SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Menguping


__ADS_3

"Ngapain di cariin sih, pak? Biarin aja lah, malah lebih baik dia gak usah pulang-pulang lagi ke rumah ini." ujar Yuni kepada bang Darma.


"Ya gak bisa gitu lah, Yun! Dia itu istri bapak, kalau gak ada dia, siapa yang ngurusin bapak di rumah ini?" jawab bang Darma sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Bapak kan bisa balikan sama mamak, kenapa bapak mesti bingung?" ujar Yuni.


"Udah lah, Yun! Gak usah di bahas lagi masalah itu. Capek bapak ngurusin urusan itu-itu terus." jawab bang Darma ketus.


Mendengar jawaban bang Darma, Yuni langsung terdiam. Sedangkan aku, masih menguping pembicaraan mereka berdua, di bawah kolong ranjang. Setelah beberapa saat suasana hening, Yuni pun kembali bersuara.


"Jadi gimana, pak? Udah nya udah dapat belum?" tanya Yuni.


"Bapak cuma dapat pinjaman dua juta aja, sekurangnya kau cari sendiri lah!" ujar bang Darma.


Bang Darma mengeluarkan uang dari saku celana nya, lalu menyerahkan nya kepada Yuni.


"Loh, kok cuma dua juta aja sih, pak? Yuni kan minta nya lima juta, bukan dua juta. Kalau uang nya cuma segini, mana cukup buat beli motor Yuni, pak!" protes Yuni.


"Bapak udah keliling-keliling cari pinjaman, Yun. Dapat nya cuma segitu aja, mau gimana lagi coba? Hargai dikit kenapa sih!" gerutu bang Darma mulai kesal.


"Iya maaf, pak. Tapi kan bapak udah janji, mau ngasi lima juta sama Yuni. Kenapa sekarang cuma dua aja?" balas Yuni.


"Ya, habis mau gimana lagi? Kan tadi udah bapak bilang, bapak udah capek keliling-keliling cari pinjaman. Kau ini kok gak ngerti-ngerti juga sih! Bebal kali jadi anak." bentak bang Darma pada anak semata wayangnya.


Bang Darma terdengar semakin kesal dengan Yuni. Anak kesayangan nya itu, sama sekali tidak bisa menghargai hasil jerih payahnya untuk mendapatkan uang itu.


"Kok bapak malah bentak-bentak Yuni sih, bapak udah gak sayang lagi ya sama Yuni? Bapak lebih sayang sama istri bapak itu, dari pada sama anak sendiri." ujar Yuni dengan mata yang berembun.


"Bukan begitu, Yun! Kau itu kan sudah dewasa, seharusnya kau bisa ngerti dikit lah, tentang keadaan bapak sekarang." jelas bang Darma.


Mendengar ocehan-ocehan Yuni, membuat ku semakin geram dan benci, dengan sifat keras kepala nya itu.

__ADS_1


"Dasar anak gak tau di untung!"


Umpat ku dalam hati, sambil terus berdiam diri di tempat persembunyian ku.


"Aduuuuh, kok banyak banget sih nyamuk nya disini." gerutu ku sambil menggaruk-garuk kaki dan tangan, yang sedari tadi di gigitin nyamuk.


"Istri bapak kan banyak uang, kenapa bapak gak ambil aja semua uang nya itu?" tanya Yuni.


"Dia itu udah gak ada uang lagi. Semua uang nya udah habis, untuk di kirimkan ke orang tua nya." bohong bang Darma.


"Kalo uang nya udah habis, emas nya kan masih ada. Kenapa gak bapak minta aja semua emas-emas nya itu?" tanya Yuni lagi.


"Stop, Yun! Jangan kau ungkit-ungkit tentang perhiasan dia lagi! Itu hak dia, kita gak boleh mengganggu, apa yang sudah menjadi hak milik nya, paham!" tegas bang Darma.


