SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Ancaman Rendi


__ADS_3

Setelah kepergian Rendi dan bang Agus, aku mendudukkan badan di sofa sambil merenung.


"Apa Rendi bakalan percaya ya, dengan jawaban ku tadi. Yang mengatakan bahwa, bang Agus itu hanya tetangga ku."


"Kring kring kring," suara dering ponsel dari dalam kamar.


Aku segera beranjak dari sofa, masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel yang sedang berdering itu.


"Rendi? panjang umur nih orang. Sedang di pikirin, malah nelpon." Ucap ku setelah melihat layar ponsel.


"Halo, assalamualaikum. Ada apa bang?" tanya ku menerima panggilan dari Rendi.


"Wa'laikum salam, Yu. Gak ada apa-apa kok, cuma pengen tau aja. Yang tadi itu siapa sih, kok kalian berdua pelukan gitu? gak mungkin lah, hubungan kalian cuma sebatas tetangga biasa aja?" tanya Rendi penasaran.


Tuh kan, bener dugaan ku. Rendi gak bakalan percaya gitu aja, dengan jawaban ku tadi, hadeh.


"Abang, mau dengar kejujuran ku? abang yakin, gak bakalan sakit hati kalau aku berkata yang sebenarnya?"


"Iya, Yu. Gak papa kok. Abang sudah siap mendengarkan kejujuran mu!" jawab Rendi yakin.


"Oke lah kalo gitu, bang Agus itu adalah selingkuhan ku, bang. Udah hampir setahun, kami menjalin hubungan. Rumah kami juga dekat, hanya berjarak lima langkah aja dari rumah ku!" ucap ku jujur.


"APA! kamu serius, Yu? kamu gak lagi bercanda kan, Yu?" pekik Rendi seakan tidak percaya mendengar ucapan ku barusan.


"Aku serius, bang. Itu lah kenyataan nya, yang aku jalani sekarang. Jadi, mulai saat ini tolong jauhi aku, bang. Aku bukan wanita yang baik untuk mu!"


tutur ku penuh dengan penekanan.


"Gak, aku gak mau, Yu. Aku gak akan melepaskan mu untuk, dia. Aku akan merebut mu dari tangan suami mu, dan juga tetangga mu itu. Aku gak perduli apa pun resiko nya nanti!"


"Jangan begitu, bang. Aku mencintai bang darma, suami ku. Aku gak mau pisah dengan nya, bang Agus itu hanya pelampiasan saja buat ku. Karena, suami ku jarang memberikan nafkah batin untuk ku. Maka nya, aku cari pelampiasan di luar."

__ADS_1


"Kenapa harus dengan tetangga mu? kenapa bukan dengan ku saja? aku juga bisa, memberikan mu kepuasan seperti yang kamu ingin kan, Yu."


"Abang masih bisa bertanya kenapa? abang gak sadar ya, selama ini sudah menghilang tanpa jejak. Abang udah meninggalkan aku sendiri disini, tanpa kabar dan berita apa pun?"


"Jangan egois, bang. Tolong, jangan ganggu aku lagi. Tolong jauhi aku, cari lah wanita lain yang lebih baik dari pada aku!" tutur ku dengan linangan air mata.


"Jangan gitu lah, Yu. Oke aku ngaku salah, aku minta maaf. Aku gak ada ngasi kabar selama ini."


"Tapi, jangan pernah menyuruh ku untuk menjauhi mu, Yu! aku sangat mencintaimu. Dan aku, ingin memiliki mu selama nya." Rendi masih tetap kekeuh dengan keputusan nya.


"Terserah lah! terserah abang, mau berbuat apa pun itu. Aku udah gak perduli lagi. Tapi ingat, jangan pernah memaksa ku, untuk meninggalkan suami ku!"


"Jangan rusak rumah tangga ku.Ingat itu!" aku memberi peringatan pada Rendi.


"Aku gak janji, Yu." Jawab Rendi menutup panggilan sepihak.


