SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Dua Lawan Satu (duo lalat ijo)


__ADS_3

Setelah kepergian Yuni, aku kembali menyibukkan diri dengan barang-barang dagangan ku.


"Huh, capek juga ternyata!" gumam ku.


Aku menghela nafas berat, setelah selesai membereskan dan membersihkan barang dagangan ku.


"Ngasoh (istirahat) bentar, ah." gumam ku lagi.


Aku keluar dari kios dan rebahan di atas sofa panjang ruang tamu. Sedang asyik bersantai, tiba-tiba dua lalat ijo pun datang mengganggu istirahat ku.


"Heh, perempuan gila. Keluar kau!" pekik Dina di depan pintu rumah ku.


"Hadehh, ini lalat ijo ngapain lagi sih datang-datang kesini? Ganggu orang aja kerjaan nya!" gerutu ku kesal.


Aku berdiri dari sofa dan menghampiri anak beranak itu di depan pintu.


"Ada apa lagi sih, lalat ijo? Emang nya kau itu gak ada kerjaan lain ya, selain mengganggu rumah tangga orang lain?" sindir ku.


"Apa sebegitu tidak laku nya kah diri mu itu di mata laki-laki lain? Sehingga terus-terusan mengganggu kehidupan mantan suami mu ini?" lanjut ku.


Aku menyindir sambil bersidekap di depan Dina dan Yuni.


"Jangan asal kalau ngomong! kau pikir aku sudi ngemis-ngemis barang yang udah aku buang. Asal kau tau ya perempuan gila, sampah itu cocok nya di buang di tong sampah!" balas Dina sambil menatap sinis pada ku.


"Oh, ya? Berarti pas lah kalau gitu. Kau yang jadi lalat ijo nya ang suka ngerubungi sampah, kotoran, dan bangkai yang ada di tong sampah itu!" balas ku tak mau kalah dari si lalat ijo.


"Enak aja kau bilang aku lalat ijo? Mau minta di robek mulut kotor mu itu ya?" balas Dina


Dina berkacak pinggang dan membusung kan dada nya pada ku. Sedang kan Yuni, dia hanya berdiam diri di belakang Dina sambil menatap sinis pada ku.


"Ck ck ck, anak beranak ini mempunyai sifat jelek yang sama ternyata, Prok prok prok. Salut aku, salut lihat kekompakan kalian berdua." cibir ku.


Aku tersenyum miring sambil bertepuk tangan di hadapan mereka berdua.


"Ya iya lah kompak. Nama nya juga Yuni itu anak ku bukan anak mu. Dan kau gak berhak melakukan apa pun kepada anak ku!" balas Dina.


"Termasuk melarang nya untuk memakai barang milik bapak nya!" balas Dina lantang.


"Oh, jadi itu masalah nya? Suka-suka aku dong, mau aku larang kek, mau aku kasi kek. Itu hak ku, karena aku istrinya. Aku berhak mengatur apa pun yang ada di rumah ini. Termasuk barang- barang yang ada disini." tambah ku lagi.

__ADS_1


"Hello...Ngaca dong, ngaca! sadar diri dikit kenapa sih jadi orang. Kau itu cuma mantan, ingat ya baik-baik di otak mu yang udah korslet itu. CU-MA MAN-TAN. Buka kuping mu lebar-lebar biar bisa dengar omongan ku itu!" balas ku sinis.


"Memang dasar perempuan gila. Pantesan aja si Yuni benci nya setengah mati dengan mu. Sifat mu aja udah kayak ibl*s gitu, hiiiiii." sindir Dina sambil bergidik ngeri.


Mendengar kata-kata Dina, aku pun langsung tertawa terbahak-bahak di depan mereka berdua.


"Baru tau ya, hahaha. Dasar anak mu aja yang gak tau diri, di baikin kok malah ngelunjak. Lagian ya, gak ada rugi nya juga kok buat ku kalau anak mu itu benci dengan ku." balas ku.


"Malahan tambah bagus, jadi aku gak perlu repot-repot lagi beliin ini itu lagi untuk dia. Gak perlu keluar uang lebih lagi, buat ngasi uang jajan dan uang tet*k-bengek nya." ucap ku dengan santai.


"Berani kau ngatain anak ku gak tau diri! Kayak nya mulut mu harus di kasi pelajaran dulu ya biar bisa diam!" pekik Dina.


Dina pun mulai geram mendengar ocehan ku, lalu dia melayangkan telapak tangan nya ingin menamp*r pipi imut ku.


Dengan gerakan cepat, aku langsung menangkap pergelangan tangan nya dan mencengkram nya dengan sangat erat. Sampai-sampai dia meringis kesakitan akibat cengkraman tangan ku.


