
* Beralih ke Darma dan Yuni *
Pagi menyapa, Yuni mulai terjaga dari tidur panjang nya. Dia menggeliatkan badan nya untuk merenggang kan otot-otot yang pegal dan kaku, akibat pergumulan semalam.
Setelah itu, Yuni menoleh ke samping dengan senyum yang mengembang di bibir nya. Dia memandangi wajah teduh lelaki yang masih tertidur lelap di sebelah nya.
"Sebentar lagi kau akan menjadi milik ku, bang. Kita akan hidup bahagia tanpa gangguan dari siapa pun, termasuk istri mu." batin Yuni penuh harap.
"Aku akan membuat mu bertekuk lutut dan menuruti semua keinginanku. Aku juga akan menyuruh mu untuk segera menceraikan istri gila mu itu." lanjut Yuni dengan senyum miring di bibir nya.
Yuni membingkai wajah Darma dengan jari-jari nya. Dia begitu terpesona dan tergila-gila, dengan ketampanan bapak angkat nya tersebut.
Karena merasa terganggu dengan sentuhan Yuni, akhirnya Darma pun terbangun dari tidur lelap nya. Dia menatap wajah Yuni yang sedang tersenyum manis di depan nya.
"Pagi, sayang." sapa Yuni.
"Pagi juga, cintaku." balas Darma sembari mencium kening Yuni.
"Udah jam berapa ini?" tanya Darma.
"Entah, Yuni juga belum lihat." jawab Yuni.
"Coba lihat dulu sana, biar kita siap-siap pulang, hoamm!" titah Darma.
"Ya," balas Yuni.
Darma menguap beberapa kali, lalu menggeliatkan tubuh lelah nya. Mendengar perintah Darma, Yuni pun mulai beranjak dari pembaringan nya dengan gerakan malas.
Yuni mengambil handuk yang tergeletak di atas nakas, lalu melilitkan nya di badan nya. Setelah itu dia pun berjalan ke arah meja rias, untuk melihat jam yang ada di layar ponsel nya.
"Udah setengah sepuluh, bang." ujar Yuni.
Yuni kembali meletakkan ponsel nya di tempat semula, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi.
Setelah selesai, dia kembali berjalan ke meja rias lalu memoles wajah nya. Tak lupa juga dia menyemprotkan sedikit parfum ke tubuh nya, agar terlihat lebih fresh dan wangi di depan Darma.
Selanjutnya, Yuni melangkah mendekati Darma dengan senyum yang sumringah. Dia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, tepat di samping Darma.
Melihat penampilan Yuni yang sudah cantik dan juga wangi, Darma pun langsung tersenyum lalu berkata...
"Wah wah wah, cantik banget bidadari surga ku ini. Abang jadi gak sabar ingin segera memakan mu, sayang." puji Darma.
Darma membawa tubuh Yuni ke dalam dekapan nya, lalu menarik handuk yang melekat di badan Yuni dengan kasar, dan melemparkan nya ke lantai.
Yuni kembali tersenyum melihat reaksi Darma, yang tampak sangat bergairah saat melihat penampilan nya.
Yuni memang sengaja merias diri nya, agar Darma semakin tergoda dengan nya, dan ingin mengulang kembali permainan panas nya.
Dan ternyata, harapan Yuni itu terkabul. Darma langsung tergoda dan terpana melihat diri nya, dan dia juga ingin segera memakan nya.
__ADS_1
"Sebelum pulang, kita bersenang-senang dulu ya, sayang." bisik Darma dengan suara serak.
"Iya," balas Yuni sembari mengangguk kan kepala nya.
Setelah mendengar jawaban Yuni, Darma pun tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Dia langsung menyerang Yuni dengan brutal, hingga membuat Yuni sedikit kewalahan menghadapi hasrat bapak angkat nya tersebut.
Darma memacu gerakan cepat nya dengan semangat yang menggebu-gebu, dan itu berhasil membuat Yuni semakin tidak karuan. Yuni memejamkan mata untuk menikmati permainan Darma, sambil menggenggam erat kain seprai ranjang.
Setelah bermain selama hampir dua jam, Darma pun semakin mempercepat gerakan nya. Hingga akhirnya, mereka berdua pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.
Dengan tubuh yang sama-sama basah oleh keringat, Darma pun menjatuhkan diri di sebelah Yuni dengan nafas yang masih tampak begitu sesak.
"Huhh, capek nyaaaa!" gumam Darma sembari menghela nafas panjang.
"Sama, Yuni juga capek banget nih." sambung Yuni.
Darma dan Yuni sama-sama kelelahan, akibat permainan yang baru saja mereka lakukan. Setelah beberapa menit beristirahat, mereka berdua pun mulai beranjak dari ranjang.
"Mandi, yok!" seru Darma.
"Ya," balas Yuni.
Darma dan Yuni melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing. Setelah selesai, mereka berdua segera bergegas memakai pakaian nya kembali, lalu menyimpan barang-barang mereka ke dalam tas.
"Kita mau pulang kemana, bang?" tanya Yuni sembari menyisir rambut nya di depan cermin.
"Ke rumah mamak mu aja, biar sekalian membahas masalah kita dengan nya." jawab Darma.
