SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Mengusir Yuni


__ADS_3

Mendengar umpatan Ayu yang cukup menyakitkan, Yuni pun semakin bertambah geram dan emosi. Dia mendekati Ayu dan ingin melayangkan telapak tangan nya ke wajah Ayu.


Tapi sebelum itu terjadi, Ayu dengan sigap menangkap pergelangan tangan Yuni, lalu menghempaskan nya dengan kasar ke udara.


"Heh, anak gak tau diri! Jangan coba-coba menyentuh ku ya. Kalau tidak, aku akan patah kan kedua tangan mu itu." ancam Ayu sambil menunjuk wajah bengis Yuni.


Yuni langsung tertawa ngakak, setelah mendengar ancaman receh Ayu. Dia sama sekali tidak takut atau pun gentar dengan sikap tegas Ayu.


"Halah, kau itu kan tau nya cuma ngancem doang. Kau pikir aku takut, hah? Hahahaha, tidak lah yau." cibir Yuni sambil terus mentertawai Ayu.


"Oh, jadi kau perlu bukti ya?" gertak Ayu dengan senyum menyeringai, dan mendekati Yuni dengan langkah perlahan.


Tawa Yuni pun langsung terhenti seketika. Wajah nya tampak pucat dengan keringat yang mulai bermunculan di dahi nya. Dia terlihat panik dan ketakutan, melihat aksi nekat Ayu yang semakin mendekati nya.


"Eh eh eh, mau ngapain kau? Hush hush, pergi jauh-jauh sana! Mual aku dekat-dekat sama badan bau mu itu." usir Yuni sambil mengayun-ayunkan tangan nya, persis seperti mengusir ayam.


Melihat kelakuan Yuni yang semakin menjadi-jadi, darah Ayu langsung mendidih seketika. Dia mengeratkan rahang nya, dan mengepalkan kedua tangan nya.


"Wah wah wah, makin ngelunjak aja nih bocah. Kau pikir aku ini ayam apa, pake acara hush hush segala?" cibir Ayu dengan senyum yang mengerikan di wajah nya.


Karena merasa takut dengan gelagat Ayu yang semakin horor, akhirnya Yuni pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan menemui Darma, lelaki pujaan nya tersebut.


"Dari pada aku mati konyol di tangan perempuan gila ini, mendingan aku kabur ke kamar aja lah, jumpai ayang beb ku." batin Yuni sambil melirik ke arah pintu kamar yang sedang tertutup rapat.


Dalam keadaan genting seperti ini, Yuni pun langsung melesat dengan secepat kilat. Dia menerobos masuk ke dalam kamar pribadi Darma dan Ayu, lalu mengunci pintu nya.


Ayu yang tidak menyangka akan perbuatan Yuni pun langsung terperangah, melihat pintu kamar nya yang sudah terkunci rapat dari dalam.


"Ck ck ck, sebegitu gatal nya kah barang busuk mu itu bocah tengik? Sampai-sampai kau bisa berbuat senekat itu, hanya untuk mendapatkan laki-laki brengs*k seperti Darma." gumam Ayu sambil menggeleng-gelengkan kepala nya.


Ayu tampak salut, melihat kegigihan Yuni dalam memperjuangkan cinta nya. Dia sama sekali tidak menyangka, jika anak seumuran Yuni akan melakukan hal gila seperti saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus menyeret Yuni keluar dari kamar? Atau malah membiarkan nya?" batin Ayu bingung.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Ayu pun memutuskan untuk mendobrak pintu kamar itu dengan tendangan super nya.


Sedangkan di dalam kamar, Yuni langsung mematung di tempatnya berdiri. Dia menelan ludah dengan kasar sampai berulang kali, saat melihat pemandangan yang sangat menggiurkan di depan mata nya.


Yuni tampak begitu terpesona, ketika melihat tubuh kekar Darma yang sedang tertidur pulas di atas ranjang, dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


Setelah beberapa saat termenung memandangi tubuh Darma, Yuni pun langsung tersadar dan berpikiran yang tidak-tidak, tentang apa yang sudah di lakukan oleh Ayu dan Darma.


