
* Kembali ke Ayu *
Setelah tertidur lelap selama kurang lebih tiga jam, aku mulai membuka mata perlahan. Aku menggeliatkan badan ke kanan dan kiri, untuk merenggangkan otot-otot yang tegang dan kaku.
"Hoamm, enak banget tidur ku kali ini." gumam ku sembari menguap.
Aku celingukan kesana kemari untuk mencari sosok lelaki gila, yang selalu mengganggu ketenangan jiwa dan raga ku.
"Kemana pergi nya hantu satu itu? Kok tumben dia gak pecicilan gangguin aku." batin ku heran.
"Tapi ada bagus nya juga sih dia gak ada disini, jadi aku bisa aman dan tidur nyenyak siang ini." lanjut ku.
Selesai berbicara dengan diri sendiri, aku pun mulai beranjak dari ranjang dan melilitkan handuk ke tubuh ku. Setelah itu, aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, aku kembali berjalan ke dalam kamar, dan mengambil pakaian di dalam lemari kemudian memakai nya. Selanjutnya, aku merias diri di depan cermin, dan menyemprotkan sedikit parfum ke badan ku.
Setelah rapi dan wangi, aku duduk di tepi ranjang lalu menyalakan rokok. Saat sedang asyik menghisap rokok, tiba-tiba aku teringat uang pemberian pak kades dan juga Rendi, yang ku simpan di dalam tas ransel.
"Oiya, hampir aja aku lupa. Uang dari pak kades sama Rendi kan, belum aku titipkan ke Naya. Kalau semua uang itu tidak ku simpan di sana, bisa lenyap nanti di colongin sama hantu gila itu." gumam ku.
Aku membuka laci meja, lalu mengeluarkan tas ransel dari dalam nya. Kemudian, aku segera merogoh tas itu untuk mengambil dompet.
"Alhamdulillah, syukur lah dompet ku masih ada." gumam ku lega.
Aku meletakkan tas itu di atas meja, lalu mulai membuka dompet kulit ku tersebut. Aku menghitung jumlah uang yang tersimpan di dalam nya dengan kening mengkerut.
"Loh, kok cuma tujuh juta lima ratus? Seharusnya kan delapan juta lima ratus, kemana hilang nya yang satu juta?" gumam ku heran.
"Apa aku yang salah hitung ya? Tapi beneran kok, uang ini seharusnya nya delapan juta lima ratus. Dari pak kades lima juta, dari Rendi tiga juta, trus yang lima ratus uang dompet ku." lanjut ku.
"Apa hantu gila itu yang nyolong ya?" tebak ku.
"Hmmmm, gak salah lagi nih. Aku yakin seribu persen, ini pasti kerjaan dia. Kalau bukan dia, siapa lagi? Masa iya, ada tuyul siang bolong gini?"
"Kalau pun ada, palingan tuyul nya bang Agus. Kan cuma dia satu-satunya tuyul yang kelayapan siang-siang bolong." gumam ku lagi.
Aku menaruh uang itu kembali ke dalam dompet, lalu menyimpan nya ke dalam tas. Setelah itu, aku meletakkan tas itu ke dalam laci, lalu mengunci nya.
"Awas aja kalo memang dia pelaku nya. Aku akan bikin perhitungan sama dia, biar kapok sekalian." batin ku geram.
Aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu mengotak-atik nya untuk mencari kontak bang Darma. Setelah menemukan nya, aku pun segera menghubungi nomor tersebut.
Setelah panggilan ku tersambung, aku langsung membentak dan memaki-maki suami gila ku itu, dengan suara yang cukup memekakkan telinga. Aku mengancam dan meminta nya, untuk segera mengembalikan uang ku secepatnya.
Dan setelah panggilan terputus, aku meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja, lalu lanjut menghisap rokok yang masih tersisa separuh di tangan ku.
Tak lama kemudian, terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah.
__ADS_1
"Naaah, itu pasti dia." tebak ku.
Aku langsung mempersiapkan diri untuk kembali berperang, melawan suami gila plus gatal tersebut. Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan suara langkah kaki masuk ke dalam rumah.
Saat bang Darma masuk ke dalam kamar, wajah nya tampak murung dan menunduk. Dia sama sekali tidak berani menatap wajah ku, yang sudah berubah seperti zombie yang sangat menakutkan.
"MANA UANG KU, BANGS*T?" pekik ku kuat.
Aku mengulang kata-kata yang aku ucapkan pada nya, sewaktu di telpon tadi. Mendengar bentakan ku, bang Darma pun langsung terlonjak kaget. Dia mulai mengangkat kepala nya, lalu menatap wajah horor ku dengan serius.
"Ck, uang apa sih, dek? Kan tadi aku udah bilang, aku gak ada ngambil uang mu." balas bang Darma.
Bang Darma yang sedari tadi mematung di depan pintu, kini mulai mendekati ku dan mendudukkan diri nya di sebelah ku. Dia mengulurkan tangan nya, dan ingin menggenggam jari-jemari ku.
Tapi itu tidak sempat terjadi, karena aku langsung menepis tangan nya dengan kasar. Aku menatap tajam ke arah bang Darma dengan mata elang ku, lalu berucap...
"Jangan kau sentuh aku dengan tangan kotor mu itu, Darma. Dan aku harap, kau bisa simpan ucapan ku itu baik-baik, di dalam otak korslet mu itu!" cibir ku.
"Loh, ya gak bisa gitu lah, dek! Kau itu masih istri sah ku. Aku masih punya hak untuk menyentuh mu dan menjamah mu." balas bang Darma sewot.
