SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Pinjam Motor


__ADS_3

Aku menatap kepergian pak kades sambil menggeleng-gelengkan kepala dan bersidekap di depan pintu. Seketika aku teringat sesuatu yang bisa membuat ku bergidik ngeri.


"Oalah, hampir saja aku lupa menghapus foto-foto yang menjijikkan tadi!" gumam ku.


Aku berjalan ke ruang tamu untuk mengambil ponsel, lalu merebahkan diri di atas sofa. Aku mulai mengotak-atik ponsel dan menghapus semua foto-foto pak kades tadi.


"Huh, selesai juga akhirnya. Untung saja aku ingat dengan foto-foto itu. Kalau sampe bang Darma lihat bisa gawat urusan nya." batin ku.


Aku menghela nafas berat atas semua kejadian hari ini. Hari yang sangat melelahkan dan cukup menguras emosi bagi ku.


Waktu terus berlalu, dan tidak terasa malam pun tiba. Setelah selesai makan malam bersama bang Darma, kami berdua pun kembali berkumpul di dalam kamar dan mulai sibuk memainkan ponsel masing-masing.


Sedang asyik bermain ponsel, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum,"


"Wa'laikum salam. Ya, bentar!"


Aku bergegas beranjak dari ranjang dan berlari kecil menuju pintu. Setelah membuka pintu, aku terpaku sejenak melihat orang yang ada di hadapanku itu.


"Ck, mau ngapain lagi sih anak ini datang kesini?" batin ku sedikit kesal.


"Bapak ada di rumah, buk?" tanya Yuni.


"Ada tuh di kamar. Bentar ya, ibuk panggil kan ke dalam!" jawab ku.


Ya, ternyata yang datang itu adalah Yuni, anak kesayangan nya bang Darma. Aku mempersilahkan Yuni masuk dan duduk di ruang tamu.


Aku kembali berjalan ke dalam kamar untuk memanggil bang Darma yang masih asyik dengan ponsel nya.


"Bang, ada Yuni tuh di luar." ujar ku.


"Ada perlu apa dia kesini malam-malam gini?" tanya bang Darma.


"Entah, tanya sendiri lah sama orang nya sana!" jawab ku ketus.


Bang Darma langsung beranjak dari ranjang dan menghampiri anak nya Yuni di ruang tamu. Aku pun turut mengekori langkah nya dari belakang.


"Ada apa, Yun?" tanya bang Darma.


Kami berdua duduk berdampingan di sofa panjang tepat di hadapan Yuni. Karena melihat aku yang ikut duduk di samping bapak nya, Yuni pun melirik ku dengan tatapan sinis nya.


Aku berpura-pura cuek dengan lirikan nya dan memainkan ponsel ku di samping bang Darma.

__ADS_1


"Boleh pinjam motor nya gak, pak?" tanya Yuni.


"Pinjam motor? Emang nya kau mau kemana?" tanya bang Darma.


"Ada perlu, pak. Besok sore Yuni balekkan lagi motor nya, pak." jawab Yuni.


"Iya, tapi perlu nya itu buat apa? Kalau motor itu kau pinjam, trus besok bapak pergi kerja naik apa?" tanya bang Darma balik.


"Bapak kan bisa pakai motor buk Ayu dulu sih, pak!" jawab Yuni dengan santai nya.


Setelah mendengar permintaan anak nya, bang Darma langsung menoleh pada ku untuk meminta persetujuan dari ku. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung menolak nya dengan tegas.


"Enak aja kalian mau pakai motor ku. Kalian pikir aku sebaik itu mau minjamin motor ku buat kalian? Sorry-sorry aja lah yau." balas ku cuek.


Bang Darma dan Yuni langsung terperangah mendengar jawaban ku barusan. Mereka berdua tidak menyangka, kalau aku bisa berucap seperti itu di depan mereka.


"Ngomong nya kok kasar gitu sih, dek?" tanya bang Darma.


Mendengar pertanyaan bang Darma, aku langsung meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap tajam wajah bang Darma yang sedari tadi melihat ku dengan tatapan aneh nya.


"Emang nya kenapa dengan kata-kata ku barusan, hah?" tanya ku dengan nada lantang.


"Gak boleh ngomong gitu lah, dek! Biar bagaimanapun juga Yuni itu tetap anak abang. Jadi adek gak boleh ngomong kasar gitu dengan nya!" jawab bang Darma memberi pembelaan pada Yuni.


Yuni langsung tersenyum miring dan bersidekap di tempat duduk nya. Dia merasa senang karena mendengar pembelaan, dari bapak nya. Aku menoleh sekilas pada Yuni dan kembali menatap bang Darma.


