
"Kapan kah mereka akan berhenti mengganggu ketenangan rumah tangga kita, bang?" batin ku.
Di saat sedang asyik merenung, bang Darma pun pulang dengan membawa dua bungkusan di tangan nya.
"Ini nasi Padang nya, dek!"
Ujar bang Darma sambil meletakkan bungkusan itu di atas meja, yang berada tepat di depan ku.
"Iya, bang." balas ku.
Aku segera beranjak dari sofa untuk mengambil air putih dua gelas, lalu menaruh nya di depan bang Darma yang sudah duduk melantai di depan tv.
Setelah itu, aku dan bang Darma pun mulai membuka bungkusan, dan melahap makanan itu bersama-sama.
Selesai makan, kami berdua duduk selonjoran sambil menyalakan rokok masing-masing. Aku dan bang Darma saling berdiam diri. Tidak ada yang membuka percakapan di antara kami berdua.
Dalam suasana hening itu, tiba-tiba ponsel bang Darma berdering nyaring di dalam saku baju kemeja nya.
Kring kring kring...
Mendengar suara ponsel nya sedang memekik, bang Darma pun segera mengambil ponsel nya. Mata nya langsung terbelalak saat melihat nama yang tertera di layar ponsel yang ada di tangan nya.
Bang Darma melirik ke arah ku sekilas, lalu dia pun menerima panggilan tersebut. Aku masih tetap diam, sambil terus memperhatikan gerak-gerik bang Darma yang tampak sedikit mencurigakan.
"Halo, ada apa?" tanya bang Darma.
Dia mengaktifkan pengeras suara di ponsel nya, agar aku juga bisa mendengarkan percakapan nya dengan si penelepon tersebut.
"Kau lagi dimana?" tanya Dina.
Kening ku langsung mengkerut mendengar suara Dina. Bang Darma kembali melirik kearah ku dengan ekor mata nya.
"Lagi di rumah, emang nya kenapa?" tanya bang Darma balik.
"Aku boleh datang ke rumah mu, gak?" tanya Dina.
"Ma-mau ngapain kau kesini?" tanya bang Darma semakin gelisah.
"Aku kangen banget sama mu, Dar. Aku juga kangen dengan permainan ranjang mu yang nikmat itu, sayang." jawab Dina.
Aku reflek menoleh pada bang Darma, setelah mendengar penuturan Dina barusan. Aku menatap tajam kearah bang Darma yang santai mendengar kan ucapan mantan istri nya itu.
__ADS_1
"Kita main lagi yok, Dar! Aku lagi pengen nih. Udah lama juga kita gak bergumul di ranjang." lanjut Dina.
"Hari ini gak bisa, ada istri ku di rumah. Lain kali aja, ya! Aku pasti akan memuaskan mu." balas bang Darma mulai memanas-manasi ku.
"Udah ya, nanti kalau ada waktu aku hubungi lagi. Sekarang aku mau ngasih jatah istri ku dulu." lanjut bang Darma sambil menutup panggilan dari Dina.
Setelah panggilan berakhir, bang Darma mengajak ku untuk masuk ke dalam kamar.
"Ayo kita ulangi permainan tadi, sayang! Abang pengen lagi nih." bisik bang Darma.
Dia mulai menciumi bibir dan leherku, kemudian dia mengangkat tubuh ku ke atas ranjang.
Saat bang Darma hendak membuka pakaian ku, aku pun langsung memberontak sambil berkata...
"Enak kali kau bisa main sana sini, ya! Kalau kau lagi pengen, kenapa kau gak terima aja ajakan Dina tadi? Kenapa harus sama ku?" tanya ku.
"Lebih enak main dengan mu dari pada sama dia, dek. Kalau main sama mu rasanya lebih nikmat, sedangkan sama Dina rasa nya hambar. Kurang bergairah abang sama dia, dek." jelas bang Darma.
"Kalau hambar dan tidak bergairah, kenapa masih dilakukan?" selidik ku.
"Ya karena terpaksa aja, dek. Dia merengek-rengek terus minta di mainkan sama abang." jawab bang Darma.
