
"Mau di atas kek, mau di bawah kek, aku tetap gak mau, botaaak!" balas ku mulai kesal.
"Emang kenapa sih, say? Tumben banget dirimu nolak, biasa nya malah dirimu yang paling semangat kalo di ajak main." tutur bang Agus heran.
"Kan tadi udah aku bilang aku lagi capek. Capek badan, capek pikiran, capek semua-mua lah pokoknya." jelas ku.
Setelah mematikan api rokok, aku beranjak dari kursi dan membaringkan tubuh lelah ku di atas ranjang. Bang Agus juga mengikuti langkah ku dan duduk tepat di samping ku.
"Mau abang pijatin gak, say?" tanya bang Agus.
"Boleh, tapi jangan minta upah ya!" jawab ku.
"Maksud nya upah apa?" tanya bang Agus bingung.
"Upah jatah loh, botak." jelas ku.
"Ooohh, kalo soal itu sih abang gak bisa janji, tengok nanti lah!" balas bang Agus.
"Ya udah lah terserah abang aja, yang penting sekarang pijatin badan ku dulu. Gara-gara ulah abang nih, maka nya badan ku jadi pegel-pegel semua gini!" gerutu ku.
"Kok gara-gara abang pulak?" tanya bang Agus dengan kening mengkerut.
"Ya iya lah, gak mungkin gara-gara kucing. Yang naikin badan ku tadi siapa kalau bukan abang, hah?" tanya ku sewot.
"Hehehe, iya juga sih." jawab bang Agus salah tingkah.
"Udah, gak usah cengengesan gitu. Tadi kata nya tadi mau mijatin badan ku, kalau di ajak ngomong terus kapan mulai nya?" oceh ku.
"Bulan depan, say. Hahaha," jawab bang Agus sambil tertawa terbahak-bahak.
"Dasar botak gila!" umpat ku.
Selesai otot-ototan dengan si botak tuyul, aku pun mulai merubah posisi baring ku menjadi telungkup.
Setelah itu, bang Agus langsung naik ke atas pinggang ku, dan mulai melakukan pijatan-pijatan nya di punggung dan juga pundak ku.
"Enak gak, say?" tanya bang Agus.
"Apa nya yang enak?" tanya ku balik.
"Ya pijatan abang lah, sayang kuuu." jawab bang Agus.
"Oh, kirain apaan. Ya lumayan lah, dari pada gak ada yang mijatin." balas ku santai.
"Kalau di pijatin pakai dedek abang mau gak, say?" goda bang Agus sambil tersenyum menyeringai.
"Ogah," jawab ku.
"Mau di kasih enak kok malah gak mau sih, kekasih ku ini." gerutu bang Agus.
Bang Agus terus saja mengeluarkan jurus-jurus andalan nya untuk merayu ku, agar aku menuruti keinginan nya dan mau melayani hasrat nya.
"Emang nya seenak apa sih dedek abang itu?" tanya ku pura-pura bingung.
"Enak dan nikmat lah pokoknya nya. Dirimu pasti merem melek kalau sudah kena dengan dedek abang ini." jelas bang Agus.
"Ah, masa sih seenak itu?" tanya ku lagi.
"Iya, sayang. Kalau gak percaya, ayo kita buktikan sekarang! Dirimu pasti bakalan klepek-klepek abang buat." tambah bang Agus.
"Ya, nanti kita buktikan. Sekarang siapkan dulu pijatan abang itu!" ujar ku.
__ADS_1
"Oke siap, nyonya besar." balas bang Agus dengan semangat empat lima.
Dengan senyum yang mengembang, bang Agus pun melanjutkan pijatan nya di badan ku. Setelah selesai memijat punggung, pinggang, dan kaki ku. Kini dia beralih memijat tangan dan juga kepala ku.
"Aduuuh, enak nya pijatan mu, bang." puji ku dengan mata yang terpejam.
"Ya pasti enak lah, say. Botak gitu loh, hahaha." gelak bang Agus.
Setelah memijat sekitar kurang lebih setengah jam, bang Agus segera membuka handuk yang melilit di pinggang nya.
Dengan keadaan polos seperti bayi baru lahir, dia pun langsung duduk di atas perut ku dan merentangkan kedua tangan ku.
"Kerjaan abang udah selesai, sekarang giliran minta upah nya." ujar bang Agus.
"Abang udah gak sabar ingin memakan mu lagi, sayang." tambah nya lagi.
"Iya silahkan aja, bang. Ambil lah upah nya sesuka hati abang, aku pasrah aja!" balas ku.
"Baik lah, sayang. Abang akan menikmati keindahan tubuh mu ini dengan senang hati." ujar bang Agus sembari tersenyum genit pada ku.
"Ya, lakukan lah!" balas ku.
Wajah bang Agus langsung berbinar-binar saat mendengar kata-kata ku. Dia tampak sangat bahagia dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari bibir nya.
Bang Agus mulai melancarkan aksinya kembali. Dia melakukan permainan nya hingga berulang-ulang kali, hingga membuat badan kami berdua basah kuyup bermandikan keringat.
Setelah merasa puas, bang Agus pun menyelesaikan permainan nya dan menjatuhkan diri di samping ku.
"Haduuh, capek banget, say!" ujar bang Agus dengan nafas ngos-ngosan.
"Ya sama lah, aku pun juga capek kok abang buat." balas ku ketus.
"Iya sih, hehehe." balas ku salah tingkah.
