
Sesampainya di depan gedung hotel, aku memarkir motor di tempat yang sudah tersedia, dan bergegas masuk ke dalam menuju ke kamar tempat ku menginap.
Sampai di depan kamar, aku langsung mengetuk pintu berulang-ulang tanpa mengeluarkan suara.
Tok tok tok...
Tak lama kemudian pintu pun terbuka lebar, dan nampak lah wajah bantal bang Agus dengan handuk yang melilit di pinggang.
"Loh, kok cepat kali, say? Emang udah siap ngecek kios nya?" tanya bang Agus heran.
"Aku gak jadi ngecek." jawab ku.
Aku nyelonong masuk melewati bang Agus dan duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok.
Setelah mengunci pintu kembali, bang Agus pun ikut duduk di samping ku. Dia menatap wajah masam ku dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Kalo gak jadi ngecek, trus tadi pergi kemana?" tanya bang Agus penasaran.
"Ya pulang rumah." jawab ku.
"Lah, tadi kata nya gak jadi ngecek. Maksud nya gimana sih, kok abang jadi bingung sendiri ya mikirin nya?"
Balas bang Agus sambil menggaruk-garuk kepala botak nya. Bang Agus tampak kebingungan dan tidak mengerti dengan jawaban ku.
Melihat ekspresi wajah bang Agus yang sedang berpikir keras, aku pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana jeans ku dan mengotak-atik nya.
Setelah itu, aku menyerahkan ponsel itu ke tangan bang Agus. Aku memperlihatkan video adegan ranjang bang Darma dan Yuni, yang berhasil aku rekam saat di rumah tadi.
"Itu lah hasil yang aku dapat kan waktu pulang kerumah nya tadi." ujar ku.
Aku kembali menghisap rokok dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan. Bang Agus tampak sangat terkejut dengan mata yang terbelalak, saat melihat video yang ada di ponsel ku.
"Ini beneran suami mu sama anak nya, say?" tanya bang Agus seakan-akan tidak percaya dengan penglihatan nya.
"Ya," jawab ku dingin.
"Ja-jadi waktu dirimu pulang tadi, mereka lagi main ya?" tanya bang Agus ragu.
"Ya," jawab ku.
"Astaga, kok bisa-bisanya dia melakukan hal yang menjijikkan seperti itu dengan anak nya sendiri!"
Ujar bang Agus sambil terus melihat video itu di ponsel ku, yang berdurasi sekitar lima belas menitan.
"Entah lah, aku juga gak habis pikir dengan isi kepala mereka berdua." jawab ku.
"Masa anak sendiri pun di embat, kayak gak ada perempuan lain aja." oceh bang Agus geram.
__ADS_1
"Mungkin punya Dina udah gak enak lagi, maka nya dia beralih ke anak nya." jawab ku asal.
"Hhmmm, bisa jadi sih." balas bang Agus
"Tapi ya, gak boleh gitu juga lah. Serakus-rakus nya laki-laki bajing*n, tapi ya jangan sampe merusak anak sendiri lah" lanjut bang Agus.
Aku tidak lagi menjawab ucapan-ucapan bang Agus. Aku kembali mengingat kejadian yang sangat menyakitkan, yang aku lihat dengan mata kepala ku sendiri tadi.
"Sebej*t itu kah dirimu, bang." jerit ku dalam hati sambil meneteskan air mata.
Hati ku terasa sangat perih, saat mengingat perbuatan yang sudah di lakukan oleh bang Darma suamiku.
"Ya Allah, sesakit ini kah rasa nya jika melihat perbuatan nya secara langsung." batin ku sambil terus menetes kan air mata dengan pandangan kosong.
Bang Agus yang sedari tadi masih fokus melihat ponsel ku, tiba-tiba langsung tersadar dan menoleh pada ku.
Dia berdiri di depan ku, lalu memeluk tubuh ku yang dalam keadaan duduk di tepi ranjang.
"Udah, jangan sedih lagi, say! Abang tau hati mu pasti sakit karena melihat sendiri perbuatan gila mereka." tutur bang Agus.
"Tapi walaupun begitu, kau juga gak boleh lemah. Kau harus tetap kuat dan tegar, seperti hari-hari sebelumnya." lanjut bang Agus.
Mendengar penuturan bang Agus, tangis ku pun langsung pecah seketika. Aku memeluk erat pinggang bang Agus dan menempelkan wajah ku di perut nya.
"Udah dong, sayang. Jangan nangis lagi, abang paling gak suka lihat air mata mu netes terus kayak gitu." ujar bang Agus sembari membelai rambut ku.
Setelah itu bang Agus berjongkok di depan ku, dan menyunggingkan senyum manis nya pada ku sambil berkata...
"Wanita tangguh gak boleh cengeng. Wanita tangguh itu harus tetap kuat, dalam mengahadapi masalah apa pun dalam hidup nya." tutur bang Agus.
