
* Kembali ke Ayu *
Setelah terlelap selama setengah jam, aku pun terbangun karena teringat kios yang masih terbuka.
"Loh, tadi kan kios aku buka. Kenapa bisa lupa ya?" gumam ku.
"Ah, tutup aja lah. Biar bisa molor lagi." lanjut ku lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju kios.
Saat hendak menyusun barang-barang dagangan, tiba-tiba aku terlonjak kaget ketika sepasang tangan melingkar di pinggang ku.
"Lagi ngapain, say?" tanya bang Agus sambil memeluk erat tubuh ku.
"Eh copot eh copot..." Latah ku sembari mengelus dada.
"Iiihhhh, bikin orang jantungan aja kerjaan nya." omel ku lalu berusaha melepaskan pelukan nya.
Tetapi itu tidak berhasil aku lakukan, karena tenaga ku kalah jauh dengan tenaga si botak tuyul. Karena gagal melepaskan diri, akhirnya aku pun hanya pasrah dan membiarkan nya memeluk ku serta menciumi leher ku.
"Suami mu ada di rumah gak, say?" tanya bang Agus, selingkuhan lima langkah ku itu.
"Gak ada, emang nya kenapa?" tanya ku balik.
"Waaahh, kebetulan sekali. Kita main bentar yok! Abang pengen banget nih." bisik bang Agus, lalu menggigit kecil telinga ku.
"Males ah, nanti kalo tiba-tiba bang Darma pulang, gimana coba?" tanya ku lagi.
"Hhhmmm, iya juga sih. Gimana kalo kita ke hotel aja, mau gak?" usul bang Agus.
Tanpa pikir panjang lagi, aku pun menyetujui usulan bang Agus untuk bersenang-senang di hotel, tempat biasa kami memadu kasih.
"Oke, abang tunggu aja di sana, nanti aku nyusul. Aku mau beresin ini dulu." jawab ku sambil menunjuk ke arah barang-barang dagangan ku.
"Oke, say. Cepetan ya, abang udah gak sabar nih." ujar bang Agus, lalu melepas pelukannya dan mencium kilat bibir ku.
"Iya, cerewet." balas ku.
Sesudah membuat perjanjian, bang Agus pun bergegas keluar dari kios ku, dan kembali ke rumah nya yang hanya berjarak lima langkah dari kediaman ku.
Setelah bang Agus pergi, aku pun menyusun barang-barang kembali. Setelah selesai, aku segera menutup pintu kios lalu mengunci nya.
"Hufff, akhirnya selesai juga kerjaan ku." gumam ku sembari menghela nafas lega.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku pun segera bersiap-siap untuk menyusul bang Agus ke hotel.
Setelah memasukkan sepasang baju dan alat-alat makeup ke dalam tas ransel, aku pun langsung keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu utama. Sesudah mengunci pintu, aku bergegas naik ke atas motor dan melajukan nya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di depan gedung hotel, aku segera memarkir kendaraan roda dua ku itu di halaman hotel tersebut. Setelah itu, aku segera merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.
Setelah mendapatkan nya, aku pun langsung menghubungi bang Agus, untuk menanyakan nomor kamar yang sedang di huni nya.
__ADS_1
Tut tut tut...
"Halo bang, kamar nya nomor berapa? Aku udah di depan nih." tanya ku setelah panggilan ku tersambung dengan si botak tuyul.
"kamar nomor 101 lantai dua." jawab bang Agus.
"Oke, aku kesana sekarang." jawab ku lalu memutuskan panggilan sepihak, tanpa menunggu jawaban dari bang Agus.
Setelah mengetahui nomor kamar yang akan di tuju, aku pun bergegas masuk ke dalam hotel, dan menapaki beberapa anak tangga untuk menuju ke lantai dua.
Setiba nya di depan kamar 101, aku pun langsung mengetuk pintu tanpa mengeluarkan suara. Tak butuh waktu lama, pintu pun langsung terbuka lebar.
"Ayo masuk, say!" seru bang Agus sambil menarik tangan ku lalu mengunci pintu kembali.
Aku pun hanya mengangguk mengiyakan ajakannya. Sampai di dalam, aku meletakkan tas di meja tv, lalu duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok.
"Emang suami mu pergi kemana, say? Akhir-akhir ini kok jarang kelihatan di rumah? Apa dia udah dapat kerja ya?" tanya bang Agus lalu naik ke atas ranjang, dan duduk di belakang ku.
Dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya, bang Agus pun kembali memeluk ku lalu menempelkan dagu nya di pundak ku. Kedua kaki nya di selonjorkan di sisi kanan dan kiri ku.
"Belum, dia belum dapat kerja. Palingan dia ngeluyur ke tempat benalu nya."
Jawab ku santai sambil terus menghisap rokok, dengan pandangan lurus menatap cermin yang ada di depan ku. Aku memperhatikan gerak-gerik bang Agus, yang sedang menempel kan kedua tangan nya di benda kenyal ku.
"Oh, bisa juga sih." balas bang Agus mulai tidak konsentrasi dengan percakapan kami.
Dengan nafas yang tidak beraturan, bang Agus pun mulai membuka pakaian ku satu persatu sampai polos tak bersisa.
"Wow, makin hari kok makin besar aja dedek ku ini, bang? Emang nya abang kasih apaan sih, maka nya bisa segede ini?" tanya ku penasaran, sambil mengelus-elus mainan kesayangan ku itu dengan kedua tangan ku.