"Hadeh, kok jadi ruwet gini sih jadi nya? Kalau Rendi sampai nekat, bisa hancur rumah tangga ku dengan bang darma. Bikin tambah pusing saja pun mereka berdua itu." Aku menarik-narik rambut ku yang mulai berdenyut.


"Rendi...Rendi...Kau itu, hanya masa lalu bagi ku. Sedang bang darma, adalah masa depan ku. Dan bang Agus, hanya lah selingan untuk ku. Aku gak akan membiarkan mu, mengusik ketenangan rumah tangga ku, Ren gak akan." Aku mengingat semua ucapan Rendi tadi.


"Wa'laikum salam."Jawab ku langsung keluar dari kamar dan menghidangkan makanan untuk nya di ruang tamu.


"Abang mau mandi dulu, dek. Habis tu langsung shalat, makan nya nanti aja!" ujar bang darma berjalan ke kamar mandi.


"Kenapa gak bilang dari tadi sih." Gerutu ku dalam hati.


Sambil menunggu bang darma selesai mandi dan shalat, aku menyalakan TV dan duduk selonjoran di lantai.


"Ayok, dek kita makan!"


ajak bang darma yang sudah duduk bersila di depan ku.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk mengiyakan, dan mulai makan bersama dengan bang darma. Melihat makanan di piring ku, hanya sedikit dari biasa nya, bang darma langsung menatap ku heran.


Aku tidak menanggapi tatapan nya itu. Aku hanya menunduk, dan fokus memakan makanan yang ada di piring ku.


Bang darma semakin bingung dengan sikap ku hari ini, yang biasa nya cerewet dan banyak tanya. Kini, hanya diam tanpa berkata apa pun, dengan wajah di tekuk.


"Ada apa, dek? kok diam aja dari tadi. Biasa nya kayak beo, cerewet nya?" tanya bang darma sambil mengunyah makanan nya.


"Gak ada apa-apa, bang. Lagi males ngomong aja. Kepala ku lagi sakit, maka nya aku diam aja dari tadi." Balas ku berusaha menutupi kegelisahan hati ku saat ini.


"Oh, kirain ada masalah apa, udah minum obat blom? kening mu kok anget, dek?" bang darma lagi menempelkan punggung tangan nya di kening ku.


"Gak papa, bang. Itu karena pengaruh dari sakit kepala aja. Kalau udah minum obat, pasti normal lagi kok."


Jawab ku tetap kekeuh kalau aku dalam keadaan baik-baik saja.


"Oh, ya udah kalo gitu. Selesai makan, jangan lupa minum obat ya, dek!"


"Iya, bang. Ntar lagi aku minum obat nya." Jawab ku menutup percakapan.


Selesai makan siang, bang darma kembali pergi bekerja dengan mengendarai motor nya. Aku kembali berjalan ke dalam kamar, rebahan di atas ranjang.


"Aduuh, kepala ku kok makin nyut-nyutan gini sih. Padahal udah minum obat, tapi kenapa masih sakit gini? kios nya aku tutup aja lah, biar bisa istirahat."


Akuberjalan ke dalam kios, sambil memegangi kepala.


Setelah menutup kios dan pintu rumah, aku kembali ke kamar dan berbaring di ranjang, aku menutupi seluruh tubuh ku dengan selimut tebal.


"Kok, malah jadi menggigil gini sih badan ku. Tadi, cuma sakit kepala aja. Sekarang malah jadi menggigil. Apa mungkin badan ku mau demam ya?"


"Ini semua gara-gara ulah Rendi, aku jadi kepikiran terus dengan semua ucapan nya. Sampai kesehatan ku drop kayak gini!"

__ADS_1


"Mendingan, tidur aja lah. Mana tau nanti setelah istirahat, bisa pulih lagi kondisi badan ku."


Aku bergulung di bawah selimut, sambil memeluk guling. Dengan kondisi badan yang menggigil, aku mulai memejamkan mata dan tertidur dengan lelap.


__ADS_2