
Setelah kepergian bang Darma, aku duduk selonjoran di atas sofa sambil mengotak-atik ponsel.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, mbak Ayu." salam pak kades yang sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum pada ku.
"Wa'laikum salam," balas ku.
"Ini orang ngapain lagi sih datang-datang kesini, bikin mood ku rusak aja." gerutu ku dalam hati.
"Ada perlu apa, pak?" tanya ku.
Aku menghampiri pak kades di depan pintu. Aku sengaja tidak mempersilahkan nya masuk ke dalam rumah. Aku takut kejadian yang dulu terulang kembali.
"Saya gak di suruh masuk ke dalam dulu, mbak?" tanya pak kades heran.
"Maaf ya, pak. Suami saya lagi kerja, jadi gak enak rasa nya kalau ada laki-laki yang masuk ke dalam rumah, kalau suami saya sedang tidak ada" jawab ku menjelaskan.
"Ya gak papa lah, mbak Ayu. Malah kebetulan sekali kalau suami mbak Ayu gak ada di rumah, jadi saya kan bisa bebas!" balas pak kades dengan santai.
"Maksud nya bisa bebas itu apa, pak?"
"Bapak jangan macam-macam ya! Kalo sampai bapak nekat berbuat yang tidak-tidak dengan saya, maka saya akan teriak. Biar orang-orang berdatangan kesini!" ancam ku serius.
"Jangan gitu dong, mbak Ayu. Mau di kasi enak kok malah mau teriak pulak!" balas pak kades semakin menjadi-jadi dengan ucapan nya.
Ya Allah, ini orang udah bau tanah pun masih aja menggatal. Gak sadar diri, udah tua kok masih aja berbuat yang tidak-tidak." batin ku.
"Dengar ya bapak kades yang terhormat, saya sama sekali tidak membutuh apa pun dari bapak!" ujar ku.
"Dan bila sudah tidak ada keperluan lain, mendingan bapak pulang aja ya! Dan satu lagi, berikan enak itu pada istri bapak saja!" usir ku dengan nada halus.
"Sombong banget sih mbak Ayu ini. Sok jual mahal pulak sama saya!" balas pak kades ketus.
"Mbak Ayu gak usah khawatir deh. Saya akan berikan uang yang banyak kalau mbak Ayu mau melayani saya sampai puas!" ujar pak kades.
Pak kades mengeluarkan uang merah yang cukup tebal yang bisa bikin mata melotot melihat nya.
Pak kades memamerkan uang nya pada ku, dengan tersenyum menyeringai melihat tubuh ku dari atas sampai bawah berulang-ulang. Dan pandangan mata nya itu berhenti tepat di bagian area pribadiku.
Pak kades terus saja fokus memandangi bagian area pribadiku itu, sambil memainkan lidah nya sendiri pada bibir nya.
Bahkan, air liur nya hampir jatuh saking serius nya menatap bagian terlarang ku itu.
Karena melihat reaksi pak kades yang seperti hendak menerkam mangsanya itu. Aku langsung reflek menutup area pribadiku, yang sedang berbalut rok selutut itu dengan kedua tangan ku.
"Kenapa di tutup sih, mbak Ayu. Bikin konsentrasi saya buyar aja jadi nya. Baru melihat dari luar aja udah bikin saya panas dingin gini."
"Gimana lagi, kalau sampai mencicipinya ya?Aduuh, bisa-bisa saya ketagihan menikmati nya!" ujar pak kades.
__ADS_1
Mendengar penuturan pak kades, aku punya ide gila untuk mempermalukan nya agar dia tidak berani lagi berbuat yang aneh-aneh dengan ku.
"Oke, pak kades. Aku akan layani permainan mu." batin ku sambil tersenyum miring.
"Emang nya bapak masih sanggup main kuda-kudaan dengan ku? Aku kalau bermain di atas ranjang sangat ganas loh, pak!" jelas ku.
"Takut nya bapak kewalahan pulak menghadapi keganasan ku itu." lanjut ku sambil tersenyum genit pada pak kades.
"Kenapa gak sanggup, mbak? Saya siap kok untuk melayani kapan pun mbak Ayu mau!" jawab pak kades penuh semangat.
"Ah, saya gak percaya kalau bapak masih perkasa? Saya gak yakin kalau bapak masih sanggup bermain di ranjang!" cibir ku pura-pura penasaran.
"Apa mbak Ayu mau bukti kalau saya masih sanggup bermain di ranjang? Apa mbak Ayu mau mencoba nya sekarang?" tantang pak kades.
"Kalau sekarang saya gak bisa, pak. Karena saya lagi datang bulan." bohong ku.
"Gimana kalau saya lihat dulu punya bapak, besar atau kecil? Karena saya gak mau kalau main dengan barang yang kecil."
"Saya suka nya yang gede, yang berur*t, yang tegak lurus. Bukan yang kecil, apa lagi yang letoy." ujar ku.
"Oke, siapa takut! saya akan tunjukkan pada, mbak Ayu." balas pak kades.
Pak kades langsung semangat empat lima mendengar penuturan ku, dan dia pun ingin membuka resleting celana nya.
"Eh, tunggu dulu, pak! Saya mau ambil ponsel dulu, saya mau fotoin punya bapak untuk saya simpan buat kenang-kenangan."
