
Selesai memijat kaki Darma, Yuni segera bangkit dari kasur dan mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu, lalu melilitkan nya ke tubuh polos nya. Saat hendak membuka, tiba-tiba terdengar suara Darma bertanya pada nya.
"Mau kemana?" tanya Darma yang masih anteng berbaring di atas kasur.
"Mandi," jawab Yuni sembari menoleh ke belakang, lalu melanjutkan langkah nya keluar dari kamar.
Melihat Yuni keluar, Darma pun mulai bangkit dari rebahan nya dan memakai pakaian nya kembali. Setelah selesai, Darma duduk selonjoran di lantai lalu menyalakan rokok nya.
"Yuni kok selow-selow aja ya? Apa jangan-jangan dia belum tau, kalau uang nya udah aku pakai?" batin Darma bingung.
"Hmmmm, bisa jadi sih. Kalau dia udah tau, pasti dia bakalan merepet tujuh hari tujuh malam dengan ku." lanjut Darma sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan nya.
Sedang asyik bergelut dengan isi kepala nya, tiba-tiba Darma tersentak dari lamunannya, karena melihat pintu kamar yang tiba-tiba terbuka lebar.
"Hadeehh, bikin kaget aja nih bocah." gerutu Darma sambil mengelus dada nya.
Yuni menautkan kedua alisnya, melihat ekspresi wajah Darma yang tampak sangat terkejut, ketika melihat kehadiran nya.
"Kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?" tanya Yuni heran.
"Gak papa, cuma kaget aja." jawab Darma dingin.
"Oh, kirain ada apa." balas Yuni lalu menutup pintu dan menguncinya kembali.
Sedangkan Darma, dia menghisap rokok nya kembali lalu memperhatikan kondisi wajah dan juga tangan Yuni.
"Ngomong-ngomong, gimana tangan dan muka mu? Apa masih gatal?" tanya Darma.
"Enggak, cuma sedikit perih aja pas kena air waktu mandi tadi." jawab Yuni.
"Oh, syukur lah kalo gak gatal lagi." ujar Darma sedikit lega.
Yuni mengambil pakaian dari dalam lemari, lalu memakai nya di depan Darma. Setelah itu dia merias diri di depan cermin, dan menyemprotkan sedikit parfum ke badan nya.
Setelah selesai, Yuni mendudukkan diri di sebelah Darma, dan memandangi wajah lelaki pujaan nya itu dengan tatapan yang sedikit berbeda.
Karena merasa aneh dengan tatapan mata Yuni, Darma pun langsung mengerutkan kening nya, lalu bertanya...
"Ada apa? Kenapa nengokin abang kayak gitu?" tanya Darma penasaran.
"Gak ada apa-apa. Yuni cuma heran aja lihat wajah abang." jawab Yuni sambil terus memandangi wajah kusam yang ada di depan nya.
"Heran kenapa? Apa ada yang aneh dengan wajah abang?" tanya Darma semakin penasaran.
"Ya, gak ada yang aneh sih. Cuma Yuni perhatiin, wajah abang kayak gak tenang gitu, kayak lagi nyembunyiin sesuatu." jawab Yuni.
Setelah mendengar penuturan Yuni, Darma tampak semakin gelisah dan tidak tenang di tempat duduk nya. Dia mengalihkan pandangan nya ke arah pintu, untuk menghindari tatapan mata Yuni.
"Gak lah, abang gak ada nyembunyiin apa-apa kok. Itu cuma perasaan mu aja kali." jawab Darma berusaha meyakinkan Yuni.
"Yakin?" tanya Yuni tidak percaya dengan ucapan Darma.
"Ya...Yakin lah." jawab Darma sedikit gugup.
"Oh, ya udah kalo memang gak ada." balas Yuni pasrah.
Sebenarnya Yuni masih penasaran dengan gelagat dan ekspresi wajah Darma, yang tampak sedikit aneh menurut nya. Tapi dia tidak ingin mengorek lebih dalam lagi, karena takut akan menyinggung perasaan Darma nantinya.
"Hufff, syukur lah kalo dia percaya." batin Darma lega.
Agar Yuni tidak membahas masalah itu lagi, Darma pun berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Dia kembali mempertanyakan masalah Dina yang tak kunjung pulang, sejak mendapatkan uang dari nya.
