
Setelah beristirahat selama beberapa jam, aku terbangun karena mendengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok...Tok tok tok...
"Bentar!" pekik ku.
Dengan mata yang masih terasa berat, dan langkah yang sempoyongan. Aku membuka pintu, dan melihat Rendi yang sedang berdiri tegak di hadapan ku.
Rendi membawa empat bungkusan di tangan nya, lalu menyunggingkan senyum lebar pada ku.
"Hai, sayang. Baru bangun, ya?" tanya Rendi basa-basi.
"Bukan baru bangun, tapi terpaksa bangun. Karena ada orang yang ngetok-ngetok pintu." jawab ku.
Aku memajukan bibir sambil cemberut kesal. Sedangkan Rendi, dia hanya cengar-cengir melihat wajah bantal ku yang kusut, serta rambut yang acak-acakan.
"Duuuh, gemes banget lihat muka jelek nya ini." ujar Rendi mencubit pipi ku.
"Aduuuuh, lepasin! Sakit, tau gak?"
Aku memekik dan melepaskan tangan Rendi, yang sedari tadi masih menempel di pipi ku.
"Hahaha, masa gitu aja sakit, sih!"
Rendi tertawa lepas sambil melangkah masuk ke dalam. Aku mengekori langkah Rendi dan duduk di tepi ranjang, dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
"Apa itu, bang?" tanya ku menunjuk bungkusan yang ada di atas meja.
"Gado-gado sama soto Medan. Sini, kita makan bareng!" ajak Rendi.
Rendi mendudukkan dirinya di atas kursi. Lalu, dia mulai membuka satu persatu bungkusan itu.
"Bentar ya, bang! Aku cuci muka dulu." balas ku.
"Oke," jawab Rendi.
Aku segera turun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mencuci muka dan menyikat gigi, aku bergegas keluar dan duduk di depan Rendi.
"Kamu mau makan apa, Yu? Gado-gado atau soto?" tanya Rendi.
"Hmmmm, yang mana, ya?" gumam ku bingung.
Aku terus menatap makanan yang ada di depan ku itu, dengan mata yang berbinar.
"Dua-duanya aja lah, bang." jawab ku.
"Hah, emang nya perut mu muat, untuk menghabiskan dua-duanya?" tanya Rendi sedikit terkejut.
"Muat kok, bang. Tenang aja, pasti bakalan habis kok, hehehe!" jawab ku.
__ADS_1
"Edan, besar juga ternyata lambung mu ini." ujar Rendi sambil mengelus perut rata ku.
"Eits, jangan pegang-pegang! Nanti bisa menjalar kemana-mana tuh tangan." balas ku sambil menepis tangan Rendi dari perut ku.
"Halah, masa pegang dikit aja gak boleh, sih. Pelit banget jadi orang." gerutu Rendi.
"Nanti aja kalo mau pegang-pegang, sekarang kita makan dulu! Perut ku udah lapar banget, nih." balas ku.
"Oke, tapi nanti beneran ya, kita..."
"Iyaaaa," balas ku memotong kata-kata Rendi.
Aku langsung memakan gado-gado itu dengan lahap, tanpa menghiraukan Rendi yang sedari tadi sedang melihat ku, dengan tatapan aneh nya.
"Kok malah bengong sih, bang? Ayo, cepetan di makan! Mumpung masih hangat." ujar ku.
"Iya, cerewet." balas Rendi.
Rendi mulai menyendok kan gado-gado itu ke dalam mulut nya. Aku tersenyum miring, melihat wajah Rendi yang tampak sedikit murung.
Setelah menghabiskan gado-gado, aku menyeruput es teh sampai habis setengah cup. Kemudian, aku lanjut memakan soto dengan santai dan tenang.
"Ck ck ck, apa gak sakit nanti perut mu itu, Yu?" tanya Rendi.
Rendi berdecak heran, melihat pemandangan yang ada di depan mata nya. Aku menoleh dan menggelengkan kepala kepada Rendi, lalu kembali mengunyah soto, yang masih tersisa setengah lagi.
Selesai memakan gado-gado nya, Rendi membuang kertas pembungkus nya itu ke dalam tong sampah, yang terletak di samping pintu. Setelah itu, dia kembali duduk di kursi lalu menyalakan rokok nya.
"Ada apa, Yu? Kenapa muka mu lesu gitu?" tanya Rendi.
"Gak ada apa-apa, bang. Aku cuma lagi mikirin tentang mantan istri suami ku." jawab ku.