"Kalau bang Darma polos seperti ini, itu artinya mereka habis main dong tadi." gumam Yuni menduga-duga.


"Iiiisss, benci kali pun. Kenapa juga harus main sama perempuan gila itu. Kalo emang lagi pengen, kan bisa main sama aku." lanjut Yuni mulai kesal.


Dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut, Yuni pun mulai mendekati Darma. Saat hendak naik ke atas ranjang, tiba-tiba Yuni terlonjak kaget, karena mendengar suara pintu yang sedang di tendang oleh Ayu dari luar kamar.

__ADS_1


BRAAKK...


"Cepat buka pintu nya, bocah tengik! Kalau tidak, pintu ini akan roboh ku buat." pekik Ayu sambil terus menendang pintu kamar itu dengan sekuat tenaga nya.


Yuni sama sekali tidak memperdulikan perbuatan Ayu. Dia tetap naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di sebelah Darma. Saat ia hendak melingkar kan tangan nya di pinggang Darma, tiba-tiba si empunya badan pun tersentak dan terbangun dari tidur lelap nya.


Darma langsung kaget bukan kepalang, saat melihat keberadaan Yuni di sebelah nya, dan juga suara berisik dari luar kamar.


Tanpa berkata apa-apa pada Yuni, Darma pun langsung bangkit dari ranjang, lalu menyambar handuk yang tergantung di samping lemari pakaian.


Setelah melilitkan handuk itu ke pinggang nya, Darma pun langsung membuka pintu yang sedari tadi masih di tendang oleh Ayu.


Ceklek...


Setelah pintu terbuka lebar, Darma pun langsung mengoceh pada Ayu. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan sikap Ayu, yang semakin hari semakin bertambah gila dan bar-bar.


"Kau ini apa-apaan sih, dek? Lama-lama bisa jebol lah pintu nya ini, kalau kau tendang terus kayak gitu." omel Darma dengan wajah bantal dan rambut yang acak-acakan.


Bukan nya menjawab ocehan Darma, Ayu malah tersenyum dan bersidekap di depan suami nya tersebut, sambil berkata...


"Tolong kau keluar kan parasit yang ada di dalam kamar kita sekarang!" titah Ayu.


Darma menautkan kedua alisnya. Dia terlihat bingung dan tidak mengerti, dengan kata-kata yang terlontar dari bibir Ayu barusan.


"Parasit?" tanya Darma penasaran.


"Ya, parasit gatal yang ada di dalam kamar kita." jawab Ayu santai.


Darma langsung bergidik ngeri, melihat penampakan wajah Ayu yang sangat menyeramkan kan, persis seperti zombie yang ingin menggigit mangsanya.


"O-oke oke, aku akan mengeluarkan nya sekarang juga." balas Darma panik.


Dia pun kembali ke dalam kamar, lalu meminta Yuni untuk keluar dari kamar dan juga rumah nya. Sedangkan Ayu, dia duduk selonjoran di sofa panjang, lalu menyalakan rokok nya.


Sambil menghisap rokok yang ada di tangan nya, Ayu pun memusatkan perhatian nya ke arah pintu kamar yang sedang terbuka lebar tersebut.


Sedangkan di dalam kamar, dengan berbagai cara dan upaya, Darma terus saja berusaha membujuk Yuni, agar dia mau keluar dari kamar dan segera pergi dari rumah nya.


"Ayo lah Yun, tolong turuti permintaan abang. Abang janji, nanti sore abang pasti akan datang kesana." rengek Darma dengan wajah memelas.


Setelah mendengar bujukan Darma, akhirnya Yuni pun luluh dan menuruti keinginan Darma.


"Oke, aku akan turuti kemauan abang, tapi ada syaratnya." ujar Yuni.


"Syarat?" tanya Darma sambil menautkan kedua alisnya.


"Ya, syarat nya gampang kok. Aku cuma minta, malam ini abang harus nginap di rumah kami. Gimana, mau gak?" tanya Yuni.

