
Setelah semalam bertengkar dengan bang Darma, karena membahas masalah anak nya Yuni. Pagi ini, bang Darma mendiami ku. Dia sama sekali tidak membuka suara nya, untuk sekedar menyapa, atau pun berbasa-basi dengan ku.
Bang Darma juga pergi bekerja, tanpa berpamitan dengan ku. Dia berlalu begitu saja, tanpa berkata apapun pada ku. Aku hanya menggelengkan kepala, dan tersenyum kecut, melihat tingkah suami ku itu.
"Kau terlalu polos, untuk di perdaya oleh mereka, bang." batin ku.
Aku membatin dan menatap nanar, kepergian bang Darma. Dia pergi bekerja dengan menggunakan ojek pangkalan, yang berada tidak jauh dari tempat tinggal kami.
"Hufff, capek rasa nya otak ku ini. Memikirkan masalah yang tiada habisnya."
Aku menghela nafas panjang, mengingat pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi akhir-akhir ini. Mau itu dengan bang Darma, atau pun dengan anak nya.
Sedang asyik mengkhayal, ponsel ku pun berdering nyaring di atas meja kamar. Aku segera melangkah kan kaki, menuju ke dalam kamar, dan menerima panggilan tersebut.
Kring kring kring...
"Ya halo, assalamualaikum," salam ku.
"Wa'laikum salam, say." balas bang Agus.
Aku kembali melangkah ke luar kamar, dan duduk di atas sofa panjang, sambil menerima panggilan dari bang Agus tersebut.
"Ada apa, bang?" tanya ku.
"Abang kangen, say. Kita keluar, yok!" ajak bang Agus.
Aku mengerutkan kening, mendengar ajakan bang Agus. Aku terdiam sejenak, tidak langsung menjawab ajakan nya itu. Karena tidak mendengar jawaban dari ku, bang Agus pun kembali bertanya pada ku.
"Gimana, say? Bisa gak kita keluar, siang ini?" tanya bang Agus lagi.
"Hmmm, tengok nanti lah, bang. Kalau memang situasi nya mengijinkan, nanti aku kabari!" balas ku.
"Harus di usahakan lah, say!" desak bang Agus.
"Aku gak bisa janji, bang. Soalnya, kami lagi ada masalah di rumah." jawab ku.
"Emang nya, ada masalah apa lagi sih, say? Perasaan, masalah kalian itu gak kelar-kelar, dari dulu!" tanya bang Agus.
"Biasa lah, bang." balas ku.
"Masalah tentang duo lalat ijo lagi ya, say?" tebak bang Agus.
"Yups, betul sekali. Sekarang abang udah jadi dukun, ya?" tanya ku.
"Hahaha, ya gak lah, say. Ada-ada aja, pertanyaan mu itu!" balas bang Agus.
Bang Agus langsung tertawa lepas, setelah mendengar pertanyaan ku barusan. Dia merasa geli, dengan kata dukun tersebut.
"Aku nanya serius, bang!" desak ku.
"Gak mungkin lah, abang jadi dukun. Aneh-aneh aja, kayak gak ada pertanyaan lain aja!" balas bang Agus.
"Ya, siapa tau aja." balas ku asal.
__ADS_1
"Hahaha, gila." balas bang Agus.
Bang Agus kembali tertawa, mendengar ocehan-ocehan receh ku itu. Aku pun hanya tersenyum miring, sambil mendengarkan tawa nya tersebut.
"Tertawa lah sepuas mu, bang! Agar kau bisa lupa, dengan ajakan mu tadi." batin ku.
Setelah capek ketawa-ketiwi sendiri, bang Agus kembali bertanya pada ku, tentang keinginan nya di awal tadi.
"Jadi gimana, say? Bisa gak kita keluar? Kita ke hotel aja, biar bisa puas tanpa gangguan apa pun!" tanya bang Agus.
"Lah, kirain udah lupa dia, sama ajakan nya tadi. Udah di ajak ngomong ngalor-ngidul pun, ternyata masih ingat juga, si botak tuyul satu ini, hihihi!" batin ku.
Aku membatin sambil cekikikan sendiri. Maksud hati tadi, mengajak nya berbicara panjang lebar, agar dia bisa lupa dengan tujuan utama nya itu. Ternyata eh ternyata, dia belum lupa ingatan rupa nya.
"Kok diam aja sih, say? Di jawab dong, pertanyaan abang tadi!" desak bang Agus.
Aku langsung tersentak, dari hayalan ku. Karena mendengar desakan, dari bang Agus tersebut.
"Eh iya, bang. Abang nanya apa an tadi? Aku lupa soal nya, hehehe!" jawab ku.
"Kok bisa lupa sih, say? Emang nya, lagi ngapain aja sih, disitu?" tanya bang Agus curiga.
