
Emosi Dina membludak, hingga membuat Yuni dan Darma terkejut tidak karuan. Dina meluapkan kekesalannya kepada sepasang sejoli, yang sedang di mabuk cinta di depan nya tersebut.
"Mamak ini kenapa sih? Kok marah-marah gak jelas gitu?" tanya Yuni dengan kening mengkerut.
"Emang kenapa kalau kami mesra-mesraan, hah? Toh, bentar lagi kami juga bakalan nikah. Sirik aja sama kebahagiaan orang. Ya kan, bang!" cibir Yuni kesal.
"Iya," balas Darma singkat.
Darma bingung harus menjawab apa. Dia hanya mengiyakan ucapan Yuni, agar tidak memperkeruh keadaan di antara mereka bertiga.
"Heh, anak gak tau diri! Udah berani ngelawan orang tua kau ya. Gak takut kualat kau, ngelawan mamak mu sendiri, HAH?" bentak Dina.
Mendengar bentakan kuat Dina, Yuni langsung menunduk dan memasang wajah masam.
Dia sebenarnya muak dengan sikap egois ibu nya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Biar bagaimana sikap dan kelakuan buruk Dina, dia tetap lah ibu kandung nya yang harus di hormati dan di hargai.
"Udah udah, jangan pada berisik! Malu di dengar tetangga." ujar Darma menengahi perdebatan anak dan ibu tersebut.
"Biarin aja tetangga dengar, biar semua orang pada tahu tentang perbuatan kalian berdua. Biar di arak warga sekalian." balas Dina ketus.
"Ja-jangan gitu lah, Din. Masa kau tega sih lihat kami di arak warga, kejam banget." balas Darma mulai gelisah.
Darma mengeluarkan uang dari dalam saku celana nya, lalu memberikan nya ke tangan Dina sebanyak lima lembar sembari berkata...
"Nah, ini untuk beli bedak mu. Jangan marah-marah lagi ya, nanti kalau aku ada uang aku kasih lagi." ujar Darma.
Mata Dina langsung membulat, saat melihat lima lembar uang merah di tangan nya. Begitu juga dengan Yuni, dia membelalakkan mata nya, melihat Darma memberikan uang itu kepada ibu nya.
"Loh, kok cuma mamak aja yang di kasih, bang? Untuk Yuni mana?" protes Yuni sembari menadahkan tangan nya ke depan Darma.
"Tenang aja, untuk mu pasti ada kok." balas Darma sembari tersenyum.
Darma kembali merogoh saku celana nya untuk mengeluarkan uang. Setelah mendapatkan nya, ia lalu menyerahkan uang itu kepada gadis kecil nya tersebut.
"Yey, makasih ya, bang." ujar Yuni girang.
Yuni langsung memeluk tubuh Darma, dan mendarat kan kecupan-kecupan kilat nya di wajah Darma. Sedangkan Dina, dia masih dengan mode sinis nya, melihat tingkah kedua manusia yang ada di hadapannya tersebut.
"Ehem, ehem." Dina mendehem karena kesal dengan kelakuan Yuni.
Mendengar kode keras dari Dina, Yuni pun langsung terdiam dan kembali menunduk kan kepala nya di sebelah Darma.
"Dari mana kau dapat kan uang ini, Dar?" selidik Dina.
"Ada lah pokoknya. Kau gak perlu tau dari mana aku dapat kan uang itu, yang pastinya aku gak nyolong uang orang." jawab Darma santai.
"Oh," balas Dina.
Merasa tidak suka dengan pertanyaan ibu nya, Yuni pun kembali membuka suara. Dia memprotes ucapan Dina yang tidak tahu berterima kasih menurut nya.
"Mamak ini apa-apaan sih? Udah syukur di kasih duit, malah nanya yang tidak-tidak. Kalau mamak gak mau duit itu, sini kasih Yuni aja!" oceh Yuni sembari menadahkan telapak tangan nya ke depan wajah Dina.
"Enak kali kau, jatah mu kan udah di kasih. Kenapa jatah mamak di minta juga? Serakah kali jadi orang." omel Dina ketus.
"Maka nya jangan kebanyakan protes, tinggal terima aja kok kebanyakan bacot." balas Yuni.
"Aaagghhh, kalian ini bisa diem gak sih? Pusing kepala ku dengerin ocehan kalian terus." bentak Darma.
