
"Dek, bangun, dek. Dek, bangun!"
Bang Darma mengguncang-guncang pundak ku dengan kasar.
"Hmmmm, ada apa, bang?"
Aku menyahut, dengan suara serak. Akibat kelelahan menangis dan badan masih meriang, aku ketiduran sampai sore. Bahkan, sampai bang Darma pulang kerja.
"Kau itu kenapa sih, dek? tidur terus seharian. Bukan nya ngurusin rumah, pemalas kali jadi perempuan!"
Bentak bang Darma dengan suara lantang nya.
"Degh, ya Allah. Bang Darma, kenapa jadi berubah gini?" batin ku.
"Jadi perempuan itu, jangan manja. Dikit-dikit sakit, dikit-dikit ini lah, itu lah. Bosan aku lihat nya, udah lah capek di kerjaan. Di rumah, malah tambah capek lagi, lihat tingkah mu itu!" tambah bang Darma.
Aku yang mendengar, semua bentakan bang Darma yang menyakitkan itu. Langsung emosi, dan beranjak dari ranjang. Aku berdiri tepat di hadapan nya.
"Jadi, sekarang mau mu apa, hah?"
Tantang ku, sambil berkacak pinggang di depan nya.
"Kau pikir, aku pura-pura sakit? kau pikir, aku enak-enakan di rumah, tanpa ngerjain apa-apa? trus kau bilang apa tadi? kau bilang aku pemalas?"
"Kalau aku pemalas? trus, siapa yang mengurus mu selama hampir 6 tahun ini? siapa yang memasak makanan mu setiap hari? siapa yang mencuci pakaian mu? siapa yang membersihkan rumah, kalau bukan si pemalas ini?"
"Jangan asal njeplak aja, muncung (mulut)mu itu kalau ngomong! kau pikir, mengurus kebutuhan sehari-hari mu itu gak capek?"
"Kalau kau menyewa pembantu, untuk mengerjakan semua itu. Gaji mu itu gak bakalan cukup, untuk membayar tenaga pembantu itu. PAHAM KAU!"
Aku mengeluarkan semua kekesalan, yang selama ini terpendam pada nya.
__ADS_1
"Dan satu lagi ya, Darma. Kalau sikap mu terus menerus dingin, dan acuh seperti ini dengan ku, jangan salah kan aku. Jika suatu hari nanti, aku akan mencari kehangatan di luar, bersama lelaki lain. Ingat itu!"
"Dingin gimana sih, dek? kan dari dulu, sikap abang memang seperti ini. Dan, siapa juga yang acuh. Abang perduli kok dengan mu, semua keinginan mu selalu abang turuti."
"Apa pun permintaan mu, selalu abang penuhi. Trus, salah nya itu dimana? apa lagi yang kurang?"
Bang Darma protes, karena tidak terima dengan kata-kata ku yang terakhir.
"Kau tanya salah nya dimana? heh, Darma! Kau pikir, nafkah untuk istri itu hanya cukup di kasi makan dan uang aja? kau pikir, istri itu gak butuh kehangatan dan kemesraan?"
"Kau salah besar, kalau berpikiran seperti itu. Nafkah untuk istri itu, ada dua. Lahir dan batin, bukan cuma lahir nya aja yang harus di penuhi, tapi batin nya juga!"
"Kau kira, aku ini udah tua? udah nenek-nenek, yang gak punya gairah dan nafsu lagi?"
"Aku itu masih muda, gairah ku juga masih normal. Kalau kau jarang menyentuh, dan memberikan nafkah batin pada ku, apa aku harus minta sama tetangga, untuk menyentuh dan menjamah ku?"
"Apakah, aku harus mencari lelaki lain di luar sana, untuk menghangat tubuh ku ini?" tanya ku dengan emosi yang meledak-ledak.
Bang Darma hanya diam, mendengar semua ocehan ku. Sebenarnya, aku paling jarang yang nama nya marah. Bahkan, bisa di bilang, aku tidak pernah marah-marah atau pun berkata kasar sekali pun.
