
Setelah membaca semua pesan dari bang Darma, Yuni dan juga Dina, aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja rias. Tak lama berselang, bang Agus datang dengan membawa beberapa bungkusan di tangan nya.
"Say, aku punya kabar yang mengejutkan untuk mu." ujar bang Agus sembari meletakkan bungkusan plastik itu di atas meja.
"Kabar apa?" tanya ku mengernyitkan dahi.
"Tadi abang jumpa suami mu di lobby hotel." jawab bang Agus.
Bang Agus duduk di sebelah ku dan menatap wajah ku dengan serius.
"Hah, serius?" pekik ku dengan mata terbelalak.
"Iya, serius. Tadi kami sempat saling sapa juga. Aku tanya dia lagi ngapain disini. Kata nya sih lagi ngunjungi teman lama nya. Kebetulan teman nya itu nginap di hotel ini." jelas bang Agus.
"Halah, pasti dia bohong tuh. Palingan dia nginap sama cewek disini." tebak ku.
"Iya, juga sih. Abang juga berpikiran yang sama dengan mu tadi. Waktu jumpa sama abang, muka nya aja langsung pucat. Kayak orang lagi ketakutan gitu." tambah bang Agus.
"Tu kan, pasti filing ku gak meleset. Dia pasti nginap sama cewek di hotel ini. Tapi kira-kira dia nginap sama siapa ya?" tanya ku.
"Abang gak tau, say. Karena tadi pas kami jumpa, dia sendirian aja." jawab bang Agus.
"Kalo menurut filing abang, dia nginap sama siapa?" tanya ku lagi.
"Yang pasti nya bukan sama mantan istri nya itu." jawab bang Agus.
"Ya bener banget, filing aku juga gitu sih. Kalau dia nginap sama Dina, buat apa pake acara ke hotel segala. Di rumah Dina kan juga bisa kalau cuma sekedar untuk nginap." jelas ku.
"Iya, betul itu. Apa mungkin dia nginap sama anak nya itu ya?" tebak bang Agus.
"Kayak nya sih, iya. Karena mereka takut ketahuan Dina, maka nya mereka berdua cari tempat yang aman buat bersenang-senang." jawab ku membenarkan ucapan bang Agus.
"Memang benar-benar udah gak waras lagi kayak nya suami mu itu, say. Tinggalin aja kenapa sih, ngapain juga hidup sama laki-laki gila kayak dia itu!" tutur bang Agus geram.
Bang Agus mengeratkan rahang nya dan juga genggaman tangan nya sendiri. Dia tampak sangat geram dan emosi melihat kelakuan suami ku.
"Belum saat nya, bang. Aku masih ingin bermain-main dulu dengan ketiga manusia ular itu." jawab ku santai.
"Iya, abang ngerti maksud mu. Tapi abang kasihan sama mu, say. Abang gak tega melihat dirimu terus-terusan di sakiti oleh lelaki gila itu." ujar bang Agus.
"Abang tenang aja ya, aku bisa jaga diri kok. Mereka gak akan berani berbuat yang aneh-aneh dengan ku, percaya lah!" balas ku.
__ADS_1
"Ck, bandel kali pun di bilangin. Ya udah lah, terserah dirimu aja!" balas bang Agus kesal.
"Hihihi,"
Aku cekikikan melihat raut wajah bang Agus yang berubah masam. Dia terlihat lucu dan menggemaskan saat sedang ngambek seperti itu.
"Udah, gak usah pake acara merajuk segala. Kita makan yok! Perut ku udah lapar banget nih dari tadi." seru ku.
"Oke lah, ayo!" balas bang Agus.
Aku dan bang Agus beranjak dari tepi ranjang, lalu mendudukkan diri masing-masing di kursi plastik yang ada di sebelah meja rias.
Kami berdua makan dengan santai, dan suasana yang hening tanpa perbincangan apa pun lagi.
Selesai makan, aku dan bang Agus menyalakan rokok masing-masing dan kembali membuka percakapan.
"Kira-kira mereka berdua lagi ngapain ya sekarang?"
Gumam ku dengan pandangan menerawang menatap lurus ke depan. Aku lagi membayangkan, apa yang sedang di lakukan oleh bang Darma dan Yuni saat ini.
