
"Hufff, semoga kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku, bang!"
Aku bergumam menatap kepergian Rendi. Sedang asyik mengkhayal, tiba-tiba bang Agus datang dan mengagetkan ku.
"Duaarr,"
"Eh copot eh copot."
"Hahaha."
Bang Agus langsung tertawa terpingkal-pingkal, saat melihat ku melatah karena terkejut akibat perbuatannya jahil nya.
"Emang dasar, setaaan!" pekik ku kuat.
"Hah, setan? Dimana setan nya, say? Kasih tau sama abang dimana setan nya?" tanya bang Agus kebingungan.
"Ini orang gak sadar atau gimana sih? Lah wong setan nya dia sendiri, kok malah bingung nyari setan nya dimana, hadeh!" gerutu ku dalam hati.
"Setan nya ada di depan mata ku, bang. Yang kepala nya botak licin persis seperti tuyul." jawab ku asal.
"Berarti abang lah itu, say!" jawab bang Agus.
"Naaah, tu tau. Baru sadar ya, hihihi." jawab ku sambil cekikikan.
"Hahaha, ada-ada aja lah sayang ku ini." balas bang Agus.
Bang Agus kembali tertawa setelah mendengar ocehan receh ku . Aku hanya tersenyum miring melihat wajah kocak nya.
"Udah, gak usah haha hihi terus! Abang mau ngapain kesini?" tanya ku.
"Ya karena ingin menemui kekasih hati lah, say." jawab bang Agus.
"Emang nya kekasih hati abang itu siapa?" tanya ku.
Aku berpura-pura memasang wajah bingung, sambil mengerutkan kening menatap wajah bang Agus.
"Ya dirimu lah, say. Emang nya siapa lagi kalau bukan dirimu seorang?" jawab bang Agus.
"Entah," jawab ku cuek.
Aku mengendik kan bahu dan melipat kedua tangan ku di perut. Melihat reaksi ku yang cuek, bang Agus pun mengganti topik pembicaraan nya.
"Mantan mu tadi datang lagi ya, say?" tanya bang Agus.
"Waduh, si botak tuyul ini kok bisa tau sih. Kalau sampe dia melihat aku dan Rendi tadi berpelukan, bisa runyam urusan nya!" batin ku cemas.
"I-iya, bang. Tadi Rendi memang singgah kesini, tapi cuma sebentar aja kok dia disini!" jawab ku sedikit gugup
Aku terpaksa berbohong kepada bang Agus demi keamanan dan kedamaian. Kalau aku berkata jujur, bisa perang dunia nanti nya antara bang Agus dan Rendi. Jadi tambah ribet urusan nya.
__ADS_1
Aku terdiam sejenak, aku sedang menghayal kan mereka berdua. Tidak bisa di bayang kan bagaimana nanti nya reaksi bang Agus, jika dia tahu maksud Rendi yang sebenarnya datang kesini.
"Say, kok malah melamun, sih."
Aku langsung terkejut ketika mendengar pekikan bang Agus. Saking terkejutnya, aku sampai melatah dan tidak sengaja menyebut nama Rendi.
"eh Rendi eh Rendi, ups!"
Aku langsung reflek menutup mulut dengan kedua tangan ku. Mata bang Agus langsung membulat sempurna setelah mendengar latah ku barusan.
"Aduh, mampus aku. Bisa gawat kalau begini ceritanya. Ini mulut kenapa sih pake acara melatah segala." gerutu dalam hati.
"Ketahuan sekarang ya." sindir bang Agus.
"Ternyata kekasih ku ini lagi memikirkan lelaki lain. Pantesan aja melamun terus dari tadi!" tambah bang Agus lagi.
Bang Agus mengoceh panjang lebar gara-gara mendengar aku melatah tadi.
"Ma-mana a-ada sih, bang. Abang salah dengar kali?"
Aku gugup dan terbata menjawab sindiran pedas dari bang Agus. Aku menundukkan kepala dan memilin-milin ujung baju ku sendiri.
"Itu muka kok horor banget sih, jadi serem aku lihat nya." batin ku semakin gelisah.
Aku melirik sedikit pada bang Agus. Ternyata dia masih saja setia dengan wajah horor nya.
"Kenapa, say? Muka nya kok kayak lagi ketakutan gitu?" tanya bang Agus.
"Gak lah, siapa yang ketakutan?" jawab ku.