Dina dan Yuni langsung terdiam seketika. Anak dan ibu itu tidak menyangka, jika Darma akan semarah itu dengan mereka berdua.
Karena tidak ingin berdebat lagi dengan kedua sejoli itu, akhirnya Dina pun mengalah. Dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan dan shoping dengan teman-teman ya.
"Ya, udah lah. Dari pada bikin emosi meladeni kalian berdua, mendingan aku happy-happy aja di luar." ujar Dina lalu melenggang pergi meninggalkan Yuni dan Darma.
Dina masuk ke dalam kamar nya dan bersiap-siap untuk pergi. Tak lama kemudian, Dina keluar dari kamar dengan tas jinjing di tangan kiri nya.
Dina tampak cuek melewati Darma dan Yuni, yang sedang melongo memperhatikan gerak-gerik nya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Setelah Dina keluar dari rumah, Darma pun mulai mendekati Yuni dan mencium bibir nya. Darma juga menjalarkan jari-jari nakal nya di tubuh Yuni, hingga membuat Yuni menggeliat-geliat seperti ulat gendon yang ada di batang rumbia.
"Kita lanjutin di kamar aja yok, sayang!" bisik Darma.
"Ayo, siapa takut!" tantang Yuni sembari menyunggingkan senyum manis nya pada Darma.
"Iiihhhh, gumush banget sih." balas Darma lalu mencubit pelan hidung Yuni.
Darma kembali mencium bibir Yuni, lalu mengangkat tubuh nya ala bridal style, dan berjalan menuju kamar tanpa melepaskan ciuman nya.
Sampai di kamar, Darma merebahkan tubuh gadis kecil nya secara perlahan ke atas kasur. Setelah itu, Darma mulai membuka satu persatu pakaian, yang melekat di tubuh Yuni dan juga diri nya.
Setelah selesai, Darma mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut nya pada Yuni. Darma mengabsen setiap lekuk tubuh Yuni, tanpa ada yang terlewat kan sedikit pun.
__ADS_1
Darma juga memanjakan milik Yuni menggunakan lidah nakal nya, dengan durasi waktu yang lama.
Selesai memberikan cumbuan mesra nya, Darma melanjutkan tugas yang paling utama. Dia mengarahkan tombak sakti nya tepat di depan milik Yuni.
"Abang mulai ya, sayang!" ujar Darma.
"Iya, bang. Lakukan lah, Yuni juga udah pengen banget nih!" balas Yuni dengan nafas yang mulai tidak karuan.
"Oke siap, sayang ku." ujar Darma dengan senyum menyeringai di wajah nya.
Setelah mendapatkan izin dari gadis kecil nya, Darma pun langsung memulai permainan panas nya. Dia tampak begitu bersemangat memacu gerakan nya, hingga membuat Yuni mengeluarkan suara-suara aneh nya dengan cukup kuat.
Saat mendengar teriakan-teriakan seksi Yuni, membuat gairah Darma pun semakin meninggi, dan semakin menambah kecepatan gerakan nya.
Setengah jam kemudian, Darma dan Yuni pun memuncak secara bersamaan. Darma menyemburkan lahar hangat nya di dalam milik Yuni sampai habis tak bersisa.
"Waaahh, nikmat sekali, sayang. Abang bener-bener puas, kalau sudah bercinta dengan mu." puji Darma dengan senyum genit di wajah nya.
"Iya sama, Yuni juga gitu. Yuni juga puas banget dengan pelayanan abang." balas Yuni sembari menggigit bibir bawah nya.
Setelah mendengar ucapan Yuni, Darma kembali mendekat kan bibir nya ke wajah Yuni. Dia mendaratkan kecupan-kecupan mesra nya ke kening, pipi, dan juga bibir Yuni.
"Makasih ya, sayang. Sudah mau melayani abang." ujar Darma.
"Ya sama-sama, bang. Yuni juga ucap kan terima kasih, atas pelayanan yang begitu memuaskan, yang sudah abang berikan pada Yuni." balas Yuni tersipu malu.
Wajah Yuni memerah seperti tomat busuk, akibat menahan malu di depan Darma.
Melihat gelagat Yuni yang sedang malu-malu ayam, Darma pun kembali menggoda nya, dengan kata-kata yang bisa membuat wajah nya semakin memerah.
"Apakah kau menikmati nya, sayang?" tanya Darma dengan tatapan aneh nya.
"Iya, Yuni sangat menikmati nya." balas Yuni sembari memalingkan wajah nya ke samping.
