
Setelah beberapa saat termenung memikirkan bang Darma, tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu tiga kali.
Aku bergegas bangkit dari ranjang, lalu melangkah menuju pintu dengan handuk yang melilit di tubuh ku.
Setelah pintu terbuka, Rendi langsung membelalakkan mata nya, saat melihat keadaan ku dengan rambut yang sedikit acak-acakan, dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi sebagian tubuh ku.
"Kok udah berantakan gitu? Emang baru siap ngapain?" selidik Rendi curiga.
"Gak ada ngapa-ngapain kok, cuma lagi stres aja." bohong ku.
Rendi terus saja memperhatikan penampilan ku yang sedang acak adut tidak karuan. Wajah yang polos tanpa polesan sedikit pun, membuat ku tampak pucat dan kusam.
"Masuk lah!" seru ku.
Masih dengan tatapan aneh nya, Rendi pun melangkah masuk lalu mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Setelah itu, aku segera mengunci pintu dan ikut duduk di samping nya.
"Gimana tadi kerja nya, lancar-lancar aja kan?" tanya ku basa-basi.
"Alhamdulillah, lancar." jawab Rendi dingin.
"Oh, syukur lah kalo gitu." balas ku pelan.
Suasana berubah hening dan mencekam seketika. Rendi masih saja dengan mode dingin nya. Sedangkan aku, aku memilin-milin ujung handuk dengan kepala yang menunduk.
Aku bingung harus membuka percakapan apa dengan Rendi. Hingga akhirnya nya, lelaki yang ada di samping ku itu pun membuka suara nya kembali.
"Gimana kabar rumah tangga mu?" tanya Rendi lalu mengalihkan pandangan pada ku.
"Makin hancur." jawab ku lirih tanpa menoleh sedikit pun pada nya.
"Makin hancur gimana?" selidik Rendi.
Aku menghela nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya secara kasar. Aku menoleh sekilas ke arah Rendi lalu kembali menunduk, sambil terus memilin-milin ujung handuk yang aku gunakan tersebut.
"Suami ku semakin menggila dengan perbuatan nya. Saat ini bukan cuma tubuh mantan nya saja yang di sentuh nya, tapi tubuh anak nya juga." jelas ku.
"APA?" pekik Rendi dengan suara menggelegar.
Saking kuat nya suara Rendi, sampai-sampai aku pun ikut terlonjak kaget, sambil mengelus-elus dada dengan mata terbelalak lebar. Dada ku langsung berdebar-debar tidak karuan, akibat teriakan Rendi barusan.
"Astaga, bikin jantungan aja setan satu ini." gerutu ku kesal.
__ADS_1
Rendi yang masih tampak setia dengan keterkejutan nya pun hanya plonga-plongo, dengan mata yang membulat sempurna. Dia sama sekali tidak menyangka, jika suami ku sebejat itu dengan anak nya sendiri.
Melihat reaksi Rendi yang masih terdiam seperti patung manekin, aku pun langsung menyadarkan nya dengan menepuk kuat lengan nya.
"Woy, kok malah bengong sih? Entar kesurupan jin iprit loh, hihihi." ledek ku sembari cekikikan.
Mendapatkan tepukan kuat di lengan nya, Rendi pun langsung tersadar dari lamunan nya, lalu memekik kesakitan.
"Adoooh, sakit tau gak!" pekik Rendi sambil meringis.
"Hahahaha, maka nya jangan bengong terus. Bikin bulu kuduk ku merinding aja." oceh ku sembari tertawa ngakak.
"Bukan bengong, tapi terkejut." balas Rendi sambil mengelus-elus lengan nya.
"Ya, sama aja lah arti nya." ujar ku ketus.
"Mana pulak sama, ya beda lah." balas Rendi mulai ngeyel.
Berhubung aku lagi malas otot-ototan dengan Rendi, akhirnya aku pun mengalah.
"Yo wes lah, karep mu lah situ!" balas ku ketus sembari memanyunkan bibir.
Aku berpura-pura memejamkan mata dengan posisi miring menghadap tembok. Aku ingin melihat, bagaimana reaksi Rendi saat ku cueki seperti itu.
Dan ternyata dugaan ku tidak meleset, Rendi langsung protes dan mengoceh panjang lebar melihat tingkah ku.