"Ya, mudah-mudahan aja aku sanggup mengahadapi kegilaan mereka semua." jawab ku dengan suara serak.
"Nah, gitu dong! Kau gak usah takut menghadapi mereka, say. Abang akan selalu ada di belakang mu." balas bang Agus.
"Abang akan terus memantau dan menjagamu dari jarak jauh." tambah bang Agus.
"Iya, makasih ya, bang. Makasih atas support dan dukungan nya." ujar ku sembari tersenyum kecut pada bang Agus.
"Ya, sama-sama, say." balas bang Agus.
Setelah suasana haru berakhir, aku dan bang Agus pun mulai merebahkan diri di atas ranjang dan masuk ke dalam selimut tebal.
Bang Agus memeluk separuh tubuh ku dan kembali membuka percakapan.
"Kira-kira mamak nya tau gak ya, kalau anak nya di gituin sama bapak nya sendiri?" tanya bang Agus.
"Entah, aku rasa sih gak tau." jawab ku.
__ADS_1
"Ck ck ck, memang betul-betul udah gila suami mu itu ya. Tega-teganya dia merusak masa depan anak kandung nya sendiri." ujar bang Agus.
"Tapi aku rasa itu bukan kemauan suamiku aja, bang. Tapi kemauan anak nya juga." balas ku.
"Loh, kok gitu? Emang nya dirimu tau dari mana?" tanya bang Agus bingung.
"Karena tadi aku perhatiin, yang minta di layani terus itu anak nya bukan suamiku. Kucing kok di tawarin ikan, ya pasti langsung di caplok lah." jawab ku.
"Ya abang tau sendiri lah, nama nya juga laki-laki normal. Mana mungkin dia nolak barang mulus dan masih bersegel, yang udah terpampang jelas di depan mata nya. " lanjut ku.
"Iya, ada bener nya juga sih yang kau bilang itu, say." balas bang Agus membenarkan ucapan ku.
Aku dan bang Agus terdiam sejenak, kami sibuk dengan pikiran dan khayalan masing-masing. Selang beberapa menit, bang Agus pun kembali melontarkan pertanyaan nya.
"Kira-kira gimana ya reaksi mamak nya, kalau dia tau perbuatan anak nya seperti itu?" tanya bang Agus sambil mengelus-elus kepala ku.
"Palingan bentrok, cakar-cakaran, trus kena usir dari rumah mamak nya." jawab ku asal.
"Lagian kan itu memang kesalahan anak nya. Kegatalan sih boleh-boleh aja, tapi ya lihat-lihat orang nya juga lah." ujar ku kesal.
"Masa bapak nya sendiri di rayu-rayu, trus di paksa melayani hasrat nya. Kan anak gila nama nya tuh!" umpat ku semakin kesal dan geram.
Bang Agus langsung tertawa ngakak setelah mendengar ocehan-ocehan ku barusan.
"Hahahaha, itu nama nya bukan gila lagi, say. Tapi udah sinting, menggatal sama bapak sendiri." gelak bang Agus.
"Mungkin dia udah gak laku lagi sama laki-laki lain, bang. Makanya bapak nya sendiri pun di embat nya juga. Dari pada pake terong atau timun, kan mendingan pake punya bapak nya." tutur ku.
"Bisa juga sih, say. Hahaha," balas bang Agus kembali tertawa terbahak-bahak.
Bang Agus terus saja mentertawai perbuatan bang Darma dan Yuni. Dia juga sepemikiran dengan ku, yang heran sekaligus geram melihat perbuatan dua manusia luknut tersebut.
"Hadehh, capek juga ternyata ketawa terus kayak tadi." ujar bang Agus.
"Lagian siapa juga yang nyuruh abang ketawa-ketawa gitu, aneh!" oceh ku.
"Gimana abang gak ketawa coba? Kalau lihat tingkah gila suami mu dan anak tiri mu seperti itu." balas bang Agus.
"Iya, juga sih. Siapa pun orang nya pasti akan ketawa dan geram, kalau tau perbuatan mereka berdua." ujar ku membenarkan ucapan bang Agus.
"Tu lah, maka nya abang ketawa terus dari tadi. Abang jadi geli kalo ingat video mereka tadi." lanjut bang Agus.
"Udah ah, gak usah ketawa terus! Mending kita bobok aja, mata ku udah mulai ngantuk nih, hoamm." ujar ku sembari menguap lebar.
"Oke oke, kita bobok ya."
Balas bang Agus sambil mengecup kening ku, dan membawa ku ke dalam pelukan hangat nya. Kami berdua pun mulai memejamkan mata perlahan.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, akhirnya aku dan bang Agus pun tertidur lelap dan mulai masuk ke alam mimpi masing-masing