
Setelah kepergian Ayu, Dina langsung beranjak dari tempat duduk nya untuk mengunci pintu utama. Setelah itu, dia pun menyusul Darma masuk ke dalam kamar.
Dina mendudukkan diri nya di pinggir ranjang, lalu menoleh pada Darma yang sedang berbaring di samping nya, sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
"Dar, emang nya gak papa ya kalau istri mu yang gila itu kita suruh keluar?" tanya Dina.
"Ya gak papa lah, kenapa rupa nya? Ini kan rumah ku bukan rumah dia. Jadi aku berhak melakukan apa pun yang aku suka, termasuk memakai kamar ini untuk kita berdua." jawab Darma.
"Oh, bagus lah kalau gitu. Kenapa sih kau gak usir aja perempuan gila itu dari rumah ini? Biar aku sama Yuni aja yang menemani mu disini." tanya Dina lagi.
"Gak, aku gak akan pernah melepaskan dia. Aku masih mencintai nya, ya walau pun dia sudah berselingkuh di belakang ku, tapi aku tetap mencintai nya." jawab Darma tegas.
"Kau ini keras kepala kali sih jadi orang. Buat apa lagi kau pertahankan wanita tukang selingkuh seperti istri mu itu?" ujar Dina.
"Mendingan kau rujuk aja dengan ku, biar kita bisa menjadi keluarga yang utuh bersama Yuni." lanjut Dina.
Setelah mendengar penuturan Dina, Darma pun langsung memandangi wajah Dina dengan tatapan menusuk.
"Apa beda nya dengan mu, hah? Kau kan juga berselingkuh di belakang ku, iya kan?" tanya Darma sinis.
"I-iya sih, tapi kan aku selingkuh karena kau tidak melayani ku. Kau selalu mengacuhkan ku, dan kau juga sering mengabaikan kebutuhan batin ku." jawab Dina.
"Andai saja dulu kau memenuhi semua kebutuhan ku, aku pasti tidak akan mungkin menduakan mu, Dar. Aku pasti akan selalu setia dengan mu." lanjut Dina dengan mata yang mulai berembun.
"Udah lah, Din. Gak usah kau bahas lagi tentang masalah yang dulu-dulu. Aku juga udah malas untuk mengingat tentang semua pengkhianatan mu itu, paham!" balas Darma tegas.
"Ta-tapi, Dar..."
"Kuping mu budeg ya, Din? Tadi kan aku udah bilang, jangan pernah kau bahas lagi masalah itu di depan ku, ingat itu!" ujar Darma.
Darma memotong ucapan Dina, dan dia juga memberikan peringatan tegas kepada mantan istri nya, untuk tidak mengenang masa lalu di antara mereka dulu.
"Iya iya maaf, aku gak akan ungkit-ungkit masalah itu lagi!" balas Dina sambil menunduk kan kepala nya.
Dina berpura-pura memasang wajah sedih di depan Darma, agar dia bisa mendapatkan simpatik dari mantan suami nya itu.
Bukan nya merasa kasihan kepada Dina, Darma malah semakin mengacuhkan nya. Darma memiringkan tubuh nya menghadap tembok dan memeluk guling dengan erat.
"Sekarang aku mau tidur, kau jangan ganggu aku lagi ya! Kau bisa tidur di sebelah ku, tapi awas jangan berbuat yang aneh-aneh!" ujar Darma.
Darma kembali memberikan peringatan kepada Dina, tanpa menoleh sedikit pun kepada mantan istri nya tersebut.
"Loh, kok malah tidur sih, Dar? Tadi kau bilang mau ngasih jatah untuk ku. Kenapa sekarang malah di tinggal molor pulak?" protes Dina.
Dina terlihat sangat kesal dengan tingkah Darma yang saat ini sedang mengacuhkan nya. Dan dia juga tidak terima karena di abaikan begitu saja oleh mantan suami nya.
"Aku lagi malas yang begituan. Badan ku capek-capek semua nih, gara-gara nyariin pinjaman uang buat kalian berdua." gerutu Darma.
Setelah mendengar keluhan Darma, Dina pun langsung tersenyum licik di belakang punggung Darma.
__ADS_1
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Dina pun mulai menggoda Darma dengan berbagai macam cara.
"Sini aku pijatin, Dar! Biar badan mu gak pegel-pegel lagi kayak gini." tawar Dina.
"Boleh lah, tuh ambil handbody nya di atas meja." balas Darma.
Darma membuka semua pakaian nya sampai menyisakan celana pendek saja. Lalu, Darma kembali berbaring telungkup di hadapan Dina.
Melihat Darma yang sudah siap untuk di pijat, Dina pun langsung membuka seluruh pakaian nya sampai polos, tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh nya.
Setelah itu, Dina mengambil botol handbody dan duduk di atas pinggul Darma. Lalu kemudian, Dina mengoleskan handbody itu ke seluruh punggung Darma dengan lembut.
Dina mulai memijat pundak, punggung, dan pinggang Darma dengan telaten sambil sesekali menggesekkan area pribadi nya ke badan Darma.
Akibat ulah nakal Dina, Darma pun mulai gelisah dan sesekali menggeliat kan badan nya ke kanan dan ke kiri.
Setelah selesai memijat-mijat punggung Darma, Dina pun melanjutkan pijatan nya ke betis dan paha Darma.
"Pijatan ku enak gak, Dar?"