Dan hari ini, aku curah kan semua uneg-uneg yang selalu mengganjal, dalam hati ku itu.
Lega rasanya, sudah mengatakan semua nya pada bang Darma. Agar dia cepat sadar, agar dia tau kalau selama ini, aku sedang tidak baik-baik saja.
"Ya udah kalo gitu, abang minta maaf ya, dek! selama ini, abang gak peka dengan kebutuhan batin mu. Abang selalu mengabaikan mu. Dan juga, tidak memperdulikan mu. Yang abang tau itu, cuma kerja dan kerja."
"Biar dapat uang yang banyak. Untuk memenuhi semua keinginan mu. Untuk memberikan apa pun permintaan mu. Hanya itu yang abang pikir kan, dek."
Ucap bang Darma, mulai melunak. Tidak segarang waktu pertama, saat membentak ku tadi. Mendengar penuturan bang Darma barusan, aku langsung terduduk lemas di tepi ranjang, sambil menunduk.
Bang Darma pun ikut duduk di samping ku, sambil memeluk tubuh ku.
__ADS_1
"Maafin bang ya, dek! abang janji, mulai saat ini abang akan berubah. Abang akan penuhi, kebutuhan batin mu." Ucap bang Darma.
Aku hanya diam, di dalam pelukan nya. Karena tidak ada jawaban yang keluar dari bibir ku, bang Darma merenggang kan pelukan nya, dan menempelkan punggung tangan nya di kening ku.
"Masih sakit ya, dek?" tanya bang Darma.
"Gak, langsung sehat badan ku, gara-gara mendengar bentakan mu tadi!" jawab ku kesal.
"Oh, ya udah kalau gitu." Balas bang Darma
"Adek, udah makan belom? trus, ini soto dari mana? siapa yang belikan?" tanya bang Darma, setelah melihat piring yang berisikan soto itu di atas meja.
"Kenapa baru tanya sekarang? kenapa nanya nya gak dari semalam? Kan abang tau sendiri, kalau aku belom makan dari semalam, padahal aku lagi sakit!" sindir ku.
"Kan, adek sendiri yang bilang gak mau makan. Kok, malah nyalahin abang sih!" protes bang Darma.
"Maka nya, kalau punya ot*k itu di pake! semalam, memang aku bilang gak mau makan. Tapi, bukan berarti aku gak mau makan yang lain nya. Aku cuma gak selera makan nasi aja, karena lidah ku masih terasa pait."
"Ini orang kok, ot*k nya bebal banget sih, gak ada peka nya dikit pun." Umpat ku dalam hati sambil menatap sinis pada nya.
"Emang nya, semalam abang ada nawarin aku makanan yang lain, gak ada kan? tadi siang pun gitu juga, jangan kan nawarin aku makan, nanya tentang keadaan ku aja gak ada!"
"Jangan waktu aku sehat aja, yang kau mau. Giliran aku sakit, malah di abaikan kayak gini." Ucap ku kesal.
"Iya, dek maaf. Abang janji, gak bakalan seperti gitu lagi!" balas bang Darma.
"Oke, aku pegang janji abang itu. Tapi, kalo sampe abang ingkar janji, lebih baik kita pisah aja! aku udah capek, menghadapi sikap dingin mu itu. Aku udah capek, harus mengalah terus-terusan!" ucap ku tegas.
"Jangan gitu lah, dek! abang gak mau, kita berpisah. Adek, jangan ngomong kayak gitu lagi ya? Iya abang janji, bakalan berubah."
Balas bang Darma dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Itu semua, tergantung pada sikap mu bang. Tapi ya, kita lihat aja nanti, gimana sikap mu ke depan nya dengan ku! Apakah ada perubahan atau tidak." Ucap ku pasrah.
*Ubah lah sikap mu sebaik mungkin, sebelum penyesalan datang menghampiri mu.*