
"Astaga, aku hampir lupa menyimpan uang ini. Bentar lagi kan bang Darma pulang, jangan sampai bang Darma tau tentang uang ini." gumam ku.
Karena jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, aku pun langsung bergegas menyimpan uang pemberian bang Agus ke dalam lemari pakaian.
Beberapa menit kemudian, bang Darma pun pulang. Dia di antar oleh teman kerja nya sampai ke depan rumah. Bang Darma turun dari motor dan mengucapkan terima kasih kepada teman nya yang bernama Ardi.
"Makasih ya, Ardi." ucap bang Darma.
"Sama-sama, bang. Ya udah aku balek dulu ya, bang."
"Oke, Ar. Hati-hati di jalan ya!" ucap bang Darma.
"Oke, bang." jawab Ardi.
Setelah kepergian teman kerja nya, bang Darma berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum," salam bang Darma.
"Wa'laikum salam," balas ku.
Aku menghampiri bang Darma di depan pintu, dan mencium punggung tangan nya takzim. Setelah itu, aku langsung mengerutkan kening melihat wajah bang Darma yang sedang di tekuk lesu.
"Itu muka kenapa di tekuk gitu, bang?" tanya ku penasaran.
"Ya gara-gara dirimu lah, dek!" jawab bang Darma dengan nada kesal.
"Loh, kok bisa gara-gara aku pulak?" tanya ku lagi.
"Ya karena adek gak ngasi abang pakai motor itu lah. Maka nya abang susah sendiri jadi nya, sampe harus minta tolong sama si Ardi untuk di antar kan pulang ke rumah!"
Bang Darma mengoceh menyalahkan ku, sambil menunjuk motor ku yang sedang terparkir di teras depan rumah. Mendengar ucapan bang Darma, aku langsung naik pitam, darah tinggi ku langsung kumat seketika.
"Yang nyuruh abang minjam kan motor pada Yuni itu siapa, hah?" tanya ku dengan suara lantang.
"Jangan asal keluar aja itu muncung (mulut) kalo ngomong ya!" tambah ku semakin kesal.
__ADS_1
"Ngomong nya kok kasar gitu sih, dek? Aku ini suami mu, kau itu seharusnya menghormati ku sebagai suami mu. Bukan nya malah ngomong kasar kayak gini. PAHAM!"
Bang Darma membentak ku dengan suara yang menggelegar, dia juga berkacak pinggang di depan ku. Aku pun tidak mau kalah dengan nya, aku juga berkacak pinggang di depan nya sambil berkata...
"Kau bilang apa tadi, hah? Kau menyuruh ku untuk menghormati mu? Kau bilang aku ngomong kasar dengan mu?" tanya ku.
"Dengar ya, suami ku! Tidak ada asap kalau tidak ada api. Dan aku tidak akan berkata kasar kalau tidak ada masalah nya. Cam kan itu baik-baik, Darma Kurniawan!" bentak ku.
Setelah mengeluarkan emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubun, aku pun menjatuhkan diri di atas sofa. Aku duduk dengan menyilang kan kaki dan melipat kedua tangan ku di perut.
Bang Darma langsung terdiam mendengar jawaban ku barusan. Dia mendudukkan tubuh nya di atas sofa sambil memijit-mijit kening nya sendiri.
"Kapok kau, bang! Pusing sendiri sekarang jadi nya kan, akibat ulah anak kesayangan mu itu!" umpat ku dalam hati.
Aku tersenyum miring melihat bang Darma yang lagi pusing memikirkan motor nya. Setelah beberapa menit terdiam, bang Darma pun kembali bersuara.
"Ya udah lah, dek. Gak usah di ribut kan lagi masalah ini! Nanti abang tanya kan sama Yuni kapan dia akan balekkan motor itu!" ujar bang Darma mulai melunak.
"Ya memang harus di tanyakan lah, sebelum motor itu di jual oleh mereka berdua." balas ku.
"Iya, dek." jawab bang Darma.
