
Setelah memblokir nomor Yuni, aku mulai membaringkan diri dan memejamkan mata. Beberapa menit kemudian, aku pun tertidur dengan damai di samping bang Darma.
Pagi menjelang, aku kembali mengerjakan tugas rumah yang tiada habis nya itu. Sedangkan bang Darma, dia sudah pergi bekerja menggunakan ojek pangkalan.
Aku tetap tidak memberikan motor ku untuk di pakai bang Darma pergi bekerja.
Karena aku masih sangat kesal dan kecewa dengan sifat nya, yang terlalu mudah diperdaya oleh kedua anak beranak itu.
Alhasil, bang Darma selalu menekuk wajah nya setiap kali pergi bekerja, dan aku sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Aku tetap acuh dan cuek dengan perubahan wajah suami ku itu.
Setelah selesai dengan pekerjaan rumah, aku segera membuka kios dan merapikan barang-barang dagangan ku.
Sedang fokus menyusun barang, tiba-tiba sebuah mobil putih muncul dan parkir tepat di depan kios ku.
"Rendi," gumam ku.
Aku terpaku sejenak, melihat mobil mantan kekasih ku. Setelah mobil itu terparkir rapi, Rendi pun langsung keluar dari kendaraan nya. Dia masuk ke dalam kios ku sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, sayang." ucap Rendi.
"Wa-wa'laikum sa-salam."
Aku terbata-bata menjawab salam dari Rendi. Aku gugup sekaligus cemas dengan kehadiran nya yang secara tiba-tiba.
"Ada perlu apa, bang?" tanya ku basa-basi.
"Gak ada perlu apa-apa, sayang." jawab Rendi sambil tersenyum.
"Lah, trus mau ngapain kesini?" tanya ku bingung.
"Abang kangen dengan mu, sayang!" jawab Rendi."
"Sudah lama juga kita gak ketemu, abang kangen banget dengan mu, Ayu lestari." tambah Rendi.
Rendi mulai melangkah kan kaki nya perlahan untuk mendekati ku. Dia tersenyum menyeringai sambil terus menatap wajah ku.
Aku langsung reflek melangkah mundur untuk menghindari Rendi. Aku mulai takut dengan gelagat nya yang terlihat aneh menurut ku.
"Jangan macam-macam, bang. Jangan berbuat nekat disini!" pinta ku.
"kalau sampai ada orang yang melihat kita, bisa berabe urusan nya." lanjut ku lagi.
Aku memperingatkan Rendi sambil terus melangkah ke belakang. Dia masih saja terus mendekati ku dan dengan secepat kilat, dia pun langsung mendekap tubuh ku dengan sangat erat.
"Abang sangat merindukan mu, Yu."
Rendi mengucapkan kata-kata itu sambil membelai rambut panjang ku. Karena mendapatkan serangan mendadak dari Rendi, aku langsung terdiam dan terpaku di tempat.
Aku tidak memberontak atau pun melepaskan diri dari pelukan Rendi. Aku bisa merasakan kesungguhan hati nya dari cara memeluk nya, dan dari tatapan mata nya.
__ADS_1
Tanpa terasa, air mata ku pun jatuh menetes membasahi bahu Rendi. Aku langsung membalas pelukan nya dan aku juga melingkarkan kedua tangan ku di pinggang nya.
Setelah mendapatkan balasan dariku, Rendi pun semakin mempererat pelukannya. Dan beberapa menit kemudian, dia pun mulai melepaskan pelukannya dari tubuh ku.
"Kenapa menangis, sayang?"
Rendi mengusap air mata ku dengan jari nya. Dia menatap wajah ku dengan tatapan sayu. Rendi juga tampak sedih terlihat dari mata nya yang sudah mulai berembun.
"Gak papa, bang." jawab ku lirih.
"Apakah kamu juga merasakan kerinduan yang sama dengan ku, sayang?" tanya Rendi.
Aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan nya. Setelah melihat jawaban ku, Rendi kembali menarik tubuh ku ke dalam pelukan nya.
"Apakah masih ada rasa cinta di hati mu untuk ku, sayang?"
Rendi berbisik di telinga ku sambil terus memeluk dan membelai rambut ku. Aku kembali mengangguk kan kepala sebagai jawaban.
Melihat anggukan kepala ku, Rendi langsung merenggang kan pelukan nya dan kembali menatap wajah ku dalam-dalam.
"Kalau begitu mari kita pergi dari sini, sayang! Tinggalkan saja suami mu itu dan menikah lah dengan abang!" tutur Rendi.
Mata ku langsung membulat saat mendengar permintaan Rendi, dan aku pun segera mundur dua langkah dari hadapan nya.
"Kenapa, sayang? Kenapa tiba-tiba menjauhi abang seperti itu?" tanya Rendi heran.
