
Karena merasa bosan, Ayu pun melangkah masuk ke dalam kamar. Melihat pergerakan istri nya, Darma pun menoleh dan bertanya.
"Mau kemana, dek?" tanya Darma
"Molor," jawab Ayu tanpa menoleh dan terus melanjutkan langkah nya.
Sampai di kamar, Ayu meletakkan ponsel di atas meja, lalu merebahkan diri nya di atas ranjang. Tak lama kemudian, Darma pun beranjak dari tempat duduk nya dan menyusul Ayu ke dalam kamar.
Melihat kedatangan suami nya, Ayu yang tadi nya hendak memejamkan mata pun langsung menoleh.
"Mau ngapain ikut masuk?" tanya Ayu penuh curiga.
"Mau makan," jawab Darma asal lalu merangkak naik ke atas ranjang, dan memeluk tubuh Ayu dengan erat.
"Kalau mau makan itu ke dapur, bukan ke kamar," oceh Ayu ketus.
"Bukan makan nasi, tapi makan tempe bacem ini," balas Darma lalu menempelkan telapak tangan nya ke gua Ayu.
"Ck, tadi kan udah sih. Masa sekarang mau minta lagi?" gerutu Ayu kesal.
Ayu berusaha melepaskan pelukan Darma, tapi semua usaha nya hanya sia-sia belaka. Tenaga nya kalah jauh dengan tenaga suami nya. Hingga akhirnya, Ayu pun hanya pasrah dan membiarkan Darma menggerayangi tubuh nya.
"Huh, percuma saja di lawan. Gak bakalan bisa menang aku dari badak satu ini," gerutu Ayu pelan. Tapi masih bisa terdengar oleh telinga Darma.
"Heh heh heh, sembarangan bilangin orang badak. Mau minta di perkaos sekarang juga ya?" ancam Darma dengan senyum menyeringai.
Darma naik ke atas tubuh Ayu dan mengungkung nya dengan kedua tangan nya. Mendapat perlakuan seperti itu dari suami nya, Ayu pun hanya diam dan memalingkan wajah nya ke samping, ketika melihat tatapan horor Darma yang tampak sedang kelaparan memandangi nya.
"Kok malah buang muka sih? Kenapa, takut ya? Emang muka abang seseram itu kah?" tanya Darma sambil terus menyunggingkan senyum aneh nya.
"Iya, emang gak sadar ya?" tanya Ayu balik dan masih tetap memalingkan wajah nya.
"Mana pulak serem? Muka ganteng dan keren gini kok di bilang serem? Udah katarak mata mu ya?" cibir Darma.
"Iya, mata ku mendadak katarak kalau nengok muka kusut mu itu," jawab Ayu.
Mendengar penuturan istri nya, tawa Darma pun langsung pecah seketika. Ia tertawa terpingkal-pingkal lalu menekan ujung hidung Ayu dengan cukup kuat.
"Hahahaha, ada-ada aja," gelak Darma.
Dan itu berhasil membuat Ayu memekik, lalu mengelus-elus hidung bangir nya sambil mengoceh.
__ADS_1
"Adooooh, sakit bodoh! Udah lah hidung ku pesek, malah di gituin pulak. Apa gak makin mendelep ke dalam hidung ku nanti abang buat?" ujar Ayu semakin kesal.
"Biarin aja makin mendelep, udah laku aja kok," balas Darma dengan santai nya.
"Jadi mentang-mentang udah laku, penampilan harus jelek gitu?" tanya Ayu.
"Ya... Enggak juga sih. Harus tetap cantik dong sayang, biar suami mu yang ganteng nya gak ketulungan ini tidak berpaling ke wanita lain," jawab Darma dengan kepedean tingkat dewa.
Ayu memutar bola mata malas, karena mendengar Darma yang sedang memuji-muji diri nya sendiri.
"Cih, pede betul jin botol satu ini. Muka kayak gorila aja belagu nya minta ampyun," cibir Ayu sembari berdecih.
"Apa kau bilang tadi? Kayak gorila?" pekik Darma.
Mata Darma langsung membulat lebar, ketika mendengar cibiran pedas istri nya. Karena merasa kesal, Darma pun mendekat kan wajah nya dan menciumi bibir Ayu dengan ganas.
Mendapat serangan mendadak seperti itu, Ayu pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya pasrah dan mengikuti alur permainan suami nya.
Melihat respon Ayu yang dingin seperti debok pisang, Darma pun semakin menggencarkan serangan nya. Ia menggigit lidah Ayu dengan sedikit kuat. Hingga membuat si empunya lidah menjerit kesakitan.
