
"Apa kau benar-benar ingin tau, seberapa banyak lelaki yang sudah menyentuh tubuh ku ini, Darma?" tanya ku santai.
"Ya," jawab nya.
Raut wajah bang Darma tampak sangat menyeramkan saat ini. Dia terlihat begitu emosi saat mendengar semua kejujuran ku.
Tapi walaupun begitu, aku tidak merasa gentar sedikit pun untuk mengahadapi suamiku itu.
"Oke, akan aku jelaskan. Saat ini ada dua laki-laki yang menjadi selingkuhan ku. Mereka berdua selalu memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa pada ku." jelas ku.
"Apakah jawaban ku itu udah cukup bagi mu? Atau masih ada lagi yang mau kau tanya kan dengan ku?" lanjut ku.
Setelah mendengar penjelasan ku, bang Darma semakin bertambah murka. Dia mengumpat dan mencaci maki ku dengan sumpah serapah nya.
"Dasar, perempuan gila! Kau menjajakan tubuh mu kepada laki-laki lain hanya untuk mendapatkan kepuasan semata. Cih, benar-benar perbuatan yang menjijikkan!" caci bang Darma.
Bang Darma membuang ludah nya ke bawah kaki ku. Dan dengan secepat kilat, aku mengelakkan cairan yang keluar dari mulut nya tersebut.
Bang Darma juga ingin melayang kan telapak tangan nya ke arah pipi ku, namun sebelum itu terjadi aku langsung sigap menepis tangan nya sambil berkata...
"Sekali lagi kau berbuat kasar dengan ku, maka jangan salah kan aku kalau kau akan mendekam di jeruji besi hari ini juga. Camkan itu baik-baik!" ancam ku.
Aku membuang dengan kasar tangan bang Darma ke udara, dan kembali menyalakan rokok yang tergeletak di atas meja. Mendapat ancaman seperti itu dari ku, bang Darma pun semakin murka dan tersulut emosi.
Bang Darma tidak berani menyentuh ku, ataupun berbuat kasar dengan ku lagi. Dia meluapkan kemarahan nya dengan cara menendang lemari pakaian yang berada tepat di samping nya.
Aku hanya diam tidak merespon apa pun atas perbuatan nya. Aku tetap saja acuh sambil terus menghisap rokok ku.
"Sekarang kau sudah tau semua nya, jadi semua keputusan ada di tangan mu. Apakah mau di lanjut kan atau tidak rumah tangga yang sudah berantakan ini?" lanjut ku.
Bang Darma langsung menoleh dan menatap mata ku dengan sinis. Api kemarahan masih terlihat jelas dari kedua bola mata nya. Dia mengacak-acak rambut nya sambil berteriak histeris dan menunjuk ke arah ku.
__ADS_1
"Aaaaggghh, kau memang perempuan luknut gak tau diri!" caci bang Darma lagi.
Bang Darma mencaci maki ku kembali. Dia tampak begitu marah dan kecewa atas perselingkuhan ku. Setelah puas meluapkan emosi nya, dia mulai mendekati ku dan mencengkram kuat dagu ku sembari berucap...
"Kau dengar baik-baik ya! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu untuk hidup bersama lelaki lain, ingat itu!" ujar bang Darma dengan penuh penekanan.
Aku tetap diam tanpa menjawab atau pun memberontak dari cengkraman nya. Aku bersikap demikian karena aku sadar, kalau aku memang melakukan kesalahan yang sangat fatal dan sulit untuk di maafkan.
Maka dari itu, aku sama sekali tidak melawan atau pun membantah semua makian dari bang Darma. Karena aku memang pantas mendapatkan caci maki seperti itu, atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan selama ini di belakang nya.
"Dan mulai detik ini, jangan pernah melarang atau pun menghalangi ku untuk berbuat apa pun yang aku mau! Termasuk menyentuh wanita lain." lanjut bang Darma.
Selesai mengucapkan kata-kata itu, bang Darma melepaskan cengkraman nya dari dagu ku dan membuang muka ku dengan kasar.
Setelah terlepas dari tangan bang Darma, aku pun mulai membuka suara kembali.