"Aku udah gak perduli lagi, tapi ingat ya! Jangan pernah sentuh motor ku, dan jangan pernah menyesal dengan keputusan mu itu!" jawab ku.


"Jangan gitu lah, dek! Yuni itu pinjam nya cuma satu hari aja kok. Besok sore kan udah di balekkan lagi motor nya. Kasi aja ya, dek?" bujuk bang Darma.


"Terserah!" jawab ku semakin kesal.


Aku berucap sambil berjalan ke dalam kamar dan membaringkan diri di atas ranjang. Aku meninggalkan anak dan bapak itu di ruang tamu tanpa permisi terlebih dahulu. Aku menguping pembicaraan mereka dari balik kamar.


"Gimana, pak? Boleh gak aku minjam motor nya?" tanya Yuni.


"Boleh, tapi janji ya besok di balekkan lagi kesini!" jawab bang Darma penuh penekanan.


"Iya, pak. Besok sore Yuni balekkan lagi motor nya." jawab Yuni.


Bang Darma beranjak dari sofa dan mengambil kunci motor nya yang terletak di atas kulkas. Lalu dia pun menyerahkan kunci motor itu kepada Yuni.


"Nah, ini kunci nya!" ujar bang Darma.


"Sama STNK nya juga lah, pak! Takut nya nanti kena razia pula di jalan kalau gak ada STNK nya." pinta Yuni.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Yuni, bang Darma langsung masuk ke dalam kamar untuk mengambil STNK motor nya.


Aku yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, langsung berpura-pura sibuk bermain game di ponsel ku.


Bang Darma menoleh sekilas pada ku yang masih asyik bermain game. Setelah mengambil STNK dari dalam dompet nya, bang Darma kembali berjalan ke ruang tamu dan langsung menyerahkan STNK itu kepada Yuni.


"Jangan sampe hilang STNK nya ya, Yun!"


"Iya, pak. Yuni pulang dulu ya, pak!"


"Iya hati-hati di jalan, pelan-pelan aja bawa motor nya!" balas bang Darma.


"Iya, pak. Assalamualaikum," pamit Yuni.


"Wa'laikum salam." balas bang Darma.


Setelah kepergian Yuni, bang Darma segera mengunci pintu dan kembali masuk ke dalam kamar. Dia membaringkan tubuh nya di samping ku sambil memainkan ponsel nya kembali.


Aku hanya diam dan terus bermain game di ponsel ku sambil memeluk guling memunggungi nya.


Karena tidak ada komentar apa pun yang keluar dari bibir ku, akhirnya bang Darma pun membuka suara nya.


"Besok pagi abang pergi kerja pakai motor mu ya, dek. Boleh gak, dek?" tanya bang Darma.


"Gak boleh, tadi kan udah aku jelas kan! Emang nya abang gak dengar ya kata-kata ku tadi?" tanya ku balik.


"Trus, besok abang naik apa pergi kerja nya?" tanya bang Darma bingung.


"Ya pikir sendiri lah. Siapa suruh motor di pinjam kan gitu?" jawab ku ketus.


"Besok kan bakalan di balekkan lagi sih, dek. Bukan di pinjam selama nya kok." jawab bang Darma tetap kekeuh percaya dengan janji anak nya.


"Ya, semoga aja di balekkan lagi motor abang itu. Dan mudah-mudahan aja gak di jual lagi sama mereka." balas ku santai.


"Besok abang naik ojek aja pergi kerja nya ya! Kan motor abang cuma satu hari aja di pinjam si Yuni." ujar ku.


"Iya, dek. Besok pagi abang naik ojek aja!" balas bang Darma pasrah.


Bang Darma meletakkan ponsel nya di atas meja, lalu memiringkan tubuh nya untuk memunggungi ku sambil memeluk guling. Tak butuh waktu lama, terdengar suara dengkuran halus dari hembusan nafas nya.


"Mudah-mudahan saja kau tidak menyesal dengan keputusan mu itu, bang. Kita lihat saja besok, apa yang akan terjadi selanjutnya!" batin ku.


Aku membatin sambil tersenyum kecut menatap punggung bang Darma suamiku itu.


"Semoga hari esok, lebih baik dari hari-hari sebelumnya! Amin amin ya rabbal a'lamin." doa ku sebelum tidur.

__ADS_1


Setelah beberapa menit menatap bang Darma dari belakang, aku pun mulai memejamkan mata dan ikut masuk ke alam mimpi.


__ADS_2