"Adooooh, sakit lidah ku setaaaan!" teriak Ayu dan reflek menendang benda pusaka Darma.
Mendapat tendangan maut dari istri nya, Darma pun langsung jatuh dari ranjang dan tersungkur ke lantai. Darma memekik dengan suara menggelegar, lalu meringis memegangi milik nya.
Bukan nya merasa bersalah ataupun iba, Ayu malah tersenyum sinis dan mengumpat, saat melihat keadaan Darma yang sedang menahan sakit akibat ulah nya.
"Hahahaha, sokor! Siapa suruh kegatalan terus dari tadi," ledek Ayu sembari tertawa terbahak-bahak.
"Iiiiissss, emang bener-bener sadis bini ku ini," gerutu Darma.
Darma memasang wajah masam dan memanyunkan bibir nya. Dengan keadaan yang masih kesakitan, ia pun berusaha berdiri dan duduk di tepi ranjang. Melihat Ayu yang masih mentertawai nya, wajah Darma pun semakin cemberut lalu berkata...
"Bahagia bener lihat orang lagi kesusahan gini," sindir Darma lalu menyalakan rokok nya.
Tawa Ayu pun langsung berhenti, setelah mendengar sindiran suami nya.
"Maka nya jangan gatal kali jadi orang, kena batu nya sendiri jadi nya kan," cibir Ayu.
Darma tidak menanggapi celotehan Ayu. Ia masih terus membelakangi istri nya, dan menghisap rokok nya kembali. Karena tidak ada respon apapun dari Darma, Ayu pun memutuskan untuk melanjutkan tidur nya yang sempat tertunda tadi.
"Udah, jangan bertingkah yang aneh-aneh lagi. Nyonya besar mau bobok syantik dulu. Jangan ganggu ya!" ujar Ayu.
__ADS_1
Setelah memberi peringatan kepada Darma, Ayu pun memiringkan tubuh nya dan mulai memejamkan mata nya kembali. Tak lama berselang, terdengar suara dengkuran halus dari hembusan nafas Ayu.
Sedangkan Darma, ia masih duduk dan memikirkan masa depan rumah tangga nya nanti. Sambil memandangi punggung Ayu, Darma pun bergumam...
"Aku akan berusaha mempertahankan rumah tangga kita, dek. Aku tidak akan pernah melepaskan mu, walaupun kau sudah mengkhianati kepercayaan ku."
"Setelah rumah ini laku terjual, kita akan pindah sejauh mungkin dari kota ini, dan kita akan mulai dari awal lagi."
"Semoga saja, ini solusi yang terbaik untuk hubungan kita, dek."
Setelah mematikan api rokok nya ke dalam asbak, Darma pun membaringkan diri di sebelah Ayu.
Kemudian ia melingkarkan tangan nya ke perut Ayu, dan menenggelamkan wajah nya di ceruk leher istri nya tersebut. Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba Darma tersentak kaget karena mendengar suara dering yang berasal dari ponsel nya.
Kring kring kring...
"Ck, siapa lagi sih itu? Ganggu orang aja," gerutu Darma kesal sambil mengacak-acak rambut nya sendiri.
Dengan gerakan ogah-ogahan, Darma pun turun dari ranjang dan mengambil ponsel yang sedang memekik di atas meja. Setelah melihat nama si pemanggil, Darma pun langsung menautkan kedua alisnya.
"Kira-kira ada perlu apa ya, dia nelpon aku malam-malam gini?" batin Darma heran, sambil terus memandangi layar ponsel yang sedang menyala di tangan nya.
"Angkat gak ya?" lanjut Darma bingung.
Darma berpikir sejenak, ia tampak enggan menerima panggilan dari mantan istri nya tersebut. Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya dengan berat hati Darma pun menerima panggilan itu.
"Halo, ada apa?" tanya Darma langsung to do point.
Bukan nya menjawab, Dina malah balik bertanya kepada Darma.
"Kau lagi dimana sekarang, Dar?" tanya Dina.
"Di rumah, emang kenapa?" tanya Darma dingin.
"Kita ke hotel yok! Biar aku yang bayar kamar nya," jawab Dina.
"Gak ah, aku mau di rumah aja sama istri ku," tolak Darma mentah-mentah.
Mendengar jawaban Darma, Dina pun tak putus asa. Ia terus saja membujuk Darma agar mau menuruti keinginan nya.
"Ayo lah, sayang! Kita bersenang-senang di hotel. Apa kau gak bosan di rumah terus?" rengek Dina dengan suara yang sengaja di buat mendayu-dayu.
__ADS_1
"Loh, bukan nya kau lagi dapet ya? Kenapa ngajak aku ke hotel?" tanya Darma heran.