SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Meminta Izin


__ADS_3

"APA?" pekik ku dengan mata terbelalak lebar.


Aku langsung terpaku di tempat, sambil terus memandangi suami yang sudah menemaniku selama hampir tujuh tahun ini.


Aku sangat terkejut dan syok saat mendengar penuturan bang Darma. Dia kembali menorehkan luka di hati kecil ku, dan dia juga kembali menyakiti perasaan ku.


Melihat reaksi ku yang hanya berdiam diri di hadapan nya, bang Darma pun kembali membuka suara nya.


"Jadi gimana, dek? Apakah kau mengizinkan ku untuk menikahi Dina?" tanya bang Darma sambil menghisap rokok yang ada di tangan nya.


"Kau itu udah gila ya, bang?" tanya ku sambil menatap tajam pada nya.


"Ya, aku memang udah gila gara-gara ulah mu." jawab bang Darma dengan santai nya.


"Kok gara-gara aku pulak?" tanya ku balik.


"Ya iya lah, aku jadi begini kan gara-gara perbuatan mu yang sudah berselingkuh di belakang ku." jawab bang Darma.


"Aku selingkuh juga gara-gara sikap dingin mu. Kalau saja kau memenuhi kebutuhan ku dan tidak mengabaikan ku, aku gak akan mungkin selingkuh dengan lelaki lain." jawab ku kesal.


"Helehh, pandai kali mulut mu itu memutar balikkan fakta. Udah jelas-jelas kau yang salah, malah kau lemparkan pulak kesalahan mu itu sama aku. Dasar perempuan licik." cibir bang Darma.


Bang Darma mengumpat dan mencibir ku dengan kata-kata yang cukup menyakitkan buat ku.


"Ya aku memang perempuan licik, kenapa rupanya, hah?" tanya ku dengan suara lantang.


"Hahaha, sadar diri juga kau rupanya ya!" sindir bang Darma sambil mentertawai ku.


Aku bersidekap dan tersenyum miring mendengar ucapan bang Darma. Setelah beberapa saat suasana hening mencekam, tiba-tiba bang Darma menadahkan telapak tangan nya di depan ku sambil berkata...


"Sini uang mu enam juta! Aku mau belikan cincin untuk Dina sebagai mas kawin nya, sekalian untuk biaya kenduri nya nanti." ujar bang Darma.


Setelah mendengar ucapan bang Darma, aku pun kembali menatap wajah nya dengan mata elang ku. Emosi yang sedari tadi sudah aku tahan sebisa mungkin, kini akhirnya meledak juga.


"Gila kau ya, jangan kepedean kali jadi orang. Kau pikir aku bakalan sudi memberikan uang ku untuk mu, hah? Hahahaha, jangan mimpi di siang bolong Darma!"


"Mendingan uang itu aku sumbangin ke panti asuhan dari pada harus di berikan pada mu." cibir ku sembari tergelak.


Wajah bang Darma langsung merah padam, akibat menahan kemarahan dan emosi nya karena mendengar ocehan ku barusan. Dia mengeraskan rahangnya dan memandangi ku dengan tatapan yang penuh kebencian.


"Enak aja kalian mau bersenang-senang dengan hasil keringat ku, sorry-sorry bae lah!" cibir ku.


"Jangan ngomong gitu lah, dek! Kalau gak minta sama mu, trus aku harus cari uang kemana lagi untuk biaya pernikahan kami?" tanya bang Darma.


"Kau pikir aku perduli, hah? Jangan pernah mengharapkan sepeser pun uang dari ku, camkan itu baik-baik!" balas ku ketus.


"Tapi, dek..."


Sebelum bang Darma meneruskan ucapannya, aku pun langsung memotong nya dengan cepat.


"Gak ada pake tapi-tapian lagi. kalau kau memang ingin menikahi benalu itu, ya silahkan! Aku gak akan marah ataupun menghalangi keinginan mu itu." ujar ku.

__ADS_1


"Tapi satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah melarang apa pun yang akan aku lakukan nanti nya." lanjut ku tegas.


Bang Darma langsung terperangah dan sedikit terkejut, saat mendengar kata-kata ku barusan.


"Emang nya kau mau ngapain, dek?" selidik bang Darma.


"Kau gak perlu tau apa yang akan aku lakukan nanti nya, yang penting aku tidak mengganggu kebersamaan mu dengan benalu-benalu kesayangan mu itu." jawab ku sinis.


"Kau jangan macam-macam ya, dek! Kau itu masih istri ku, dan aku masih berhak untuk mengatur hidup mu." ujar bang Darma geram.


Bang Darma mulai tampak emosi dan kesal karena mendengar semua celotehan ku. Dia seolah-olah tidak terima jika aku bersenang-senang dengan lelaki lain di luaran sana.


"Kau gak perlu repot-repot ngurusin hidup ku lagi. Kau urusin aja kedua benalu mu itu, gak usah perduli kan aku lagi!" balas ku santai.


"Enggak, biar bagaimanapun kau tetap istri sah ku. Kau gak boleh kemana pun tanpa seizin ku, dan kau juga gak boleh bercinta dengan lelaki lain, selain dengan ku." tegas bang Darma.


"Wah wah wah, egois sekali suami ku ini." cibir ku sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Kalau kau bisa bercinta dengan wanita lain, kenapa aku gak bisa?"


"Aku aja sudah membiarkan mu menyentuh tubuh wanita lain, kenapa kau malah melarang jika ada lelaki yang ingin menyentuh tubuh ku?" tanya ku.


