
Setelah mbak Tuti, si tetangga kepo ku itu pergi. Aku kembali menyibukkan diri, dengan pekerjaan rumah.
Setelah semua nya beres, aku duduk di ruang tamu sambil mengotak-atik ponsel. Aku menghubungi bang Agus, kekasih gelap ku itu.
"Halo, assalamualaikum."
"Wa'laikum salam, say."
"Ada apa, sayang ku? Tumben- tumbenan nelpon abang. Kangen, ya?" tanya bang Agus.
"Hmmm, ge er. Siapa yang kangen? Aku tu, cuma mau ngasi kolak pisang. Abang mau, gak?"
"Ya, pasti mau dong, sayang! Masa, pemberian calon istri di tolak, sih."
"Dasar, botak gila!" balas ku ketus.
"Hahaha, jangan marah-marah lah, say! Nanti cepat keriput, loh."
"Biarin, memang udah keriput kok. Jadi, gimana ini kolak nya? Mau di ambil kapan?" tanya ku.
"Nanti siang abang ambil, say! Sekalian mau, ehem-ehem." jawab bang Agus.
"Enak aja, mau ehem-ehem! Aku lagi malas, yang begituan." balas ku.
"Mau di kasi yang enak-enak, kok malas sih, sayang?"
"Aku lagi gak mood, bang. Lain kali aja ya, ehem-ehem nya!"
"Kok lain kali sih, say. Abang udah kangen banget loh, pengen bermanja-manja dengan mu, say!"
"Ya udah, terserah abang aja lah. Tapi, jangan lama-lama, ya! Aku takut, ketahuan bang Darma."
"Oke, sayang. Nanti setelah jam makan siang, abang datang ke rumah mu, ya?"
"Iya, assalamualaikum."
"Wa'laikum salam, sayang ku."
Aku menutup panggilan, dengan bang Agus. Tak lama berselang, bang Darma pulang untuk makan siang. Aku pun langsung bergegas, menghidangkan makanan untuk bang Darma.
"Assalamualaikum," salam bang Darma.
"Wa'laikum salam," balas ku.
Bang Darma langsung duduk bersila di lantai, tepat di depan makanan yang, sudah aku hidangkan tadi. Aku pun ikut duduk, dan makan bersama nya.
Selesai makan, bang Darma langsung berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Selesai mandi, bang Darma langsung menunaikan shalat zhuhur, di dalam kamar.
__ADS_1
Tidak ada percakapan, di antar kami berdua. Bang Darma diam seribu bahasa sedari tadi, begitu juga dengan ku.
"Mungkin, dia masih kesal dengan ku. Karena, tidak aku perbolehkan untuk menggunakan motor ku."
Aku membatin, sambil terus memperhatikan gerak-gerik bang Darma, yang sedang merajuk itu.
Setelah selesai shalat, bang Darma pergi bekerja kembali, dengan menggunakan ojek pangkalan. Aku hanya tersenyum miring, melihat kepergian nya itu.
Baru saja mendudukkan diri di atas sofa, tiba-tiba bang Agus muncul di depan pintu. Dia mulai mendekat, sambil tersenyum genit pada ku.
"Ayo, say! Abang udah gak tahan lagi, nih."
Bang Agus menarik tangan ku, untuk masuk ke dalam kamar. Aku hanya menurut, dan mengikuti langkah nya dari belakang. Sesampainya di dalam kamar, bang Agus langsung mendekap erat tubuh ku.
"Abang, kangen banget dengan mu, say."
Bang Agus berucap dengan mata yang sayu, karena sudah di selimuti oleh gairah, yang sudah naik sampai ke ubun-ubun itu.
Aku pun hanya bisa pasrah, menerima perlakuan bang Agus, yang mulai menggerayangi tubuh ku dengan ganas. Dia mengecup seluruh wajah, bibir, sampai ke leher ku.
Karena mendapatkan sentuhan-sentuhan itu, aku mulai memejamkan mata, dan menikmati semua perbuatan bang Agus tersebut.
Hingga akhirnya, terjadi lah permainan panas yang nikmat itu, selama hampir satu jam. Jujur ku akui, bang Agus memang sangat pandai membuat ku memuncak, hingga berkali-kali dalam satu permainan.