"Kenapa buang muka gitu? Malu ya sama abang?" tanya Darma pura-pura heran.
"Gak lah, ngapain mesti malu? Kita kan udah sering melakukan nya, jadi udah gak ada rasa malu lagi." jelas Yuni.
"Serius?" tanya Darma lagi.
"Iya serius, tiga rius malah, hehehe." jawab Yuni sembari nyengir kuda.
Darma mulai mengeluarkan tombak nya lalu, membaringkan tubuh lelah nya di samping Yuni. Dengan keadaan yang masih sama-sama polos, Yuni pun mulai membuka percakapan kembali.
"Gimana kabar buk Ayu, bang? Apa dia udah tau, kalau kita akan menikah?" tanya Yuni sembari mengelus-elus milik nya yang masih basah, akibat tumpahan lahar Darma.
"Belum, abang belum ada ngomong apa pun tentang masalah kita." jawab Darma dengan tatapan menerawang.
"Loh, kok belum sih? Sebenarnya abang itu serius gak sih sama Yuni?" selidik Yuni sedikit kesal.
"Ya serius lah, sayang. Abang cuma belum sempat aja ngomong sama dia. Kau kan tau sendiri, kalau dia itu jarang di rumah." jawab Darma santai.
"Hhmm, iya juga sih. Dia kan menggatal terus kerjaan nya, menjual harga diri kesana kemari hanya demi uang." balas Yuni.
"Apa abang gak jijik ya, main sama dia? Sedangkan abang tau sendiri, kalau dia itu gonta ganti pasangan terus, hiiiiii." lanjut Yuni sembari bergidik ngeri.
Darma terdiam seketika, dia memikirkan ucapan Yuni yang benar ada nya.
"Bener juga apa kata Yuni. Kok aku gak kepikiran sampe kesitu ya? Kalau sampe aku kena penyakit, bisa gawat urusan nya." batin Darma gelisah.
Karena tidak mendapat jawaban dari Darma, Yuni pun kembali melanjutkan ocehan nya. Dia memiringkan tubuhnya, dan menopang kan kepala di atas telapak tangan nya.
"Bang, kok malah bengong sih? Bener gak kata-kata ku tadi?" tanya Yuni sembari mengguncang-guncang pelan bahu Darma.
Darma menoleh sekilas kepada Yuni, lalu kembali menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
"Iya, bener juga sih. Abang jadi takut juga dekat-dekat dengan Ayu. Takut nya dia kena penyakit, trus nular ke abang." jawab Darma.
"Tu lah, maka nya abang jangan pernah main sama dia lagi. Kalo abang pengen, minta sama Yuni aja. Yuni siap kok, melayani abang kapan pun dan dimana pun." tutur Yuni sembari tersenyum miring.
Yuni berusaha mempengaruhi Darma, agar dia mau menjauhi Ayu. Dia tidak akan pernah menyerah untuk memisahkan Darma dari istri sah nya tersebut.
Maka dari itu, Yuni terus mencuci otak Darma, dan terus saja menjelek-jelekkan Ayu di depan lelaki yang di cintai nya itu.
"Ya lah, nanti abang pikirkan masalah itu. Sekarang kita istirahat ya, gak usah bahas dia lagi." ujar Darma.
"Oke, abang ku sayang." balas Yuni girang dengan senyum yang mengembang di wajah imut nya.
Selesai berbincang-bincang tentang Ayu, Darma dan Yuni membetulkan posisi tidur nya. Lalu mereka berdua pun mulai memejamkan mata masing-masing.
Tak lama berselang Darma dan Yuni pun terlelap, dan hanyut ke dalam mimpi yang indah di bawah selimut.
__ADS_1
Baru saja tertidur selama setengah jam, tiba-tiba ponsel Darma berdering tanda panggilan masuk.
Kring kring kring... Kring kring kring...
Karena merasa terganggu dengan suara ponsel nya, Darma pun langsung tersentak dan membuka mata nya. Dia merentangkan satu tangan nya, untuk meraih ponsel yang sedang memekak di atas meja.
"Ck, siapa sih? Ganggu istirahat orang aja." oceh Darma.
Setelah mendapatkan ponsel nya, mata Darma langsung terbelalak lebar, saat melihat nama yang tertera di layar ponsel nya tersebut.
"Ayu," gumam Darma sambil terus memandangi layar ponsel nya.