"Tapi kan, yang seharusnya lebih berhak itu Yuni, pak. Dia itu kan cuma orang lain, sedangkan Yuni anak kandung bapak." jawab Yuni ngeyel.


"Udah udah, bapak bosan dengar omongan mu itu! Makin lama kok makin ngelantur aja. Kalau kau gak mau uang itu, sini kembalikan lagi sama bapak!"


"Sukurin, bocah tengik! Jadi anak kok gak tau diri banget." umpat ku pelan.


"Loh, bapak kok jahat banget sih sama Yuni. Masa uang ini di minta lagi?" pekik Yuni dengan suara melengking.


"Maka nya jangan kebanyakan ngeluh jadi orang! Seharusnya kau itu bersyukur, bapak bisa dapat kan uang itu." balas bang Darma ketus.


"Pulang sana, bapak mau istirahat dulu! Badan bapak capek-capek semua nih, gara-gara nyariin uang untuk mu itu." ujar bang Darma.


"Ya udah lah kalo gitu, dari pada gak ada sama sekali. Segini pun gak papa lah, lumayan bisa buat shoping sama mamak."


Yuni bergumam dan langsung mengantongi uang itu ke dalam saku celana nya. Kemudian, dia berdiri dari tempat duduk nya, dan menyalami tangan bang Darma.


"Yuni pulang ya, pak!" pamit Yuni sambil melangkah keluar pintu.

__ADS_1


"Iya," jawab bang Darma dingin.


Setelah Yuni pergi, bang Darma menutup pintu dan menguncinya. Lalu dia duduk di ruang tamu, sambil memijat-mijat kepala nya sendiri.


Mendengar bang Darma sudah menutup pintu, aku pun langsung keluar dari bawah kolong ranjang. Lalu, aku menghampiri bang Darma, yang tampak sedang asyik dengan lamunan nya.


"Kenapa, bang? Lagi pusing ya?" ledek ku.


Aku tersenyum miring melihat wajah kusut bang Darma. Sedangkan dia, malah terlonjak kaget karena mendengar suara ku, yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar.


"Astaghfirullah, dek! Bikin kaget abang aja."


Bang Darma memekik saking terkejut nya. Dia melihat ku dengan mata yang membulat sempurna. Dan dia juga memandangi ku dari atas sampai bawah, dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Kau dari mana, dek? Kok tiba-tiba bisa nongol dari kamar? Tadi waktu abang cariin di kamar, kok gak ada?" tanya bang Darma heran.


"Masa sih, aku aja dari tadi di kamar terus kok. Mungkin mata abang yang udah mulai rabun, maka nya abang gak nampak aku baring di atas ranjang." jawab ku santai.


"Ah, gak mungkin. Tadi kan udah abang periksa semua. Di kamar, di dapur, bahkan sampai ke kamar mandi. Kosong semua kok." balas bang Darma masih tampak kebingungan.


"Ya udah lah, lupakan aja! Lagian gak penting juga kok. Mau ada atau tidak nya aku disini, tetap gak ada guna nya juga kan, buat abang?" sindir ku.


"Siapa bilang gak ada guna nya? Kehadiran mu itu sangat berarti bagi hidup abang ,dek. Abang sangat membutuhkan mu, untuk terus berada di sisi abang." balas bang Darma dengan wajah memelas.


"Oh, gitu toh. Kirain, udah gak butuh aku lagi." jawab ku ketus.


Aku kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Lalu, duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok. Tak lama kemudian, bang Darma pun datang dan duduk di samping ku.


"Jangan marah lah, dek! Gak usah kau dengar kan omongan Yuni tadi. Yang terpenting sekarang, abang tetap bersama mu." ujar bang Darma.


Dia tampak sedang berusaha meyakinkan ku, agar aku tidak terpengaruh dengan ucapan anak nya tadi.

__ADS_1


"Iya lah," jawab ku cuek.


__ADS_2