"Mungkin cuma perasaan abang aja tu. Wajah ku kan memang seperti ini dari dulu, cantik imut dan menggemaskan." jawab ku.
Aku berucap sambil memasang wajah seimut mungkin di depan bang Agus. Dan itu berhasil membuat nya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, aneh-aneh aja tingkah nya wanita ku ini." balas bang Agus sambil melangkah mendekati ku.
"Eits, jangan dekat-dekat!" ujar ku.
Aku merentang telapak tangan tepat di depan wajah bang Agus. Bukan nya berhenti, bang Agus malah semakin menjadi-jadi.
Bang Agus menciumi telapak tangan ku, dan menarik tubuh ku ke dalam pelukan nya. Dia mulai mengecup kening pipi dan yang terakhir bibir ku.
Aku langsung berontak ingin melepaskan diri dari pelukan nya.
"Lepasin, bang! Kalo ada orang yang lihat kita sedang begini, bisa gawat urusan nya." omel ku.
"Biarin aja lah, say. Memang itu lah yang abang mau. Biar abang bisa cepat menikahi mu." jawab bang Agus dengan santai nya.
"Dasar, botak gilak. Jangan cari-cari masalah terus kenapa sih, bang."
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga aku pun terus berusaha, untuk melepaskan pelukan bang Agus yang semakin erat di tubuh ku.
Hingga akhirnya aku pun menginjak kaki bang Agus dengan kuat, dan dia pun langsung menjerit sambil melompat-lompat dengan satu kaki nya. Persis seperti hantu yang di ikat kepala nya.
"Adoooh, sakit banget, say!" jerit bang Agus.
"Sokor! Maka nya jangan bandel jadi orang. Kena imbas nya sekarang kan, hihihi." balas ku sembari cekikikan.
"Memang benar-benar sadis dirimu, say. Setiap kali jumpa pasti abang di aniaya terus." oceh bang Agus.
Bang Agus masih terus meringis kesakitan, sambil memegangi kaki nya akibat ulah ku tadi.
"Maka nya kalo di bilangin itu harus nurut, botaaak! Jangan ngelawan terus jadi orang." balas ku santai tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Udah, pulang sana! Aku lagi sibuk nih, ganggu aja kerjaan nya."
"Huh, kebiasaan. Udah siap di aniaya, pasti ujung-ujungnya langsung di usir." gerutu bang Agus kesal.
"Gak usah pake acara ngedumel segala lah, botak. Udah cepetan balek sana!" usir ku lagi.
"Iya, sayang. Tapi abang di cium..."
Aku memotong dengan cepat ucapan bang Agus, dan dia pun langsung memanyunkan bibir nya.
"Lain kali aja cium-cium nya, sekarang abang pulang ya sayang ku, cinta ku, botak tuyul ku." goda ku sembari mengerlingkan sebelah mata ku.
Mendengar ucapan manis ku barusan, wajah bang Agus langsung berbinar cerah. Dia tersenyum selebar mungkin, sehingga menampilkan deretan gigi putih nya.
"Hehehe, udah pintar merayu sekarang ya." balas bang Agus.
"Aku bukan sedang merayu, botaaak. Tapi aku menyuruh pulang!" balas ku ketus.
"Huh, udah di angkat tinggi-tinggi, sekarang malah di jatuh kan." balas bang Agus.
Bang Agus menggerutu kesal karena aku terus saja menyuruh nya untuk pulang ke rumah nya, yang hanya berjarak lima langkah dari rumah ku.
"Ya udah deh kalo gitu, abang balek dulu ya, say. Jangan macam-macam ya di rumah, ingat itu!" ujar bang Agus.
"Iya, hati-hati di jalan ya, bang." balas ku.
Bang Agus mulai melangkah kan kaki nya keluar dari kios ku, dengan yang wajah kusut dan di tekuk lesu.
"Emang nya aku mau macam-macam apa di rumah ini? Aneh-aneh aja tuyul satu itu" batin ku bingung.
"Apa karena kedatangan Rendi tadi ya, maka nya bang Agus berpesan seperti itu pada ku?"
Aku terus saja membatin sambil menatap nanar kepergian bang Agus.
"Huh, baru aja setengah hari membuka kios, udah dapat gangguan dari dua hantu. Gimana kalau sampai sore ya, hantu mana lagi yang akan mengganggu ketenangan ku?"
__ADS_1
Aku bergumam sembari menghela nafas panjang, atas kejadian yang sudah aku alami dalam waktu setengah hari ini.