SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kemarahan Darma


__ADS_3

*Kembali ke Darma dan para lelembut nya*


Setelah bercekcok ria dengan istri nya, Darma pun memutuskan untuk pergi dari rumah, dan menaiki ojek pangkalan untuk menuju ke rumah Dina.


Setibanya di tempat tujuan, Darma turun dari ojek dan berjalan dengan langkah gontai menuju pintu.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," salam Darma sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah mantan istri nya tersebut.


"Wa'laikum salam, ya tunggu bentar!" pekik Yuni dengan suara melengking.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka lebar, dan nampak lah wajah Yuni yang masih sedikit bengkak dan merah tersebut. Yuni memandangi wajah lusuh Darma, dengan kedua alis yang saling bertautan.


"Kenapa, bang? Kok muka nya murung gitu?" tanya Yuni heran.


"Gak papa." jawab Darma lalu nyelonong masuk ke dalam rumah, dan mendudukkan tubuh nya di kursi ruang tamu.


Melihat gelagat aneh Darma, Yuni pun hanya mengendikkan bahu dan menutup pintu kembali. Setelah itu, dia duduk di sebelah Darma dan kembali mempertanyakan tentang uang nya.


"Gimana, bang? Uang ku udah dapat belum?" tanya Yuni menatap serius wajah Darma.


"Belum," jawab Darma lirih.


Darma menyandarkan punggung nya di bahu kursi, lalu mendongakkan kepala nya ke atas. Dia memandangi langit-langit ruang tamu dengan tatapan kosong.


"Loh, kok belum sih? Emang tadi ngapain aja di sana? Minta jatah ya?" tebak Yuni dengan wajah kesal nya.


"Gak lah, mana ada minta jatah." jawab Darma tanpa menoleh sedikit pun kepada lawan bicara nya.


"Kalau gak minta jatah, trus abang ngapain aja di sana setengah harian?" desak Yuni.


Mendengar desakan demi desakan yang keluar dari mulut Yuni, wajah Darma pun berubah masam seketika. Dia sedikit kesal dengan gadis kecil nya itu, karena selalu memaksakan kehendak nya pada Darma.


"Ck, bisa diem gak sih! Berisik banget dari tadi, bikin kepala tambah puyeng aja." bentak Darma sambil memijat-mijat dahi nya.


Yuni langsung tersentak kaget dengan mata terbelalak, saat mendengar suara Darma yang cukup kuat. Dia sama sekali tidak menyangka, jika Darma tega membentak nya seperti itu.


Mata yang tadi nya hanya terbelalak, kini mulai sayu dan berembun. Hati Yuni terasa sangat sakit dan perih, akibat suara keras dari lelaki pujaan nya tersebut.


Dan pada akhirnya, air mata yang sedari tadi di tahan Yuni pun tumpah, dan membasahi kedua pipi merah nya.


Yuni menangis dalam diam, lalu pergi begitu saja ke dalam kamar nya. Tanpa memperdulikan Darma, yang masih tidak ngeh dengan keadaan gadis kecil nya tersebut.


Setelah beberapa saat berpikir, Darma pun mulai tersadar akan keberadaan Yuni yang sudah tidak ada di samping nya.

__ADS_1


"Loh, kok hilang? Kemana pergi nya tu bocah?" gumam Darma kebingungan, sambil menggaruk-garuk kepala nya.


Darma celingukan kesana kemari mencari keberadaan Yuni. Dan akhirnya, pandangan Darma pun terhenti saat melihat kamar Yuni yang sedang tertutup rapat.


"Apa dia di kamar ya? Ah, tengok dulu lah. Siapa tau ada." lanjut Darma.


Darma mulai beranjak dari kursi, dan melangkahkan kaki nya menuju kamar Yuni. Sampai di depan pintu, Darma langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Darma menautkan kedua alisnya, saat melihat Yuni yang sedang menangis sesenggukan, dengan posisi telungkup di atas kasur milik nya.


"Loh, kok malah nangis? Dia ini sebenarnya kenapa sih? Apa ada yang salah dengan ucapan ku tadi?" batin Darma masih dengan mode linglung nya.


Dengan perasaan ragu, Darma pun kembali melangkah mendekati Yuni. Dia berbaring miring menghadap Yuni, dan menopang kan kepala di telapak tangan nya.


"Kau itu kenapa sih, sayang? Kok tiba-tiba nangis kejer gini?" tanya Darma tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Bukan nya menjawab, Yuni malah memalingkan wajah nya ke arah tembok, dan kembali melanjutkan tangisan pilu nya. Melihat reaksi Yuni yang tidak memperdulikan nya, Darma pun mengulurkan tangan nya untuk membelai rambut panjang Yuni.


"Jangan nangis terus dong, sayang. Abang jadi ikutan sedih nih lihat nya. Kalau abang ada salah, abang minta maaf ya."


Bujuk Darma sambil terus membelai rambut gadis kecil nya, dengan lembut dan penuh kasih sayang. Yuni sama sekali tidak menggubris perkataan Darma. Dia tampak sangat tersinggung dengan bentakan Darma tadi.


Karena tidak mendengar suara Yuni, Darma pun kembali berceloteh. Dia terus saja berusaha untuk membujuk Yuni, agar Yuni mau berbicara pada nya.


"Ngomong dong, sayang! Kalau kau diem terus kayak gini, gimana abang bisa tau kesalahan abang dimana?" lanjut Darma dengan penuh penyesalan.