__ADS_1


Karena tidak ingin memperkeruh keadaan, akhirnya Darma pun menyetujui syarat yang di ajukan oleh Yuni.


"Oke, malam ini abang akan nginap di sana." jawab Darma sambil mengangguk.


Mendengar jawaban Darma yang sesuai dengan keinginan nya, Yuni pun langsung tersenyum lebar. Dia segera bangkit dari ranjang, lalu memeluk tubuh kekar Darma dengan sangat erat.


Begitu pun dengan Darma, dia membalas pelukan Yuni lalu membelai rambut gadis kecil nya itu, dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Setelah selesai membuat kesepakatan, mereka berdua pun akhirnya keluar dari kamar, dan melewati Ayu yang sedang duduk santai di sofa panjang.


"Awas kau perempuan gila, tunggu aja pembalasan ku." ancam Yuni.


Yuni mengacungkan jari tengah nya kepada Ayu. Setelah itu, dia pun berlalu pergi dengan di antar oleh Darma sampai di depan pintu utama.


Melihat kelakuan nyeleneh Yuni, Ayu pun hanya tersenyum miring. Dia juga mengacungkan jempol nya ke arah Yuni, dengan posisi terbalik.


Setelah bayangan Yuni menghilang dari penglihatan nya, Darma pun kembali masuk ke dalam rumah, lalu mengunci pintu utama.


Kemudian Darma berjalan ke arah kamar dan melewati Ayu begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada istri nya tersebut.


Melihat sikap acuh suaminya, Ayu pun hanya cuek lalu memajukan bibir nya dan juga mengendikkan bahu nya.


"Hufff, akhir nya pergi juga tuh lalat ijo." gumam Ayu lega.


Ayu merebahkan tubuh lelah nya di atas sofa yang sedari tadi di duduki nya. Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki keluar dari kamar dan datang menghampiri Ayu.


"Dek, mana kunci motor mu? Sini, abang pinjam bentar!" pinta Darma sambil menadah kan tangan nya ke depan wajah Ayu.


"Enak kali mau pinjam-pinjam, beli lah." cibir Ayu ketus.


"Jangan gitu lah, sayang! Masa sama suami sendiri pelit nya kayak gitu sih. Abang minjam nya cuma sebentar aja kok. Boleh ya sayang, pliiiiss!" bujuk Darma dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.


"Ck, kau itu kok ngeyel kali sih jadi orang. Kalo ku bilang enggak ya enggak, budeg kuping ya?" umpat Ayu mulai emosi.


Mendengar permintaan nya di tolak mentah-mentah oleh Ayu, Darma pun langsung duduk kelesotan di lantai, sambil memegangi tangan Ayu.


"Cepat lah, dek! Kasih kunci itu sama abang. Tolonglah, sekali niiiii aja, pliiiiss! Gak lama-lama kok, palingan cuma sepuluh menit aja abang minjam nya." rengek Darma.


Karena sudah bosan mengahadapi tingkah laku suaminya, Ayu pun melepaskan tangan Darma yang sedari tadi memegangi pergelangan tangan nya. Setelah itu, dia pun langsung beranjak dari sofa, sambil berkata...


"Awas minggir, aku mau ke dalam!" ujar Ayu.


Tanpa melihat wajah layu Darma, Ayu pun langsung berjalan masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu itu dari dalam. Ayu merebahkan tubuh nya di atas ranjang dengan posisi miring menghadap tembok.


Tak lama kemudian, rasa kantuk pun mulai menyerang mata nya. Dan tak butuh waktu lama, akhirnya Ayu pun terlelap sambil memeluk guling.


Ayu mulai masuk ke alam bawah sadar nya, tanpa memperdulikan Darma yang sedang termenung di ruang tamu dengan wajah semrawut nya.

__ADS_1


"Gimana cara nya aku bisa kesana, kalau uang sepeser pun gak ada di kantong?" gumam Darma.


Darma tampak kebingungan memikirkan cara untuk datang ke rumah Dina. Dia tidak ingin mengecewakan Yuni, karena sudah berjanji akan menginap di rumah mereka malam ini.


__ADS_2