"Pernah haritu dia datang ke sini sendirian, pas waktu kau kabur dan nginap di luar. Trus, dia buat kan teh manis hangat untuk abang."
"Dina senyum-senyum sendiri melihat tingkah abang, yang sudah tidak terkendali lagi. Trus, Dina langsung membuka semua pakaian nya di depan abang."
"Karena udah gak tahan lagi, akhirnya abang melampiaskan nya kepada Dina. Sejak kejadian itu, Dina terus-terusan meminta abang untuk melayani nya." ujar bang Darma mengakhiri cerita nya.
Bang Darma menjelaskan kepada ku tentang perbuatan nya dengan Dina. Setelah selesai bercerita, bang Darma duduk di tepi ranjang lalu menyalakan rokok nya.
Aku yang sedari tadi hanya diam membisu, kini mulai membuka suara.
"Kalau kau masih mencintainya, lebih baik kalian rujuk aja!" ujar ku.
"Gak, abang gak mau!" tolak bang Darma.
"Gak mau kenapa, apa alasan nya?" tanya ku.
Aku duduk di samping bang Darma, kemudian menyandarkan kepalaku di bahu nya.
"Abang udah gak sreg lagi sama dia. Abang gak mau melakukan kesalahan yang sama seperti dulu." jawab bang Darma sambil menghisap rokok nya.
__ADS_1
"Kalau abang udah gak sreg, kenapa abang masih mau menyentuh tubuh nya?" tanya ku semakin penasaran.
"Dia itu cuma tempat pelampiasan abang aja. Kalau abang lagi kesal dan emosi dengan mu, abang lampiaskan kekesalan abang itu kepada Dina." jawab bang Darma.
Bang Darma menoleh kepada ku. Dia memandangi wajah ku dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Apa kau tidak ada rasa cemburu dengan hubungan kami berdua, dek?" tanya bang Darma.
"Enggak, emang nya kenapa? Kok abang nanya gitu?" tanya ku balik.
"Serius, dek?" tanya bang Darma lagi.
"Iya, serius." jawab ku.
"Kalau kau gak cemburu sedikit pun, itu artinya kau sudah tidak menyayangi abang lagi ya, dek?"
"Kalau sayang sih masih ada, tapi kalau cinta udah gak lagi." jawab ku jujur.
"Kok bisa gitu, dek?" tanya bang Darma bingung.
"Ya bisa lah, kenapa gak bisa? Kan haritu udah ku bilang, jangan campuri urusan pribadi ku lagi."
"Begitu juga dengan ku, apa pun yang abang lakukan dengan Dina dan Yuni, aku tidak akan melarang atau pun marah pada abang." jelas ku.
"Tapi kan, dek..."
"Udah lah, gak usah di permasalahkan lagi! Aku capek mikirin hal-hal yang gak penting kayak gitu." balas ku memotong ucapan bang Darma.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku langsung membuka seluruh pakaianku dan naik ke atas ranjang. Aku berbaring telentang dengan kedua kaki yang terbuka lebar.
"Sebelum kau melayani Dina, lebih baik kau puas kan aku dulu, bang!" ujar ku.
Aku semakin melebarkan kedua kaki ku di depan bang Darma. Mendapatkan pemandangan yang sangat menggiurkan di depan mata nya, bang Darma pun langsung bangkit dari duduk nya.
Bang Darma merangkak naik ke atas ranjang dengan senyum yang menyeringai. Wajah nya berhenti tepat di depanku.
"Kita mulai ya, dek." bisik bang Darma.
"Iya, lakukan lah!" balas ku.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Darma pun langsung melakukan kegiatan panas nya kembali. Dan itu dia lakukan hingga berulang-ulang. Setelah mencapai puncak sebanyak tiga kali, bang Darma pun akhirnya menyudahi kegiatan nya.
__ADS_1
"Makasih ya, sayang. Abang puas banget hari ini." ujar bang Darma sambil mengecup kening ku.
"Iya," balas ku.