Dina bertanya sambil melepaskan celana pendek yang di gunakan Darma. Sehingga membuat keadaan mereka berdua sama-sama polos saat ini.
"Lumayan," jawab Darma cuek.
Dina hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Darma yang tidak sesuai dengan keinginan nya.
"Lihat saja, Dar. Aku pasti akan membuat mu bertekuk lutut lagi di hadapan ku." batin Dina.
Melihat gelagat Darma yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda bergairah, Dina pun semakin melancarkan aksinya.
Dina terus saja memancing Darma dengan kelakuan-kelakuan nakal nya pada tubuh Darma.
Setelah selesai memijat bagian kaki, kini tiba saatnya untuk memijat tangan dan dada Darma.
"Udah siap, Dar. Sekarang kau telentang, biar aku mudah memijat tangan dan badan bagian depan mu!" perintah Dina.
"Ya," jawab Darma.
Mendengar perintah Dina, Darma pun langsung menelentang badan nya. Dan tiba-tiba mata Dina langsung terbelalak lebar melihat benda keras yang ada di hadapannya.
Dina terus saja memandangi benda itu sambil menelan ludah nya secara kasar.
Karena saking kagum nya dengan pemandangan indah yang ada di hadapannya, tanpa sadar Dina langsung mengulurkan tangan nya untuk memegang benda keras tersebut.
Setelah mendapatkan sentuhan-sentuhan lembut dari Dina, Darma pun mulai terlena dan sesekali mengeluarkan suara-suara aneh nya.
"Udah jangan di teruskan lagi, Din! Aku udah gak tahan lagi kau buat." ujar Darma.
Bukan nya menghentikan perbuatan nakal nya, Dina malah semakin menjadi-jadi. Dina memasukkan benda itu ke dalam mulut nya, dan itu membuat Darma semakin melayang-layang sampai ke negeri kahyangan.
__ADS_1
"Dina, tolong hentikan perbuatan mu, Din! Jangan kau buat aku semakin tidak terkendali seperti ini, Din!" pekik Darma.
Dina yang tadi nya tengah asyik dengan kegiatan nya, kini dia beralih merangkak naik ke atas tubuh Darma sambil tersenyum genit kepada mantan suami nya itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Dina langsung memasukkan benda itu dan mulai melakukan gerakan-gerakan liar nya di atas tubuh Darma.
"Apakah kau menikmati aksi nakal ku ini, Dar?" bisik Dina sambil menggigit pelan telinga Darma.
"Iya, Din. Aku sangat menikmati nya. Kau memang sungguh luar biasa, sayang." jawab Darma dengan nafas yang memburu.
"Syukur lah kalau kau menikmati nya, sayang." balas Dina sambil tersenyum puas atas jawaban dari bibir Darma.
Dan pada akhirnya, pergumulan panas antara Dina dan Darma pun terjadi. Mereka berdua saling memberi dan menerima satu sama lain.
Setelah selesai bergumul ria dengan Dina, Darma pun langsung membersihkan diri nya ke kamar mandi, dan di susul oleh Dina dari belakang.
Sesudah membersihkan diri masing-masing, Darma dan Dina pun kembali masuk ke dalam kamar. Kemudian mereka duduk di tepi ranjang, dan hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuh mereka berdua.
"Makasih ya, Dar. Kau sudah memberikan pelayanan terbaik mu pada ku malam ini."
"Aku sangat bahagia karena bisa merasakan kehangatan mu lagi seperti dulu." tutur Dina panjang lebar.
"Iya sama-sama, Din." balas Darma.
Darma menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan, lalu dia menoleh dan menatap wajah Dina dengan pandangan yang tidak biasa.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu, Dar? Apa ada yang aneh ya di wajah ku?" tanya Dina.
"Apakah kau masih mencintai ku, Din?" tanya Darma dengan mimik wajah serius.
"Iya, Dar. Aku masih sangat mencintai mu." jawab Dina dengan senyum yang mengembang.
"Kalau kau memang masih mencintai ku, apakah kau mau kalau ku jadikan istri kedua ku?" tanya Darma lagi.
"Iya aku mau, Dar. Asal kan aku tetap bisa bersama mu. Ya walau pun hanya di jadikan istri siri mu, itu tidak jadi masalah buat ku." jawab Dina mantap.
Darma hanya manggut-manggut mendengar jawaban Dina yang tampak sangat yakin dengan keputusan nya tersebut.
"Oke lah kalau begitu, aku akan bicarakan dulu sama si Ayu. Kalau dia mengizinkan, aku akan secepatnya menikahi mu secara siri. Gimana, kau setuju kan dengan rencana ku itu?" tanya Darma.
"Iya terserah kau aja, yang penting kita bersatu kembali. Tapi ingat, kau harus lebih mementingkan ku dari pada istri gila mu itu, dan kau juga harus sering-sering tidur di rumah ku."
"Gimana, kau sanggup gak memenuhi permintaan ku?" tanya Dina balik.
"Oke, aku sanggup." jawab Darma dengan penuh keyakinan.
"Ya udah kalau gitu, sekarang kita tidur yok, Dar! Mata ku udah ngantuk banget nih, hoamm." ujar Dina sambil menguap lebar.
"Oke, mari kita tidur!" balas Darma.
__ADS_1
Setelah selesai merencanakan pernikahan siri mereka, Darma dan Dina pun mulai memejamkan mata nya.
Tak butuh waktu lama, Darma dan Dina pun akhirnya tertidur lelap dalam keadaan sama-sama polos di bawah selimut tebal.