"Mamak mu belum pulang-pulang juga ya, Yun?"
Tanya Darma basa-basi, padahal sebenarnya dia sudah tahu kalau Dina memang belum pulang ke rumah. Mendengar Darma bertanya tentang ibu nya, Yuni langsung memutar bola mata malas.
Dia tidak lagi memandangi wajah Darma, dan malah menunduk kan kepala nya di hadapan Darma. Ada sedikit rasa cemburu di hati nya, ketika melihat Darma masih menaruh perhatian kepada ibu nya tersebut.
"Belum, emang kenapa? Kok tiba-tiba nanyain mamak? Abang kangen ya sama dia?" tanya Yuni tanpa menoleh sedikit pun kepada Darma.
"Gak lah, ngawur aja. Siapa juga yang kangen sama dia." jawab Darma ketus.
"Kalau gak kangen, trus ngapain abang nanyain mamak udah pulang atau belum?" selidik Yuni masih dengan mode tunduk nya.
Bukan nya menjawab, Darma malah kembali melontarkan pertanyaan nya kepada gadis kecil nya tersebut. Dia bingung melihat reaksi Yuni yang sedikit berlebihan, saat dirinya bertanya mengenai masalah Dina.
__ADS_1
"Loh, emang nya salah ya, kalau abang nanyain mamak mu?" tanya Darma balik.
"Ya gak salah sih, cuma Yuni gak seneng aja denger nya." jawab Yuni lirih.
Yuni masih terus menundukkan kepala nya, sambil memilin-milin ujung baju nya sendiri. Dia tampak sangat kecewa dengan sikap Darma, yang masih saja perduli dengan ibu nya itu.
"Gak seneng maksud nya?" tanya Darma lagi.
Yuni tidak menjawab pertanyaan Darma. Dia masih saja setia dengan mode murung nya. Melihat keterdiaman Yuni, Darma pun kembali bertanya kepada anak angkat nya tersebut.
"Atau jangan-jangan, kau cemburu ya sama mamak mu?" selidik Darma.
Yuni langsung mengangguk mengiyakan ucapan Darma. Dia mendongak kan kepala nya, dan menatap wajah Darma dengan mata sayu nya.
"Ya, aku cemburu. Aku gak suka kalau abang masih perhatian sama mamak." jawab Yuni jujur.
"HAH, kok bisa sih, cemburu sama mamak mu sendiri?" tanya Darma dengan mata terbelalak.
Darma sangat terkejut mendengar kejujuran Yuni. Dia sama sekali tidak menyangka, jika Yuni bisa cemburu buta seperti itu dengan Dina, ibu kandung nya sendiri.
"Entah lah, Yuni juga gak tau. Kenapa Yuni bisa cemburu dengan mamak." jawab Yuni lirih.
Darma menghembuskan nafas kasar, saat melihat wajah sedih Yuni yang masih terus menatap nya.
Darma semakin bingung, harus bagaimana lagi cara meyakinkan Yuni. Agar gadis kecil nya itu percaya, kalau dia tidak ada perasaan apapun lagi kepada mantan istri nya itu.
"Udah ah, gak usah berpikiran yang macam-macam lagi." ujar Darma sembari merangkul pundak Yuni, dan mengelus-elus kepala anak angkat nya tersebut.
"Abang udah gak ada hubungan apa-apa lagi kok sama mamak mu, percaya lah!" lanjut Darma dengan penuh keyakinan.
"Ya, tapi kan tetap aja..."
Sebelum Yuni meneruskan kata-kata nya, Darma pun langsung menyambar nya dengan cepat.
"Kau gak perlu khawatir sayang, cinta abang hanya untuk mu seorang kok. Gak ada wanita lain di hati abang, selain dirimu saja." gombal Darma dengan senyum yang mengembang di bibir nya.
"Halah, bohong. Trus buk Ayu mau di kemana'in?" tanya Yuni.
"Ck, gak usah bahas tentang dia kenapa sih? Bikin bete abang aja." gerutu Darma kesal.
Darma memanyunkan bibir nya dan berpura-pura merajuk, untuk mengalihkan perhatian Yuni. Agar dia tidak lagi membahas tentang Ayu di depan nya.