"Hahaha, kapok." ujar ku girang karena melihat muka jelek nya yang sedang meringis di hadapan ku.


"Wow, jangan coba-coba kau berani menyentuh ku perempuan gak tau diri! Kalau sampai kau berani menyentuh kulit sedikit aja, maka jangan salah aku jika aku patah kan tangan mu ini, cam kan itu baik-baik!"


Aku mengancam Dina dan menghempaskan tangan nya dengan kasar.


"Jangan macam-macam sama mamak ku ya, buk? Kalau ibuk berani menyakiti mamak ku, maka ibuk akan berhadapan dengan ku!" ujar Yuni.


Yuni mengancam ku sambil berkacak pinggang di hadapan ku.


"Eh, Yuni. Mata mu itu buta atau katarak, hah? Apa kau gak lihat siapa yang mulai duluan?" balas ku tak sinis.


Aku pun juga berkacak pinggang di hadapan Yuni.


"Maka nya kalau ngomong itu yang sopan, biar mamak ku gak emosi dengar nya. Lagian dari tadi ibuk ngomong nya kasar terus sama mamak ku. Ya wajar lah dia jadi emosi." balas Yuni.


Yuni memberikan pembelaan kepada ibu nya. Dia sangat tidak terima atas perbuatan ku kepada Dina.


"Whaaaattt? Apa aku gak salah dengar? Apa kata mu tadi? Ngomong yang sopan? Hahaha, Yuni...Yuni..."


"Rupa nya cuma badan mu aja ya yang besar, ternyata otak mu kosong melompong." cibir ku.


Aku kembali mencibir Yuni dengan kata-kata yang cukup pedas dan nyelekit di hati nya.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Awas kau ya ibu tiri yang gak tau diri. Aku akan bilang pada bapak ku, kalau kau udah berbuat kasar dengan ku. Biar kau langsung di ceraikan oleh bapak ku." ancam Yuni geram.


"Hiiii, takut! Hahaha, dasar tukang ngadu domba. Silahkan aja ngadu sama bapak mu itu. Aku sama sekali gak takut tuh dengan ancaman receh mu itu." balas ku santai.


"Anak kecil kok sok-sokan ngancam pulak! Hahaha." Balas ku sambil tertawa terbahak-bahak.


"Lagian kalian berdua itu ya, muka sama hati kok bisa sama sih jelek nya, heran aku?" tambah ku lagi.


Mendengar jawaban ku, mereka berdua semakin emosi dengan wajah yang sudah memerah, seperti tomat busuk yang terlindas truk.


"Dasar perempuan luknut, kau..."


Dina ingin melanjutkan ucapannya itu, tapi langsung aku potong dengan meletakkan jari telunjuk ku di bibir nya. Dan dia langsung menepis jari ku dengan kasar dari bibir nya.


"Sssttt, udah ya para lalat ijo yang terhormat, aku mau istirahat dulu. Jangan ganggu aku lagi, hus hus pergi sana!" ujar ku.


Usir ku pada anak beranak itu sambil mengayun-ayunkan tangan ku ke luar pintu.


"Awas kau perempuan gila. Aku akan balas semua hinaan mu ini, cuih." bentak Dina.


Dina mengancam ku sambil meludah ke bawah kaki nya sendiri.


"Ya ya ya, aku akan tunggu kok. Tenang aja, aku gak bakalan lari kok dari sini." jawab ku masih tetap santai sambil bersidekap dan menyender di pintu.


"Ayok kita pulang aja, Yun! Gatel badan mamak kalau lama-lama disini." sindir Dina.


Dina menarik paksa tangan Yuni, untuk menuju motor mereka berdua yang sedang terparkir tepat di depan kios ku.


"Ya iya lah gatel, lah wong badan mu aja isi nya koreng semua, hahaha." cibir ku kembali tertawa terbahak-bahak.


"Awas, kau!" ujar Dina.


Dina mengancam ku sambil mengepalkan tangan nya. Lalu dia mengarahkan kepalan tangan nya yang tidak seberapa itu kepada ku.


"Bye bye, hati-hati di jalan ya para lalat ijo. Nanti jangan lupa kesini lagi ya, biar kita bisa perang lagi yang lebih seru dari yang tadi." ujar ku.


Aku meledek sambil tersenyum lalu melambaikan tangan kepada mereka berdua, yang sudah mulai melajukan kendaraan roda dua nya.


"Fiuh, capek juga ternyata berperang melawan duo lalat ijo itu." gumam ku kembali rebahan di atas sofa.

__ADS_1


__ADS_2