"Botak tuyul ku ini memang pandai memuaskan hasrat ku." puji ku sambil mencubit gemas kedua pipi bang Agus.
"Pasti dong, say. Abang pasti akan berusaha semampunya untuk bisa memuaskan mu di atas ranjang." ujar bang Agus.
"Bagus, itu lah yang ku mau." balas ku.
Selesai bercanda ria bersama, bang Agus pun memiringkan tubuh nya dan menopang kan kepala di atas telapak tangan nya.
"Kalau suami mu ingin menikah lagi, kenapa dirimu gak minta cerai aja sih, say? Kenapa dirimu masih bertahan hidup dengan nya?"
Bang Agus bertanya sambil membingkai wajah ku dengan jari-jari nya.
"Ada satu misi yang belum terlaksana kan, bang." jawab ku dengan pandangan kosong menatap langit-langit kamar.
"Oh, tentang rencana mu itu ya, say." tebak bang Agus.
"Iya," balas ku.
"Emang nya rencana apaan sih? Dari haritu abang tanyain, tapi gak di kasih tau juga sampe sekarang." gerutu bang Agus.
"Memang gak ada satu orang pun yang boleh tau, botaaak." balas ku.
Bang Agus terdiam sejenak, dia seperti nya sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, dia pun kembali membuka suara nya.
"Kira-kira ada yang bisa abang bantu gak, biar rencana mu itu cepat terlaksana? Biar dirimu juga bisa cepat-cepat pisah dari Darma." tanya bang Agus.
"Kalo aku udah pisah dari bang Darma, emang nya abang mau ngapain?" tanya ku balik.
__ADS_1
"Ya mau apa lagi kalau bukan menikahi mu, sayaaaang." balas bang Agus penuh penekanan.
"Oooohh, gitu toh. Kirain mau ngapain tadi, hihihi." balas ku cekikikan.
"Eh, say. Abang mau nanya boleh gak?" tanya bang Agus.
"Boleh, tanya lah!" jawab ku.
"Emang dirimu sanggup di madu?" tanya bang Agus.
"Hmmmm, sanggup gak sanggup ya harus tetap sanggup lah, bang. Aku harus tahan mental dan tahan perasaan, untuk menghadapi kelakuan bang Darma nanti nya." jelas ku.
"Kalau dia sudah menikah dengan Dina, sedikit banyak nya sikap nya pasti akan berubah dengan ku, bener gak?" tutur ku.
Aku menoleh kepada bang Agus untuk meminta pendapat nya.
"Ya itu udah pasti lah, say. Sikap dan kelakuan nya pasti akan berubah dari biasa nya." balas bang Agus membenarkan ucapan ku.
"Ya maka nya itu, aku harus siap kan mental untuk menghadapi perubahan nya nanti." lanjut ku lagi.
"Kalau seandainya Darma sampai berbuat kasar, langsung hubungi abang aja ya, say! Biar abang yang akan menghadapinya nanti." tutur bang Agus.
"Iya, abang tenang aja! Dia gak bakalan berani berbuat macam-macam dengan ku, karena haritu udah pernah aku ancam."
"Kalau sampai dia main tangan dengan ku, aku bakalan laporin dia ke polisi." jelas ku panjang lebar.
"Bagus itu, say. Jadi dia gak akan berani berbuat yang aneh-aneh lagi dengan mu." ujar bang Agus.
"Iya, dari awal aku udah pikirkan semua konsekuensinya, bang. Aku sampai mau di madu juga karena ada alasan nya." balas ku.
"Iya abang ngerti maksud mu, say. Ya udah lah, gak usah di bahas lagi masalah itu, sekarang kita tidur yok!" ajak bang Agus.
"Oke, botak." balas ku.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi, aku dan bang Agus pun langsung naik ke atas ranjang dan mulai memejamkan mata masing-masing.
Tak butuh waktu lama, akhirnya kami berdua pun mulai terlelap dan masuk ke alam mimpi, dengan keadaan yang sama-sama polos dan saling berpelukan di bawah selimut.
Beberapa jam kemudian, aku mulai membuka mata perlahan dan memandangi wajah teduh yang sedang tertidur lelap di depan ku.
"Kalau di perhatiin dari dekat gini, ternyata ganteng juga botak tuyul ku ini rupa nya. Kok aku baru nyadar sekarang ya, hihihi." gumam ku pelan.
Aku terus memandangi wajah bang Agus yang masih setia dengan mimpi indah nya.
"Pantesan aja tadi siang si Naya senyam-senyum terus waktu video call dengan bang Agus. Apa mungkin dia suka dengan botak ku ini?" batin ku bingung.
Sedang asyik dengan lamunan ku, tiba-tiba bang Agus membuka mata nya dan menyunggingkan senyum manis nya pada ku.
"Hayo ada ngomong apa tadi?" tanya bang Agus.
Aku langsung mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan bang Agus.
"Siapa yang ngomong, abang mimpi kali?" tanya ku balik.
"Mana ada abang mimpi, orang abang tadi dengar sendiri kok dirimu ngomong kalo abang itu ganteng." jelas bang Agus.
"Gak ada loh, bang. Mungkin salah dengar abang tuh. Dari tadi aku diam aja kok di sini, mana ada aku ngomong apa-apa." balas ku.
"Ah, yang bener?" tanya bang Agus.
"I-iya, bener kok." jawab ku gugup.
__ADS_1