Melihat wajah masam lelaki pujaan nya, Yuni langsung terdiam dan tidak berkata apa pun lagi kepada Darma. Yuni ikut membaring kan diri nya di sebelah Darma, dan memeluk separuh tubuh Darma dari sisi kiri nya.
"Ya udah deh, Yuni janji gak akan ngomongin masalah buk Ayu lagi." ujar Yuni berusaha membujuk Darma.
"Naaah, gitu dong. Ngapain juga kita mesti ngomongin orang yang gak penting kayak dia itu? Bikin emosi aja." omel Darma.
"Iya maaf, Yuni gak akan ulangi lagi deh, sumpah." balas Yuni.
Yuni mengecup pipi kiri Darma dan semakin mengeratkan pelukannya, di tubuh kekar lelaki yang sangat cintai nya tersebut.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Yuni, Darma pun langsung membalas nya, dengan memberikan kecupan yang bertubi-tubi di wajah mulus Yuni. Darma juga membalas pelukan Yuni, dan membawa tubuh ramping gadis itu ke dalam dekapan nya.
"Kita bobok, yok! Abang udah ngantuk nih." bisik Darma.
"Oke," balas Yuni dengan senyum sumringah nya.
Setelah melewati beberapa perdebatan, akhirnya sepasang sejoli yang sedang di mabuk asmara itu pun mulai memejamkan mata. Mereka tertidur lelap dengan posisi yang saling berpelukan, di bawah selimut tipis.
Keesokan paginya, Yuni mulai membuka mata dan menggeliat-geliatkan badan nya. Setelah itu ia pun menoleh ke samping, dan menatap wajah teduh yang masih tertidur pulas di sebelah nya.
Tanpa sadar, Yuni mengulurkan tangan nya untuk membingkai wajah petak Darma. Dia tampak sangat bahagia, saat menyentuh dan membelai wajah lelaki gagah tersebut.
Karena merasa terganggu oleh perbuatan Yuni, akhirnya Darma pun membuka mata nya.
"Pagi, sayang." sapa Yuni sembari tersenyum manis pada Darma.
"Pagi juga, cinta." balas Darma.
Darma langsung memeluk tubuh Yuni, dan mendarat kan kecupan-kecupan mesra nya di seluruh wajah dan juga leher Yuni.
Mendapat serangan mendadak dari Darma, Yuni pun langsung berontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Darma.
"Iiihhhh, lepasin! Sesak dada Yuni abang buat nih." pekik Yuni sambil terus meronta-ronta.
__ADS_1
Sedangkan Darma, bukan nya melepaskan tubuh Yuni, dia malah semakin mempererat pelukannya lalu berkata...
"Biar kan dulu seperti ini, sebentaaaar aja." rengek Darma.
Mendengar rengekan manja Darma, Yuni pun akhirnya luluh dan menghentikan pergerakan nya. Dia langsung terdiam dan mematung di dalam dekapan hangat Darma.
"Naaah, kalau diam gini kan enak. Gak kicat-kicat kayak belatung nangka." ledek Darma.
"Iiihhhh, apaan sih!" ujar Yuni dengan suara manja nya.
Yuni tersipu malu, dan memukul pelan dada bidang Darma. Setelah itu, dia kembali menenggelamkan wajah nya di dalam dekapan Darma.
Setelah beberapa saat saling berpelukan, Darma pun akhirnya melepaskan pelukan nya, dan segera bangkit dari kasur empuk Yuni. Darma menyambar handuk yang tergantung di samping pintu, lalu memakai nya.
"Mandi bareng yok, Yun!" seru Darma.
"Ya abang duluan aja, nanti Yuni nyusul." ujar Yuni.
"Oh, oke." balas Darma.
Darma membuka pintu dan melangkah keluar dari kamar. Dia berjalan beberapa langkah, untuk menuju ke kamar mandi yang berada di bagian dapur.
Melihat Darma keluar, Yuni pun mulai bangkit dari rebahan nya dengan gerakan malas. Saat hendak mengambil handuk baru di lemari pakaian, tiba-tiba mata Yuni terarah pada dompet yang sedari kemarin tidak di lihat nya.
