
Setelah permainan panas berakhir, aku berbaring miring menghadap tembok sambil memeluk guling.
"Jangan ganggu lagi ya, bang! Aku mau tidur bentar." ujar ku kepada bang Darma.
"Iya, tidur lah! Abang mau mandi dulu." balas bang Darma.
Dia beranjak dari ranjang, lalu mengambil handuk yang tergantung di samping pintu. Kemudian bang Darma melilitkan handuk itu di pinggang nya, dan berjalan ke kamar mandi.
Sesudah memperingatkan bang Darma agar tidak mengganggu ku lagi. Aku pun mulai memejamkan mata dalam keadaan hanya memakai pakaian dalam saja.
Masih dalam keadaan setengah sadar, sayup-sayup terdengar suara bang Darma berganti pakaian dan keluar dari rumah. Setelah bang Darma pergi, tiba-tiba ponsel ku memekik keras di atas meja.
"Ck, siapa lagi sih yang ganggu istirahat ku?" gerutu ku.
Aku membalikkan badan dan merentangkan tangan ke arah meja, untuk mengambil ponsel yang sedang berdering itu. Dengan mata yang masih tertutup, aku pun menerima panggilan itu tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Halo, siapa nih?" tanya ku dengan suara malas.
"Ini abang, Yu." jawab Rendi.
"Oh, abang toh. Kirain siapa tadi. Ada apa, bang?" tanya ku lagi.
"Kamu ada ngasih nomor ponsel abang ke Naya ya, Yu?" tanya Rendi balik.
"Iya ada emang kenapa, bang? Naya udah ngubungi abang ya?" tanya ku.
"Ck, ngapain di kasih sih, Yu? Abang gak suka kalau nomor ponsel abang di sebar kemana-mana." balas Rendi.
Rendi berdecak kesal karena mendengar jawaban ku.
"Emang nya Naya ada ngomong apa sama abang?" tanya ku.
"Barusan Naya nelpon abang, dia bilang kalau dia menyukai abang. Dia juga ingin mengajak abang ketemuan di rumah nya." jelas Rendi.
"Oh, nekat juga rupanya dia." gumam ku.
"Nekat? Nekat gimana maksudnya, Yu?" tanya Rendi bingung.
"Naya itu suka sama abang, sejak abang jemput aku di rumah nya kemaren. Dia meminta ku untuk menjauhi abang, agar dia bisa menggantikan ku untuk mendekati abang." jawab ku jujur.
"APA? Kau sudah gila ya, Yu? Abang itu gak suka sama Naya, abang suka nya sama mu aja." pekik Rendi.
"Ya habis nya mau gimana lagi, bang? Aku juga bingung harus bagaimana cara menolak keinginan Naya itu. Dia terus saja memaksa ku untuk menjauhi mu." jelas ku
"Dan dia juga sudah berjanji pada ku. Kalau dia tidak bisa meluluhkan hati mu, dia akan mundur dan tidak akan pernah lagi mengganggu hubungan kita." tambah ku lagi.
"Ck, kalian berdua ini apa-apaan sih? Kalian pikir aku ini barang yang bisa di perebutkan?" balas Rendi semakin kesal.
__ADS_1
Aku tidak menjawab ucapan Rendi. Aku hanya diam dengan mata yang masih tertutup.
"Bilang sama sepupu mu itu ya, Yu! Jangan pernah hubungi abang lagi, dan jangan pernah berharap apapun pada abang."
"Karena sampe kapan pun, abang tidak akan mencintai wanita lain kecuali dirimu seorang, ingat itu!" tutur Rendi panjang lebar.
"Hadehh, ya gak mungkin lah aku ngomong kayak gitu sama Naya, bang. Udah lah, biarin aja dia seperti itu! Kalau dia udah merasa capek, kan bakalan berhenti sendiri nantinya." balas ku.
"Iya juga sih, tapi lama-kelamaan abang jadi risih, Yu." ujar Rendi.
"Kalau abang merasa risih, ya di blokir aja lah nomor nya!" balas ku.
"Oh iya ya, kenapa abang gak kepikiran sampe kesitu tadi. Hmmm, kalau abang blokir nomor Naya, kamu gak marah kan, Yu?" tanya Rendi ragu.
"Ya enggak lah, kenapa aku harus marah? Itu kan hak abang mau nerima dia atau tidak." jawab ku.
"Oh, ya udah kalo gitu. Nanti abang blokir aja nomor nya, biar tidak mengganggu ketenangan abang lagi." balas Rendi.
