
Yuni tampak sangat terkejut saat mendengar penuturan Darma. Dia takut kalau Darma sampai keceplosan, dan mengatakan keberadaan nya saat ini kepada Dina ibu nya.
"Ya bapak bilang aja kalau bapak lagi di rumah. Bapak pura-pura tidak tahu menahu soal kepergian mu." jawab Darma.
"Oh, syukur lah kalo bapak ngomong gitu tadi." balas Yuni lega.
Darma hanya tersenyum melihat kelegaan Yuni. Setelah beberapa saat hening, Yuni pun kembali membuka suara nya.
"Hhmmm, Yuni boleh nanya satu hal gak, pak?" tanya Yuni ragu sembari menunduk kan kepala nya.
"Boleh, sayang. Jangan kan satu, seribu hal pun boleh." jawab Darma.
Darma kembali menyunggingkan senyum manis nya kepada Yuni, lalu meletakkan kepala nya di atas pangkuan Yuni.
Tanya lah, apa yang mau kau tanya kan sama bapak, hm?" desak Darma.
"Hmmmm, ini soal buk Ayu." jawab Yuni lirih sambil mengelus-elus rambut Darma yang ada di pangkuan nya.
"Emang dia kenapa? Apa dia ada mengganggu mu?" tanya Darma.
"Gak ada sih, cuma..."
Yuni menggantung kata-kata nya. Dia merasa tidak enak hati dan juga takut untuk mengutarakan nya kepada Darma.
"Kok malah diam, tadi kata nya mau nanya soal Ayu?" selidik Darma.
"Iya, tapi Yuni bingung harus mulai dari mana nanya nya." jawab Yuni sedikit gelisah.
"Kenapa mesti bingung, emang nya mau nanya soal apa tentang Ayu?" tanya Darma lagi semakin penasaran.
"Soal hubungan bapak sama dia. Apa bapak masih sangat mencintai nya?" tanya Yuni balik.
"Iya, emang kenapa?" selidik Darma.
Mendengar jawaban Darma, Yuni langsung membuang nafas kasar dan memalingkan wajah nya ke samping.
Dia tidak ingin melihat wajah Darma, yang sedari tadi memandangi nya dari bawah dengan tatapan tak biasa.
"Kok malah buang muka? Emang sebenarnya ada apa sih? Ngomong aja terus terang sama bapak, jangan berbelit-belit gitu. Bapak jadi bingung melihat tingkah aneh mu itu." desak Darma kesal.
"Kenapa bapak gak cerai aja sih sama dia? Kenapa bapak terus bertahan sama perempuan tukang selingkuh itu?" tanya Yuni tanpa menoleh sedikit pun kepada Darma.
"Kenapa tiba-tiba kau membahas soal itu?" tanya Darma heran.
Yuni kembali menghembuskan nafas nya, kemudian dia menunduk untuk menatap wajah Darma dengan mata yang sudah mulai berembun.
__ADS_1
"Yuni cemburu, pak. Yuni gak rela kalau bapak mesra-mesraan sama dia." jawab Yuni lirih.
"Loh, kok malah cemburu pulak? Dia itu kan memang istri sah bapak, kau gak boleh cemburuan gitu sama dia."
"Kecuali bapak punya wanita lain di luaran sana, baru kau boleh cemburu." tutur Darma panjang lebar.
"Tapi Yuni tetap gak rela, kalau bapak main sama dia." balas Yuni tetap kekeuh dengan keinginan nya.
"Gak boleh gitu lah, Yun! Walaupun kami tidak bercerai, itu tidak akan mengurangi rasa sayang bapak dengan mu. Bapak akan terus bersama mu kok, percaya lah!" tutur Darma.
"Janji ya, bapak gak bakalan ninggalin Yuni hanya karena dia." ujar Yuni.
"Iya, bapak janji." jawab Darma.
Yuni pun langsung tersenyum bahagia setelah mendengar kata-kata Darma barusan. Dia seperti mendapat kan angin segar untuk kelanjutan hubungan nya dengan Darma.
"Ngomong-ngomong, perut bapak udah lapar nih. Kau masih ada pegang uang gak, buat beli makanan?" tanya Darma sembari mendongak kan kepala nya menatap Yuni.
"Masih, tuh ada di dalam tas. Bapak ambil aja uang nya di dalam dompet!"
Jawab Yuni sembari menunjuk ke arah tas nya yang tergeletak di atas meja tv.
"Oke, sayang."