"Jangan ganggu aku lagi, bang! Tolong jauhi aku, dan pergilah sejauh mungkin dari hidup ku!" jawab ku.
"Trus, kenapa sekarang malah menyuruh abang untuk menjauhi mu?" tanya Rendi.
Rendi semakin bingung dengan perlakuan dan kata-kata ku. Dia kembali melangkah mendekati ku, dan aku pun langsung menyuruh nya untuk berhenti di tempat.
"Stop! Jangan mendekat lagi, bang. Lebih baik abang pergi dari sini sekarang!" pinta ku.
"Emang nya kenapa sih, sayang?" tanya Rendi.
"Kita kan sama-sama masih saling mencintai! Apa salah nya kita menyatukan cinta kita itu dan hidup bersama selamanya?" tanya Rendi lagi.
Aku menghela nafas berat setelah mendengar penuturan Rendi barusan. Dia benar-benar membuat ku dilema saat ini.
"Ya udah pasti salah lah, bang! Aku itu masih berstatus sebagai istri orang. Bukan janda atau gadis yang bisa seenak nya pergi begitu saja dengan lelaki lain!" jawab ku.
"Gak papa, sayang. Walaupun dirimu itu istri orang lain, abang gak perduli. Abang akan tetap berusaha untuk bisa mendapatkan mu, ingat itu!" balas Rendi tegas.
"Ya Allah, bang. Kau itu sudah gila ya?" jawab ku kesal.
"Ya, abang memang sudah gila. Abang gila, karena belum bisa mendapatkan mu kembali, sayang." balas Rendi.
"Tolong jangan seperti ini, bang! Tolong jauhi aku, biar kan aku bahagia dengan hidup ku sekarang!" pinta ku memelas.
__ADS_1
"Tidak akan, abang tidak akan pernah merelakan mu hidup bersama orang lain, paham!"
"Tapi, bang..."
Rendi langsung memotong ucapan ku dengan cepat. Dia tidak memberikan kesempatan pada ku untuk berbicara apapun lagi.
"Gak ada tapi-tapian lagi, dan gak ada tawar-menawar lagi!" ujar Rendi.
"Keputusan abang sudah bulat, dan jangan salah kan abang jika suatu saat nanti abang akan berbuat nekat untuk mendapatkan mu!"
Rendi masih tetap kekeuh dengan pendirian nya. Kata-kata nya tidak bisa terbantahkan lagi.
"Memang dasar batu, keras kepala banget sih jadi orang." gerutu ku semakin kesal dengan ucapan Rendi.
"Terserah, mau bilangin apa. Mau di bilang batu kek, kayu kek, ganteng kek. Abang gak perduli." balas Rendi dengan santai nya.
"Idiiiih, pede banget sih! Siapa juga yang bilang abang ganteng?" cibir ku dengan bibir mengerucut.
"Hahaha, tapi kenyataan nya emang bener kan, sayang? Abang memang ganteng kan?" goda Rendi sembari mengerlingkan sebelah mata nya.
"Ya ya ya, abang memang paling ganteng sekebun binatang, hihihi."
Aku langsung terkikik melihat raut wajah Rendi yang berubah jadi masam, karena mendengar ucapan ku tadi.
"Tega banget sih, bilangin abang paling ganteng sekebun binatang!" balas Rendi.
Rendi melipat kedua tangan nya di atas perut, sambil mengerucut kan bibir nya. Dia tampak sangat kesal dengan kata-kata ku tadi.
"Iya iya, abang memang paling ganteng kok. Ganteng banget malah!" ujar ku.
Rendi langsung tersenyum sumringah mendengar ucapan ku.
"Ya udah, sekarang abang ganteng pulang ya! Jangan lama-lama disini, nanti ganteng nya bisa hilang!" ujar ku.
Aku meledek Rendi dan menyuruh nya untuk segera pulang. Rendi pun mengangguk setuju dan langsung pamit pada ku.
"Oke, sayang. Abang pulang dulu ya! Kapan-kapan abang akan datang lagi." balas Rendi.
"Ya, terserah abang aja lah. Udah, pulang sana!" usir ku.
Aku mendorong pelan tubuh Rendi menuju pintu keluar.
"Iya iya, sayang. Sabar dikit kenapa sih, judes banget jadi orang."
Rendi menggerutu dan melangkah kan kaki nya keluar dari kios ku. Dia masuk ke dalam mobil nya dan berlalu pergi dari hadapan ku.
Aku masih berdiam diri di depan pintu sambil terus menatap kepergian Rendi. Aku kembali teringat kenangan-kenangan manis sewaktu bersama nya dulu.
"Kau adalah mantan terindah dalam hidup, bang."
__ADS_1
Aku bergumam sambil menatap mobil Rendi yang semakin lama semakin hilang dari pandangan mata ku.
*Mencintai tidak harus memiliki*