"Loh, kok malah di tinggal molor sih? Abang kan masih mau dengar cerita tentang suami mu tadi. Kenapa gak di lanjutin sih ceritanya?" oceh Rendi.
"Lagi gak mood, lain kali aja kalau mau cerita tentang hantu gila itu." jawab ku tanpa menoleh pada Rendi.
"Ck, kok lain kali sih. Abang kan penasaran nya sekarang. Udah kepalang tanggung dengerin nya." lanjut Rendi masih tetap kekeuh dengan keinginan nya.
"Udah, gak usah ngeyel kalo di bilangin. Mandi sana, gih! Bersihin dulu muka nya tuh, biar gak lecek kayak kain lap gitu." ledek ku.
"Iya iya, cerewet!" umpat Rendi kesal.
Wajah Rendi langsung berubah masam, saat mendengar ledekan ku. Dengan gerakan malas dan langkah gontai, Rendi membuka semua pakaian nya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Lima menit kemudian, Rendi keluar dengan wajah yang sudah segar dan rambut yang basah. Kemudian dia berdiri di depan cermin meja rias, lalu mengeringkan rambut nya dengan handuk yang melilit di pinggang nya.
Aku melirik gerak-gerik Rendi dari pantulan cermin. Aku menelan ludah dengan kasar, saat melihat tubuh polos Rendi dari belakang.
__ADS_1
"Duuuh, bikin ngiler aja nih orang." gerutu ku dalam hati.
Selesai mengeringkan rambut nya, Rendi menyemprot kan parfum ke seluruh tubuh nya, lalu menyusul ku ke atas ranjang.
Rendi membaringkan diri di belakang ku, dan melingkarkan tangan nya di pinggang ku. Kemudian dia meletakkan satu kaki nya di pinggul ku, dan menempel kan badan nya di punggung ku.
Aku sama sekali tidak menghiraukan tingkah Rendi, yang sedari tadi krusak-krusuk di belakang punggung ku. Aku masih tetap diam dan terus memejamkan mata.
"Yang di depan ku ini orang atau kebo sih? Masa dari tadi diem terus kayak debok pisang." cibir Rendi sembari mengecup tengkuk leher ku dari belakang.
Mendengar kata-kata kebo, mata ku langsung terbelalak lebar. Aku menyingkirkan tangan dan kaki Rendi dari tubuh ku, lalu merubah posisi tidur ku untuk menghadap pada nya, sembari berkata...
"Enak aja muncung mu ini bilangin aku kebo, mau minta di sumpal pake sandal ya!" balas ku kesal.
"Hahahaha, akhirnya bangun juga dia kan." gelak Rendi.
"Udah ah, gak usah cekikikan terus! Udah kayak mak kunti aja lama-lama ku tengok." gerutu ku semakin kesal.
Tawa Rendi langsung lenyap seketika, setelah mendengar ocehan ku. Dia mengganti tawa nya dengan senyum menyeringai, seperti buaya yang hendak menerkam mangsanya.
Rendi mendekat kan wajah nya pada ku, mencium bibir ku dengan rakus, hingga membuat ku kesusahan untuk bernafas.
"Udah ah, sesak dada ku abang buat!" oceh ku dengan nafas yang naik turun tidak karuan.
"Ah, masa gitu aja sesak sih? Biasa nya lebih dari itu pun gak papa kok, alasan aja." gerutu Rendi sedikit kecewa karena penolakan ku.
"Maka nya kalau nyium itu yang lembut dikit, jangan ngebut gitu. Kayak orang kesetanan aja." omel ku.
"Siapa yang ngebut? Orang tadi biasa-biasa aja kok nyium nya." bantah Rendi.
"Hadeehh, memang susah kalau ngomong sama buaya buntung satu ini." gumam ku pelan.
Setelah mendengar ucapan ku, Rendi pun langsung mendelik dan kembali berceloteh ria di depan ku.
"Heh heh heh, sembarangan bilangin orang buaya buntung. Mau minta di hukum ya?" ujar Rendi.
"Gak ah, males. Aku mau tidur aja." balas ku cuek.
Aku langsung memiringkan badan untuk memunggungi Rendi. Setelah itu aku mulai memejamkan mata kembali, dan berpura-pura tidur.
"Lololoh, beneran tidur pulak dia." oceh Rendi semakin kesal melihat tingkah ku yang tidak memperdulikan keinginan nya.
__ADS_1