"Kok di fotoin sih, mbak? Nanti kalau foto itu tersebar gimana coba? Saya bisa malu kalau sampai seperti itu kejadian nya!" protes pak kades.
"Gak bakalan tersebar kok, pak. Tenang aja ya, saya akan menjaga foto itu sebaik mungkin." balas ku berusaha meyakinkan.
"Oh, oke lah kalau begitu, tapi janji ya, mbak. Jangan di sebarkan kemana-mana foto nya nanti!" pinta pak kades.
"Iya, pak." balas ku.
Setelah mengambil ponsel, aku segera memposisikan diri agak jauh. Setelah itu, aku memposisikan kamera nya tepat menampilkan seluruh badan pak kades dari atas sampai bawah.
"Oke siap, pak! Saya hitung sampe tiga ya. Dalam hitungan ketiga, bapak langsung buka aja ya, pak!" titah ku.
Aku memberikan aba-aba kepada pak kades sambil memegang ponsel.
"Oke, mbak! Tapi nanti kalo mbak Ayu udah siap datang bulan nya, kita jadi kan main kuda-kudaan nya?" tanya pak kades agak ragu.
"Iya, pak jadi. Oke sekarang saya mulai ya, pak. Satu...Dua...Tiga,"
Cekrek cekrek cekrek...
Aku berhitung sambil memejamkan mata, untuk memfoto sebanyak mungkin kejadian langka yang ada di depan mata ku itu.
"Kok tutup mata sih, mbak. Kan gak seru jadi nya kalau mbak Ayu tutup mata gitu!" protes pak kades.
__ADS_1
"Saya bukan tutup mata, pak. Tapi mata saya kelilipan debu nih."
Aku berbohong sambil berpura-pura mengucek mata di depan pak kades.
"Udah di tutup belum itu resleting nya, pak?" tanya ku penasaran.
"Udah dari tadi, mbak. Ya gak mungkin lah saya buka lama-lama. Kalau tiba-tiba ada orang lewat gimana coba?" ujar pak kades.
"Oh, syukur lah kalau udah di tutup." balas ku segera membuka mata dan melihat pak kades.
"Ya udah, sekarang bapak pulang ya! Saya mau istirahat dulu." usir ku.
"Loh, kok malah di suruh pulang sih, mbak? Saya kan masih mau disini dengan, mbak Ayu. Saya mau bercumbu mesra dulu sama kamu, mbak!" balas pak kades.
"Oh, jadi bapak mau mencumbui saya dulu. Oke silahkan aja, tapi bapak jangan marah ya kalau foto-foto bapak ini saya sebar di media sosial!" ancam ku.
Pak kades langsung terkejut dan syok karena mendengar ancaman ku barusan.
"Kok jadi ngancam gitu sih, mbak? Kalau tau bakalan jadi seperti ini, saya gak akan mau di suruh nunjukin punya saya sama, mbak Ayu." balas pak kades kesal.
"Siapa suruh pak kades mau? Tadi kan saya gak ada maksa bapak untuk melakukan hal itu! Bapak aja yang kepedean, terlalu percaya dengan omongan saya." balas ku sinis.
"Licik sekali kamu, mbak. Saya gak nyangka kamu tega menipu saya mentah-mentah!" tutur pak kades geram.
"Hahaha, sukurin! Siapa suruh ganjen, bapak itu udah tua udah bau tanah. Jangan berbuat yang aneh-aneh lagi lah!" ledek ku.
"Mendingan bapak banyak-banyak beribadah untuk bekal di sana nanti!" balas ku sambil menunjuk ke atas.
"Awas kamu ya, mbak! Saya akan balas perbuatan mu ini. Saya gak akan pernah terima kamu tipu seperti ini!" ancam pak kades.
"Silahkan aja, pak! Saya gak akan pernah takut dengan ancaman bapak itu. Kalau bapak berani macam-macam lagi, maka bersiap-siaplah untuk terkenal di media sosial sebagai model terpanas tahun ini, hahaha."
Aku tertawa lepas melihat raut wajah pak kades yang langsung berubah pucat pasi, seperti mayat hidup karena mendengar ocehan ku.
"Ja-jangan gitu lah, mbak! Oke, saya gak akan ganggu mbak Ayu lagi. Saya janji gak bakalan kesini lagi." jawab pak kades gugup dan terbata-bata.
"Oke, pak. Saya pegang janji bapak itu. Tapi kalo sampe bapak macam-macam lagi, saya akan nekat menyebarkan semua foto-foto ini!"
"Saya serius, dan saya gak pernah main-main dengan ucapan saya loh, pak!" ancam ku lagi.
"Iya iya, mbak saya janji. Oke lah kalo gitu, saya pulang dulu ya, mbak. Assalamualaikum," pamit pak kades.
Pak kades berlalu pergi meninggalkan ku yang masih terpaku di tempat. Aku menatap kepergian pak kades sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Tubang...Tubang (tua bangka). Ada-ada aja tingkah mu!" gumam ku.
"Sekarang aku udah nyimpan kartu AS mu, pak. Kalau sampai kau berani macam-macam lagi, kamu bakalan krrek, aku buat! Hahaha."
Aku terkekeh sambil menempelkan telunjuk di leher dan menggerakkan nya, seperti orang yang lagi menyembelih ayam.
__ADS_1