SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Mencurigakan


__ADS_3

Bang Darma terus saja mendekati ku dengan senyum yang menyeringai. Tatapan mata nya tampak sangat menakutkan, seperti singa yang hendak menerkam mangsa nya.


Aku mulai mundur selangkah demi selangkah, untuk menghindari bang Darma yang semakin lama semakin dekat dengan ku.


"Sebenar nya kau itu mau ngapain sih, baaang? Ganggu kerjaan ku aja." omel ku kesal.


"Abang masih kangen dengan mu, dek. Abang ingin memakan mu lagi, sayang." jawab bang Darma.


"Malas lah, ah. Badan ku masih capek banget nih, gara-gara ulah mu tadi. Minta jatah sama Dina aja sana!" balas ku.


"Gak mau, abang mau nya sama mu aja, dek. Ayo lah, sayang! Bentar aja kok, paling cuma setengah jam aja." rengek bang Darma.


"Kalo aku bilang enggak, ya enggak. Pekak kuping mu ya!" cibir ku.


"Ck, pelit kali pun jadi orang. Masa minta jatah sebentar aja gak di kasi sih. Dosa loh, dek. Kalau kau nolak kebutuhan batin abang!"


Bang Darma berdecak kesal, karena mendapat kan penolakan dari ku. Dia memboyong tubuh ku, hingga punggung ku menempel di dinding kios.


Kemudian, bang Darma memegangi kedua tangan ku ke atas, dan mulai menciumi wajah ku dengan kasar. Aku berusaha menghindari perbuatan nya, dan terus memalingkan wajah ku ke kanan dan ke kiri.


Karena tidak bisa menciumi wajah ku, akhir nya bang Darma menurunkan ciuman nya ke leher dan dada ku. Sedang asyik bermain dengan tubuh ku, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang menggelegar dari depan pintu kios.


"Apa yang sedang bapak lakukan sama dia, PAK?" pekik Yuni.


Setelah mendengar suara cempreng anak nya, bang Darma langsung reflek menoleh, dan menghentikan perbuatan nya pada ku. Bang Darma segera melepaskan kedua tangan ku, yang sedari tadi di cengkram nya dengan kuat.


"Alhamdulillah, akhirnya lepas juga." gumam ku.


Aku melirik ke arah Yuni, sambil memegangi pergelangan tangan ku yang terasa sedikit sakit, akibat cengkraman bang Darma.


"Ada perlu apa datang kesini?" tanya bang Darma kepada anak nya.


"Loh, kok nanya nya gitu sih, pak? Aku kan anak kandung bapak, jadi aku bebas ke rumah ini kapan saja. Seharusnya, pertanyaan itu bapak tanya kan sama dia. Kenapa dia balik lagi kesini?"


Yuni memprotes pertanyaan bang Darma, sambil menunjuk ke arah ku dengan tatapan sinis nya.


"Jangan campuri urusan bapak, Yun. Lebih baik sekarang kau pulang!" jawab bang Darma.

__ADS_1


"Bapak kok jadi berubah gini, sih? Kenapa bapak tega mengusir ku? Apa bapak sudah di guna-guna sama dia?" tanya Yuni dengan wajah kesal nya.


Yuni kembali menunjuk pada ku, dan dia juga menuduh ku telah menguna-guna bang Darma.


Aku yang sedari tadi hanya diam, kini melipat kedua tangan di atas perut. Kemudian aku tersenyum miring, menanggapi ocehan bocah tengik, yang sedang berkacak pinggang di depan bang Darma.


"Ngapain aku harus repot-repot, pake acara guna-guna segala? Tidak pakai yang begituan pun, bapak mu udah nempel sama aku kok." jawab ku santai.


"Gak usah sok suci jadi orang. Kau pasti pakai pelet kan, buat menunduk kan hati bapak ku. Biar bapak ku selalu menurut, dan mematuhi semua perintah mu!" cibir Yuni.


"Hahaha, asal kau tau ya bocah tengik. Sejahat dan senakal apa pun perbuatan ku, aku tidak akan melakukan hal syirik seperti itu." balas ku.


Aku melangkah maju ke depan Yuni, lalu mencondongkan tubuh ku ke hadapan nya.


"Karena apa? Karena aku masih ingat dengan Tuhan ku, ingat itu!" tambah ku lagi.


"Helehh, ngeles aja tau nya!" cibir Yuni sambil mengerucutkan bibir nya.


"Atau jangan-jangan, yang pakai begituan itu kau!" ujar ku.