Selesai berdandan dan merapikan penampilan masing-masing, mereka berdua segera melangkah keluar dari kamar, dan menuruni anak tangga untuk menuju ke lantai dasar.
Sampai di meja resepsionis, Darma menyerahkan kunci kepada resepsionis wanita yang sedang berjaga. Setelah itu, Darma dan Yuni kembali melanjutkan langkah nya sampai keluar gedung hotel.
Setelah berada di halaman gedung, Yuni mulai mengotak-atik ponsel nya untuk memesan taksi online. Tak butuh waktu lama, taksi yang di pesan Yuni pun tiba di depan mereka berdua.
"Dengan mbak Yuni?" tanya si sopir taksi.
"Iya, bang." jawab Yuni.
Yuni membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalam taksi itu bersama Darma. Setelah melihat kedua penumpang nya duduk di dalam, sang sopir pun mulai menjalankan kendaraan nya dengan kecepatan sedang, menuju alamat rumah Dina.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, taksi yang di tumpangi Darma dan Yuni pun tiba di depan rumah Dina.
Sesudah membayar ongkos, Yuni dan Darma pun bergegas keluar dari mobil. Setelah taksi itu pergi, mereka berdua pun berjalan ke depan pintu sambil bergandengan tangan.
Dengan hati yang sedikit was-was, Yuni pun mulai mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum," salam Yuni.
__ADS_1
"Wa'laikum salam, ya tunggu bentar!" pekik Dina dari dalam rumah nya.
Mendengar ada suara ketukan, Dina yang baru selesai mandi pun langsung berlari kecil menuju pintu, dengan memakai handuk yang melilit di tubuh nya.
Setelah pintu terbuka lebar, Dina langsung membelalakkan mata nya, saat melihat Darma dan Yuni yang berdiri tegak di depan nya. Dina tampak terkejut dengan kedatangan mereka berdua.
Begitu juga dengan Darma dan Yuni, mereka berdua juga sedikit terkejut melihat keadaan Dina, yang hanya memakai handuk di atas lutut, dan rambut yang tergerai dalam keadaan basah.
"Waaahh, pengantin baru udah pulang rupanya." cibir Dina sembari tersenyum sinis.
"Ck, apaan sih, gak usah lebay deh!" gerutu Yuni kesal.
Yuni nyelonong masuk ke dalam rumah. Dia melewati Dina begitu saja, tanpa memperdulikan tatapan tajam ibu nya.
"Din, ada yang mau aku omongin dengan mu." ujar Darma sembari melangkah masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
Setelah menutup pintu, Dina mengekori Darma dari belakang lalu ikut mendudukkan diri di sebelah Darma. Sedangkan Yuni, dia masuk ke dalam kamar nya untuk mengganti pakaian nya.
"Mau ngomong apa?" tanya Dina.
Dina sedikit menurunkan handuk nya, hingga menampakkan dua buah benda kenyal yang sedikit menyembul keluar. Setelah itu, Dina juga merenggang kedua kaki nya, hingga menampilkan paha mulus nya di depan Darma.
Melihat pemandangan yang sangat menggiurkan di depan mata nya, Darma pun menelan ludah nya dengan kasar berulang-ulang. Dia tampak sangat tergoda dengan posisi duduk Dina, yang sangat menantang bagi nya.
Sedangkan Dina, dia malah tersenyum bahagia saat melihat ekspresi wajah Darma, yang tampak sangat tergiur dengan ulah nya tersebut.
"Yes, akhirnya berhasil juga rencana ku. Sebentar lagi, Darma pasti akan menarik ku ke dalam kamar." batin Dina girang.
"Tadi kata nya kau mau ngomong sesuatu, emang mau ngomongin masalah apa?" tanya Dina.
"Eh iya, hampir aja aku lupa, hehehe." jawab Darma gelagapan.
Darma cengar-cengir salah tingkah, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, karena melihat tatapan mata Dina.
Darma merasa sedikit malu, karena ketahuan sedang terpana melihat penampilan wanita yang ada di depan nya tersebut.
Dina hanya tersenyum miring melihat gelagat aneh Darma. Dia terus saja berusaha untuk memancing Darma, agar mantan suami nya itu tergiur dan tergoda dengan nya.
"Apa perlu kita ngomong nya di dalam kamar, Dar?" tawar Dina sembari menggigit bibir bawahnya.
"Hah, di dalam kamar?" balas Darma dengan mata membulat dan mulut menganga lebar.
"Iya, di dalam kamar. Emang nya kenapa? Kau gak mau ya?" tanya Dina.
"Bu-bukan gak mau, tapi..."
Darma menggantung kata-kata nya. Dia terlihat kebingungan sambil celingukan kesana kesini mencari keberadaan Yuni. Setelah melihat keadaan aman, Darma pun mendekat kan bibir nya di telinga Dina, lalu berbisik...
"Aku sih mau-mau aja, tapi aku takut ketahuan Yuni." ujar Darma.
__ADS_1
"Kenapa mesti takut? Toh dia juga udah tau, kalau kita dari dulu memang ada hubungan, sebelum kalian melakukan hal gila itu." balas Dina ketus.
"Iya, aku paham maksud mu. Tapi Yuni pasti bakalan marah, kalau dia tau kita berduaan di dalam kamar." jelas Darma.