SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Pelayanan yang Memuaskan


__ADS_3

"Saya juga sudah tidak tahan lagi ingin menikmati keindahan tubuh mu ini, sayang." lanjut pak kades dengan senyum menyeringai.


Tanpa basa-basi lagi, pak kades langsung melakukan serangan nya pada ku. Dia mencumbui ku dari ujung rambut sampai ujung kaki, tanpa ada yang terlewat kan sedikit pun.


Pak kades memberikan pelayanan yang berbeda dari yang lain nya. Dia cukup lihai dan lincah dalam melakukan gerakan-gerakan nya.


Setelah selesai melakukan pergumulan panas dengan ku, pak kades pun mengecup kening ku sambil berkata...


"Tubuh mu ini memang sangat nikmat sekali rasa nya, mbak Ayu. Sampai-sampai saya candu di buat nya. Saya juga benar-benar ketagihan dengan permainan mu, sayang." ujar pak kades.


"Ah, masa sih, pak. Bapak bikin saya jadi malu saja." balas ku tersenyum.


"Iya beneran, mbak. Saya selalu terbayang-bayang terus dengan kemolekan tubuh mbak Ayu ini. Rasa-rasanya saya ingin terus menikmati nya." lanjut pak kades.


"Sama, pak. Saya juga begitu, saya juga ketagihan dengan tongkat bapak yang super duper besar ini." balas ku sambil memegangi tongkat nya.


"Nanti kita main lagi ya, pak! Saya masih ingin merasakan kenikmatan itu dari bapak." pinta ku tanpa rasa malu.


"Pasti dong, mbak. Kita pasti akan main lagi nanti. Dengan senang hati saya akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk mbak Ayu." jawab pak kades.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk, menanggapi penuturan pak kades. Setelah berbincang-bincang hangat dengan pak kades, aku pun mengajak nya untuk membersihkan diri di kamar mandi.


"Kita bersihin dulu yok, pak!" ajak ku.


"Oke, mbak." balas pak kades.


Dia langsung turun dari atas tubuh ku dan dan menggandeng lengan ku, untuk melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Selesai membersihkan diri masing-masing, aku dan pak kades duduk bersandar di kursi rotan yang sudah tersedia, di dalam kamar hotel yang sedang kami huni tersebut.


"Mbak, saya boleh nanya sesuatu gak?" tanya pak kades dengan mimik wajah yang serius.


"Boleh, emang bapak mau nanya apa an, kayak nya serius banget?" tanya ku balik sambil menyalakan rokok.


"Saya kok sering lihat mantan istri mas Darma itu datang ke rumah kalian ya, mbak. Apa mereka berdua masih berhubungan sampai sekarang?" selidik pak kades.


Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskan nya secara kasar. Aku bingung harus menjawab apa kepada pak kades.


"Iya, pak. Mereka masih berhubungan sampai saat ini." jawab ku dengan nada lemah.


"Loh, kok bisa gitu, mbak? Emang nya mbak Ayu gak marah ya, melihat mereka masih berhubungan gitu?" tanya pak kades semakin penasaran.


"Enggak, pak. Saya memang membiarkan mereka seperti itu, karena saya juga sadar kalau saya juga melakukan kesalahan yang fatal di belakang bang Darma." jelas ku.


"Kesalahan yang fatal maksud nya?" tanya pak kades bingung.


"Ya kesalahan yang seperti saat ini kita lakukan." jawab ku kembali menghisap rokok yang ada di tangan ku.


"Oooohhh, saya ngerti sekarang. Jadi intinya mas Darma berbuat seperti itu, hanya karena ingin membalas dendam atas perbuatan mbak Ayu ya?" tanya pak kades.


"Yupz, betul sekali, pak." jawab ku sambil tersenyum kecut.


Pak kades langsung manggut-manggut setelah mendengar jawaban ku. Dia tampak heran melihat rumah tangga yang sedang aku jalani saat ini.


"Hmmmm, kalau boleh saya tau, apa alasan mbak Ayu berselingkuh di belakang mas Darma? Apa karena tidak mendapatkan kepuasan atau ada hal lain lagi?" tanya pak kades ragu.


"Ya, karena saya tidak mendapatkan kepuasan batin, pak. Saya selalu di abaikan, bahkan saya juga sering di tolak bang Darma saat saya meminta jatah batin saya." jawab ku jujur.


"Lololoh, kok gitu? Emang nya mas Darma sudah tidak kuat lagi ya melakukan nya?" tanya pak kades lagi.


"Entah lah, pak. Saya juga gak tau kenapa bang Darma begitu dingin kepada saya." jawab ku.


"Ck ck ck, alangkah bodoh nya mas Darma mengabaikan orang secantik mbak Ayu ini. Udah lah cantik, mulus, bersih, bentuk tubuh nya juga bikin bergairah." balas pak kades sambil menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Kok mau-maunya mas Darma menukar berlian dengan batu kerikil jalanan, seperti mantan istri nya itu." lanjut pak kades.


Aku yang mendengar penuturan pak kades pun, langsung tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut ku.


