
Setelah Rendi menyelesaikan tugas nya, kami berdua pun tertidur pulas tanpa sehelai benang pun di bawah selimut tebal. Beberapa jam kemudian, Rendi pun mulai mengguncang-guncang pelan bahu ku.
"Yu bangun, Yu! Ayu lestari, bangun dong, sayang!" bisik Rendi.
"Hmmm, apa sih, bang? Ganggu aja kerjaan nya, hoam!"
Saking ngantuk nya, aku menggerutu dan menguap dengan mata yang masih tertutup rapat. Rendi hanya menggeleng-gelengkan kepala nya melihat kelakuan ku.
"Abang laper nih, Yu. Kita cari makan di luar yok!" ajak Rendi.
"Emang nya abang mau makan apa? Trus ini udah jam berapa sih, hoam?" tanya ku.
Aku kembali menguap sembari mengucek-ngucek mata yang masih terasa sangat lengket. Mendengar pertanyaan ku, Rendi pun mengambil ponsel nya yang terletak di atas nakas.
"Udah jam satu malam." jawab Rendi.
"Udah tengah malam gini abang mau makan dimana?" tanya ku lagi.
Aku mulai membuka mata, dan bergeser sedikit untuk meletakkan kepala ku di atas pangkuan Rendi. Sambil mengelus-elus kepala ku, Rendi pun mulai membuka suara nya lagi.
"Kita makan nasi goreng seafood aja, yok!" usul Rendi.
"Oke," jawab ku.
Aku dan Rendi langsung bergegas memakai pakaian masing-masing. Setelah selesai, kami berdua pun berjalan keluar dari kamar menuju ke lantai satu. Dan terus berjalan sampai ke parkiran mobil Rendi.
Setelah masuk ke dalam mobil, Rendi pun mulai menjalankan kendaraan roda empat nya menuju ke jalan raya.
Di sepanjang perjalanan, aku hanya diam dan menatap lurus ke jalanan dengan pandangan kosong.
Begitu juga dengan Rendi, dia juga fokus menatap ke depan sambil memegangi stir kemudi nya. Sepuluh menit kemudian, Rendi menghentikan mobil nya di depan warung lesehan yang terletak di pinggir jalan.
"Udah sampe, nih. Ayo kita turun!" ajak Rendi.
"Eh, udah nyampe ya." balas ku.
Aku tersentak dari lamunan karena mendapatkan sentuhan lembut di bahu kanan ku. Rendi sedikit merasa heran, melihat reaksi ku yang tampak terkejut saat di sentuh oleh nya.
"Jangan kebanyakan melamun, Yu! Ntar kesambet loh." ledek Rendi.
Aku menoleh ke arah Rendi dan menatap nya dengan mata sayu dan berair. Melihat air mata ku yang hampir menetes, Rendi pun membawa tubuh ku ke dalam dekapan nya sambil mengelus pucuk kepala ku.
__ADS_1
"Udah ah, jangan mewek lagi! Air mata mu ini sangat berharga, sayang." tutur Rendi.
"Jangan lagi kau keluar kan air mata mu ini, hanya untuk laki-laki seperti dia!" lanjut Rendi.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan nya. Melihat anggukan ku, Rendi pun mulai melepaskan pelukan nya. Dia mengusap lembut air mata ku dengan jari tangan nya.
"Sekarang kita turun, yok!" ajak Rendi lagi.
Aku kembali mengangguk dan membuka pintu mobil. Sampai di luar, Rendi langsung merangkul pundak ku dan kami berdua pun mulai berjalan beriringan menuju warung lesehan tersebut.
"Mas, pesan nasi goreng seafood dua porsi, sama teh hangat nya dua juga ya!" pinta Rendi.
"Oke siap, bang. Mau di bungkus atau makan disini, bang?" tanya si pelayan.
"Makan disini aja, mas!" jawab Rendi.
"Oke, bang." balas si pelayan.
Setelah selesai memesan, aku dan Rendi duduk berdampingan di meja lesehan. Aku menyandarkan kepala di bahu Rendi, dengan mata yang masih terlihat sembab akibat menangis tadi.
Rendi melingkar kan tangan kiri nya di atas pundak ku, dan tangan kanan nya menggenggam erat telapak tangan ku. Tak butuh waktu lama, makanan yang di pesan Rendi pun tiba dan sudah terhidang di atas meja.
"Oke, makasih ya, mas." balas Rendi.
