SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Mencuri


__ADS_3

"Ah, gak mungkin. Kau pasti bohong kan?" tanya Darma.


"Tadi kan udah ku bilang, terserah mau percaya atau tidak. Tapi yang pasti nya, aku gak pernah main-main dengan ucapan ku, ingat itu." gertak Ayu dengan mimik wajah serius.


"Dasar, gila!" umpat Darma lalu beranjak dari ranjang, dan keluar dari kamar.


"Hahahaha," gelak Ayu sembari membaring kan diri, dan melanjutkan mimpi yang sempat tertunda akibat ulah Darma.


Dengan wajah yang di tekuk lesu, Darma mendudukkan tubuh nya di sofa ruang tamu. Dia kembali memikirkan ucapan Ayu, yang sangat tidak masuk akal menurut nya.


"Apa iya, di badan nya ada jin penunggunya?" gumam Darma.


"Kayak nya sih gak mungkin. Dia kan rajin sholat, rajin baca Al-Qur'an juga. Gak mungkin lah ada jin di badan nya, aneh-aneh tu orang." lanjut Darma.


Usai berperang dengan isi kepala sendiri, Darma pun memutuskan untuk menanyakan kabar Yuni kepada Dina. Dia sedikit khawatir dengan keadaan gadis kecil nya tersebut.


"Nanya kabar Yuni dulu lah, siapa tau dia udah bangun dari tidur panjang nya." gumam Darma.


Dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu mengotak-atik nya untuk mencari kontak Dina. Setelah menemukan nya, dia langsung menghubungi nomor tersebut, dan menempel kan ponsel itu di telinga nya.


Tut tut tut...


"Halo, Din. Gimana kabar Yuni? Dia udah bangun belum?" tanya Darma setelah panggilan nya di terima oleh Dina.


"Udah, tuh lagi ngerem di kamar nya." jawab Dina.


"Oh, syukur lah. Kirain belum bangun juga dari tadi." ujar Darma lega.


"Emang kenapa? Kau ngomong sama dia?" tanya Dina.


"Gak ada apa-apa. Aku cuma khawatir aja dengan keadaan nya." jawab Darma.


"Ooohhh, gitu. Trus, kapan kau kesini?" tanya Dina lagi.


"Bentar lagi nunggu Ayu tidur dulu, baru aku ke sana." jawab Darma keceplosan.


"Loh, tadi kan kau bilang dia sedang tidur. Kenapa sekarang nunggu dia tidur lagi?" selidik Dina mulai curiga.


"Eh, itu anu. Tadi dia kebangun sebentar, trus sampe sekarang belum tidur lagi." bohong Darma.


Darma sedikit gugup karena keceplosan dengan ucapan nya sendiri. Dia takut ketahuan Dina, kalau dia baru saja habis bertempur dengan Ayu.


"Beneran?" tanya Dina tidak percaya.


"Iya, beneran. Untuk apa juga aku bohong? Gak ada guna nya juga." jawab Darma sewot.


"Tapi, kok aku gak yakin ya?" selidik Dina lagi.


"Terserah kau lah situ! Mau yakin kek, mau enggak kek, bodo amat. Yang penting aku udah jujur." jawab Darma ketus.


"Loh, kok jadi ngegas gitu sih ngomong nya? Kalau memang bener, kenapa mesti marah, aneh?" omel Dina tak mau kalah.

__ADS_1


"Siapa yang ngengas? Perasaan mu aja kali tuh." balas Darma mulai melunak.


"Ya, udah lah. Males ngomong lama-lama sama mu, bikin tensi ku naik aja." omel Dina.


"Eh, tunggu dulu..."


Tut tut tut...


Belum sempat Darma melanjutkan ucapan nya, Dina pun langsung memutus panggilan dari mantan suami nya tersebut.


"Aaagghhh, dasar keras kepala! Bikin emosi terus kerjaan nya perempuan egois satu ini." umpat Darma geram.


Kruk kruk kruk...


Tiba-tiba terdengar suara aneh dari perut Darma. Cacing-cacing yang ada di perut Darma sudah berdendang ria, meminta makan kepada si empunya badan. Dengan hati yang masih kesal, Darma pun memegangi perut nya, lalu berucap...


"Ck, perut udah lapar pulak. Mana gak megang duit lagi. Kira-kira Ayu nyimpan tas nya dimana ya? Siapa tau aja, ada uang di dalam tas nya itu?" gumam Darma.


"Cari di lemari dulu, ah. Mau tau ada di situ." lanjut Darma.


Darma langsung bangkit dari tempat duduk nya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Dia membuka lemari pakaian, dan mengobrak-abrik isi lemari tersebut.


"Loh, kok gak ada sih! Dimana ya dia nyimpan nya?" batin Darma bingung.


Darma memandang ke arah ranjang, dan melihat Ayu yang sedang tertidur pulas di bawah selimut tipis. Setelah itu, dia mengalihkan pandangan nya ke arah laci meja, yang berada tepat di samping ranjang.


"Apa disitu ya, dia nyimpan nya? Lihat dulu ah, mudah-mudahan aja ada." gumam Darma pelan.


Setelah laci itu terbuka, wajah Darma langsung berbinar cerah, saat melihat tas ransel Ayu yang tersimpan rapi di dalam nya.