"Ja-jangan se-sembarangan kalo ngomong! Mana mungkin aku pakai yang begituan. Lagian buat apa, aku harus pakai pelet segala." jawab Yuni.


Anak bang Darma itu tampak gugup dan gelisah. Saking gugup nya, dia sampai terbata-bata menjawab omongan ku tadi.


"Apa jangan-jangan bener ya, bang Darma kena guna-guna oleh mereka? Maka nya bang Darma bisa tunduk dan patuh, dengan mereka berdua." batin ku menduga-duga.


Aku memandangi Yuni dari atas sampai bawah, dengan tatapan mata yang mencurigakan. Yuni langsung membulat kan mata nya pada ku, dia tidak suka dengan cara ku memandangi nya.


"Ngapain kau tengok-tengok aku kayak gitu, hah? Aku dari dulu memang sudah cantik, jadi kau gak usah iri dengan kecantikan ku ini." ujar Yuni dengan kepedean tingkat tinggi.


"Idih, pede banget nih bocah gendeng." cibir ku.


Bang Darma hanya berdiam diri, melihat perdebatan ku dengan anak nya, persis seperti patung manekin yang ada di toko-toko. Sedari tadi, dia hanya plonga-plongo menatap Yuni dan aku secara bergantian.


"Pak, dari tadi kok diem aja sih? Belain Yuni lah, pak! Masa bapak gak marah sih, anak nya di kata-katain kayak gitu."


Yuni mengadu kepada bang Darma, sambil bergelayut manja di lengan bapak nya. Mendengar rengekan anak nya, bang Darma langsung menoleh pada ku. Dia menatap sinis dengan ku.

__ADS_1


Dan dia juga mengeratkan kedua tangan nya. Bang Darma tampak sangat geram kepada ku, karena terpengaruh oleh ucapan Yuni barusan.


"Tatapan mata bang Darma kok beda ya? Seperti bukan diri nya, baru kali ini aku melihat tatapan aneh dari mata bang Darma." batin ku heran.


"Wah, kayak nya ada yang gak beres, nih. Seperti nya aku harus cepat-cepat, membawa bang Darma untuk menemui seorang ustadz. Biar bang Darma bisa di rukiyah di sana." gumam ku dalam hati.


Aku memperhatikan dalam-dalam, pandangan mata bang Darma yang tampak kosong. Yuni yang sadar dengan gelagat ku, dengan cepat dia mengalihkan pembicaraan, agar aku berhenti memperhatikan bang Darma.


"Ya udah deh, pak. Yuni balek dulu ya. Masih ada urusan yang lebih penting, dari pada ngurusin perempuan gila satu ini." cibir Yuni.


"Iya, sayang. Kau mau naik apa balek nya, Yun?"


Bang Darma bertanya, sambil mengelus-elus kepala anak nya, yang sedari tadi masih menempel di bahu kanan nya.


"Mau naik ojek pangkalan aja, pak. Minta uang nya dong, pak! Buat bayar ongkos ojek nya nanti."


Yuni mulai mengangkat kepala nya, lalu menengadah kan tangan nya di depan wajah bang Darma. Tanpa menjawab apa pun, bang Darma langsung mengambil dompet dari saku celana nya.


Kemudian, bang Darma mengeluarkan tiga lembar uang merah, dan menyerahkan nya ke tangan Yuni. Mata Yuni langsung berbinar cerah, melihat uang yang di berikan oleh bang Darma.


Yuni juga menyunggingkan senyum semanis mungkin kepada bapak nya. Bang Darma pun membalas senyuman anak nya sambil mengecup kening nya.


"Ya udah, balek sana! Nanti mamak mu kecarian pulak." ujar bang Darma.


"Iya, pak. Yuni pulang dulu ya, pak!" pamit Yuni sambil mencium punggung tangan bang Darma takzim.


Kemudian, Yuni mulai melangkah kan kaki nya keluar dari kios ku. Dia berjalan menuju pangkalan ojek, yang berada tidak jauh dari rumah kami.


Setelah kepergian Yuni, bang Darma pun kembali mendekati ku. Dia mengulangi perbuatannya yang tertunda tadi, akibat kedatangan anak nya.


"Kita ke kamar bentar yok, dek!" ajak bang Darma.


"Mau ngapain ke kamar?" tanya ku pura-pura bingung.


"Abang mau memakan mu sebentar, ayo lah!" rengek bang Darma.


"Males," jawab ku cuek.

__ADS_1


__ADS_2