
"Bodo amat, emang gue pikirin." balas ku.
"Ck, jahat kali pun jadi orang. Tega kali nyiksa suami sendiri." gerutu bang Darma.
"Biarin," balas ku lagi.
Mendengar jawaban ku yang cuek dan acuh, bang Darma pun semakin mengacak-acak rambut nya sendiri. Dia tampak sangat frustasi karena kelaparan, dan tidak mempunyai uang sama sekali.
Setelah mematikan api rokok di dalam asbak, aku pun beranjak dari sofa dan berjalan masuk ke dalam kamar. Aku merebahkan diri di atas ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
Tak lama kemudian, bang Darma pun menyusul ku ke dalam kamar dan ikut merebahkan dirinya di sebelah ku.
"cepat lah, dek. Minta uang mu seratus ribuuu aja. Perut abang lapar kali nih. Masa gak ada rasa kasian nya dikit pun sama abang sih, dek!" rengek bang Darma.
"Ck, berisik kali pun! Pergi sana, minta makan sama benalu mu itu!" bentak ku kesal.
Aku langsung bangkit dari rebahan dan mendudukkan diri di tepi ranjang. Begitu juga dengan bang Darma, dia juga ikut duduk di samping ku dengan wajah kusut nya.
"Dek, abang ma..."
"Udah ah, jangan berisik terus muncung mu itu! Muak aku dengar nya tau gak!" oceh ku.
Aku memotong ucapan bang Darma dengan cepat. Aku sudah malas mendengar ocehan-ocehan tidak berguna nya itu.
Bang Darma pun langsung terdiam seketika dengan bibir mengerucut. Aku melirik sekilas ke arah suami gila ku itu, lalu beranjak menuju lemari pakaian untuk mengambil tas ransel ku.
Setelah mendapatkan nya, aku mengambil selembar uang pecahan lima puluh ribuan, lalu memberikan nya kepada bang Darma.
"Nah, ini uang nya. Udah pergi sana, bikin semak aja di sini!" omel ku.
Aku menyerahkan uang itu ke tangan bang Darma, lalu aku pun kembali duduk di sebelah nya.
"Loh, kok cuma segini sih, dek?" protes bang Darma dengan kening mengkerut.
"Udah syukur aku mau ngasih. Kalo gak mau ya udah, sini balikin uang nya!" jawab ku.
Aku menatap tajam mata bang Darma. Lalu kemudian, aku pun menadahkan tangan di depan wajah nya.
"Masa udah di kasih, mau di minta lagi sih!" gerutu bang Darma.
"Maka nya gak usah banyak bacot muncung mu itu! Udah untung aku masih mau ngasih." balas ku ketus.
Aku kembali mengoceh dengan kata-kata yang cukup kasar kepada bang Darma. Setelah itu, aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, dan membaringkan tubuh ku ke atas ranjang.
"Ya udah lah, dari pada gak ada sama sekali, segini pun jadi lah." balas bang Darma.
__ADS_1
Sesudah menerima uang pemberian ku, bang Darma pun langsung beranjak dari duduk nya dan berlalu pergi entah kemana.
"Huh, dasar laki-laki gak tau diri!" umpat ku kesal.
Aku membuang nafas kasar melihat kelakuan bang Darma, yang semakin hari semakin menjadi-jadi seperti itu.
"Istirahat bentar ah, biar segar dikit otak ku ini." gumam ku.
Aku kembali meletakkan ponsel di atas meja, lalu memejamkan mata sambil memeluk guling.
Baru saja mulai terlelap, tiba-tiba aku tersentak kaget karena mendengar suara deringan ponsel yang menjerit-jerit di atas meja.
"Aaagghhh, baru aja mau istirahat, udah ada lagi yang ganggu." gerutu ku.
Dengan gerakan malas, aku pun mengambil ponsel dan menempel kan nya di telinga ku, tanpa melihat nama si pemanggil di layar ponsel.
"Ya halo, siapa nih?" tanya ku dengan mata terpejam.
"Halo, mbak Ayu sayang. Apa kabar, mbak?" tanya pak kades.
"Oh, pak kades toh kirain siapa. Alhamdulillah saya sehat, pak. Kabar bapak gimana, sehat-sehat juga kan?" tanya ku balik.
"Iya, kabar saya juga sehat kok, mbak." jawab pak kades.
"Oh, syukur lah kalau gitu. Trus bapak ada perlu apa nelpon saya?" tanya ku lagi.