"Wow, pucuk di cinta ulam pun tiba, hahaha." gumam Darma girang.


Dengan senyum yang mengembang di bibir nya, Darma mulai membuka tas itu dan mengambil dompet milik Ayu.


Mata Darma langsung membulat sempurna, saat melihat isi dompet Ayu, yang penuh dengan uang pecahan seratus ribuan.


"Waaahh, banyak banget duit nya." batin Darma kagum.


Darma mulai menghitung uang yang ada di dompet Ayu, dengan semangat dan wajah yang berseri-seri.


"Hah, delapan juta lima ratus? Kira-kira dari mana ya, dia dapatkan uang sebanyak ini?" batin Darma heran.


"Apa jangan-jangan, uang ini dari para selingkuhan nya ya?" tebak Darma.


Darma terus saja menduga-duga tentang uang Ayu. Dia heran dengan istri nya yang selalu mempunyai uang banyak.


"Ah, bodo amat. Mau dari siapa pun itu, aku gak perduli. Yang penting, aku bisa cuil dikit uang ini." lanjut Darma.


"Kalau aku ambil satu juta, pasti gak bakal ketahuan. Dari dulu kan dia paling jarang ngitung-ngitung duit, hihihi." gumam Darma sembari cekikikan sendiri.


Sesudah mengambil uang satu juta dari dompet Ayu, Darma pun kembali memasukkan dompet itu ke dalam tas. setelah itu, dia pun menaruh tas itu kembali ke tempat semula.

__ADS_1


"Yey, akhirnya aku bisa punya uang juga hari ini. Makasih ya, sayang. Kau memang istri yang baik. Aku jadi makin cinta deh sama mu, hahaha." batin Darma bahagia.


Setelah berhasil mencuri uang Ayu, Darma pun langsung bergegas keluar dari rumah. Dia memanggil ojek pangkalan, dan berlalu pergi menuju rumah Dina.


Tak lama kemudian, ojek yang di tumpangi Darma pun sudah tiba di depan rumah Dina. Setelah membayar ongkos ojek, Darma segera melangkah ke depan pintu, lalu mengetuk nya beberapa kali.


Tok tok tok...Tok tok tok...


"Din, buka pintu! Ini aku Darma." pekik Darma sambil terus mengetuk-ngetuk pintu rumah mantan istri nya tersebut.


"Ya, bentar!" balas Dina dari dalam.


Dina segera keluar dari kamar nya, lalu berjalan dengan langkah cepat menuju pintu. Setelah pintu terbuka lebar, Dina langsung mengerutkan kening nya, saat melihat wajah Darma yang sangat aneh menurut nya.


"Muka mu kenapa? Kok aneh gitu?" selidik Dina.


"Gak papa, aku lagi seneng aja." jawab Darma sembari melangkah masuk ke dalam.


Setelah menutup pintu kembali, Dina pun mengekori langkah Darma, dan ikut duduk bersama mantan suami nya itu di kursi ruang tamu.


"Seneng kenapa?" tanya Dina penasaran.


"Ada, deeehh!" jawab Darma sembari tersenyum miring.


"Loh, kok pake rahasia-rahasiaan gitu sih. Bikin jiwa kepo ku meronta-ronta aja." gerutu Dina kesal.


"Biarin, emang gue pikirin, hahaha." cibir Darma sembari tergelak.


Saat Dina hendak memegang lengan Darma, untuk mendesak nya supaya berkata jujur, tiba-tiba terdengar suara cempreng Yuni dari kamar nya.


"BANG! Yuni kangen banget sama abang." pekik Yuni sembari berlari kecil mendekati Darma.


Yuni memeluk tubuh Darma dan duduk langsung di pangkuan nya, tanpa memperdulikan Dina yang sedang duduk di sebelah mereka.


"Sama, sayang. Abang juga kangen banget dengan mu. Kita ke kamar, yok! Abang pengen ehem-ehem sama mu." bisik Darma pelan, tapi masih bisa di dengar oleh telinga Dina.


Mendengar bisikan gaib Darma kepada Yuni, Dina pun langsung tersulut emosi. Dia menendang meja kayu yang ada di depan nya, dengan sekuat tenaga.


Hingga membuat barang-barang yang ada di atas nya pun jatuh, dan berserakan di lantai keramik putih tersebut.


Darma dan Yuni yang tadi nya sedang asyik bermesraan pun, langsung terlonjak kaget akibat perbuatan Dina.


"Kau ini apa-apaan sih, Din? Bikin kaget orang aja." omel Darma sembari menautkan kedua alisnya.


"Kalian berdua yang apa-apaan?" bentak Dina penuh emosi.


"Maksud mu apa sih, aku gak ngerti? Ngomong itu yang jelas, jangan bertele-tele kayak gitu. Bikin bingung orang aja." balas Darma dengan nada tinggi.


Wajah Dina langsung memerah karena menahan emosi. Dia tidak terima jika Darma dan Yuni bermesraan di depan mata nya.


"Kalian berdua ini punya otak gak sih? Bisa-bisanya kalian bermesraan seperti itu di depan ku. Apa kalian gak mikir, gimana perasaan ku, HAH?" bentak Dina dengan suara menggelegar.

__ADS_1


__ADS_2