
"Hufff, syukur lah dia langsung percaya." batin Darma sembari menghela nafas lega.
Setelah tanya jawab yang cukup menegangkan itu berakhir, Darma pun membaringkan tubuh nya kembali ke atas kasur.
Dengan pandangan menerawang menatap langit-langit kamar, Darma pun kembali mempertanyakan tentang Dina kepada Yuni. Dia masih sangat penasaran dengan mantan istri nya tersebut.
"Yun, apa bener mamak mu nginap di rumah teman nya?" tanya Darma.
Yuni langsung menoleh ke belakang, dan menatap Darma dengan wajah cemberut. Ia tidak suka jika Darma memikirkan tentang ibu nya.
"Emang nya kenapa, hah?" tanya Yuni balik.
"Ya... Gak papa sih. Abang cuma pengen tau aja, bener atau tidak." jawab Darma.
Yuni semakin menajamkan tatapan nya pada Darma. Ia tampak semakin kesal dan tidak terima, dengan perkataan Darma barusan. Dengan perasaan yang semakin dongkol, Yuni pun membalas ucapan Darma.
"Pengen tau aja, atau karena cemburu nengok mamak sama laki-laki lain?" selidik Yuni.
"Sama laki-laki lain? Maksud nya?" tanya Darma tidak mengerti.
"Ya, laki-laki lain. Masa abang gak tau sih?" tanya Yuni.
"Ya, memang gak tau lah. Kalau abang tau, ngapain juga abang tanyain sama mu." jawab Darma.
Yuni menghela nafas panjang, lalu ikut berbaring di sebelah Darma. Setelah itu, Yuni pun menceritakan tentang rahasia yang selama ini di lakoni oleh ibu nya.
"Asal abang tau ya, mamak itu kalau keluar rumah pasti ketemuan sama brondong nya." jelas Yuni dengan mimik wajah serius.
"Hah, masa sih?" pekik Darma dengan mata terbelalak.
"Iya beneran, buat apa Yuni bohong? Orang Yuni pernah lihat sendiri kok, waktu mamak masuk ke hotel sama laki-laki itu." lanjut Yuni berusaha meyakinkan Darma kalau ucapan itu memang benar adanya.
" Ah, gak mungkin. Jangan mengada-ada kau, Yun. Gak mungkin Dina melakukan hal seperti yang kau tuduhkan itu." bantah Darma tegas.
"Kenapa gak mungkin? Mamak itu kan wanita normal, dia masih punya hasrat dan gairah dalam soal ranjang. Abang kan tau sendiri, kalau mamak itu nafsu nya tinggai, ya kan?" jelas Yuni masih tetap kekeuh membenarkan perkataan nya.
__ADS_1
Yuni sengaja memancing Darma dengan kata-kata seperti itu, agar Darma bisa keceplosan dan mengakui hal yang sebenarnya mengenai hubungan nya dengan Dina.
Dan ternyata, apa yang di harapkan Yuni pun membuahkan hasil. Darma tetap membela mantan istri nya itu, dan mengatakan hal yang selama ini ia lakukan bersama Dina di belakang Yuni.
"Ah, abang gak percaya kalau mamak mu selingkuh sama brondong. Memang bener sih, kalau nafsu mamak itu tinggi. Tapi kan abang udah melayani nya, kenapa dia masih mencari kepuasan di luar lagi?" ujar Darma.
Darma tidak menyadari, kalau ucapan nya itu bisa membuat darah Yuni langsung mendidih mendengar nya. Darma masih saja melanjutkan ocehan nya, tanpa menyadari wajah Yuni yang sudah merah padam di sebelah nya.
"Kalau dia memang kepengen, kan bisa minta sama abang aja. Ngapain juga dia mesti kelayapan kesana-kemari, hanya untuk mencari kepuasan?" lanjut Darma.
Setelah mengatakan hal itu, Darma pun langsung terdiam seketika. Dia baru sadar, kalau sudah keceplosan tentang hubungan nya dengan Dina.
"Aduh, mampus aku! Kok bisa keceplosan gambar ni sih? Bisa perang dunia lagi nih kayak nya." batin Darma gelisah.
Dengan hati yang dag-dig-dug tidak karuan, Darma pun memberanikan diri untuk menoleh ke arah Yuni. Saat melihat mata elang Yuni, Darma pun langsung tersentak kaget dan semakin panik.
"Waduh, serem banget muka nya. Kayak mau nelan orang hidup-hidup aja." batin Darma.
