SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Manusia atau Bunglon


__ADS_3

"Oke, bentar ya!" jawab ku sambil beranjak dari ranjang dan membuka pakaian ku satu persatu.


Setelah selesai mempereteli semua pakaian, aku kembali naik ke atas ranjang dan berbaring telungkup di depan bang Darma.


"Pijat nya mau pakai minyak atau handbody, dek?" tanya bang Darma.


"Pakai handbody aja biar wangi." jawab ku.


"Oh, oke." balas bang Darma.


Bang Darma pun merentangkan tangan nya ke atas meja untuk mengambil handbody. Setelah mendapatkan nya, dia pun mulai mengolesi handbody itu ke seluruh punggung ku lalu mulai melakukan pijatan nya.


Selesai memijat punggung dan pinggang ku, bang Darma lanjut memijat kaki tangan dan juga kepala ku.


"Udah siap, dek." ujar bang Darma.


"Oke makasih ya, bang." jawab ku.


"Mau abang kerokin gak, mana tau badan mu masuk angin?" tanya bang Darma.


"Gak usah, bang. Ini udah aja udah agak mendingan kok." jawab ku.


"Oh, ya udah. Nanti kalau sakit lagi bilang aja ya, biar abang pijatin lagi." balas bang Darma.


"Iya," jawab ku.


Bang Darma menyelimuti tubuh polos ku dengan selimut tebal, kemudian dia ikut membaringkan diri nya di samping ku. Setelah itu, bang Darma memeluk ku dari belakang dan menjalarkan jari-jari nakal nya di dada ku.


"Dek, abang boleh minta upah gak?" bisik bang Darma.


"Upah apa?" tanya ku balik tanpa menoleh ke belakang.


"Ya, upah mijat tadi lah." jawab bang Darma.


"Aku gak ada uang. Emang nya mau minta upah berapa?" tanya ku lagi.


"Ck, bukan upah uang loh, dek. Masa gak paham sih, udah di kode-kode gini pun masa gak ngerti-ngerti juga dari tadi."


Bang Darma berdecak kesal karena jawaban ku tidak nyambung dengan keinginan nya. Tangan nya juga semakin liar menggerayangi tubuh.


"Maka nya kalo ngomong itu yang jelas, jangan bertele-tele gitu. Jadi aku ngerti." jawab ku sewot.


Aku sebenarnya sudah paham dengan keinginan bang Darma. Aku memang sengaja membuat nya kesal dan jengkel dengan semua ocehan-ocehan ku.


"Abang mau minta upah ini loh, sayang!"


Bang Darma berucap sambil menyingkirkan selimut yang menutupi seluruh tubuh ku. Kemudian dia menindih ku dan merentangkan kedua tangan ku.

__ADS_1


"Abang mau ngapain?" tanya ku pura-pura tidak tahu.


"Mau menerkam mu." jawab bang Darma dengan senyum yang menyeringai.


"Oh, kirain mau ngapain." balas ku santai.


"Boleh gak?" tanya bang Darma.


"Boleh, silahkan aja. Tapi jangan lama-lama ya, badan ku masih sakit nih." balas ku.


"Oke, sayang. Bentar aja kok, palingan dua jam aja main nya" jawab bang Darma dengan santai nya.


"APA? Itu nama nya bukan sebentar, tapi udah melewati batas kewajaran." pekik ku dengan mata yang membulat sempurna.


"Hehehe, bercanda kok, dek. Ngomong gitu aja kok kaget nya setengah mati sih. Sampe mendelik gitu mata nya."


Bang Darma menjawab sambil tersenyum genit pada ku.


"Gimana gak mendelik coba, kalo permintaan abang gak logika kayak gitu." jawab ku ketus.


"Hahaha, ya gak mungkin lah, dek. Bisa-bisa rontok semua tulang pinggul abang kalo main sampe dua jam." gelak bang Darma.


"Ya udah, cepat lah! Kalo ngomong terus kayak gitu, kapan mulai main nya?" omel ku lagi.


"Sabar dong, sayang. Ngebet banget sih, udah gak tahan ya pengen ngerasain permainan abang?" goda bang Darma.


"Idih, ge er. Aku itu mau cepat-cepat istirahat, bukan karena gak tahan." jawab ku kesal.


Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan nya. Setelah melewati percekcokan yang panjang, akhir nya bang Darma pun memulai kegiatan panas nya dengan semangat yang menggebu-gebu.


Semakin hari permainan bang Darma semakin lincah dan agresif. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang dingin dan kaku bagaikan kutub Utara.


