
Setelah kepergian bang Agus, aku kembali beristirahat dan bergulung di bawah selimut. Setelah kurang lebih tiga jam terlelap, aku tersentak karena mendengar dering ponsel di atas meja.
"Aduuh, siapa lagi sih yang ganggu istirahat ku? Mau tenang sebentar aja pun susah kali, ada aja yang ngerusuhin." oceh ku sambil mengambil ponsel dan menerima panggilan.
"Oh ayah rupa nya, kirain siapa tadi? Hampir ajaaku maki-maki." gumam ku setelah melihat layar ponsel.
"Ya halo assalamualaikum, yah." salam ku sambil duduk bersila di atas ranjang.
"Wa'laikum salam, Yu." balas ayah.
"Ada apa, yah?" tanya ku.
"Nenek, Yu nenek." jawab ayah dengan gugup dan ragu.
"Iya, yah. Emang nya nenek kenapa? Nenek sehat-sehat aja kan di sana?"
Aku bertanya dengan hati yang sedikit cemas tidak karuan. Ayah tahu kalau aku sangat menyayangi ibu nya (nenek) itu.
Beliau lah orang yang sudah merawat ku sedari kecil hingga dewasa. Mungkin ayah agak ragu atau takut, untuk mengabarkan keadaan nenek pada ku.
"Nenek meninggal, Yu. Jam lima pagi tadi di rumah uwak Rida(anak perempuan nenek). Udah di makam kan habis sholat zhuhur tadi." jelas dengan suara serak nya.
"APA? Gak mungkin, yah. Itu gak mungkin ayah bohong kan sama ku? Nenek sehat-sehat aja kan di sana? Gak mungkin nenek ninggalin aku, nenek itu sangat menyayangi ku, yah."
Aku menjerit kuat sambil mengeluarkan air mata.
"Gak mungkin nenek ninggalin aku gitu aja. Jawab, yah! Ayah bohong kan sama ku?" desak ku.
"Enggak, Yu. Ayah gak bohong. Nenek memang udah pergi untuk selama-lamanya." jelas ayah lagi.
Mendengar penjelasan ayah, aku pun langsung histeris sambil memanggil nama nenek, orang yang paling ku sayang di muka bumi ini.
"Aaaaaaa...NENEK!"
Aku menjerit-jerit karena mendengar kabar yang meluluh lantakkan hati ku itu. Tubuh ku langsung lemah, dada pun rasanya sangat sesak untuk bernafas.
Aku menangis sekuat-kuatnya, dan aku juga memukul-mukul ranjang yang sedang aku duduki. Ponsel yang aku genggam tadi, sudah terjatuh ke lantai bawah ranjang dalam keadaan panggilan yang masih aktif.
Orang nomor satu dalam hidup ku itu, sudah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Beliau lah tempat aku mengadu, beliau lah tempat aku pulang, dan beliau lah separuh jiwa ku.
__ADS_1
Kini beliau malah pergi meninggalkan ku. Tidak bisa terbayangkan lagi, bagaimana hancur nya hati ku saat ini. Aku menangis sejadi-jadinya sambil menarik kuat rambut ku sendiri.
Rasa kehilangan yang amat sangat menyakitkan bagi ku. Mengenang masa-masa indah saat bersama beliau sangat menguras air mata ku.
"Ya, Allah. Ampunilah dosa-dosa nenek ku tercinta. Lapangkan lah tempat istirahat terakhir nya. Ringankan lah siksa kubur nya dan tempat kan lah dia di tempat yang sebaik-baiknya di sisi mu ya, Allah."
"Semoga kita bisa bertemu lagi di surga nanti ya, nek! Amin amin ya rabbal a'lamin." doa ku dalam hati.
Karena mendengar teriakan ku, bang Agus yang sedang duduk di depan rumah nya pun segera berlari masuk ke dalam rumah ku. Dia langsung menuju ke dalam kamar.
Berhubung pintu rumah hanya di tutup dan tidak di kunci maka dari itu bang Agus bisa langsung masuk, tanpa harus menggedor-gedor pintu lagi dari luar.
Bang Agus langsung terpaku, melihat keadaan ku dan juga keadaan kamar yang sedang acak adut tidak karuan, dan bantal guling bertebaran di bawah kasur.
Selimut berserakan di lantai, seprai ranjang juga sudah acak-acakan. Keadaan kamar ku sudah seperti kapal pecah saat ini.