"Lagi bakar dupa, sambil mandi kembang tujuh rupa, bang!" jawab ku asal.
"APA? Yang bener lah, say? Jangan bercanda gitu ah, gak lucu tau!" omel bang Agus.
"Aku serius, bang. Kalo gak percaya, datang lah kesini!" balas ku.
"Emang nya mau ngapain, sih? Pake acara bakar dupa, dan mandi kembang segala?" tanya bang Agus.
Bang Agus jadi semakin penasaran, dengan bualan ku tersebut. Dia menganggap serius, dengan semua kata-kata ku tadi.
"Mau nyantet orang, bang! jawab ku asal.
"HAH, yang bener, say? Jangan bercanda gitu, ah! Abang jadi merinding nih, dengar nya." balas bang Agus.
"Gak percaya, ya sudah." balas ku.
"Emang nya, siapa yang mau di santet, say? Tapi, yang pastinya bukan abang kan, say?" tanya bang Agus.
"Hahaha, ternyata takut juga dia, aku santet!" batin ku geli.
"Maka nya, abang jangan pernah cari gara-gara dengan ku! Kalau abang berani macam-macam, bakalan aku santet juga nanti nya!" ancam ku.
"Abang kan, gak pernah macam-macam sih, say! Yang abang mau itu, cuma satu macam kok." balas bang Agus.
"Apa an, tuh?" tanya ku.
"Masa gak paham sih, sayang kuu?" tanya bang Agus.
"Kalo aku paham maksud abang, ngapain aku tanya lagi, botaaak!" balas ku kesal.
"Yang abang inginkan ya cuma dirimu lah, sayang. Masa, gitu aja gak paham-paham juga, sih. Lelet banget mikir nya, wanita ku ini!" jelas bang Agus.
__ADS_1
"Oh, kirain apa an." balas ku santai.
"Kok cuma oh doang, say? Gak ada jawaban yang lain lagi, gitu?" tanya bang Agus.
"Trus, aku harus jawab apa lagi sih, botaaak?" tanya ku makin kesal.
"Si botak tuyul ini, lama-lama aku karung kan juga nanti nih, trus jual ke tukang loak!" balas ku.
"Bah, ngeri kali wak! Jahat kali, calon bini ku ini." balas bang Agus.
"Bodo," balas ku cuek.
"Ya udah deh, abang ngalah aja. Dari pada nanti kena santet, malah jadi berabe urusan nya!" balas bang Agus pasrah.
"Nah, tu tau. Maka nya, jangan bikin darah tinggi ku naik terus." balas ku.
"Kalau sampai, abang berbuat ulah lagi dengan ku. Jangan salah kan aku, kalau nanti abang bakalan muntah paku, ingat itu botak!" ucap ku asal.
"Hiiiiii, kok jadi makin horor gitu ngomong nya, say? Abang jadi tambah merinding nih, denger nya!" balas bang Agus.
"Hihihi, mau aja di kibulin nih, botak." batin ku.
Aku cekikikan, sambil menutup mulut dengan tangan kanan ku. Agar suara ku, tidak terdengar oleh bang Agus.
"Botak...Botak... Udah bangkotan gitu pun masih aja gampang di bohongi." batin ku.
"Jadi gimana yang tadi, say?" tanya bang Agus.
"Ya ampun, udah di ajak cerita-cerita, dari ujung langit sampe ujung bumi pun. Bisa-bisanya, dia masih ingat tujuan utama nya tadi, huh." gerutu ku dalam hati.
Aku menggerutu dalam hati, sambil membuang nafas kasar. Setelah beberapa saat hening, aku pun kembali menjawab pertanyaan, bang Agus tersebut.
"Gimana apa nya lagi sih, bang?" balas ku pura-pura lupa.
"Loh, kok malah mendadak amnesia pulak, wanita ku ini?" balas bang Agus.
"Enak aja, bilangin aku amnesia! Aku memang gak ingat, bang. Bukan mendadak amnesia." balas ku.
"Oh, kirain amnesia beneran, hehehe." bang Agus terkekeh.
"Nanti siang kita hotel, say! Bisa gak?" tanya nya lagi.
"Kan tadi udah aku bilang, tengok situasi nya dulu! Kalau situasi aman, nanti aku kabari." balas ku.
"Oh, oke lah kalo gitu. Abang tunggu kabar baik nya ya, say!" balas bang Agus.
"Iya, bang. Udah dulu ya, aku mau masak dulu. Gara-gara ngerumpi sama abang, aku jadi lupa. Kalau aku belum masak, buat makan siang Darma." balas ku.
"Oke, sayang ku, assalamualaikum." pamit bang Agus.
"Wa'laikum salam, " balas ku.
"Huh, ada-ada saja tingkah botak ku ini!" gerutu ku.
__ADS_1