
"Terima kasih ya, say. Abang sangat bahagia malam ini." bisik bang Agus sambil mengecup kening ku.
"Iya, bang. Aku juga bahagia bisa bersama mu malam ini." balas ku.
"Say, apa dirimu gak cemburu melihat kedekatan Dina dengan suami mu itu?" tanya bang Agus.
"Ya enggak lah, untuk apa aku cemburu? Aku kan juga melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan." bantah ku.
"Oh, iya juga ya." balas bang Agus.
"Kalau suami ku bisa, kenapa aku gak bisa? Lagian aku udah gak mau lagi ngurusin mereka bertiga, bikin pening kepala ku aja."
"Dari pada mikirin mereka, mendingan aku memanjakan diri sama abang di sini. Iya kan, bener gak?" tanya ku.
"Iya bener sekali, sayang." balas bang Agus tersenyum.
Aku bangkit dari ranjang dan melilitkan handuk di tubuh ku, kemudian aku duduk di kursi dan menyalakan rokok.
Bang Agus yang sedang tidur telentang di atas ranjang pun langsung beranjak, dan duduk di kursi kosong yang berada samping ku.
"Rumah tangga kalian kan udah gak sehat lagi, kenapa kalian gak cerai aja sih, say?" tanya bang Agus.
"Bang Darma tidak mau menceraikan ku, bang. Lagian masih ada satu rencana ku yang belum terlaksana kan." jawab ku.
Bang Agus menatap wajah ku dengan kening yang mengkerut. Dia tampak bingung dengan jawaban ku barusan.
"Rencana apa, say?" tanya bang Agus.
"Ada deeh, kepo aja botak tuyul ini." ledek ku sambil tersenyum miring.
"Masa abang gak boleh tau sih, say?" tanya bang Agus semakin penasaran.
"Gak, gak ada yang boleh tau tentang rencana ku itu, termasuk abang!" jawab ku tegas.
"Kok gitu sih, abang kan jadi penasaran nih, say. Abang juga pengen tau tentang rencana mu itu, siapa tau abang bisa bantu."
"Kalo ku bilang gak boleh, ya gak boleh. Budeg kupingnya ini ya, hah!" ledek ku.
Aku menjewer kuat telinga bang Agus, hingga membuat menjerit karena kesakitan.
"Adoooh! Sakit banget, say." pekik bang Agus.
Dia meringis sambil memegangi telinga nya, yang sudah tampak memerah akibat perbuatan ku tadi.
"Sokor! Makanya jangan kepo kali jadi orang, hihihi." umpat ku.
Aku cekikikan sendiri melihat raut wajah bang Agus yang terlihat kesal, sambil mengerucutkan bibir nya.
Selesai berbincang-bincang dengan bang Agus, aku kembali terdiam sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan ku.
"Kita main sekali lagi yok, say! Siap tu kita tidur." ajak bang Agus.
Bang Agus berdiri dari tempat duduk nya dan berjongkok di depan ku. Dia merenggangkan kedua kaki ku yang sedang menjuntai di kursi. Kemudian dia menenggelamkan wajah nya, dan menjulurkan lidah nya tepat di area pribadi ku.
"Auww, geli banget, bang!" rengek ku manja.
Aku menggeliat-geliat karena tidak tahan dengan perbuatan nakal bang Agus.
"Geli-geli enak kan, sayang?" tanya bang Agus.
Dia mendongak kan kepala nya sebentar, kemudian melanjutkan perbuatan nya kembali.
"Iya, enak banget rasanya, bang." balas ku dengan nafas yang mulai memburu.
Setelah beberapa saat melakukan perbuatan-perbuatan nakal nya, bang Agus pun langsung mengangkat tubuh ku ke atas ranjang.
Dan akhirnya, pergumulan panas pun kembali terjadi di atas ranjang hotel tersebut. Setelah merasa lelah, bang Agus pun menyelesaikan kegiatan nya, dengan nafas yang ngos-ngosan dan tubuh yang bermandikan keringat.
Setelah selesai membersihkan diri masing-masing di kamar mandi, aku dan bang Agus pun kembali membaring kan diri di atas ranjang.
"Sekarang kita bobok ya, say!" bisik bang Agus.
"Iya, bang." balas ku.
Aku memiringkan badan menghadap dinding sambil memeluk guling. Sedangkan bang Agus, dia memeluk tubuh ku dari belakang, dan melingkarkan satu tangan nya di pinggang ku.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, akhirnya kami berdua pun tertidur lelap di bawah selimut tebal. Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa hari pun sudah mulai terang.
Suara berisik dari kendaraan bermotor pun, mulai bersahutan di luar gedung hotel yang sedang kami huni tersebut.
"Bang, bangun ayo kita pulang!" bisik ku.