Balas Darma sambil memeluk pinggang Yuni, dan menenggelamkan wajah nya di perut Yuni. Setelah itu, Darma langsung beranjak dari ranjang dan melangkah menuju meja tv.
Setelah mendapatkan nya, Darma menyimpan dompet itu kembali ke dalam tas, lalu bergegas memakai pakaian nya kembali sembari berucap...
"Kau mau di beliin apa, Yun?" tanya Darma.
"Samain aja kayak punya bapak." jawab Yuni.
"Oh, ya udah kalo gitu. Bapak keluar bentar ya, gak lama kok paling sepuluh menit aja." pamit Darma.
"Iya, pergi lah!" jawab Yuni.
Setelah berpamitan Darma langsung bergegas melangkah keluar kamar, lalu menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar. Saat berada di lobby hotel, tiba-tiba...
"Loh, kamu ngapain disini, Gus?"
Tanya Darma kepada Agus tetangga dekat nya itu. Lebih tepatnya lagi, selingkuhan lima langkah Ayu istri nya sendiri.
"Lah, abang sendiri ngapain disini?" tanya Agus balik.
"A-aku baru aja ngunjungi teman lama ku. Dia sedang menginap disini, besok dia mau balek ke Jakarta lagi kata nya." bohong Darma sedikit gugup.
__ADS_1
"Oh, gitu. Kirain abang lagi nginap sama cewek disini." sindir Agus.
"Ya, ya gak mungkin lah, Gus. Aku kan ada istri di rumah, gak mungkin lah aku nginap sama cewek lain disini. Ada-ada aja kau itu, hahaha." jawab Darma salah tingkah.
Darma tampak semakin gelagapan menjawab pertanyaan Agus. Keringat dingin pun mulai bermunculan di kening nya, saking panik nya melihat keberadaan Agus di hotel tersebut.
Darma merasa sangat takut dan cemas, kalau sampai perbuatan nya di ketahui oleh tetangga nya itu.
Dia tidak ingin nama baik nya tercemar di sekitaran rumah nya, akibat ketahuan mempunyai hubungan terlarang dengan anak nya sendiri.
"Kalau kau sendiri, lagi ngapain disini?" tanya Darma mengulang pertanyaan nya kepada Agus.
"Aku nginap di sini sama pacar ku." jawab Agus jujur.
Agus sama sekali tidak merasa takut atau pun panik di depan Darma. Dia masih saja terlihat tenang dan santai di depan rivalnya tersebut.
"Oh, kirain lagi ngunjungi teman juga kayak aku, hehehe." balas Darma sembari cengar-cengir salah tingkah.
Untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari Agus, Darma pun segera pamit dan berlalu pergi dari hadapan Agus.
"Oke lah, Gus. Aku pergi dulu ya, ada urusan penting yang harus aku selesaikan di tempat kerja." pamit Darma.
"Oke, lanjut."
Jawab Agus sembari tersenyum kecut, melihat kepergian Darma yang tampak tergesa-gesa, melangkah keluar dari gedung hotel.
"Huh, hampir aja ketahuan." batin Darma lega.
Setelah selesai membeli makanan, Darma kembali ke dalam hotel sambil celingukan kesana kemari, persis seperti maling yang takut ketahuan sama yang punya rumah.
Setelah melihat situasi nya aman, Darma pun langsung melangkah dengan cepat menuju ke kamar nya yang berada di lantai dua.
Sampai di depan pintu kamar, Darma segera membuka nya dan kembali mengunci pintu itu dengan tangan yang sedikit gemetaran.
Yuni yang sedari tadi duduk di tepi ranjang pun langsung melongo, ketika melihat gelagat Darma yang tampak ketakutan, seperti orang yang baru saja melihat setan.
"Bapak kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?" tanya Yuni penasaran.
"Ssstttt, jangan berisik! Takut nya nanti mereka dengar pulak suara mu." jawab Darma sembari menempel kan jari telunjuk nya di bibir Yuni.
"Mereka siapa?" tanya Yuni dengan kening mengkerut.
"Tetangga bapak, dia juga menginap di hotel ini sama pacar nya." jawab Darma.
Darma meletakkan makanan yang di belinya di atas meja, lalu dia mendudukkan dirinya di sebelah Yuni sembari berbisik...
__ADS_1
"Kalo ngomong pelan-pelan aja ya, takut nya mereka tanda dengan suara cempreng mu itu." bisik Darma dengan suara pelan.
"Iya," jawab Yuni.