Keringat dingin pun mulai bermunculan di permukaan wajah Darma. Ia tampak sangat ketakutan, melihat wajah horor Yuni yang terlihat sangat menyeramkan menurut nya.
"Ka-kau kenapa, Yun? Ke-kenapa muka nya jadi kayak zombie gitu?" tanya Darma terbata-bata.
"Abang tadi ngomong apa? Coba ulangi lagi, siapa tau aja kuping Yuni salah denger tadi?" sindir Yuni sembari tersenyum sinis.
Mendengar sindiran Yuni, Darma pun semakin panik dan gelagapan. Ia bingung harus berkata apa kepada gadis kecil nya tersebut.
Melihat reaksi Darma yang bungkam seribu bahasa, Yuni pun langsung bangkit dari baring nya. Kemudian ia pun duduk bersila di depan Darma, lalu kembali bersuara.
"Kok malah diem? Kenapa, takut ya?" tebak Yuni masih dengan senyum sinis di wajah nya.
"Eng-enggak kok, siapa juga juga yang takut? Abang cuma... cuma..."
Darma sengaja menjeda kata-kata nya, karena ia masih bingung bagaimana cara menjelaskan nya. Kemudian ia pun bangkit dari kasur, dan duduk berhadapan dengan Yuni.
"Cuma apa?" desak Yuni tidak sabar.
__ADS_1
Karen tidak ingin membuat masalah semakin runyam, Darma pun berinisiatif untuk membujuk Yuni dengan rayuan gombal nya.
"Sayang, abang minta maaf ya! Abang tadi memang sengaja mengatakan hal itu, karena abang ingin mengetes isi hati mu." bohong Darma.
"Kalau kau cemburu dengan perkataan abang, itu artinya kau memang benar-benar sayang sama abang. Tapi kalau aku tidak cemburu, berarti kau tidak tulus mencintai abang." lanjut Darma sambil memasang wajah serius nya.
Yuni tidak langsung percaya dengan penuturan Darma. Ia masih saja menatap tajam ke arah lelaki itu, lalu berkata...
"Bohong, abang kira aku ini anak kecil yang bisa abang bodoh-bodohi? Abang pikir aku gak tau, apa yang sudah abang lakukan sama mamak di belakang ku?" oceh Yuni geram.
"A-apa maksud mu? Si-siapa yang membodohi mu?" tanya Darma kembali tergagap.
Yuni tersenyum miring mendengar pertanyaan Darma. Ia seolah-olah sedang mencemooh lelaki paruh baya yang ada di hadapannya tersebut.
"Halaaah, gak usah pura-pura bego lah. Gak usah di tutup-tutupi lagi. Aku sudah tau semua nya kok." jawab Yuni ketus.
"Jangan mentang-mentang selama ini aku diam, trus kalian seenaknya saja menipu ku." sindir Yuni lagi.
Ia terus saja memancing Darma, agar Darma mau mengakui kesalahan nya, dan meminta maaf kepada nya. Karena tidak ingin merusak hubungan nya dengan Yuni, Darma pun masih tetap bertahan dan membela diri.
"Jangan gitu dong, sayang! Tolong percaya sama abang. Abang beneran gak ada hubungan apa-apa lagi sama mamak mu, sumpah!" bohong Darma, sembari membentuk jari nya menjadi huruf V.
Yuni tidak menggubris ucapan Darma. Ia tetap saja membisu, dan terus memasang wajah sehoror mungkin di hadapan Darma.
Karena tidak ada respon apapun dari Yuni, Darma pun kembali mengeluarkan gombalan-gombalan maut nya, untuk meluluhkan hati gadis kecil nya tersebut.
"Jangan marah terus dong, sayang kuuu! Kalau muka nya di tekuk gitu, nanti cantik nya bisa hilang loh." canda Darma sembari tersenyum, dan mencubit gemas kedua pipi Yuni.
Yuni tetap diam, lalu menepis tangan Darma dengan kasar. Ia masih terlihat kesal dan emosi, dengan perkataan Darma tadi.
Di saat suasana semakin menegang, tiba-tiba terdengar suara pekikan Dina, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar anak nya.
Tok tok tok...
"Yun, tolong belikan mamak pembalut di warung depan dong!" pekik Dina.
__ADS_1
Mendengar perintah Dina, Yuni pun semakin bertambah kesal dan geram pada ibu nya tersebut.
"Males, mamak beli aja sendiri. Yuni lagi males kemana-mana." teriak Yuni dari dalam kamar nya.