"Ya karena kau itu istri ku, aku gak akan pernah rela kalau kau di sentuh laki-laki lain, karena aku juga masih mencintaimu." tutur bang Darma.


Aku langsung reflek menoleh pada bang Darma. Lalu kemudian, aku menatap sinis pada nya sambil tersenyum miring mendengar ocehan suami gila ku itu.


"Kalau kau masih mencintai ku, kenapa kau ingin menikah dengan wanita lain?" tanya ku.


Aku menautkan kedua alis dan mencondongkan wajah ku ke depan bang Darma, sambil berkata...


"Lah trus, apa beda nya dengan mantan istri mu itu. Dia juga sudah mengkhianati kepercayaan mu bukan? Kenapa kau masih mau balikan sama dia? Kayak gak ada perempuan lain aja." balas ku.


Bang Darma langsung terdiam seketika. Dia tampak panik dan kebingungan mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan ku.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya bang Darma pun mulai memberikan jawaban nya.


"Yaaa, itu karena...karena..."


Bang Darma menjeda kata-kata nya. Dia terlihat gugup dan gelisah untuk mengungkapkan nya pada ku.


"Karena apa?" desak ku.


"Ya karena permintaan Yuni aja. Kalau bukan karena Yuni, aku juga gak bakalan mau balikan lagi sama Dina." jelas bang Darma.


"Karena permintaan Yuni, atau memang karena kau sendiri yang kegatalan sama mantan mu itu?" selidik ku.


"Ka-karena per-permintaan Yuni lah." jawab bang Darma terbata-bata karena saking gugup nya.


"Yakin,? tanya ku lagi.


"Ya-yakin lah. Buat apa aku bohong dengan mu, gak ada guna nya juga." jawab bang Darma.

__ADS_1


Setelah menghela nafas dalam-dalam, aku pun menatap sayu wajah lusuh lelaki yang ada di hadapanku itu sambil berucap...


"Oh, ya udah kalau gitu. Sekarang tolong ceraikan aku, dan berbahagia lah dengan kedua benalu kesayangan mu itu!" ujar ku.


"HAH, kau serius, dek?" pekik bang Darma.


"Ya, aku serius. Kau kan udah tau sendiri sifat-sifat ku dari dulu itu gimana, ya kan?" tanya ku.


"Iya, sih." jawab bang Darma lirih.


"Aku gak pernah main-main dengan semua kata-kata yang keluar dari bibir ku." lanjut ku tegas.


Bang Darma terlihat sangat syok dan semakin gelisah, setelah mendengar ucapan ku barusan.


Dia langsung berdiri dari tempat duduk nya dan mulai mendekati ku, lalu kemudian dia mendudukkan dirinya tepat di sebelah ku.


"Jangan gitu lah, dek! Jangan pernah minta pisah lagi dari abang ya! Biar pun abang menikahi Dina, tapi abang akan tetap menomor satukan dirimu."


Ujar bang Darma mulai melunak. Dia memeluk tubuh ku dari samping dan menempelkan dagu nya di bahu ku.


"Kalau kau tidak ingin kita berpisah, oke aku akan turuti keinginan mu itu."


"Tapi biar kan aku melakukan apa pun yang aku mau, dan jangan pernah melarang ku untuk berhubungan dengan siapa pun, paham!" tegas ku.


"Loh, ya gak bisa gitu lah, dek! Kau itu kan..."


"Ya, aku memang masih istri mu. Aku tau itu, dan kau gak perlu menjelaskan nya sampe berulang-ulang kali." balas ku.


Bang Darma melepaskan pelukan nya dari tubuh ku, dan menyandarkan punggung nya di bahu sofa.


Dia memijat-mijat kepala nya sendiri, sambil memandangi langit-langit ruang tamu dengan tatapan menerawang.


"Pergi lah, temui dia sekarang! Bilang sama dia, kalau aku sudah mengizinkan mu untuk menikahi nya!" ujar ku sambil memalingkan wajah ku ke samping.


Aku tidak ingin bang Darma melihat mata ku yang sudah mulai berembun saat mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan suami ku itu.


"Kau benar-benar serius mengizinkan ku untuk menikahi nya, dek?" tanya bang Darma.


"Iya, pergi lah! Berbahagia lah dengan mereka, tak usah kau hirau kan aku lagi. Aku juga akan mencari kebahagiaan ku sendiri." jawab ku.


Aku berucap tanpa menoleh sedikit pun kepada bang Darma. Aku masih tetap memalingkan wajahku ke samping.


Aku tetap berusaha sekuat tenaga, agar tidak meneteskan air mata di depan bang Darma. Tapi harapan lain dengan kenyataan. Air mata yang sedari tadi aku tahan, akhirnya berhasil lolos dan tumpah membasahi kedua pipi ku.


"Ya Allah, perih sekali rasanya luka yang ada di hati ku ini." jerit ku dalam hati.


Bang Darma yang sedari tadi diam, kini dia mulai curiga dengan gelagat ku yang selalu memalingkan wajah dan tidak mau menatap nya.


Dia menyentuh dagu ku dan merubah posisi wajah ku untuk menghadap kepada nya. Saat melihat linangan air mata ku, dia pun sangat terkejut dan langsung reflek memeluk ku kembali.


"Jangan sedih, dek! Abang janji, kalau abang akan berbuat adil kepada kalian berdua nanti nya." ujar bang Darma sambil membelai rambut panjang ku.

__ADS_1


__ADS_2