat pelukan nya di tubuh ku.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari pelukan nya. Tapi semua usaha ku itu hanya sia-sia. Tenaga ku kalah jauh dari tenaga bang Darma.
Karena melihat ku yang terus meronta-ronta di dalam pelukan nya, bang Darma pun membuka suara nya kembali.
"Tolong biar kan dulu seperti ini, dek! Biar kan abang memeluk mu lebih lama lagi." pinta bang Darma dengan wajah memelas.
Mendengar permintaan bang Darma, aku langsung menghentikan gerakan ku. Aku terdiam dan terpaku di dalam dekapan hangat nya.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dari ku, bang? Kenapa kau tidak ingin menceraikan ku?" tanya ku dengan mata yang mulai berembun.