"Kira-kira ada perlu apa ya, dia ngubungi aku? Apa jangan-jangan dia udah tau, kalau aku nyolong uang nya?" lanjut Darma mulai panik.
Dengan perasaan was-was, Darma pun menerima panggilan dari istri nya tersebut.
"Ha-halo, ada apa?" tanya Darma gugup.
"MANA UANG KU, BANGS*T?" pekik Ayu dengan suara menggelegar.
Saking kuat nya suara Ayu, sampai-sampai Darma menjauh kan ponsel itu dari telinga nya.
"U-uang apa ma-maksud mu?" tanya Darma pura-pura tidak tahu.
"Gak usah pura-pura bego kau setan. Cepat kembalikan uang ku sekarang juga! Kalau tidak, aku akan melaporkan mu ke polisi, karena kau sudah mencuri uang ku." ancam Ayu.
"Hah, polisi?" pekik Darma terkejut.
"Ya, polisi. Apa kau mau merasakan, gimana enak nya menginap di hotel prodeo?" lanjut Ayu.
"Ja-jangan lah, dek! Masa sama suami sendiri tega sih, sadis banget." balas Darma semakin panik.
Keringat dingin mulai bermunculan di kening dan juga wajah Darma. Dia paling takut, jika sudah menyangkut urusan kepolisian. Tangan Darma juga tampak sedikit bergetar, sambil terus memegangi ponsel nya.
"Kalau kau tidak mau berurusan dengan polisi, cepat kembalikan uang ku. Aku tunggu kau di rumah, SEKARANG!" pekik Ayu lagi.
"I-iya, aku pulang sekarang." jawab Darma lalu memutuskan panggilan sepihak.
Darma meletakkan ponsel nya kembali di atas meja, lalu melirik ke arah Yuni yang masih tertidur lelap di samping nya.
"Aduuuh, gimana cara minta nya sama Yuni? Dia pasti marah, kalau uang itu aku ambil lagi." gumam Darma sembari mengacak-acak rambut nya dengan kasar.
"Belum lagi uang yang sama Dina, pasti udah habis di belanjakan nya. Huh, bikin pusing aja pun istri gila satu itu." lanjut Darma kesal.
Dengan pikiran yang acak adut tidak karuan, Darma pun menoleh ke arah dompet Yuni, yang tergeletak begitu saja di atas meja tv.
"Pake uang Yuni dulu lah. Nanti kalau aku ada uang lagi, baru aku ganti." gumam Darma.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Darma pun memutuskan untuk memakai uang Yuni, tanpa sepengetahuan pemilik nya.
Darma mulai melangkahkan kaki nya secara perlahan menuju meja tv, lalu mengambil dompet Yuni.
Setelah itu, Darma mengeluarkan uang Yuni sebanyak satu juta, lalu meletakkan dompet itu kembali ke tempat semula.
"Hufff, untung aja Yuni ada simpanan uang. Kalau tidak, bisa berabe urusan nya." gumam Darma lega.
Darma bergegas memakai pakaian nya, lalu melangkah keluar dari kamar Yuni. Setelah menutup pintu utama, Darma memanggil tukang ojek pangkalan yang berada tidak jauh dari rumah Dina.
"Ojek!" pekik Darma sembari melambaikan tangan nya ke arah tukang ojek tersebut.
"Ya, bang." jawab salah satu tukang ojek.
Tak lama kemudian, tukang ojek itu pun sudah tiba di depan Darma.
"Mau kemana, bang?" tanya si tukang ojek.
"Ke alamat ini, ya!" jawab Darma memberitahu kan alamat rumah nya.
"Oke, bang." balas si tukang ojek.
Darma bergegas naik ke atas motor, sambil memakai helm di kepala nya. Setelah itu, si tukang ojek pun mulai menjalankan kendaraan roda dua nya dengan kecepatan sedang, menuju alamat yang di sebutkan Darma.
Tak butuh waktu lama, ojek yang di tumpangi Darma pun tiba di depan rumah nya.
"Makasih, ya." ujar Darma sembari menyerahkan helm dan ongkos, ke tangan si tukang ojek.
"Oke sama-sama, bang." balas nya.
Setelah menerima ongkos dari Darma, tukang ojek itu pun kembali menyalakan mesin motor nya, dan berlalu pergi dari hadapan Darma.
"Huh, bakalan perang lagi kayak nya nih." gumam Darma sambil terus memandangi pintu rumah nya.
__ADS_1