Dia selalu memanjakan tubuh ku, dengan sentuhan dan belaian lembut nya itu. Hingga membuat ku terlena dan ketagihan, dengan permainan nya tersebut.
"Gimana, sayang? Dirimu merasa puas gak, dengan permainan abang tadi?" tanya bang Agus.
"Iya, bang. Permainan mu itu sungguh luar biasa, bang. Aku begitu sangat, menikmati nya." jawab ku jujur.
"Kamu serius, say?" tanya bang Agus.
"Serius, bang. Kau memang lelaki yang sangat perkasa, di atas ranjang."
"Pintar banget sih, wanita ku ini menggombal!"
"Aku tidak sedang menggombal mu, bang. Aku serius, dengan semua ucapan ku itu!"
Karena mendengar penuturan ku, bang Agus kembali memeluk dan mencium ku, dengan mesra. Dia merebahkan tubuh ku di atas ranjang, sambil berbisik kembali.
"Kita main sekali lagi ya, say!" pinta bang Agus.
Aku hanya mengangguk, sebagai jawaban atas permintaan nya itu.
Setelah mendapat kan persetujuan dari ku, bang Agus kembali melancarkan aksi nya tersebut, dengan durasi waktu yang cukup lama. Hingga aku kewalahan, menghadapi permainan gila nya tersebut.
Setelah pergumulan selesai, bang Agus mengecup kening ku dengan lembut.
__ADS_1
"Makasih ya, sayang."
"Iya, bang."
Aku dan bang Agus, kembali memakai pakaian masing-masing. Setelah itu, aku segera berjalan menuju dapur, untuk membungkus kan kolak pisang buat bang Agus.
"Ini kolak nya, bang!"
Aku menyerahkan bungkusan itu, kepada bang Agus. Dia pun menerima nya, dengan senyum yang sumringah. Bang Agus kembali memeluk ku, dengan sangat erat.
"Sekali lagi, terima kasih ya, sayang. Ya udah kalo gitu, abang balek dulu ya, say!" ucap bang Agus.
"Ya udah, balek lah sana!" ucap ku.
"Aku mau istirahat di kamar, badan ku rasa nya lemas, dan pegel-pegel banget nih, akibat ulah abang tadi."
"Hahaha, lemas tapi enak kan, say?" goda bang Agus.
"Iiihh, apa an sih. Udah ah, pulang sana!"
Aku mendorong pelan tubuh bang Agus, sampai ke depan pintu keluar. Bang Agus tersenyum, melihat tingkah ku itu. Dia pun langsung pergi meninggalkan ku, yang masih berdiam diri di depan pintu.
Aku melihat kepergian bang Agus, dengan senyum yang merekah. Aku sangat bahagia, bisa berhubungan dengan lelaki seperti bang Agus.
Setelah beberapa saat termenung di depan pintu, aku kembali melangkah ke dalam kamar. Aku membaringkan tubuh ku yang lelah ini, di atas ranjang.
"Bang Agus, aku mencintaimu." gumam ku pelan.
Sedang asyik mengkhayal, tentang bang Agus. Tiba-tiba, orang yang sedang di khayalin pun menghubungi ku.
"Ini orang tau aja, kalau aku lagi mikirin diri nya, hihihi."
Aku terkikik sendiri, melihat nama yang tertera di layar ponsel ku itu. Aku pun langsung menerima panggilan, dari bang Agus tersebut.
"Ada apa lagi sih, botaak?"
Tanya ku pura-pura kesal, padahal di dalam hati lagi berbunga-bunga, memikirkan si botak tuyul itu.
"Kata nya tadi mau istirahat, say! Kenapa, masih belum tidur juga?" tanya bang Agus.
"Gimana, aku bisa tidur? Kalau si hantu satu ini masih gangguin aku, terus?" jawab ku asal.
"Hahaha, maaf ya, say. Oke, abang gak akan ganggu lagi. Sekarang tidur lah!"
"Oke," jawab ku.
Setelah panggilan berakhir, aku mulai memejamkan mata, sambil memeluk guling. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku pun tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1