"Emang nya dia kenapa? Apa dia masih mengganggu rumah tangga kalian?" selidik Rendi.
"Iya, bang. Dia masih terus mengusik ketenangan ku. Dia masih saja ngerusuhin rumah tangga ku." jawab ku.
Aku menghela nafas panjang, lalu menghisap rokok kembali.
"Apa kamu gak pernah nanya, apa sebenarnya tujuan utama nya mengganggu mu?" tanya Rendi.
"Ya apa lagi tujuan dia kalau bukan suami ku. Dia ingin merebut suami ku kembali. Sedangkan suami ku, udah gak mau lagi hidup dengan nya." jawab ku.
"Apa kamu yakin, kalau suami mu gak mau lagi sama dia?" tanya Rendi ragu.
"Menurut pandangan ku sih begitu, bang. Suami ku kayak nya udah enggan, untuk kembali rujuk dengan nya." jawab ku.
"Kenapa dirimu bisa seyakin itu?" lanjut Rendi.
"Entah lah, aku juga gak tau kenapa? Tapi hati kecil ku mengatakan, kalau suami ku itu memang udah gak mau lagi, balikan dengan mantan nya." jawab ku.
__ADS_1
Rendi memandangi wajah ku dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia menyandarkan punggung nya di sandaran kursi, lalu menghisap rokok nya kembali.
Aku dan Rendi sama-sama terdiam. Kami berdua sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing. Setelah beberapa saat suasana hening, Rendi pun kembali bertanya pada ku.
"Yu, kalau seandainya suami mu masih ada rasa dengan mantan nya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rendi.
"Ya, lepaskan aja lah." jawab ku santai.
"Semudah itu?" tanya Rendi seakan-akan tidak percaya dengan jawaban ku barusan.
"Iya," jawab ku.
"Apa kamu tidak akan menyesal, dengan keputusan mu itu?" selidik Rendi.
"Tidak, aku tidak akan menyesali apa pun yang akan terjadi nanti nya."
Aku menjawab tanpa menoleh sedikit pun kepada Rendi. Aku tetap memandang lurus ke depan, dengan tatapan kosong.
"Yakin?" tanya Rendi.
"Yakin, bang. Emang nya kenapa, sih? Abang kok nanyain nya sampe segitu nya?" tanya ku balik.
"Ya, gak papa sih, Yu. Abang cuma mau mastiin aja, kamu itu benar-benar serius atau tidak, dengan semua kata-kata mu tadi." jelas Rendi.
Setelah mendengar penjelasan Rendi, aku langsung mencondongkan wajah ku pada nya. Lalu, aku pun kembali bertanya kepada mantan pacar ku itu.
"Mau aku serius atau tidak, apa hubungannya sama abang?" selidik ku dengan tatapan penuh curiga.
"Ya, pasti ada hubungan nya dengan abang lah, Yu. Kamu itu kan kekasih abang, kalau sampai kalian bercerai, abang akan langsung menikahi mu." jawab Rendi.
"Emang nya abang bener-bener yakin, dengan keinginan abang itu?" tanya ku.
"Yakin lah, sayang. Hanya itu lah impian abang sedari dulu. Abang ingin menikahi mu, dan hidup bahagia bersama mu." ungkap Rendi.
Setelah selesai tanya jawab dengan Rendi, aku membuang nafas kasar, lalu bangkit dari kursi. Aku merebahkan diri di atas ranjang, tanpa menjawab ucapan Rendi lagi. Aku meninggalkan nya begitu saja di tempat duduk nya
"Kok abang malah di tinggal sih, Yu?" ujar Rendi kesal.
Rendi menyusul ku ke atas ranjang. Dia juga membaring kan diri nya di samping ku. Kami berdua menatap langit-langit kamar, dengan posisi yang sama-sama telentang.
"Kita bobok yok, sayang! Abang udah mulai ngantuk, nih." ujar Rendi.
"Oke," jawab ku.
Rendi merubah posisi tidur nya untuk menghadap ke arah ku. Lalu dia memeluk ku, dan mengecup kening, pipi, dan juga bibir ku sambil berkata...
"Mimpi yang indah ya, sayang. Abang sangat menyayangi mu, Ayu lestari." bisik Rendi.
"Iya, bang. Aku juga menyayangi mu." jawab ku.
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata-kata penghantar tidur, aku dan Rendi mulai memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, akhirnya kami berdua pun langsung tertidur pulas di dalam satu selimut.