Aku mengguncang-guncang pelan bahu bang Agus, yang masih tampak setia dengan mimpi indah nya.
"Hmmm, ada apa, say?" jawab bang Agus.
Dia menggeliat dan mengucek-ngucek mata nya, yang masih terlihat sangat mengantuk.
"Udah pagi, bang. Ayo kita pulang sekarang!" ujar ku kembali mengulang ucapan ku tadi.
Bukan nya beranjak dari ranjang, bang Agus malah naik ke atas tubuh ku dan mengungkung ku dengan kedua tangan nya.
"Iiihhhh, lepasin botaaaak!" pekik ku.
Aku berontak dan berusaha melepaskan diri dari kungkungan bang Agus.
"Cium dulu, baru abang lepaskan!" pinta bang Agus dengan senyum menyeringai.
Aku memalingkan wajah ke samping sambil memanyunkan bibir, setelah mendengar permintaan selingkuhan lima langkah ku itu.
"Kok malah buang muka sih, say?" tanya bang Agus heran.
Aku tetap berdiam diri sambil terus memalingkan wajah ku ke samping. Melihat reaksi ku seperti itu, bang Agus pun kembali membuka suara nya.
"Kalau dirimu gak mau nyium, abang akan memakan mu lagi sekarang. Hayo, mau pilih yang mana?" tanya bang Agus sambil tersenyum genit pada ku.
"Hmmmm, yang mana ya?" gumam ku pura-pura bingung.
Aku berpikir sejenak, kemudian aku pun memutuskan untuk menerima tawaran yang kedua dari bang Agus.
"Aku mau yang yang kedua aja deh, bang." jawab ku dengan senyum yang sumringah.
"Hahaha, dirimu tau aja mana yang lebih enak dan nikmat." gelak bang Agus.
"Ya tau lah, emang nya aku anak kecil apa? Gak tau mana yang bikin enak dan mana yang enggak." balas ku sewot.
"Ya udah gak usah ngambek gitu, jelek tau gak! Abang mulai sekarang ya, say." ujar bang Agus.
"Oke, sayangku." balas bang Agus dengan senyum yang merekah.
Tanpa basa-basi lagi, bang Agus pun kembali mengulangi permainan nya, seperti yang di lakukan nya semalam kepada ku. Dia melakukan gerakan nya dengan kecepatan tinggi, dan gairah yang sangat menggebu-gebu.
Setelah satu setengah jam berpacu, bang Agus pun menyudahi permainan nya. Dan seperti biasa, dia selalu mengecup kening ku sesudah melakukan aksinya tersebut.
"Ayo kita mandi, say!"
Seru bang Agus sambil beranjak dari atas tubuh ku, dan menyambar handuk yang ada di atas meja rias.
"Iya, botak." balas ku mengekori langkah nya dari belakang.
Selesai mandi, aku dan bang Agus langsung bergegas memakai pakaian masing-masing, dan membereskan sedikit ranjang hotel yang berantakan seperti kapal pecah tersebut.
"Udah selesai semua, say?" tanya bang Agus sambil memakai sepatu sport nya.
"Udah, bang. Ayo kita keluar!" balas ku.
Aku mengambil tas ransel yang teronggok di atas nakas, dan menyampirkan nya di pundak ku. Setelah itu, kami berdua pun keluar dari kamar, dan berjalan menuju meja resepsionis untuk menyerahkan kunci kamar.
"Mau abang antar kan sampai ke rumah gak, say?" tanya bang Agus setelah sampai di parkiran motor.
"Gak usah, bang! Aku naik ojek aja ke rumah. Abang antar kan aku sampe ke taman aja, ya!" jawab ku sambil naik ke atas motor bang Agus.
"Oh, oke lah." balas bang Agus.
Bang Agus pun mulai melajukan motor nya menuju taman yang berada tidak jauh dari hotel, tempat kami memadu kasih semalam.
Sesampainya di taman, bang Agus memberikan beberapa lembar uang ke dalam genggaman tangan ku, sambil berkata...
"Jaga diri baik-baik di rumah ya, say! Abang mau langsung berangkat ke tempat kerja." ujar bang Agus.
"Iya, abang hati-hati di jalan ya!" balas ku.
__ADS_1
"Iya, say. Kalau seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, hubungi abang!" tambah bang Agus.
"Oke, bang." balas ku sambil menyunggingkan senyum kepada bang Agus.
"Ya udah, abang berangkat dulu ya, assalamualaikum." pamit bang Agus.
"Iya, wa'laikum salam." balas ku.
Bang Agus kembali melajukan kendaraan roda dua nya menuju jalan raya. Sedangkan aku, aku masih saja terpaku di tempat sambil menatap kepergian bang Agus.