"Baik lah jika memang itu mau mu, silahkan! Berbuat lah sesuka hati mu dengan wanita lain, aku gak akan perduli lagi dengan apa pun perbuatan mu itu." balas ku.
"Tapi ingat, kau juga tidak boleh melarang ku untuk melakukan apa pun yang aku mau. Walaupun demikian, aku akan tetap melakukan kewajiban ku sebagai istri di rumah ini." lanjut ku tegas.
Bukan nya menjawab, bang Darma malah mendekati ku dengan senyuman yang menakutkan. Dia menarik dengan paksa handuk yang masih melilit di tubuh ku.
Setelah tubuh ku terpampang jelas di depan mata nya, bang Darma menarik tangan ku dengan kuat ke atas ranjang.
Dia mengungkung tubuh ku dengan kedua tangan nya. Dengan perlahan bang Darma mulai mendekat kan wajah nya ke telinga ku lalu berbisik...
"Kau ingin kepuasan dan kenikmatan bukan? Oke, aku akan turuti keinginan mu itu. Aku akan membuat mu merasakan kepuasan yang tidak pernah kau dapat dari siapa pun. Termasuk kedua lelaki mu itu." bisik bang Darma.
Aku tidak memberikan respon apa pun pada bang Darma. Aku hanya pasrah dan menerima apa pun yang akan di lakukan nya pada ku.
Sebab, biar bagaimanapun juga dia tetap suami ku. Aku wajib melayani nya kapan pun dan dimana pun. Setelah selesai berbisik di telinga ku, bang Darma kembali melancarkan aksinya.
__ADS_1
Dia menyentuh tubuh ku dengan sangat kasar. Dia juga membuat banyak tanda merah di seluruh tubuh ku. Bang Darma melampiaskan amarahnya dengan menjamah tubuh ku secara kasar.
Dan itu berhasil membuat ku sedikit meringis, karena menahan rasa sakit akibat perbuatan suami ku itu. Di sela-sela permainan kasar nya, bang Darma kembali bersuara dan bertanya pada ku.
"Gimana istriku? Apakah permainan seperti ini yang kau cari dari para selingkuhan mu itu?" tanya bang Darma.
Aku sama sekali tidak menjawab. Aku tetap diam dengan tatapan mata yang tajam, menatap wajah bang Darma yang sedang tersenyum miring pada ku.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari bibir ku, bang Darma pun kembali berceloteh.
"Jawab dong, sayang! Apakah kau merasakan kepuasan dengan aksi ku ini?" tanya bang Darma sambil tersenyum miring meledek ku.
Aku sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan bang Darma. Aku masih terus memberikan tatapan sinis dari bawah tubuh nya.
Melihat reaksi ku yang persis seperti orang mati, membuat bang Darma semakin geram dan bertambah emosi. Dia semakin kasar dengan aksi gila nya.
Sedangkan aku, walaupun terasa sakit dan perih aku tetap saja menahan nya. Aku sama sekali tidak memperlihatkan wajah kesakitan atau pun reaksi apa pun di depan nya.
Aku tetap mempertahankan wajah dingin ku di hadapan bang Darma. Ya, walaupun sebenarnya hati dan tubuh ku terasa perih dan terluka.
Namun, aku tidak ingin terlihat lemah di depan suami ku itu. Bang Darma mulai menyelesaikan siksaan nya di tubuh ku, sambil berteriak dan mencengkram dada ku dengan sangat kuat.
Dan itu membuat ku sedikit meringis, karena menahan sakit akibat cengkraman dari kuku tangan nya yang menancap di dada ku.
Setelah itu, bang Darma beranjak dari atas tubuh ku dan berjalan menuju kamar mandi, dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang melekat di badan nya.
"Kau memang manusia kejam, bang." umpat ku dalam hati.
Setelah kepergian bang Darma ke kamar mandi, dengan perlahan aku mulai mendudukkan diri di tepi ranjang.
Aku mengambil kotak tisu yang berada di atas meja, lalu membersihkan hasil perbuatan bang Darma sambil melamun dan pandangan kosong yang menerawang.
__ADS_1
"Rendi, aku sakit, Ren! Sakiiit banget." jerit ku dalam hati.