
"Ya, sekali ni Yuni maafin. Tapi kalau sekali lagi bapak bentak-bentak Yuni, maka Yuni gak akan mau lagi maafin bapak, ingat itu!" ujar Yuni tegas.
"Iya, bapak akan ingat kata-kata mu itu." balas Darma.
Setelah membuat kesepakatan, Darma dan Yuni mulai memejamkan mata masing-masing. Tak butuh waktu lama, mereka berdua pun tertidur pulas di bawah balutan selimut tebal.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Setelah beristirahat selama beberapa jam, Yuni mulai terjaga dari tidur lelap nya. Dia mengucek-ngucek mata nya dan menggeliat kan badan nya, untuk meregangkan otot-otot kaku nya.
"Wah, udah siang ternyata."
Gumam Yuni saat melihat ke arah gorden jendela yang sedikit tersingkap. Hingga menampakkan sinar matahari yang sedikit masuk ke dalam kamar.
"Pak, bangun. Ayo kita pulang, udah siang tuh!" seru Yuni sambil menyenggol-nyenggol bahu Darma.
Karena merasa terganggu dengan senggolan lengan Yuni, akhirnya Darma pun membuka mata dan menoleh ke arah Yuni.
"Jam berapa sekarang?" tanya Darma dengan mata yang masih lengket.
"Entah, coba aku lihat dulu." jawab Yuni.
Yuni mulai beranjak dari ranjang dan melangkah ke arah meja rias, untuk melihat jam yang ada di layar ponsel nya.
"Udah jam setengah sebelas, pak." ujar Yuni.
"Hah, apa gak salah jam mu itu?" pekik Darma terkejut.
"Ya, enggak lah. Memang udah siang kok, lihat nih!" jawab Yuni.
Yuni segera melangkah ke arah jendela, lalu menyingkapkan sedikit gorden nya. Hingga menampakkan sinar matahari yang sudah terang benderang.
"Kok cepat kali sih siang nya? Perasaan baru aja tidur bentar, kenapa udah terang gitu?" gerutu Darma.
"Ya, mana ku tau." jawab Yuni sewot.
"Udah, gak usah ngomel terus. Ayo kita mandi, siap tu kita balek!" seru Yuni.
Yuni meletakkan ponsel nya kembali di atas meja rias, lalu berjalan ke samping ranjang untuk mengambil handuk yang teronggok di atas nakas.
Saat Yuni hendak melilitkan handuk ke badan nya, tiba-tiba tangan nya di tarik oleh Darma, hingga membuat Yuni jatuh terjelembab di atas badan Darma, yang masih berbaring di bawah selimut.
"Ck, mau ngapain lagi sih?" omel Yuni kesal.
__ADS_1
"Masih ada waktu satu setengah jam lagi, sayang. Mau ngapain sih buru-buru kali? Kita main bentar yok, habis tu baru kita mandi!" bisik Darma.
"Hmmm, boleh lah kalo gitu. Mumpung masih disini." jawab Yuni menyetujui permintaan Darma.
Setelah mendengar jawaban Yuni, Darma pun langsung tersenyum sumringah dan mulai melancarkan aksinya kembali. Dan akhirnya, pergumulan panas pun kembali terjadi di atas ranjang hotel tersebut.
Selesai melakukan olahraga pagi yang penuh dengan keringat selama satu jam lebih, Darma dan Yuni pun bergegas membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Setelah selesai, mereka berdua langsung bersiap-siap untuk keluar dari kamar hotel tersebut. Sesudah menutup pintu, Darma dan Yuni menuruni anak tangga dengan langkah cepat menuju ke lantai dasar.
Sampai di meja resepsionis, Darma menyerahkan kunci kamar dan kembali melangkah menuju pintu keluar.
Setelah berada di luar gedung hotel, Yuni segera mengotak-atik ponsel nya untuk memesan taksi online. Dan tak lama kemudian, taksi yang di pesan Yuni pun tiba di depan mereka.
Dengan perasaan yang sedikit was-was dan gelisah, Darma pun celingukan kesana kemari lalu masuk ke dalam mobil bersama Yuni.
"Kenapa gelisah gitu, pak? Emang nya ada siapa tadi di luar?" tanya Yuni heran.
"Gak ada siapa-siapa. Takut nya jumpa sama si Agus lagi." jawab Darma.
"Oh," balas Yuni.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, sang sopir taksi pun mulai menjalankan kendaraan roda empat nya, menuju ke alamat yang sudah tertera di layar ponsel nya.
Darma merogoh saku celana panjang nya untuk mengambil kunci. Setelah mendapatkan nya, Darma langsung membuka pintu rumah nya, dan menyuruh Yuni untuk cepat-cepat masuk ke dalam.
