SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Anak Kandung Atau Anak Pungut?


__ADS_3

"Abang udah gak waras ya? Masa Yuni mau di satukan sama perempuan gila itu? Cih, ogah banget." oceh Yuni.


"Asal abang tau ya, sampai mati pun aku gak bakalan sudi tinggal satu atap sama dia, paham!" lanjut Yuni dengan nada tinggi.


Yuni menolak mentah-mentah usulan Darma yang sangat tidak masuk akal menurut nya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan nya nanti, jika tinggal bersama dengan musuh bebuyutan nya.


"Kalau gak mau ya udah, gak usah pake acara merepet segala. Tinggal bilang mau atau tidak aja kok, banyak kali embel-embel nya." omel Darma kesal.


Yuni semakin cemberut dan memanyunkan bibir nya, setelah mendengar cibiran Darma. Dia merasa sedikit tersinggung atas perkataan Darma yang cukup kasar menurut nya.


"Makanya abang jangan nanya yang aneh-aneh. Udah tau dia itu musuh bebuyutan ku, masih aja mau di satuin. Sorry-sorry bae lah." tambah Yuni lagi.


"Udah lah gak usah di bahas lagi, lupain aja!" ujar Darma ketus.


Darma mendengus kesal mendengar ocehan-ocehan Yuni. Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Darma pun akhirnya mengalah dan membaringkan tubuh nya di kasur. Kemudian dia menutup mata nya dengan lengan kanan nya.


Yuni yang sedari tadi masih memasang wajah masam nya pun, melirik ke arah Darma dengan ekor mata nya sambil bergumam...


"Ck, masalah belum kelar kok udah molor pulak dia, bikin emosi aja nih orang." gerutu Yuni.


Karena sudah tidak ada lawan bicara lagi, akhirnya Yuni pun ikut membaringkan diri di sebelah Darma. Dia mengambil selimut yang ada di dekat bantal nya, lalu menyelimuti tubuh mereka berdua dari ujung kaki sampai sebatas bahu.


Setelah itu, Yuni pun melingkarkan tangan nya di atas perut Darma, kemudian meletakkan kepala nya di bahu kiri lelaki tersebut.


"Good night, sayang."


Bisik Yuni pelan, lalu mengecup pipi Darma dan mulai memejamkan mata nya. Tak lama berselang, Yuni pun terlelap dan menyusul Darma ke alam bawah sadar nya.


Sedangkan Dina, dia masih saja terus berperang dengan isi kepala nya sendiri.


Masih dengan menggunakan pakaian minim dan transparan, dia pun mondar-mandir di depan ranjang nya. Dina terus memutar otak nya, untuk memikirkan cara agar bisa membalaskan sakit hati nya, atas perbuatan anak dan mantan suami nya tersebut.


"Awas aja kalian. Aku gak akan pernah membiarkan kalian hidup bahagia. Aku akan jadi mesin penghancur untuk hubungan kalian berdua, hahahaha." ucap Dina dengan tawa jahat di wajah nya.


Saat ini Dina sangat membenci anak nya sendiri, karena sudah berani merebut lelaki yang di inginkan nya. Dia merasa tersaingi oleh anak nya dalam masalah asmara dan cinta.


Dulu Dina sama sekali tidak menginginkan Darma karena sikap nya yang dingin dan acuh di ranjang. Tapi sekarang, Dina mulai tergila-gila lagi dengan lelaki pengangguran itu, karena Darma sudah jauh berubah.


Dina kembali menyukai Darma, karena lelaki itu semakin hangat dan perkasa dalam memuaskan pasangan nya di ranjang. Tidak seperti dulu, yang baru saja nempel sudah langsung keluar.


"Gimana cara misahin mereka ya?" gumam Dina bingung.


"Kalau pun mereka tidak bisa aku pisahkan, setidaknya aku masih bisa merasakan kenikmatan dari Darma."


"Tidak bisa memiliki nya pun gak papa kok, yang penting aku bisa ikut merasakan enak nya." lanjut Dina masih terus bergelut dengan ide-ide gila nya tersebut.