"Siap mandi nanti, aku ajak bang Darma makan di luar ah. Biar romantis kayak di film-film, hihihi." gumam Yuni sembari cekikikan.
"Lihat bajet dulu lah, takut nya kurang pulak dana nya. Kan gak lucu, kalau makan di restoran dana nya kurang. Bisa-bisa nanti di suruh nyuci piring seabrek-abrek, sama yang punya restoran." lanjut Yuni.
Yuni mengambil dompet kulit nya yang tergeletak begitu saja di atas meja rias. Setelah membuka dompet itu, mata Yuni langsung terbelalak lebar dengan mulut menganga.
"Lololoh, uang ku kemana? Kok tinggal tiga ratus ribu aja sih? Yang satu juta nya kemana?" pekik Yuni sembari terlonjak kaget.
Mendengar suara cempreng Yuni yang cukup kuat, Darma yang baru selesai mandi pun, langsung lari tunggang langgang ke dalam kamar untuk menghampiri Yuni.
Darma takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, pada gadis kesayangan nya tersebut.
Sampai di dalam kamar, Darma langsung terpaku di tempat. Dia terkejut melihat Yuni yang sedang sibuk membongkar isi dompet nya.
"Ka-kau kenapa, Yun? Ko-kok teriak-teriak gitu?" tanya Darma gugup.
"Uang Yuni hilang satu juta. Padahal kemarin Yuni tengok, masih ada kok di dalam dompet ini. Tapi sekarang udah gak ada lagi." jawab Yuni.
Setelah mendengar jawaban Yuni, Darma pun langsung panik dan gelisah. Keringat dingin mulai bermunculan di kening nya, dan bercampur dengan air yang masih mengalir dari rambut basah nya.
Dengan perasaan was-was, Darma pun mulai mendekati Yuni yang masih terlihat sibuk dengan dompet nya.
"U-uang mu gak hilang kok, Yun." ujar Darma pelan, lalu mendudukkan diri nya di pinggir kasur.
"Hah, gak hilang? Maksud nya gimana sih, Yuni gak ngerti?" tanya Yuni bingung.
Sebelum menjawab, Darma menghela nafas terlebih dahulu. Dengan hati yang berdebar-debar tidak karuan, Darma pun mulai membuka suara nya.
"U-uang mu udah abang pakai kemarin, untuk mengganti uang Ayu yang abang ambil secara diam-diam." jawab Darma lirih.
"APA?" pekik Yuni dengan suara menggelegar.
Darma langsung tersentak kaget, saat mendengar suara pekikan Yuni. Dia tidak menyangka kalau Yuni akan semarah itu, ketika mengetahui tentang uang nya.
"Maaf, abang terpaksa melakukan nya. Karena Ayu..."
"Yuni gak mau dengar apa pun alasan abang. Sekarang juga Yuni minta, abang pulang ke rumah dan rampas uang itu kembali." ujar Yuni sembari melempar kan dompet nya ke arah Darma.
"Abang jangan datang kesini lagi, kalau uang itu belum abang dapat kan, ingat itu!" ancam Yuni tegas.
Darma langsung lemas, saat mendengar ancaman Yuni. Dia sama sekali tidak mengira, jika Yuni akan semurka itu pada nya.
"Ngapain masih betonggok disitu, hah? Cepat pulang sana, dan ambil semua uang istri gila mu itu. Kalau perlu, rampas sama motor dan perhiasan nya sekalian, biar kapok!" omel Yuni dengan emosi yang meledak-ledak.
"Iya iya, berisik banget sih. Gak usah pake teriak-teriak juga kale, kuping abang masih sehat kok." cibir Darma kesal.
Dengan gerakan malas, Darma pun mulai mengambil pakaian nya yang teronggok di atas kasur, lalu memakai nya. Setelah itu, dia pun keluar begitu saja dari kamar, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada Yuni.
Darma terus mengayunkan langkah kaki nya, sampai keluar pintu utama. Sesampainya di teras rumah Dina, Darma langsung memanggil ojek dan berlalu pergi menuju rumah nya.
Setibanya di depan rumah, Darma sedikit lega karena melihat pintu rumah dan kios terbuka lebar. Setelah membayar ongkos ojek, Darma pun segera masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam.
__ADS_1