"Itu sih terserah abang aja." ujar ku.
Aku dan Rendi sama-sama terdiam sejenak. Kami berdua larut dalam pikiran dan khayalan masing-masing. Karena sudah tidak sanggup menahan kantuk, akhirnya aku pun pamit kepada Rendi.
"Udah dulu ya, bang. Aku ngantuk berat nih, nanti kita lanjutkan lagi ngobrol nya." ujar ku
"Oke, sayang." balas Rendi menutup panggilan nya.
Setelah menaruh ponsel di tempat semula, aku pun kembali memejamkan mata dan tertidur pulas di atas ranjang.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Setelah tertidur selama beberapa jam, aku terbangun dengan sendirinya, karena mendengar suara adzan yang sedang berkumandang.
"Waduhhh, udah maghrib rupanya." pekik ku.
Mata ku langsung membulat, setelah melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam sore.
Aku bergegas bangkit dari ranjang, dan berjalan dengan langkah cepat menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berwudhu, aku segera melaksanakan shalat maghrib sendirian di dalam kamar.
Setelah itu, aku langsung memakai pakaian dan mendudukkan diri di tepi ranjang. Aku kembali melirik jam dinding sambil bergumam...
"Bang Darma kemana, ya? Udah malam gini kok belum pulang-pulang juga, apa dia ke rumah para benalu itu ya?"
Aku menduga-duga tentang keberadaan bang Darma saat ini.
"Ah, masa bodo aja lah. Ngapain juga aku mesti repot-repot mikirin dia? Bikin pening kepala otak ku aja."
"Mendingan aku happy-happy, biar gak suntuk kali pikiran ku ini. Tapi mau happy-happy kemana ya? Bingung juga kalau mau pergi gak ada tujuan nya." gumam ku sambil menyalakan rokok.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sedang fokus memikirkan lokasi tujuan untuk pergi bersenang-senang, tiba-tiba ponsel ku berdering kembali. Aku segera mengambil ponsel itu, lalu melihat nama yang ada di layar nya.
__ADS_1
"Wah, kebetulan banget nih si botak nelpon. Tau aja dia kalau aku lagi suntuk, hihihi."
Aku terkikik geli memandangi layar ponsel yang sedang menyala tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung menerima panggilan dari bang Agus, selingkuhan lima langkah ku itu.
"Halo, assalamualaikum." salam ku.
"Wa'laikum salam, kamu lagi ngapain, sayang ku?" tanya bang Agus.
"Lagi mikirin dirimu, bang." jawab ku asal.
"Hah, beneran ya, say?" pekik bang Agus.
"Ya beneran lah, bang. Masa bohongan sih, aneh-aneh aja nih botak!" gerutu ku.
"Aduh, say! Langsung meleleh hati abang, setelah mendengar kata-kata indah mu itu." ujar bang Agus.
"Halah, lebay." cibir ku.
"Serius, say. Hati abang langsung berbunga-bunga nih sekarang." lanjut bang Agus.
"Tadi kata nya meleleh, sekarang malah berbunga-bunga. Jadi sebenarnya yang bener itu yang mana, botaaak?" tanya ku.
"Hehehe, dua-duanya kayak nya, say." balas bang Agus.
"Dasar, botak plin-plan." ocehku.
"Hahahaha," gelak bang Agus.
Bukan nya marah, bang Agus malah semakin tertawa mendengar ocehan-ocehan ku barusan.
"Ngomong-ngomong, suami mu ada di rumah gak, say?" tanya bang Agus.
"Gak ada, dari tadi siang dia udah pergi entah kemana. Sampe sekarang belum balek-balek juga." jawab ku.
"Oh gitu, dari pada bosan sendirian di rumah, mendingan kita jalan-jalan yok, say!" usul bang Agus.
"Mau jalan-jalan kemana?" tanya ku.
"Hmmmm, gimana kalau kita cari makanan yang enak di luar, mau gak?" tanya bang Agus meminta pendapat ku.
"Makanan enak itu maksud nya yang bagaimana?" tanya ku lagi.
"Udah gak usah banyak tanya, yang penting ikut aja!" jawab bang Agus.
"Oke lah, aku siap-siap dulu ya." balas ku.
"Iya, tapi jangan lama-lama ya, say!" ujar bang Agus.
__ADS_1
"Siap, bos!" balas ku sambil memutuskan panggilan dari bang Agus.