SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Mantan Pacar Kembali Datang


__ADS_3

Pagi menjelang, aku sama sekali tidak menghiraukan bang Darma karena masih merasa kesal, akibat penolakan nya semalam. Aku masih saja bergulung di bawah selimut dan berpura-pura tidur.


Aku juga tidak menyediakan teh manis hangat untuk nya, dan akhirnya dia pun membuat teh untuk diri nya sendiri.


Setelah bang Darma pergi bekerja, aku segera bangkit dari ranjang dan membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah selesai, aku bergegas membuka kios dan merapikan barang-barang dagangan ku.


"Semoga hari ini ramai pembeli, ya Allah. Amin amin ya rabbal a'lamin," gumam ku penuh harap.


Aku berdoa kepada sang pencipta setelah selesai membuka kios ku.


"Masak apa ya hari ini?" gumam ku lalu membuka kulkas dan melihat-lihat isi nya.


"Sambal ikan sama tumis kangkung aja lah," gumam ku lagi.


Aku segera mengambil bahan-bahan yang akan aku olah menjadi makan siang dari dalam kulkas. Kemudian aku segera bergegas memasak nya di dapur.


Setelah kurang lebih satu jam berperang dengan alat-alat dapur, akhirnya aku pun sudah menyelesaikan nya, dan "taraaa" masakan ala Ayu akhirnya siap untuk di hidang kan.


Selesai memasak dan menyimpan makanan itu ke dalam lemari makan, aku langsung mencuci alat-alat dapur yang sudah aku gunakan tadi.


Setelah semua nya beres, aku mulai bersantai di ruang tamu dengan di temani teh manis hangat dan roti tawar.


"Hufff, akhirnya selesai juga dinas dapur nya," gumamku menghela nafas lega.


Tak berselang lama, tiba-tiba ponsel ku berdering nyaring tanda panggilan masuk.


"Rendi, mau apa di menghubungi ku?" gumam ku pelan. Aku mengkerut kan kening, setelah melihat foto profil di panggilan ponsel ku.


Rendi itu adalah mantan pacar ku, sewaktu masih menjanda dan masih bekerja di tempat karaoke dulu.


Sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, aku bekerja sebagai wanita penghibur di sebuah tempat karaoke. Rendi ini adalah pacar ku waktu itu.


Setelah bekerja kurang lebih satu tahun di tempat karaoke, aku bertemu dengan bang Darma dan menikah dengan nya.


Sedang kan Rendi, dia pulang kampung sewaktu masih menjalin hubungan dengan ku.Tidak ada kabar apa pun lagi dari nya, semenjak dia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman nya.


Dan saat ini, dia malah menghubungi ku lagi setelah beberapa tahun menghilang bak di telan bumi.


"Angkat gak ya?" gumam ku.


Aku sempat ragu, untuk menerima panggilan itu. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun memutuskan untuk menerima panggilan nya.


"Halo, siapa ini?" tanya ku pura-pura tidak mengenal nya.


"Aku Rendi, dek. Masa lupa sih?" ujar Rendi.


"Oh, kirain siapa. Ada perlu apa?" balas ku ketus.


"Kok gitu sih pertanyaan nya. Emang nggak kangen ya sama aku?" selidik Rendi.


"Nggak, ngapain juga kangen sama orang yang sudah nggak perduli lagi sama aku?" jawab ku masih ketus.


"Siapa yang gak perduli sih, dek? Aku itu selalu mengingat mu kok," balas Rendi lagi.

__ADS_1


"Oh, ya? Selalu mengingat ku, tapi bertahun-tahun tak ada kabar, dirimu sehat?" cibir ku mulai kesal.


"Iya maaf, dek. Aku lagi fokus bekerja, jadi jarang main ponsel. Lagian nomor mu yang lama juga nggak aktif lagi. Gimana aku bisa menghubungi mu?" jawab Rendi.


"Heleh, alasan saja!" balas ku dengan bibir mengerucut.


"Aku serius, dek. Kamu percaya kan sama aku?" tanya Rendi.


"Ya lah," jawab ku dengan nada malas.


"Sekarang aku sudah balek kesini lagi, dek. Aku kangen banget sama kamu. Kita bisa ketemuan sekarang gak?" tanya Rendi.


"Maaf, bang. Aku sudah menikah dari lima tahun yang lalu. Dan maaf, aku nggak bisa lagi bertemu dengan mu," jawab ku lirih.


"Astaghfirullah... Serius, dek?" tanya Rendi sedikit terkejut mendengar penuturan ku.


"Ya, aku serius," jawab ku dingin.


"Trus aku gimana, dek? Kok kamu tega sih mengkhianati aku?" tanya Rendi lagi.


Aku langsung terdiam dan menghela nafas panjang, saat mendengar tuduhan Rendi. Setelah beberapa saat hening, aku pun kembali melanjutkan celotehan ku.


"Siapa yang mengkhianati sih, bang? Salah sendiri abang pergi, salah sendiri abang nggak ada kabar, salah sendiri abang menghilang bak di telan bumi," omel ku semakin kesal.