"Ya udah lah, kalo gak mau ngomong. Terserah kau lah situ, mau ngapain aja!" ujar Darma kesal.


"Bosan aku ngadepin orang yang dikit-dikit merajuk kayak kau itu." lanjut Darma dengan nada tegas.


Darma melangkah keluar dari kamar dengan wajah masam, dan membanting pintu dengan cukup kuat. Hingga membuat dinding kamar Yuni sedikit bergetar di buat nya.


Mendengar suara dentuman yang sangat keras, Yuni pun langsung tersentak dan menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup rapat.


Tangisan yang tadi nya hanya sesegukan, kini malah kembali pecah dan semakin menjadi-jadi. Yuni menenggelamkan wajah nya ke dalam bantal, lalu memukul-mukul kasur dengan deraian air mata, yang mengucur deras di kedua pipi nya.


"Tega banget sih, orang lagi merajuk gini, bukan nya di bujuk. Malah di tinggal pergi pulak." oceh Yuni.


"Jahat kau, bang. Jahaaaaattt, hiks hiks hiks..." pekik Yuni sambil terus menangis, meratapi nasib malang nya.


Sedangkan Darma, dia sama sekali tidak memperdulikan teriakan Yuni. Dia kembali duduk di kursi ruang tamu, lalu memijat kening nya yang mulai berdenyut nyeri, akibat memikirkan tingkah Yuni yang semakin lama semakin menjadi-jadi.


"Udah dewasa gitu pun, masih aja bertingkah kayak anak-anak, heran." gerutu Darma kesal.


Darma terlihat geram dan jengkel, melihat sikap anak angkat nya tersebut. Hingga membuat kepala nya berdenyut nyeri tidak karuan.

__ADS_1


"Aduuuuh, ini kepala kenapa sih? Kok tiba-tiba sakit gini?" lanjut Darma sambil menarik-narik rambut nya sendiri.


Saat sedang asyik menikmati sakit kepala nya, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Darma yang sedang memejamkan mata nya pun langsung reflek, menoleh ke arah pintu tersebut.


Melihat kedatangan Dina dengan wajah berbinar, dan beberapa kantong plastik di tangan nya, Darma pun langsung naik pitam. Dia berdiri dari tempat duduk nya, dan membentak Dina dengan suara menggelegar.


"Dari mana saja kau perempuan gak tau diri?" pekik Darma kuat.


Mendengar suara Darma yang sangat memekakkan telinga, Dina pun langsung terlonjak kaget, lalu menatap tajam kearah Darma dengan mata elang nya.


"Kau ini apa-apaan sih, Dar? Kau pikir aku ini binatang apa? Main bentak-bentak seenak jidat mu aja." omel Dina dengan suara cempreng nya.


Dina membalas bentakan Darma dengan mata yang membulat sempurna. Dia juga berkacak pinggang di depan Darma, sambil membusungkan dada dengan wajah angkuh nya.


Dina seolah-olah sedang menantang Darma, agar tidak terlihat lemah dan takut di depan mantan suami nya tersebut. Melihat sikap sombong Dina, Darma pun semakin tersulut emosi dan mengeratkan genggaman tangan nya.


"Sini tas mu!" ujar Darma dengan wajah horor nya.


Darma berjalan mendekati Dina, lalu menarik paksa tas selempang yang tergantung di bahu kiri Dina.


"Eh eh eh, apa-apaan ini? Mau kau apa kan tas ku itu, hah?" tanya Dina bingung.


Dina tampak syok dan terkejut, saat melihat kelakuan Darma yang sedang mengacak-acak isi tas nya. Dina mematung di tempat sambil terus memandangi Darma, yang sedang sibuk membongkar seluruh isi tas dan juga dompet nya.


"Woy, setan! Apa yang sedang kau cari di dalam tas ku itu, HAH?" pekik Dina dengan emosi yang mulai meledak-ledak.


Darma langsung menoleh, dan menatap tajam ke arah suara yang sudah memaki nya, lalu berkata...


"Mana uang yang aku kasih tadi? Sini, kembalikan pada ku!" pinta Darma sambil menadahkan telapak tangan nya ke depan wajah Dina.


"APA?" pekik Dina dengan suara melengking, dan mata yang terbelalak lebar.


Dina tampak sangat terkejut, setelah mendengar penuturan Darma. Dia sama sekali tidak menyangka, jika Darma akan meminta uang nya kembali.


"Udah gila kau, ya? Masa uang yang udah di kasih, mau di minta lagi? Anda sehat?" cibir Dina lalu bersidekap, dan tersenyum miring kepada Darma.


Mata Darma semakin memerah, akibat mendengar cibiran pedas Dina. Dia merasa harga dirinya sudah di rendah kan secara terang-terangan, oleh mantan istri nya tersebut.


"Dasar, perempuan luknut! Berani-beraninya kau menghina ku seperti itu, hah? Mau cari mati kau ya?" bentak Darma geram.


Nyali Dina yang tadi nya berkobar-kobar, kini langsung menciut setelah mendengar ancaman tegas Darma barusan. Dia bergidik ngeri melihat wajah sangar Darma, yang tampak sangat menyeramkan di depan nya.


"A-apa maksud mu? Si-siapa yang sedang menghina mu?" tanya Dina gugup, dan wajah yang tampak ketakutan.


Dina melangkah mundur, dan menyandarkan punggung nya di dinding. Dia bingung melihat kemarahan Darma yang secara tiba-tiba dan tanpa alasan tersebut.

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan, KAU." pekik Darma lagi.


__ADS_2