Bang Darma tidak terima dengan ucapan ku barusan, karena dia merasa masih berhak atas diriku.
"Hahahaha, siapa yang kau maksud istri sah mu, hah? Aku, atau kedua benalu kesayangan mu itu?" cibir ku sembari tertawa terbahak-bahak.
"Ya dirimu lah, sayang. Siapa lagi kalau bukan dirimu seorang? Kalau mereka sih cuma buat selingan aja untuk ku, cuma untuk hiburan aja." balas bang Darma.
"Halah, modus. Kau pikir aku segampang itu, percaya gitu aja dengan rayuan busuk mu itu, hah? Jangan harap Ferguso." oceh ku.
Dia berusaha meyakinkan ku, agar aku bisa luluh dan percaya dengan kebohongan nya. Aku hanya tersenyum miring, menanggapi celotehan suamiku tersebut.
Suasana pun hening sesaat, aku merubah posisi duduk ku yang tadi nya kaki menjuntai ke bawah, kini menjadi bersila di depan nya.
Setelah itu, aku pun menyalakan rokok kembali, lalu menghembuskan asap nya dengan kasar ke wajah bang Darma. Kemudian aku kembali mengoceh, dan membentak nya dengan suara cempreng ku.
"Udah, gak usah banyak bacot muncung mu itu! Kembalikan uang ku sekarang, CEPAT!" pekik ku sembari menadahkan tangan ku ke depan wajah nya.
Bang Darma kembali tersentak, saat mendapat kan bentakan dari ku. Dia mengeratkan rahang nya dan menatap sinis pada ku.
"Apa tengok-tengok, hah? Kau kira, aku bakalan takut dengan wajah jelek mu itu ya? Hahaha, gak akan. Aku gak akan pernah takut dengan orang seperti mu. Udah lah jelek, tua, dekil, kere pulak." cibir ku pedas.
Mendengar ucapan ku, wajah bang Darma pun langsung memerah seperti kepiting rebus. Dia tampak sangat geram dan emosi, karena merasa di rendah kan oleh ku.
Karena tidak sanggup lagi menahan emosi nya, akhir nya bang Darma pun melayang kan telapak tangan nya ke arah wajah ku dan...
Bugh...
Sebelum tangan nya mendarat di pipi mulus ku, dengan gerakan cepat aku langsung menendang perut nya dengan sekuat tenaga. Dan itu berhasil membuat nya jatuh dan terjengkang ke lantai.
__ADS_1
"ADOOOH, sakit bodoh!" umpat bang Darma dengan suara menggelegar.
"Kau itu manusia atau iblis sih? Suka kali nyiksa orang. Kalau aku mati gara-gara ulah mu tadi, gimana coba?" tanya bang Darma kesal.
"Kalau mati ya di tanam, gitu aja kok repot." jawab ku santai.
"Aaagghhh, dasar perempuan gila, perempuan luknut, perempuan gak tau diri, perempuan mura..."
Sebelum bang Darma meneruskan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi, aku pun langsung memotong nya dengan cepat.
"Apa, hah? Kau mau bilang aku murah*n, ya?" tanya ku lantang.
"Emang kenyataan nya iya kan?" cibir bang Darma.
"Hahahaha, Darma... Darma...Kan udah pernah ku bilang sih, kau itu lebih murah dari pada aku. Bahkan kau itu cuma barang gratisan." cibir ku.
"Sedangkan aku, aku ini barang mahal. kalau ada lelaki yang ingin memakai jasa ku, mereka harus membayar mahal pada ku." lanjut ku.
"Cih, jadi pelac*r aja kok bangga." caci bang Darma sembari meludah ke badan ku.
"Kurang ajar." umpat ku.
Aku membuka baju ku, lalu menyumpal kan bekas ludah nya itu ke wajah bang Darma.
"Makan tu ludah mu sendiri." omel ku kesal.
Bang Darma menarik baju yang ada di wajah nya, lalu melempar nya ke sembarang arah. Setelah itu, dia menarik rambut ku dengan kuat, hingga membuat kepala ku mendongak ke atas.
"Auw, lepasin! Sakit tau gak." pekik ku sambil memukul tangan bang Darma, yang sedang mencengkram erat rambut panjang ku.
"Di lembutin kok malah makin ngelunjak. Apa mau ku botakin rambut mu ini, hah?" ancam bang Darma.
Mendengar ancaman bang Darma, aku pun mengarahkan tangan ku ke atas kepala nya. Kemudian aku menarik kuat rambut nya, hingga membuat nya memekik kesakitan.
"Aduuuuh, sakiiiiit. Lepasin tangan mu ini!" oceh bang Darma sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan ku di rambut nya.
"Lepasin dulu tangan mu, baru aku lepasin tangan ku." balas ku.
"Ck, mimpi apaaa lah aku dulu? Punya bini kok kayak monster gini." umpat bang Darma.
"Mimpi buruk." jawab ku asal.
Karena sudah tidak tahan dengan sakit di kepala nya, akhirnya bang Darma pun melepaskan cengkraman nya dari kepala ku.
"Udah, kan udah aku lepasin tangan ku. Kenapa tangan mu masih nemplok terus di kepala ku?" tanya bang Darma ketus.
"Balikin dulu uang ku, baru aku lepasin." jawab ku cuek sambil terus mencengkram erat rambut bang Darma.
__ADS_1
"Ck, udah di bawa ngomong ngalor-ngidul pun, masih aja ingat sama duit nya." gerutu bang Darma.
"Ya iya lah, kau pikir aku ini amnesia? Lupa sama uang sendiri, hah? Hahahaha, jangan mimpi!" oceh ku sembari tergelak.