"Sama-sama, bang." jawab si pelayan sambil melangkah kembali ke tempat nya.
Setelah pelayan itu pergi, aku mulai mengangkat kepala dari bahu Rendi dan menyeruput teh hangat yang ada di depan ku.
"Ayo kita makan, mumpung masih hangat nih! Kalau udah dingin nanti gak enak lagi." ajak Rendi.
"Iya," balas ku lirih.
Tanpa basa-basi lagi, aku dan Rendi pun mulai menyendok kan nasi goreng seafood itu ke dalam mulut masing-masing. Kami berdua makan dengan santai dan hening tanpa perbincangan apa pun lagi.
Setelah selesai, aku dan Rendi berjalan ke meja kasir, untuk membayar tagihan makanan yang kami makan tadi. Lalu Rendi kembali menggenggam tangan ku, dan berjalan menuju ke arah mobil.
"Kita jalan-jalan dulu ya, sayang!" ajak Rendi.
"Mau jalan-jalan kemana tengah malam gini?" tanya ku
Aku menoleh pada Rendi sambil memasang sealbeat di tubuh ku. Rendi tidak menjawab pertanyaan ku, dia hanya tersenyum dan mulai menyalakan mesin mobil nya kembali.
__ADS_1
Setelah kurang lebih setengah jam menempuh perjalanan Rendi pun memarkirkan mobil nya di pinggir jalan.
Dia mengajak ku untuk keluar dari kendaraan nya, dan berjalan-jalan di tepi pantai yang berada tidak jauh dari tempat kami saat ini.
"Pemandangan nya indah kan, sayang." ucap Rendi.
Di bawah cahaya sinar rembulan, aku dan Rendi berdiri tepat di tepi pantai. Dan tanpa aba-aba, Rendi langsung memeluk erat tubuh ku dari belakang. Dia meletakkan dagu nya di bahu ku dan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang ku.
Semilir angin yang berhembus kencang, membuat suasana semakin romantis untuk kami berdua. Aku menggenggam tangan Rendi yang masih setia menempel di perut ku, sambil berkata...
"Iya, bang. Pemandangan nya indah banget, angin nya juga terasa sejuk." balas ku.
Setelah mendengar penuturan ku, Rendi melepaskan pelukan nya dan berdiri di hadapan ku. Dia menatap wajah ku dengan tatapan sayu dan mulai mencium bibir ku dengan lembut.
Ciuman yang awal nya lembut, lama-kelamaan berubah menjadi semakin liar dan tidak terkendali lagi. Melihat ulah Rendi yang semakin menjadi-jadi, aku pun langsung mendorong pelan tubuh nya.
"Jangan di sini, bang! Nanti aja kita lanjutkan di kamar." ucap ku.
Rendi hanya cengar-cengir salah tingkah, setelah mendengar ucapan ku barusan. Dia menggaruk kepala nya yang tidak gatal lalu meminta maaf pada ku.
"Iya, sayang. Abang minta maaf ya, abang kebablasan tadi, hehehe." ucap Rendi.
"Iya, gak papa." balas ku sambil tersenyum pada nya.
Aku mengambil rokok dari saku celana lalu menyalakan nya. Setelah itu, aku mendudukkan diri di atas pasir dengan beralaskan sandal jepit yang aku pakai.
Begitu juga dengan Rendi, dia duduk di samping ku sambil menyalakan rokok nya. Pandangan kami lurus ke depan, menatap hamparan laut yang sangat luas.
Suasana berubah menjadi hening dan mencekam. Hanya terdengar suara deburan ombak yang saling bersahutan di sekeliling kami. Terpaan angin dari laut pun semakin dingin dan menusuk sampai ke tulang-tulang.
"Kapan kita bersatu, Yu? Kapan abang bisa memiliki mu seutuh nya? Dan sampai kapan abang harus menunggu mu?" tanya Rendi.
Rendi memberikan pertanyaan beruntun pada ku. Mendengar semua pertanyaan Rendi, aku langsung terpaku seketika dan menoleh sekilas pada nya.
"Biar kan semua nya mengalir, mengikuti arus nya masing-masing seperti air laut ini, bang! Paham kan maksud ku?" balas ku.
"Iya, abang paham. Tapi..."
Rendi menjeda ucapan nya, dan kembali menatap ke depan dengan pandangan menerawang.
"Tapi apa, bang?" tanya ku mulai penasaran.
__ADS_1