"Ya apa lagi kalau bukan bergumul ria di atas ranjang, udah pasti itu" tebak bang Agus sembari menghisap rokok nya.
"Iya ya, pasti mereka lagi asyik-asyiknya menikmati kegiatan panas mereka." balas ku membenarkan tebakan bang Agus.
"Huh, kenapa harus dia sih? Kayak gak ada perempuan lain aja." gumam ku pelan sembari membuang nafas kasar.
"Iya, abang juga gak bisa bayangin. Gimana lah rasa nya main sama darah daging sendiri." balas bang Agus.
Aku dan bang Agus sama-sama hanyut dalam lamunan masing-masing. Kami berdua memikirkan hal yang sama, yaitu tentang kelakuan anak dan bapak yang sama-sama gila tersebut.
Setelah beberapa saat merenung, aku mematikan api rokok di dalam asbak lalu melangkahkan kaki menuju ranjang. Setelah itu, aku merebahkan diri dan kembali melamun sambil menatap langit-langit kamar.
"Bersenang-senang lah sesuka mu, bang. Sebelum kalian benar-benar merasakan akibat dari perbuatan hina kalian itu." batin ku sembari menggenggam erat kain seprai ranjang.
Melihat aku berbaring di atas ranjang, bang Agus pun juga turut mengikuti ku. Dia merebahkan diri nya di samping ku, lalu memeluk separuh tubuh ku.
Bang Agus juga meletakkan satu kaki nya di atas paha ku, dan menenggelamkan wajah nya di ceruk leher ku.
"Ini anak tokek ngapain sih nempel-nempel kayak gini. Bikin bulu kuduk ku merinding aja." omel ku.
Aku melepaskan pelukan bang Agus, lalu menatap sinis pada nya. Sedangkan yang di tatap, bukan nya marah atau pun menghindar. Dia malah semakin mengeratkan pelukan nya sambil berbisik...
__ADS_1
"Abang pengen, say." rengek bang Agus.
"Pengen apa? Pengen di tabok ya?" tanya ku asal.
"Iiiisss, kejam kali sih! Masa minta di tabok, abang mau nya minta yang ini." jawab bang Agus sembari menempel kan tangan nya di bawah perut ku.
"Nanti lah, aku masih belum selera melakukan nya." balas ku.
"Jadi selera kapan?" tanya bang Agus.
"Tahun depan." jawab ku asal.
"Hah, tahun depan?" pekik bang Agus.
"Ya, kenapa emang nya?" tanya ku lagi.
"Kok lama banget sih, mana mungkin abang bisa tahan kalau sampai selama itu." rengek bang Agus lagi.
"Bodo, emang gue pikirin!" cibir ku.
Mendengar celotehan ku, bang Agus pun memanyunkan bibir nya dan melepaskan pelukannya. Dia tampak kecewa dengan sikap acuh ku barusan.
"Marah nya sama siapa, kena imbas nya sama siapa." gumam bang Agus.
"Hah, maksud nya?" tanya ku bingung.
"Maksud nya masa marah nya sama Darma, tapi yang kena imbas nya malah abang. Kan gak adil nama nya tuh." jelas bang Agus.
"Oh gitu, trus yang adil itu gimana rupanya?" tanya ku lagi.
"Ya...Ya jangan marah ke abang lah. Kalau mau marah ke Darma aja." jawab bang Agus gugup.
"Siapa yang marah ke abang? Aku kan cuma bilang, masih gak selera melakukan nya. Bukan berarti aku marah sama abang." jelas ku.
"Oh, kirain marah tadi, hehehe." balas bang Agus salah tingkah.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah aneh botak tuyul ku itu.
"Maka nya punya kuping itu di dengerin baik-baik orang ngomong, jangan cuma masuk kanan keluar kiri aja. Jadi salah artikan jadinya." omel ku.
Aku mengomel panjang lebar sambil menjewer kuat telinga bang Agus. Dan itu berhasil membuat nya terpekik kesakitan.
__ADS_1
"Adoooh, copot lah kuping abang ini lama-lama kau buat, say." pekik bang Agus sembari mengelus-elus telinga nya.
"Kapok, siapa suruh kuping nya mendadak pekak, hihihi" cibir ku sembari cekikikan.