
Nama : Ayu Lestari
Usia : 33 tahun
Pekerjaan : Berdagang pakaian dan lain sebagainya.
Kota asal : Medan
Nama : Darma
Usia : 40 tahun
Pekerjaan : Buruh besi tua
Kota asal : Palembang
Nama : Yuni Setiawan
Usia : 17 tahun
Pekerjaan : Pengangguran
Hobi : Keluyuran, jalan-jalan, nongkrong sana sini dan lain-lainnya.
Nama : Agus
Usia : 38 tahun
Pekerjaan : PT. Pengurusan dokumen pelayaran kelautan.
Kota asal : Kalimantan
Nama: Rendi
Usia : 35 tahun
Pekerjaan : Jasa renovasi rumah, ruko dan lain-lain nya.
Kota asal : Jawa Tengah
Nama : Dina
Usia : 39 tahun
Pekerjaan : Happy-happy, shoping dan keluyuran.
Kota asal : Lampung
Maaf ya man teman, kalau ada visual yang tidak cocok dengan karakter atau pun usia nya.
* Kembali ke Darma dan Yuni *
Setelah kepergian Dina dari kamar, Darma duduk termenung di pinggir ranjang sambil menyalakan rokok nya.
Dengan pandangan menerawang, Darma kembali mengingat persyaratan yang di berikan oleh Dina tadi.
Sebenarnya Darma enggan untuk menyetujui nya, tapi dia terpaksa harus menurut karena ingin memiliki Yuni. Darma sudah terlanjur cinta dan sayang dengan anak angkat nya itu.
__ADS_1
Maka dari itu, dia akan melakukan apa saja demi mendapatkan wanita kesayangan nya tersebut.
"Kalau Yuni tau tentang rencana Dina, apa dia bisa menerima nya ya?" batin Darma bingung.
Dengan pikiran yang kalut dan tidak tenang, Darma terus saja merenung sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan nya.
Sedang asyik dengan renungan nya, tiba-tiba terdengar suara Yuni memanggil nya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Bang, udah di beli belum makanan nya?" tanya Yuni sembari mengucek-ngucek mata nya.
Darma langsung menoleh ke belakang, menyungging kan senyum manis nya sembari berucap...
"Udah, sayang. Tuh, ada di atas meja." jawab Darma menunjuk ke arah meja rias yang ada di depan nya.
"Oh, ya udah kalo gitu. Yuni cuci muka dulu ya, siap tu kita makan." ujar Yuni.
"Oke," balas Darma.
Yuni segera turun dari ranjang, lalu melilitkan handuk ke badan nya. Dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sambil terus menguap dan menggaruk-garuk kepala nya.
Setelah selesai mencuci muka dan menyikat gigi, Yuni segera keluar dan duduk di sebelah Darma.
"Ayo, kita makan!" seru Yuni.
"Yok!" balas Darma.
Darma dan Yuni beranjak dari tempat duduk nya, lalu mengambil bungkusan plastik yang tergeletak di atas meja. Mereka berdua duduk di kursi plastik yang berada di samping meja rias.
Yuni dan Darma memakan makanan nya masing-masing dengan lahap dan hening, tanpa percakapan apa pun di antara mereka.
Selesai menyantap makanan nya sampai habis tak bersisa, Yuni segera membuang sampah bekas makanan mereka, ke dalam tong sampah yang ada di samping pintu kamar mandi.
Setelah itu, Yuni mendudukkan dirinya di tempat semula, dan kembali membuka percakapan.
"Bang, tadi kayak nya Yuni ada dengar suara perempuan. Apa cuma mimpi ya? Atau memang beneran ada yang datang kesini tadi?" tanya Yuni.
Mendengar pertanyaan Yuni, Darma pun langsung panik. Dia sedikit gelagapan, saat melihat tatapan penuh selidik dari mata Yuni.
Setelah beberapa saat memikirkan alasan yang tepat, Darma pun mulai menjawab pertanyaan Yuni.
"Gak ada siapa-siapa kok, sayang. Kau cuma mimpi kayak nya tuh." bohong Darma.
"Ohhh, mungkin juga sih." balas Yuni.
Yuni percaya begitu saja dengan kebohongan yang di ciptakan oleh Darma, tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
"Fiuh, akhir nya percaya juga dia." batin Darma lega.
"Kita cerita-cerita di sana aja yok, sayang!" ujar Darma menunjuk ke arah ranjang.
Yuni mengikuti arah telunjuk Darma, lalu dia pun mengangguk kan kepala menyetujui ajakan Darma.
"Oke, yok!" balas Yuni dengan wajah berbinar.
Yuni tampak sangat bahagia, saat Darma mengajak nya ke atas ranjang. Dia berpikir bahwa Darma akan melayani lagi, tapi ternyata dugaan nya itu salah. Darma hanya ingin berbincang-bincang saja dengan nya
Yuni segera bangkit dari kursi dan membuka handuk yang melilit di tubuh nya, lalu dia pun merangkak naik ke atas ranjang.
Sedangkan Darma, dia membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh nya, lalu menyusul Yuni yang sudah masuk ke dalam selimut.
Darma membawa Yuni ke dalam dekapan hangat nya. Dia juga membelai rambut Yuni dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Yun, kalau seandainya mamak mu mengizinkan kita menikah. Apa kau sudah siap menjadi pendamping hidup abang?" tanya Darma.
"Loh, emang nya kenapa? Kok tiba-tiba nanya itu?" tanya Yuni balik.