Bukan nya menjawab, bang Agus malah tersenyum genit dan menaik turun kan kedua alisnya.
"Tapi kamu suka kan?" goda bang Agus.
"Ya pasti suka dong, suka banget malah. Terasa penuh kalau di masukkan ke sini."
Jawab ku sambil menunjuk ke arah hutan rimba milik ku, yang sudah mulai berdenyut-denyut tidak karuan. Mendengar jawaban ku, bang Agus pun langsung tersenyum dan mengikuti arah telunjuk ku, sambil berkata...
"Hehehe, bisa aja kamu, say. Jadi gimana nih? Mau di masukkan sekarang atau nanti?" tanya bang Agus dengan senyum menyeringai di wajah nya.
"Terserah abang, aku sih ngikut aja." jawab ku lalu merebahkan diri di atas ranjang, dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
Melihat posisi ku yang menantang, bang Agus pun langsung membelalakkan mata nya, sambil sesekali menelan ludah nya dengan kasar.
"Kita mulai sekarang aja ya, say? Abang udah gak tahan lagi soalnya." ujar bang Agus dengan wajah yang tampak sangat kelaparan.
"Ya, mulai lah." jawab ku menyetujui permintaan nya.
Setelah mendengar penuturan ku, bang Agus pun langsung tersenyum sumringah, dan segera memulai kegiatan nya. Dia mencium bibir, wajah, dan juga leher ku dengan gairah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun.
__ADS_1
Setelah beberapa menit memanjakan tubuh ku dengan sentuhan lidah dan tangan nya, kini tiba lah saat nya untuk melakukan tugas utama nya.
Bang Agus pun mulai memposisikan mainan kesayangan ku itu, tepat di depan hutan rimba milik ku.
Setelah di rasa sudah tepat sasaran, bang Agus pun langsung menghentak kan dengan kuat dan, "bless" mainan ku itu pun masuk dengan sempurna ke sarang nya.
Setelah itu, bang Agus pun mulai melakukan kegiatan nya dengan kecepatan tinggi. Hingga membuat ku semakin bergairah dan menggeliat-geliat tidak karuan, persis seperti ulat gendon yang ada di batang rumbia.
Aku mulai memejamkan mata, dan menikmati permainan bang Agus yang cukup ganas dan brutal. Suara desah*an kami berdua pun mulai menggema,dan memenuhi setiap sudut ruangan kamar hotel tersebut.
Dengan nafas yang ngos-ngosan dan keringat yang mengucur deras, bang Agus pun semakin menambah kecepatan nya, hingga akhirnya kami berdua pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.
Bang Agus menyemburkan lahar hangat nya ke dalam milik ku, sambil mendongak ke atas dan tubuh yang menegang.
"Kau memang sangat luar biasa, say. Kau mampu mengimbangi permainan abang tadi." ujar bang Agus lalu mengecup mesra kening ku.
"Helehh, lebay. Cuma gitu aja kok pake acara muji-muji segala, basi tau gak!" balas ku cuek.
"Siapa yang lebay? Emang kenyataan nya gitu kok. Hari ini gairah mu lebih tinggi, dari pada hari-hari biasa nya."
Jelas bang Agus, sambil mengeluarkan mainan nya yang sudah mulai layu, lalu menjatuhkan tubuh nya di samping ku.
"Iya kah? Perasaan, aku main nya biasa-biasa aja kok, gak ada beda nya dengan hari-hari sebelum nya." balas ku.
"Ya enggak lah, yang bisa merasakan beda atau tidak nya kan cuma abang, bukan dirimu." ujar bang Agus masih tetap kekeuh dengan pendapat nya.
"Iya iya, terserah abang aja lah situ." jawab ku pasrah lalu bangkit dari ranjang, dan melangkah masuk ke kamar mandi.
Begitu juga dengan bang Agus, dia mengekori langkah ku dari belakang dengan handuk yang tersampir di pundak nya.
Setelah membersihkan diri masing-masing, aku dan bang Agus pun kembali duduk di pinggir ranjang. Karena merasa lapar, aku pun menyuruh bang Agus untuk mencari makanan di luar.
"Bang, cari makanan gih! Perut ku mulai lapar nih." ujar ku.
"Emang mau makan apa?" tanya bang Agus.
"Mie ayam sama jus jeruk. Jangan lupa beli gorengan juga ya!" jawab ku.
"Oke, tunggu bentar ya!" balas Agus.
"Ya," jawab ku.
Bang Agus pun segera bergegas memakai pakaian dan sepatu nya kembali. Setelah selesai, dia langsung keluar dari kamar, dan mengunci pintu dari luar.
Setelah kepergian bang Agus, aku pun membaringkan tubuh lelah ku di atas ranjang dengan posisi telentang. Sambil menatap langit-langit kamar, aku pun kembali mengingat perbuatan nekat Yuni sewaktu di rumah tadi.
"Sebegitu cinta nya kah bocah edan itu dengan bang Darma. Sampai-sampai dia rela melakukan apapun, hanya demi mendapatkan keinginannya." gumam ku.
"Apa sih yang di lihat Yuni dari bang Darma? Ganteng kagak, kere iya." lanjut ku heran.
__ADS_1
"Yuni... Yuni... Kau itu masih muda, cantik, body juga oke. Kok mau-maunya berhubungan sama laki-laki kayak bang Darma. Udah lah tua, jelek, kere pulak." tambah ku sambil menggeleng-gelengkan kepala.