"Aku butuh kepastian, bang. Bukan hanya janji yang nggak jelas!" lanjut ku mengoceh panjang lebar.


"Iya, dek. Memang aku yang salah, maaf ya!" balas Rendi dengan nada lemah.


"Nah, itu sadar. Jadi jangan ngotot bilangin kalau semua ini salah ku," ujar ku.


"Iya, maaf. Jadi sekarang gimana, dek? Bisa nggak kita ketemuan? Aku hanya ingin melihat mu. Aku kangen banget sama mu," tanya Rendi mengulang kembali pertanyaan nya.


"Aku janji gak bakalan macam-macam, dek. Gimana, bisa ya, pliiiis?" lanjut Rendi sedikit memaksa.


"Oke, tapi jangan lama lama. Karena sekarang aku sudah punya suami," jawab ku dengan penuh peringatan.


"Aku sudah nggak bisa lagi keluyuran seenak nya. Ini pertemuan kita yang pertama, dan juga yang terakhir, paham!" tegas ku pada Rendi.


"Iya, aku paham," balas Rendi lirih.


"Ya udah, tunggu aku di taman kota! Aku akan berangkat sekarang," ucap ku lalu memutuskan panggilan sepihak.


"Alhamdulillah. Oke siap, dek," balas Rendi girang.


Setelah menutup panggilan, aku pun mengirim pesan kepada bang Darma suamiku.


"Bang, nggak usah pulang. Hari ini aku nggak masak." Pesan itu pun terkirim ke ponsel bang Darma.


Selesai mengirim kan pesan kepada bang Darma, aku langsung menutup kios dan bergegas berganti pakaian.


Setelah itu, aku menyambar tas ransel dan memasukkan ponsel ku ke dalam nya, lalu berjalan ke arah pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari kediaman ku.


Sesampainya di taman kota, aku merogoh tas untuk mengambil ponsel dan langsung menghubungi Rendi.

__ADS_1


Tut tut tut...


"Halo, dek. Udah sampe mana?" Rendi bertanya duluan sebelum aku bertanya pada nya.


"Aku sudah di taman, di depan toko sinar harapan," balas ku sembari celingukan kesana kesini mencari keberadaan Rendi.


"Oke, aku kesana sekarang!" balas Rendi lalu menutup panggilan.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna putih pun berhenti tepat di depan ku. Lalu Rendi pun keluar dari mobil itu dengan senyum aneh di wajah nya.


"Ayo, masuk!" seru Rendi.


Rendi membuka kan pintu mobil nya untuk ku. Aku pun menurut dan langsung masuk ke dalam.


"Ini mobil abang atau mobil rental?" tanya ku penasaran.


"Ya mobil aku lah, sayang. Ini lah hasil kerja ku selama ini. Aku bekerja keras untuk membeli rumah dan mobil ini," jawab Rendi tersenyum sumringah.


"Dan alhamdulillah, akhirnya aku bisa mewujudkan impian ku ini," lanjut nya lagi.


Rendi menjelaskan sambil terus tersenyum, dan mulai melajukan kendaraan roda empat nya ke jalan raya.


"Oh iya, jadi sekarang kita mau kemana ini?" tanya ku.


"Udah, tenang aja. Ikut aja ya, jangan banyak tanya lagi," jawab Rendi sambil terus fokus menatap ke jalanan.


"Hhhmmm, oke lah," balas ku.


Aku hanya pasrah dan ikut menatap lurus ke depan.


"Loh, mau ngapain kita kesini?" tanya ku dengan mata yang membulat.


Aku mulai bingung sambil menatap Rendi. Aku terkejut melihat gedung bertingkat empat yang bertulis kan hotel Melati. Ya, Rendi memarkirkan mobil nya di halaman hotel Melati, dan mengajak ku untuk keluar dari mobil nya.


Setelah keluar dari mobil, Rendi merangkul pundak ku sambil berjalan masuk ke dalam hotel.


Bodoh nya, aku hanya menurut saja tanpa protes atau pun menolak. Seperti kerbau yang di cucuk hidung nya kemana pun di bawa cuma bisa mengikut saja.


"Mas, pesan kamar satu!" pinta Rendi kepada resepsionis.


"Oke bentar ya, bang!" jawab si resepsionis.


"Ini kunci nya, bang. Kamar nya ada di lantai dua ya," ujar nya.


Resepsionis itu berucap sambil menyerahkan kunci kamar hotel ke depan Rendi.


"Oke makasih ya, mas," balas Rendi.


Dia pun langsung membayar tagihan kamar, dan menerima kunci itu.


"Sama-sama, bang. Selamat beristirahat!" lanjut si resepsionis sambil mengatup kan tangan nya di dada.


Setelah mendapat kunci, Rendi pun langsung merangkul pinggang ku. Dia mengajak ku berjalan bersama nya menuju ke lantai dua.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu kamar, Rendi pun segera membuka nya. Setelah pintu terbuka lebar, aku dan Rendi pun mulai melangkah masuk ke dalam. Setelah itu, Rendi pun kembali menutup dan mengunci pintu kembali.


__ADS_2