"Ya, gak kenapa-kenapa sih. Abang cuma pengen tau jawaban mu aja." bohong Darma.
"Oooohh, gitu. Ya pasti siap lah, kan memang itu yang Yuni harapkan." balas Yuni.
__ADS_1
"Hmmmm, tapi kalau misal nya mamak mu ngajuin syarat, gimana coba? Apa abang harus menuruti nya juga?" tanya Darma ragu.
"Ya, turuti aja lah. Biar kita bisa dapat izin dari dia." jawab Yuni santai.
"Emang nya mamak ada ngomong apa sama abang?" selidik Yuni.
"Tadi abang udah ngubungi mamak mu, trus abang minta izin sama dia untuk menikahi mu. Tapi..."
Darma sengaja menggantung kata-kata nya. Dia ingin membuat Yuni semakin penasaran, dengan percakapan nya dengan Dina.
"Tapi apa? Kenapa gak di terusin ngomong nya?" desak Yuni kesal.
"Tapi mamak mu bilang, dia mau ikut tinggal sama kita." jawab Darma.
"Lah, ngapain pulak dia ikut tinggal sama kita? Dia kan punya rumah kontrakan sendiri, kenapa mesti ngikut sama kita?" tanya Yuni.
Darma membuang nafas kasar. Dia semakin pusing dan bingung, untuk menjawab pertanyaan dari gadis yang ada di dekapan nya tersebut.
"Kata nya tadi sih, dia takut tinggal sendirian di rumah itu. Maka nya dia mau ikut tinggal bareng sama kita." bohong Darma.
"Ck, tapi kan gak nyaman nanti nya kalau ada dia. Kita gak bisa bebas melakukan apa pun di rumah." ujar Yuni semakin kesal.
Yuni sama sekali tidak setuju, jika Dina ikut tinggal bersama mereka nantinya. Yuni takut, kalau Dina akan mengganggu kesenangan nya dengan Darma.
Melihat reaksi Yuni yang enggan menerima kehadiran Dina di rumah mereka nanti, Darma pun kembali memutar otak untuk meyakinkan Yuni. Agar dia mau menerima Dina untuk tinggal bersama mereka.
"Emang nya gak ada syarat lain ya, selain itu?" tanya Yuni lagi.
"Gak ada, mamak mu cuma bilang itu aja." jawab Darma.
"Ck, mamak ini ada-ada pun permintaan nya. Masa iya, dia mau ikut nebeng sama kita? Ganggu aja kerjaan nya." gerutu Yuni.
"Kalau menurut abang gimana? Apa abang setuju, kalau mamak ikut sama kita?" tanya Yuni.
"Ya, kalau abang sih oke-oke aja. Lagian kan gak ada salah nya juga dia ikut kita, kasihan juga sih kalau di tinggal sendirian di rumah itu." jawab Darma.
Yuni terdiam sejenak, dia masih ragu untuk menerima kehadiran Dina di kehidupan baru nya nanti. Yuni juga takut kalau Dina akan mendekati Darma, atau merayu-rayu Darma kalau sedang berduaan di rumah.
Melihat keterdiaman Yuni, Darma pun memiliki ide untuk merayu nya. Dia mulai menjalarkan jari-jari nakal nya di tubuh Yuni.
Darma juga mulai mencium bibir Yuni dengan lembut dan mesra, hingga membuat Yuni mulai terlena dan menikmati perbuatan Darma.
Setelah beberapa menit melakukan pergulatan lidah, Darma pun melanjutkan kegiatan-kegiatan lain nya. Dia memanjakan tubuh Yuni dengan sentuhan-sentuhan nakal nya.
Dan itu berhasil membuat Yuni semakin gelisah dan tidak terkendali lagi. Setelah selesai memberikan sentuhan nya dari atas sampai bawah, Darma pun kembali merangkak naik ke atas tubuh Yuni.
Dia kembali memeluk dan memberikan beberapa tanda merah di leher, dan juga di bagian-bagian lain nya.
"Kita mulai sekarang ya, sayang." bisik Darma.
"Iya, lakukan lah!" balas Yuni dengan mata sayu dan senyum yang mengembang di bibir nya.
Setelah mendapatkan izin dari Yuni, Darma langsung memulai kegiatan nya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Dan akhirnya, olahraga yang penuh dengan keringat itu pun kembali terjadi di atas ranjang tersebut. Darma dan Yuni sangat bersemangat dalam melakukan kegiatan nya.
Mereka berdua saling memberi dan menerima satu sama lain, dengan penuh suka cita dan hati yang begitu bahagia.
Setelah merasa puas, Darma pun menyelesaikan kegiatan nya. Dia terkulai lemas di samping Yuni dengan nafas yang masih tampak ngos-ngosan.
"Makasih ya, sayang. Makasih atas semua nya." bisik Darma sembari tersenyum penuh kebahagiaan.
"Iya sama-sama, bang." balas Yuni.
Sesudah melakukan olahraga yang sangat melelahkan, Darma dan Yuni pun segera beranjak dari ranjang, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing.
Setelah selesai, mereka berdua kembali naik ke atas pembaringan. Dengan keadaan polos tanpa sehelai benang pun, Darma dan Yuni mulai memejamkan mata sambil berpelukan di bawah selimut.
"Kita bobok ya, sayang." tutur Darma lalu mendarat kan kecupan-kecupan mesra nya di wajah Yuni.
__ADS_1
"Iya, abang ku tersayang." balas Yuni sembari tersenyum manis pada Darma.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua pun langsung terlelap dan masuk ke alam bawah sadar masing-masing.