Setelah lelah berpikir, akhirnya Dina pun merebahkan tubuh nya di atas ranjang. Dia kembali membayangkan permainan ganas Darma, yang mereka lakukan sewaktu di kamar mandi tadi.


"Pintu nya gak usah di kunci, ah. Siapa tau aja tengah malam nanti Darma datang, untuk memuaskan ku lagi." gumam Dina penuh harap.


Setelah beberapa saat mengkhayal, akhir nya Dina pun memutuskan untuk membuka seluruh pakaian nya. Dia masih berharap kalau Darma akan datang menemui nya, dan kembali bergumul ria bersama nya.


Setelah keadaan polos tanpa sehelai benang pun, Dina langsung masuk ke dalam selimut dan mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian, dia pun tertidur pulas dan mulai hanyut ke alam mimpi.


Baru saja satu jam terlelap, tiba-tiba Dina terbangun karena merasakan ada nya sepasang tangan yang menyentuh tubuh nya.


"Sudah ku duga, kau pasti akan datang untuk memuaskan ku, Dar." ujar Dina dengan wajah berbinar cerah.


"Pasti dong, sayang. Aku pasti akan selalu datang untuk melayani mu." balas Darma sambil tersenyum genit.


"Bagus lah, memang itu lah yang ku harapkan dari mu. Ayo cepetan mulai, aku udah gak sabaran ingin merasakan belalai mu ini." desak Dina sambil mengelus-elus belalai kesayangan nya tersebut.

__ADS_1


"Oke, sayang." balas Darma.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Darma pun langsung membuka celana pendek nya, lalu naik ke atas ranjang dan berjongkok di depan wajah Dina. Tanpa berkata apapun lagi, Darma langsung memasukkan belalainya ke dalam mulut Dina.


Mendapat makanan lezat di mulut nya, Dina pun langsung menyambut nya dengan senang hati. Dia mulai memanjakan milik Darma dengan sentuhan-sentuhan lidah nya.


Setelah merasa cukup puas, Dina pun menyudahi kegiatan nya dan meminta Darma untuk melakukan hal yang sama dengan nya.


"Udah Dar, sekarang giliran ku." ujar Dina.


"Oke siap, nyonya besar." canda Darma sembari tersenyum bahagia.


Dengan gairah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun, Darma pun mulai memanjakan gua kesayangan nya itu dengan kelembutan lidah nya juga.


Dan itu berhasil membuat Dina melayang-layang, menikmati hasil perbuatan mantan suami nya tersebut.


Beberapa menit kemudian, Darma pun menghentikan kegiatan nya dan melanjutkan permainan utama nya. Saat hendak memasukkan belalainya ke dalam gua milik Dina, tiba-tiba...


Dor dor dor...


"BAAANG, BUKA PINTU NYA!" pekik Yuni sambil menggedor-gedor pintu kamar Dina dengan kuat.


Mendengar suara cempreng Yuni, Darma pun langsung terlonjak kaget dengan mata terbelalak selebar-lebar nya. Belalai yang tadi nya sudah berdiri tegak, kini langsung mengkerut dan tertidur kembali.


Dalam keadaan sama-sama polos, Darma dan Dina pun kelihatan panik dan kebingungan. Mereka berdua sibuk memikirkan cara, agar perbuatan mereka itu tidak terperogok oleh Yuni.


"Gimana ini, Din? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Darma semakin gelisah.


Dina tidak menjawab, dia masih terus memikirkan cara untuk menyembunyikan Darma. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Dina pun memiliki ide untuk menyuruh Darma keluar dari jendela kamar nya.


"Kau keluar dari jendela itu aja, Dar. Nanti kalau dia nanya, bilang aja kau lagi cari angin segar." usul Dina sambil menunjuk ke arah jendela kaca, yang ada di samping meja rias.


"Ya, pergi lah! Urusan selanjutnya, biar aku yang hadapi." ujar Dina.