"Hahahaha, bapak ada-ada saja. Masa di sama kan dengan batu kerikil jalanan." balas ku.


"Emang kenyataan nya gitu kok, mbak. Kalau di bandingkan Dina dengan mbak Ayu, ya sudah pasti kalah jauh lah." ujar pak kades.


"Mungkin suami saya melakukan itu karena kesal dengan saya, pak." balas ku.

__ADS_1


"Bisa jadi sih, mbak." lanjut pak kades.


Setelah selesai bercerita dengan pak kades, aku mematikan api rokok dan kembali naik ke atas ranjang. Kemudian aku melepaskan handuk yang melilit di tubuh ku, lalu mengajak pak kades untuk bergumul ria kembali.


"Ayo layani saya lagi, pak! Saya ingin merasakan keperkasaan bapak lagi sekarang!" rengek ku sambil melambaikan tangan kepada pak kades.


"Wah, ternyata mbak Ayu ketagihan ya dengan permainan saya." balas pak kades.


"Iya bener, pak. Saya memang sudah ketagihan dengan bapak. Ayo cepetan dong, pak! Saya pengen banget nih." desak ku sambil terus merengek manja minta di layani kembali oleh pak kades.


"Iya sabar, mbak. Saya pasti akan layani lagi kok, tenang aja ya!" balas pak kades.


Mendengar rengekan ku, pak kades pun langsung melepaskan handuk nya dan merangkak naik ke atas ranjang.


Dia kembali mencumbui tubuh ku dengan mesra. Pak kades menciumi area pribadi ku dengan rakus seperti orang kesurupan.


Setelah puas bermain-main di bagian bawah, pak kades pun langsung menancap kan tongkat besar nya. Setelah itu, pak kades pun mulai memacu gerakan-gerakan liar nya.


Pak kades pun menyudahi permainan nya, setelah kami berdua mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


"Terima kasih ya, mbak Ayu. Sampean memang wanita yang sangat luar biasa. Selain cantik dan berbody aduhai, sampean juga sangat pandai memuaskan pasangan di atas ranjang." tutur pak kades.


"Ah, bapak terlalu berlebihan." balas ku tersipu malu mendengar pujian pak kades.


Melihat tingkah ku yang sedang malu-malu kucing, pak kades pun kembali melontarkan kata-kata rayuan nya pada ku.


"Iya beneran, sayang. Saya saja sampai kewalahan menghadapi hasrat sampean ini." lanjut pak kades.


Dia tersenyum genit dan menoel-noel hidung ku. Aku pun semakin tersipu malu akibat rayuan maut pak kades barusan.


"Ayo kita mandi, mbak! Siap itu kita langsung pulang."


"Oke, pak." balas ku.


Pak kades mencabut tongkat nya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Aku yang sedari tadi terbaring di atas ranjang pun, langsung bangkit dan mengekori pak kades dari belakang.


Setelah selesai membersihkan diri, kami berdua pun memakai pakaian masing-masing dan bersiap-siap untuk keluar dari kamar hotel.


"Mbak, terima kasih banyak ya atas waktu nya hari ini. Kapan-kapan, boleh kan kita ketemuan lagi ya, mbak?" tanya pak kades.


"Baik lah, mbak. Nanti kalau saya ada waktu lagi, saya akan menghubungi mbak Ayu. Kita akan bersenang-senang lagi seperti tadi." ujar pak kades.


"Oke siap, pak." balas ku sambil tersenyum manis pada nya.


"Ini uang untuk mbak Ayu sebagai tanda terima kasih saya, karena mbak Ayu sudah melayani saya hari ini." ujar pak kades.


Pak kades menyerahkan segepok uang biru ke tangan ku, sambil menyunggingkan senyuman genit nya pada ku.


Mata ku langsung terbelalak lebar karena saking terkejut nya, saat melihat uang yang di berikan pak kades pada ku.


"Wow, banyak banget uang nya, pak! Makasih banyak ya, pak kades." balas ku dengan wajah yang berbinar cerah.


Aku langsung reflek memeluk dan mencium kilat bibir pak kades. Lalu kemudian, aku menyimpan uang itu ke dalam tas dan kembali memeluk tubuh lelaki yang ada di hadapanku itu.


Pak kades pun membalas pelukan ku, dan menciumi kening pipi dan juga bibir ku lalu berkata...


"Iya sama-sama, mbak. Saya juga berterima kasih untuk kenikmatan hari ini." balas pak kades.


Aku kembali tersenyum dan melepaskan pelukan ku dari tubuh kekar pak kades.


"Ayo kita pulang, mbak!" ajak pak kades.


"Iya, pak." balas ku.


Aku dan pak kades keluar dari kamar hotel dan berjalan menuju meja resepsionis untuk menyerahkan kunci. Setelah itu, kami berdua berjalan kembali menuju parkiran.


"Oke lah kalau begitu, kita berpisah disini aja ya, mbak!" ujar pak kades.


"Oke, hati-hati di jalan ya, pak." balas ku.


"Iya, mbak." jawab pak kades.