"Sama, pak. Saya juga kangen dengan tongkat bapak yang besar itu." balas ku.
"Beneran, mbak?" tanya pak kades.
"Iya beneran, pak. Saya terbayang-bayang terus dengan permainan bapak yang sangat luar biasa itu." jawab ku.
Aku sengaja menggoda pak kades, dengan kata-kata yang bisa membuat nya melambung tinggi. Sebab, pak kades juga salah satu sumber keuangan ku saat ini.
Selain memberikan kenikmatan, dia juga memberikan uang yang cukup lumayan pada ku. Maka dari itu, dengan senang hati aku mau melayani nya.
"Aduuuh, baru ngomong gini aja saya udah gak tahan, tongkat saya langsung bangun. Gimana ini, mbak?" rengek pak kades.
"Yes, akhirnya pak kades terpancing juga dengan rayuan maut ku tadi." batin ku girang.
"Gimana apa nya, pak?" tanya ku pura-pura tidak tahu.
Bukan nya menjawab, pak kades malah langsung mengajak ku untuk bersenang-senang ke hotel.
"Saya tunggu di hotel M ya, mbak. Saya udah gak tahan lagi nih, saya ingin memakan mu sekarang juga, sayang." ujar pak kades.
__ADS_1
"Oke, pak. Tunggu lah di sana, saya akan berangkat sekarang!" jawab ku.
"Oke siap, mbak." balas pak kades menutup panggilan nya.
Setelah panggilan berakhir, aku langsung beranjak dari ranjang, dan berjalan ke depan dengan langkah cepat untuk menutup kios. Setelah itu, aku kembali masuk ke dalam kamar dan bersiap-siap untuk bertemu dengan pak kades.
Sesudah berganti pakaian dan berdandan, aku pun langsung berangkat dengan mengendarai motor, menuju hotel yang di sebut kan pak kades tadi.
Sesampainya di tempat tujuan, aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk menghubungi pak kades.
"Halo, pak. Saya udah di parkiran nih, kamar nya nomor berapa, pak?" tanya ku.
"Nomor dua puluh lantai dasar, mbak." jawab pak kades.
"Oke, saya kesana sekarang!" balas ku memutuskan panggilan sepihak.
Setelah memarkirkan motor, aku bergegas masuk ke dalam dan menghampiri resepsionis yang sedang bertugas.
"Permisi, mas. Kamar nomor dua puluh di bagian mana ya?" tanya ku.
"Oh itu, kak. Kamar paling ujung sebelah kiri, pas di samping tangga." jawab si resepsionis sambil menunjuk ke arah lorong bagian kiri.
"Oke makasih ya, mas." balas ku sambil tersenyum.
"Sama-sama, kak." balas nya.
Selesai bertanya, aku pun kembali melangkah untuk mencari kamar nomor dua puluh. Setelah menemukan nya, aku pun langsung mengetuk pintu kamar itu beberapa kali tanpa mengeluarkan suara.
Setelah mendengar suara ketukan, pak kades pun langsung membuka kan pintu dengan senyum yang sumringah.
"Akhirnya kamu datang juga, mbak. Saya udah gak sabar menunggu kehadiran mu, nona cantik." tutur pak kades.
Pak kades menarik tangan ku untuk masuk ke dalam dan mengunci pintu kembali. Aku hanya tersenyum menanggapi penuturan pak kades barusan.
Setelah meletakkan tas di atas meja rias, aku langsung membuka semua pakaian yang melekat di tubuh ku sampai polos tak bersisa.
Lalu kemudian, aku segera naik ke atas ranjang dan berbaring telentang. Aku membuka kedua kaki ku selebar mungkin di depan pak kades.
Dan itu berhasil membuat nya terbengong dengan mulut menganga. Pak kades tampak sangat tergiur melihat posisi ku yang sangat menantang di hadapan nya.
"Mari kita mulai bersenang-senang nya, pak! Saya sudah siap untuk melayani bapak hari ini." goda ku.
"Kita akan saling memberi dan menerima di atas ranjang ini, sayang." tutur ku dengan nafas yang mulai memburu.
Pak kades yang tadi nya terbengong memandangi ku, kini dia kembali tersenyum setelah mendengar rayuan gombal ku.
__ADS_1
"Baik lah, ayo kita lakukan sekarang!" balas pak kades.
"Saya juga sudah tidak tahan lagi ingin menikmati keindahan tubuh mu ini, sayang." lanjut pak kades dengan senyum menyeringai.