"Cepat masuk, Yun! Keburu ada yang lihat nanti." desak Darma.
Tanpa menjawab apa pun kepada Darma, Yuni langsung nyelonong masuk dan menaruh sandal nya di samping pintu. Lalu Yuni melanjutkan langkah nya menuju ke arah kamar Darma.
Setelah menutup pintu utama, Darma berjalan dengan langkah cepat untuk menyusul Yuni yang sudah masuk ke dalam kamar nya.
Sesampainya di kamar, Darma langsung memeluk dan mencium bibir Yuni yang sedang duduk di pinggir ranjang.
Mendapat serangan mendadak seperti itu dari Darma, Yuni pun hanya pasrah dan menerima apa pun perbuatan Darma.
Setelah puas mencium bibir Yuni, Darma mulai menjalar kan tangan-tangan nakal nya ke tubuh Yuni sembari berbisik...
"Yun, boleh minta lagi gak?" tanya Darma.
"Hah, tadi kan udah sih, pak. Masa mau minta lagi sih, yang bener aja lah!" jawab Yuni ketus.
__ADS_1
"Tadi kan cuma sebentar aja, bapak belum puas." balas Darma.
"Sebentar apa nya? Satu jam lebih kok sebentar." oceh Yuni sembari memanyunkan bibir nya.
Darma sama sekali tidak memperdulikan raut wajah Yuni yang cemberut. Dia masih saja melanjutkan kegiatan nakal nya. Sehingga membuat Yuni mulai bergairah dan terpaksa menyetujui keinginan Darma.
"Ya udah deh, tapi jangan lama-lama ya. Badan Yuni masih capek soal nya." ujar Yuni.
"Oke, sayang ku." balas Darma.
Senyum sumringah pun langsung terpancar di bibir Darma, saat mendengar Yuni mengizinkan nya untuk melakukan kegiatan panas nya kembali.
Dengan semangat yang tinggi, Darma pun kembali menerkam tubuh Yuni. Darma membuka seluruh pakaian Yuni dan juga pakaian nya sendiri.
Saat mereka sedang asyik-asyiknya melakukan permainan nya, tiba-tiba terdengar suara tendangan pintu yang sangat kuat.
Hingga membuat Darma dan Yuni langsung terlonjak kaget, dengan posisi Darma yang sedang menindih tubuh Yuni.
"Memang benar-benar kurang ajar kalian ya. Cepat keluar dari sini! Atau mau aku panggilkan warga, biar kalian di seret dari sini, hah?" pekik Ayu.
Ya, ternyata yang menendang pintu kamar itu adalah Ayu, istri sah Darma. Dia lagi-lagi memergoki perbuatan gila suami nya.
Dengan nafas yang sudah tidak beraturan lagi, Ayu pun mendorong kuat badan Darma hingga jatuh ke lantai bawah ranjang. Setelah itu Ayu beralih kepada Yuni.
Ayu menarik rambut Yuni dengan sekuat tenaga, lalu menyeretnya untuk turun dari ranjang dan terus saja menyeret nya sampai ke ruang tamu.
Dengan keadaan yang masih polos tanpa sehelai benang pun, Yuni hanya bisa menjerit menahan sakit akibat rambut nya yang masih terus di tarik paksa oleh Ayu.
"Aaaaaa, sakiiiiit! Lepasin rambut ku perempuan gila!" jerit Yuni.
Ayu tidak menghiraukan jeritan Yuni, dia masih terus menggenggam erat rambut Yuni dan menghempaskan tubuh polos Yuni ke lantai.
"Dasar, perempuan gatal! Apa gak ada laki-laki lain yang di luaran sana yang bisa kau rayu trus kau ajak tidur, hah?" pekik Ayu dengan suara menggelegar.
"Bukan urusan mu. Aku mau tidur dengan siapa pun, itu hak ku. Dan kau tidak ada hak untuk mengatur-atur hidup ku, ingat itu!" jawab Yuni lantang.
Sesudah mengucapkan kata-kata itu kepada Ayu, tiba-tiba mata Yuni terbelalak lebar saat melihat seseorang yang masuk dari balik pintu.
"Dasar anak kurang ajar, anak gak tau diri! Udah di hajar pun masih gak ada kapok-kapok nya juga." pekik Dina sambil berlari kecil mendekati Yuni.
Tanpa pikir panjang lagi, Dina pun langsung melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Ayu tadi.
__ADS_1
Dina menarik kuat rambut anak nya, lalu melayangkan telapak tangan nya ke pipi kanan dan kiri Yuni dengan kuat.
"Mampus kau! Sekarang rasakan lah akibat dari perbuatan mu sendiri, hahaha!" umpat Ayu dalam hati.