Setelah berpamitan, pak kades pun masuk ke dalam mobil nya dan berlalu pergi dari hadapan ku. Begitu juga dengan ku, aku naik ke atas motor dan melajukan kendaraan roda dua ku itu kembali ke rumah bang Darma.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah, aku langsung memarkirkan motor di teras dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Suasana di dalam masih sunyi senyap, sama seperti waktu aku tinggalkan tadi. Ternyata bang Darma belum juga kembali ke rumah, sejak menerima uang pemberian ku tadi pagi.


"Huh, punya suami tapi berasa kayak janda." gumam ku membuang nafas kasar.


Setelah menyimpan tas di dalam laci meja, aku pun menjatuhkan tubuh lelah ku di atas ranjang. Dengan pandangan menerawang menatap langit-langit kamar, aku mengingat kembali tentang kebersamaan ku dengan pak kades.


"Puas juga rasa nya bercinta dengan pak kades. Aku sangat menyukai permainan nya tadi. Selain memiliki tongkat yang besar, dia juga pandai memainkan gerakan nya." gumam ku.


Aku menggigit bibir bawahku, sambil terus mengingat permainan pak kades yang sangat luar biasa menurut ku.


Saat sedang asyik mengkhayal tentang pak kades, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok tok tok...


"Dek, buka pintu nya!" pekik bang Darma dengan suara keras.


"Ya, bentar!" balas ku.


Dengan gerakan malas dan lemas, aku pun beranjak dari ranjang dan melangkah menuju pintu utama sambil menggerutu.


"Ck, mengganggu khayalan ku aja pun hantu satu ini!" gerutu ku kesal.


Setelah pintu terbuka lebar, aku langsung bersidekap dan tersenyum miring melihat wajah kusut bang Darma.


"Masih ingat pulang juga kau rupanya. Aku pikir kau udah gak ingat lagi jalan pulang ke rumah ini!" sindir ku.


"Ini kan rumah ku, gak mungkin lah aku gak pulang ke rumah ini lagi. Aneh-aneh aja kau itu." jawab bang Darma ketus.


Bang Darma langsung nyelonong masuk ke dalam rumah, dan merebahkan diri di atas sofa sambil memijat-mijat kepala nya sendiri.


"Ada apa lagi, kenapa muka mu semrawut gitu?" tanya ku penasaran.


"Gak ada apa-apa." jawab bang Darma masih dengan nada ketus.


Bang Darma terus saja memijat kepala nya dengan mata yang terpejam. Raut wajah nya tampak sangat lelah dan kecapekan.


"Mandi sana gih, udah kayak kain lap yang ada di dapur itu ku tengok muka mu itu!" cibir ku.


"Ck, bisa diem gak sih! Berisik kali mulut mu itu." balas bang Darma kesal.


Setelah mendengar jawaban bang Darma, aku pun kembali masuk ke dalam kamar, dan melanjutkan khayalan ku yang sempat tertunda akibat kehadiran bang Darma.


"Dari pada mikirin suami gila ku itu, mendingan aku mengkhayal tentang permainan pak kades lagi." gerutu ku pelan.


Aku berbaring miring menghadap dinding sambil memeluk guling. Pikiran kembali tertuju kepada pak kades. Aku terus saja terbayang-bayang dengan pelayanan pak kades tadi.


Beberapa saat kemudian, bang Darma pun masuk ke dalam kamar dan kembali mengganggu ketenangan ku. Dia duduk di tepi ranjang sambil berkata...


"Kau ada megang uang gak, dek?" tanya bang Darma.


"Ya pasti ada lah, kau pikir aku perempuan kere kayak benalu mu itu."


Aku menjawab sinis pertanyaan bang Darma, tanpa menoleh sedikit pun pada nya yang sedang duduk di belakang punggung ku.


"Ya gak usah ngegas gitu lah jawab nya! Tinggal bilang ada atau enggak aja kok banyak kali embel-embel nya." protes bang Darma.


"Emang nya kau mau apa tanya-tanya uang ku segala, hah?" tanya ku lantang.


Aku membalikkan badan dan menatap tajam kearah bang Darma.


"Aku mau pinjam dulu satu juta buat biaya berobat Yuni." jawab bang Darma santai.


Aku langsung tertawa mendengar ucapan bang Darma. Dia ingin meminjam uang ku untuk di berikan kepada para benalu kesayangan nya itu.


"Hahahaha, ada rencana busuk apa lagi yang akan kalian lakukan pada ku, hah?"


"Kau pikir semudah itu aku akan memberikan uang ku pada mu. Jangan mimpi suami ku, karena sampe kapan pun itu gak akan pernah terjadi, ingat itu baik-baik!" cibir ku.


"Kau itu ngomong apa sih, dek? Siapa juga yang punya rencana busuk? Aku itu cuma mau pinjam uang mu, bukan mau berbuat yang aneh-aneh." oceh bang Darma.


"Cepat lah, mana uang nya? Aku lagi buru-buru nih, mau bawa Yuni berobat ke klinik." desak bang Darma sambil menadahkan tangan nya.

__ADS_1


"Cih, gak sudi aku memberikan uang ku itu untuk anak mu." balas ku.


__ADS_2