Sedang kan aku, masih duduk santai di atas sofa sambil bermedia sosial dengan ponsel ku. Selesai shalat, bang Darma langsung membaringkan tubuh nya di atas ranjang sambil memainkan ponsel miliknya.
Tak lama kemudian, adzan magrib pun berkumandang. Bang Darma kembali berwhudu dan menunaikan shalat. Berhubung aku sedang datang bulan, jadi terpaksa aku harus libur dulu untuk menunaikan kewajiban ku itu.
Setelah selesai shalat magrib, bang Darma kembali membaringkan diri nya di atas ranjang. Dia mengotak-atik ponsel nya untuk menghubungi anak semata wayangnya.
Tut tut tut...
Halo assalamualaikum," Salam bang Darma setelah panggilan nya di angkat oleh Yuni.
"Wa'laikum salam, ada apa, pak?" tanya Yuni.
Aku yang sedang duduk santai di ruang tamu langsung berjalan ke dalam kamar. Setelah mendengar bang Darma berbicara dengan Yuni, melalui panggilan ponsel nya. Aku pun duduk di samping bang Darma yang sedang berbaring.
__ADS_1
Karena melihat aku datang, bang Darma langsung memencet pengeras suara di ponsel nya. Agar aku juga bisa mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Kapan kau balekkan motor bapak, Yun?" tanya bang Darma.
"Semalam kan kau udah janji mau balekkan motor bapak sore ini! Kenapa sampe sekarang belom di balekkan, Yun?" tanya bang Darma penasaran.
"Oh, motor ya, pak. Hmmm, itu anu itu motor nya, pak..."
Yuni terdengar gugup menjawab pertanyaan bang Darma barusan. Seperti nya Yuni sedang menyimpan sesuatu, dan itu terlihat jelas dari nada bicara nya yang terdengar sedang ketakutan.
"Kau itu ngomong apa sih, Yun? Dari tadi itu anu itu anu terus, kalo ngomong itu yang jelas! Yang bapak tanya itu motor nya kok belom di balekkan sampe sekarang, YUN?"
Bentak bang Darma dengan suara yang cukup membuat ciut nyali siapa pun yang mendengar nya. Aku yang sedang fokus menguping percakapan mereka berdua pun, langsung terlonjak kaget karena mendengar suara bang Darma.
Karena melihat aku yang tersentak kaget sambil mengelus-elus dada, bang Darma pun langsung memberikan kode dengan telapak tangan nya dia menyuruh ku untuk tenang di tempat.
Aku pun langsung menurut untuk duduk dengan tenang, dan kembali menguping pembicaraan mereka berdua.
"Hmm, mo-motor nyaa..." Yuni kembali menjeda kata-kata nya.
Raut wajah bang Darma berubah jadi horor. Dia tampak sangat geram dengan jawaban anak nya. Dia mengeratkan gigi nya sambil mengepalkan tangan nya. Bang Darma menatap serius ke arah ponsel yang sedang menyala di depan nya.
"CEPAT JAWAB, YUN!"
Bang darma kembali membentak anak nya dengan suara yang lebih menggelegar dari yang tadi.
Aku kembali terlonjak kaget tidak karuan. Dada ku pun langsung berdebar-debar mendengar suara nya. Baru kali ini aku melihat bang Darma semarah itu,
dengan anak nya.
"Iya, pak. Yuni akan jawab, motor nya udah di jual sama mamak, pak!" jawab Yuni.
"Duaarr,"
Bagaikan di sambar petir di siang bolong mendengar jawaban Yuni barusan. Saking terkejut nya, aku langsung lemas dan menyandarkan tubuh ku di bahu ranjang, sambil mengelus-elus dada kembali.
__ADS_1
Sedang kan bang Darma, jangan di tanya lagi. Dia langsung berubah menjadi monster yang sangat mengerikan saat ini. Aku sampai bergidik ngeri melihat raut wajah horor nya itu.
*Kepercayaan itu ibarat kaca. Kalau sudah pecah, walau bagaimana pun cara memperbaiki nya. Tidak akan kembali seperti semula.*