"Ada apa, say? Kenapa semua nya jadi berantakan kayak gini? Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya bang Agus bingung.
Bang Agus mulai mendekati ku dan memeluk erat tubuh ku. Aku punkembali menangis sekuat-kuatnya di dalam pelukan bang Agus. Aku menenggelamkan wajah ku di dada nya.
"Ada apa, say? Ngomong lah sama abang, jangan kayak gini terus. Abang sedih lihat keadaan mu seperti ini." desak bang Agus.
Aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan bang Agus. Aku tidak sanggup untuk berkata apapun lagi saat ini. Hati ku sangat remuk dan hancur berkeping-keping.
"Ngomong lah, say! Biar abang tau apa masalah yang bisa membuat mu sampai sekacau dan sehancur ini?" desak bang Agus semakin penasaran.
"Nenek ku sudah pergi, bang. Nenek ku sudah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya, bang." jawab ku kembali menangis histeris.
"Innalillahi wa Inna ilaihi raji'un, kapan meninggal nya, say?" tanya bang Agus.
"Tadi pagi, bang. Sekitar jam 5 subuh." jawab ku masih sesegukan.
"Trus pemakaman nya kapan?" tanya bang Agus lagi.
"Udah di makam kan, bang. Habis sholat zhuhur tadi. Aku udah gak bisa ketemu lagi dengan nenek ku untuk yang terakhir kali nya, bang!"
Tangisan ku pun kembali pecah setelah menceritakan semua nya kepada bang Agus.
"Ya udah, ikhlas kan kepergian nenek, say. Doa kan yang terbaik buat beliau. Sering-sering bacakan Yasin dan doa-doa lain nya buat beliau di sana!" ujar bang Agus.
__ADS_1
"Beliau pasti sangat mengharapkan semua itu dari orang-orang yang di cintai nya, say." bang Agus memberikan wejangan pada ku.
"Iya, bang. Insya Allah, aku akan lakukan itu semua demi nenek." balas ku kembali menenggelamkan wajah ke dalam pelukan bang Agus.
Hanya itu lah yang aku butuhkan saat ini. Pelukan hangat di saat aku sedang rapuh. Bahu tempat aku bersandar di kala sedang goyah menghadapi masalah.
Dan support dari orang terkasih, agar aku bisa tetap tegar dan tabah menerima ujian hidup yang penuh dengan cobaan ini.
"Makasih ya, bang. Abang selalu ada buat ku, abang selalu menjadi penyemangat ku, dan abang juga selalu mementingkan diri ku." ujar ku.
"Iya, say. Udah ah, jangan nangis lagi! Mata mu udah bengkak tu dari tadi nangis terus."
Bang Agus mengusap air mata ku yang sedari tadi mengalir terus tanpa henti.
"Iya, bang." jawab ku.
"Sini, abang sisirin rambut nya! Kok bisa acak-acakan gini sih ini rambut? Udah kayak wewe gombel aja." gerutu bang Agus.
Bang Agus menyisir rambut ku perlahan, lalu dia menyanggul rambut ku dengan jepitan yang di ambil dari dalam laci meja.
"Sama wewe gombel kok mau?" tanya ku santai.
"Kalau wewe nya cantik kayak dirimu ya pasti mau lah, say. Tapi kalau wewe nya jelek, ya ogah lah. Amit amit jabang bayi lah, hiiiiii."
Jawab bang Agus sambil bergidik ngeri dengan ucapan nya sendiri.
Setelah selesai merapikan rambut ku, bang Agus lanjut merapikan keadaan kamar yang sudah tidak berbentuk lagi.
Dia menyusun bantal guling dan melipat selimut. Setelah itu, dia membereskan ranjang dan merapikan seprai nya dengan telaten.
Setelah semua rapi, bang Agus pun segera pamit pulang karena hari sudah sore, takut keburu bang Darma pulang kata nya.
"Abang balek dulu ya, say! Ingat ya, jangan macam-macam lagi. Tenang kan pikiran dan perbanyak baca doa. Biar suasana hati mu tenang. Oke, cup." pamit bang Agus.
Satu kecupan mendarat indah di kening ku.
"Iya, bang." balas ku.
Bang Agus pun mulai berjalan keluar dari kamar, dan melangkah menuju pintu keluar.
__ADS_1
Setelah kepergian bang Agus, aku kembali merebahkan diri sambil memeluk guling. Aku mencoba untuk memejamkan mata, dan tak butuh waktu lama akhirnya aku pun kembali terlelap.