"Oke," balas Darma sembari mengangguk dan bergegas memakai celana pendek nya kembali.


Setelah itu, Darma segera membuka jendela dan langsung melompat keluar. Selanjutnya dia berusaha untuk tetap santai dan tenang, seperti tidak ada kejadian apapun.


Kemudian dia pun berjalan ke depan rumah, dan duduk di teras sambil menyandarkan punggung nya di tembok.


Sedangkan Dina, dia bergegas memakai pakaian nya kembali, lalu berjalan menuju pintu yang sedari tadi di gedor-gedor oleh Yuni.


Dina berpura-pura menguap, dan mengacak-acak rambut nya sendiri. Dia ingin mengecoh Yuni, dengan penampilan yang persis seperti orang baru bangun tidur.


"Hoamm, ada apa lagi sih, Yun? Ganggu orang lagi tidur aja." gerutu Dina sambil menguap dan menggaruk-garuk kepala nya.


Bukan nya menjawab, Yuni malah mengerutkan kening nya melihat penampilan Dina yang acak adut tidak karuan.


"Gak usah pura-pura deh. Mamak pikir aku gak tau ya, kalau bang Darma ada di dalam kamar ini? Cepat, suruh dia keluar! Kalau tidak, aku akan obrak-abrik kamar mamak ini." ancam Yuni sambil berkacak pinggang dan mata yang membulat.


Mendengar ancaman Yuni, Dina pun langsung menautkan kedua alisnya. Dia berpura-pura tidak mengerti, akan maksud dari perkataan anak nya tersebut.


"Kau ini ngomong apa sih? Jangan sembarangan nuduh, kalo gak ada bukti!" omel Dina tak mau kalah.


"Halah, gak usah pura-pura polos lah. Aku tau kok, mamak pasti menggoda bang Darma kan, biar bang Darma mau melayani mamak. Iya kan, ngaku aja deh!" cibir Yuni sembari tersenyum miring.


"Udah tua kok masih aja kegatalan, heran aku." lanjut Yuni sembari menggeleng-gelengkan kepala nya.


Wajah Dina langsung merah padam, setelah mendengar cibiran pedas dari anak nya tersebut. Dia tampak emosi dan murka dengan kelakuan Yuni, yang semakin hari semakin menjadi-jadi kepada nya.


"Dasar, anak kurang ajar! Berani sekali kau menghina ku seperti itu, hah?" bentak Dina.

__ADS_1


Lalu ia pun melayangkan telapak tangan nya ke wajah Yuni dan "plak." Satu hadiah istimewa pun mendarat sempurna di pipi kiri Yuni.


Mendapat perlakuan seperti itu dari ibu nya, Yuni pun langsung terdiam dan mematung, sambil memegangi pipi merah nya.


Tanpa rasa bersalah ataupun kasihan kepada anak nya, Dina langsung mengusir Yuni dari hadapan nya.


"Cepat, balek ke kamar mu sana! Muak aku lama-lama lihat muka jelek mu itu. Tengah malam gini, bkin tensi ku naik aja kerjaan nya." omel Dina lalu menutup pintu kamar nya dengan kuat.


Yuni yang sedari tadi mematung di tempatnya berdiri pun langsung terlonjak kaget, ketika mendengar suara dentuman pintu yang sangat menggelegar.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Yuni pun melangkah masuk ke dalam kamar nya dengan mata yang mulai berembun. Setelah menutup pintu, Yuni pun menjatuhkan diri di atas kasur dengan posisi telungkup.


Dia membenamkan wajah nya ke batal lalu menangis sesenggukan. Hati nya sangat terluka atas perbuatan Dina barusan.


Yuni sama sekali tidak menyangka, jika hubungan mereka berdua akan hancur seperti ini, hanya karena satu laki-laki.


"Sebenarnya aku ini anak kandung atau anak pungut sih, mak? Kenapa dari dulu sikap kasar mu tidak pernah berubah dengan ku?" gumam Yuni sambil terus menangisi nasib hidup nya.