Setelah bayangan bang Agus menghilang dari pandangan ku, aku pun mulai melangkah menuju pangkalan ojek, yang berjarak sekitar lima meter dari tempat ku berdiri.
"Ojek, kak?" tanya lelaki yang sedang duduk di atas motor nya.
"Iya, bang. Tolong antar kan saya ke jalan AB ya, bang!" pinta ku sambil memakai helm yang di berikan si tukang ojek tersebut.
"Oke siap, kak." jawab nya.
Aku langsung naik ke atas motor, dan meletakkan tas ransel ku di tengah. Lalu kemudian, lelaki si tukang ojek itu pun mulai menjalankan motor matic nya menuju ke rumah bang Darma suamiku.
Sampai di depan rumah, aku segera turun dari motor dan menyerahkan helm ke tangan si tukang ojek.
"Makasih ya, bang." ujar ku sambil memberikan uang ongkos kepada nya.
"Sama-sama, kak." balas si tukang ojek.
Setelah tukang ojek itu pergi, aku pun mulai berjalan ke depan pintu, dan membuka nya dengan kunci cadangan yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi.
"Wah wah wah, ternyata suami ku betah juga berlama-lama di rumah para benalu itu."
Aku bergumam sambil menggelengkan kepala, saat melihat keadaan rumah yang masih sepi, sama seperti saat aku tinggalkan semalam.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah, dan terus melangkah sampai ke dalam kamar. Setelah meletakkan tas di atas meja, aku pun kembali melangkah kan kaki keluar dari kamar menuju kios.
"Buka kios dulu ah, mana tau ada rejeki nomplok hari ini." gumam ku.
Selesai membuka pintu kios, aku langsung mulai merapikan dan membersihkan barang-barang dagangan ku itu dengan kemoceng.
Setelah semua nya tampak rapi dan bersih, aku pun kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel yang berada di dalam tas ransel.
Sesudah mendapatkan nya, aku langsung keluar dari kamar dan duduk selonjoran di sofa panjang ruang tamu.
Setelah mengaktifkan ponsel, mata ku langsung terbelalak lebar, saat melihat begitu banyak nya pesan masuk yang berasal dari bang Darma.
Bang Darma kembali mengirimkan foto-foto mesra nya bersama Dina. Mereka berdua berpelukan dan berciuman di atas ranjang tanpa menggunakan busana.
Bang Darma dan Dina menggunakan selimut, untuk menutupi tubuh mereka dari lutut sampai sebatas dada saja. Sehingga menampilkan kaki mereka berdua yang saling menindih satu sama lain.
"Ck, maksud nya dia ini apa sih sebenarnya? Ngapain juga dia ngirim-ngirim foto beginian sama ku? Kurang kerjaan banget jadi orang!" gerutu ku kesal.
"Apa mereka merasa senang ya, ngirim foto-foto yang tidak berguna kayak gini dengan ku?" gumam ku.
Setelah melihat pesan-pesan yang tidak berbobot dari bang Darma, aku pun mulai membuka pesan-pesan lain nya yang berasal dari Naya dan juga Rendi.
Kening ku langsung mengkerut, setelah melihat kata-kata pedas yang di kirimkan Naya kepada ku.
"Kau ada ngomong apa sama Rendi, Yu? Kenapa nomor Rendi tidak bisa di hubungi lagi? Apakah kau sudah mempengaruhi Rendi, supaya dia memblokir nomor ku?"
Itu kata-kata yang di kirim kan Naya pada ku. Dia menuduh ku yang tidak-tidak, karena Rendi sudah memblokir nomor ponsel nya.
"Udah gila kurasa bocah satu ini. Sembarangan aja dia nuduh-nuduh aku kayak gitu!"
"Apa muncung lancip nya itu minta di sumpal pake cabe giling ya, biar dia tau rasa sekalian?" gerutu ku geram.
"Rendi nya sendiri yang gak mau sama dia, kenapa malah aku pulak yang di tuduh mempengaruhi Rendi."
"Dasar, perempuan aneh!" omel ku pada Naya.
Aku terus saja menatap layar ponsel yang ada di tangan ku itu, dengan tatapan tajam dan sinis. Aku sangat kesal dan geram atas tuduhan yang di kirim kan Naya pada ku.
"Naya...Naya...Perasaan seseorang itu tidak bisa di paksa kan, Nay."
"Walaupun kau sudah berusaha sebisa mungkin untuk mendekati nya, jika dia tidak menginginkan mu. Maka sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan nya, paham!"
Aku mengirim kan kata-kata itu kepada nya, untuk membalas semua tuduhan nya pada ku.
__ADS_1
"Hufff, ada-ada aja tingkah nya bocah gendeng satu ini."
Aku membuang nafas kasar setelah mengirimkan balasan pesan kepada Naya, sepupu gila ku itu.