Bang Darma tampak sangat menikmati permainan nya sendiri. Sehingga membuat nya begitu sangat kelelahan dengan nafas yang ngos-ngosan tidak karuan.


Sedangkan aku, masih seperti biasa nya. Aku hanya memejamkan mata sambil mengeluarkan suara-suara aneh dari bibir ku.


Setelah berpacu selama kurang lebih setengah jam, bang Darma pun menyudahi permainan nya. Dia tersenyum sumringah sambil mengecup kening ku.


"Makasih ya, dek. Udah mau melayani abang." ujar bang Darma.


"Iya, sama-sama." balas ku.


Bang Darma tersenyum dan segera beranjak dari tubuh ku.


"Kita mandi bareng yok, dek!" ajak bang Darma sambil melilitkan handuk di pinggang nya.


"Oke, tapi jangan berbuat yang aneh-aneh lagi ya di kamar mandi!" tegas ku.

__ADS_1


"Iya iya, abang gak akan minta lagi kok, hehehe." jawab bang Darma cengar-cengir.


Selesai membersihkan diri di kamar mandi, aku dan bang Darma langsung menunaikan shalat maghrib secara bergantian. Setelah selesai, kami berdua duduk di tepi ranjang sambil bercerita.


"Abang boleh nanya gak, dek?" ujar bang Darma.


"Mau nanya apa?" balas ku sambil menyalakan rokok.


"Adek masih sayang gak sama abang?" tanya bang Darma.


Mata ku langsung terbelalak lebar, saat mendengar pertanyaan bang Darma yang cukup aneh menurut ku.


"Ya masih lah, emang nya kenapa? Kenapa tiba-tiba abang nanya gitu?" tanya ku balik.


Bang Darma menghembuskan nafas kasar berulang-ulang, lalu dia memegangi kedua pipi ku sambil berkata...


"Kalau adek masih sayang sama abang, kenapa adek mengkhianati kepercayaan abang? Kenapa adek menduakan cinta abang? Kenapa adek berselingkuh di belakang abang?" tanya bang Darma.


Degh...


Bang Darma memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk aku jawab. Dan itu berhasil membuat dada ku terasa sangat sesak untuk bernafas.


"Maksud abang apa sih aku gak ngerti?" tanya ku gugup.


"Gak usah ngelak lagi, dek! Sewaktu di warung bakso tadi, sebenarnya abang ingat tentang perselingkuhan mu dengan lelaki lain."


"Tapi abang berusaha untuk tetap tenang, agar hubungan kita tetap baik-baik saja." jelas bang Darma panjang lebar.


Aku langsung terdiam seketika, mulut ku rasa nya kaku dan susah untuk di gerakan. Bang Darma terus saja memandangi ku dengan tatapan aneh nya.


"Apakah kau tidak bahagia hidup dengan ku, dek? Apakah kau menderita selama menjadi istri ku? Kata kan, dek! Jangan diam aja. Apa yang kurang dari diri ku ini?" desak bang Darma.


Aku menghela nafas berat, aku bingung harus bagaimana cara menjawab nya. Setelah beberapa saat sama-sama terdiam, akhir nya aku pun kembali membuka suara.


"Kebutuhan batin ku yang kurang, bang. Dulu kau selalu menolak jika aku ajak bercinta. Gimana aku tidak mencari kehangatan di luar, jika sifat mu dingin dan acuh dengan ku." jawab ku.


Mendengar perkataan ku, bang Darma langsung memeluk tubuh ku dengan sangat erat.


"Maaf kan abang ya, dek! Abang sudah mengabaikan kebutuhan mu." ujar bang Darma sambil mengelus rambut panjang ku.


Aku langsung melepaskan pelukan bang Darma, dan menatap wajah nya dengan penuh rasa curiga.


"Kau ini sebenarnya pura-pura lupa atau gimana sih, bang?" selidik ku.


"Kau bilang tidak ingat apa-apa, kecuali waktu si Yuni minta uang. Tapi sekarang kau malah membahas mengenai perselingkuhan ku."


"Apa sebenarnya tujuan mu? Apakah ini salah satu rencana kalian untuk bisa menjebak ku?"

__ADS_1


Bang Darma hanya bungkam, dia tidak menjawab sepatah kata pun ucapan ku.


"Kau ini sebenarnya manusia atau bunglon, bang? Sikap mu bisa berubah-ubah dalam waktu singkat." ujar ku kesal.


__ADS_2