"Dasar, orang tua egois! Aku benci dengan kalian semua, BENCI." teriak Yuni sembari memukul-mukul bantal yang sedang di pakai nya.


Mendengar suara Yuni yang cukup kuat, Darma yang sedari tadi melamun di teras depan pun langsung tersentak, dan lari pontang-panting menuju kamar Yuni. Dia takut terjadi apa-apa dengan gadis kecil nya tersebut.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Darma pun membuka pintu dan langsung memeluk tubuh Yuni dengan sangat erat, lalu bertanya...


"Ada apa, sayang? Kenapa teriak-teriak gitu?" tanya Darma pura-pura tidak tahu.


Yuni tidak menjawab, dia tetap membenamkan wajah nya dan melanjutkan tangis nya kembali. Darma menatap iba kepada Yuni sambil membelai rambut panjang nya.


Mendengar tangisan pilu Yuni, Darma pun semakin terpukul dan merasa bersalah, atas perbuatan yang sudah di lakukan nya tadi. Hingga tanpa sadar, Darma pun mengakui kesalahan yang sudah di perbuatnya.


"Maafin abang ya, Yun. Abang khilaf, abang tidak sengaja melakukan hal itu pada nya." tutur Darma lirih.


Tangisan Yuni pun langsung terhenti, ketika mendengar pengakuan Darma yang sangat mengejutkan bagi nya. Yuni membalikkan badan nya dan menatap tajam ke arah Darma, sambil berkata...


"Abang bilang apa tadi? Coba ulangi lagi!" pinta Yuni.


Darma langsung terdiam seribu bahasa. Dia tampak semakin panik dan gugup, saat melihat wajah sangar Yuni yang seolah-olah hendak memakan nya hidup-hidup.


Dengan perasaan was-was dan sedikit ketakutan, Darma pun memberanikan diri untuk mengakui kesalahan nya kembali.


"Abang khilaf, Yun. Tolong maafin abang ya! Abang janji, abang tidak akan pernah mengulangi perbuatan itu lagi." ujar Darma dengan wajah memelas.


Mendengar pengakuan Darma yang sangat menyakitkan, emosi Yuni pun langsung pecah seketika. Dia melayangkan kepalan tangan nya ke wajah Darma dan "bugh," satu bogem mentah pun mendarat indah di pipi kanan Darma.


Dan itu berhasil membuat Darma sedikit goyah, dan terhuyung ke belakang. Mendapat pukulan keras dari Yuni, Darma pun langsung meringis kesakitan sambil memegangi pipi biru nya.


"Rasakan lah pembalasan ku itu, laki-laki gak tau diri! Di kasih hati malah minta jantung. Apa tidak cukup bagi mu menjamah buk Ayu dan aku saja, hah?" bentak Yuni.


Darma tidak berani menjawab, dia hanya menunduk dan berdiam diri menghadapi kemarahan Yuni. Karena tidak ada respon dari Darma, Yuni pun melanjutkan celotehan nya kembali.


"Sebegitu haus nya kah kau dengan tubuh wanita, sampai-sampai mamak ku pun kau embat juga?" pekik Yuni dengan emosi yang meluap-luap.


Karena sudah tidak sanggup menerima hinaan yang terus-menerus keluar dari mulut Yuni, Darma pun akhirnya mengangkat kepala nya, dan menatap wajah horor Yuni dengan mata membulat.


"Sudah cukup, jangan di teruskan lagi! Jadi sekarang mau mu apa, hah?" tantang Darma sembari mengeratkan rahang nya.


Yuni langsung terdiam seketika. Dia sama sekali tidak menduga, jika Darma akan mengatakan hal itu kepada nya.


"Kau mau mengakhiri hubungan ini? Oke, kalau memang itu mau mu, aku akan turuti keinginan mu itu." lanjut Darma.


Kemudian Darma pun bangkit dari kasur dan memakai pakaian nya kembali. Setelah selesai, Darma langsung keluar dari kamar dan meninggalkan Yuni begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2